Umat Islam melakukan iktikaf di Masjid Haji Keuchik Leumik, Banda Aceh, Aceh, Jumat (15/5/2020). seseorang menjadi pelaku terorisme disebabkan karena pemahaman yang tanggung atau tidak mendalam terhadap ajaran agama. | iRWANSYAH PUTRA/ANTARA FOTO
11 Apr 2021, 03:46 WIB

Melawan Paham Terorisme

Seseorang menjadi pelaku terorisme karena pemahaman yang tak mendalam terhadap agama.

OLEH ANDRIAN SAPUTRA

Sudah enam tahun Pondok Pesantren Al Hidayah Kutalimbu berdiri. Pesantren yang berada di Deli Serdang, Sumatra Utara itu merupakan hasil keringat dari Khairul Ghazali.

Abu Yasin, nama lainnya, merupakan eks terpidana kasus terorisme yang pernah melakukan perampokan di sebuah perbankan di Medan pada 2010. Abu Yasin dan kawan-kawan menewaskan seorang anggota Brimob. Mereka pun ditangkap aparat. Abu Yasin harus mendekam selama lima tahun di dalam kurungan akibat perbuatannya itu. 

Abu Yasin bertobat saat berada di dalam tahanan. Dia pun menyadari kesalahan dan kekeliruannya karena tergoda paham terorisme.

Terkait

Setelah keluar dari penjara pada 2015, Khairul dengan dorongan dari kepolisian dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mendirikan Pondok Pesantren Darus Syifa. Pesantren ini kemudian berganti nama menjadi Pesantren Al Hidayah yang memilih fokus program ruang pendidikan bagi anak-anak dari orang tua mantan teroris. 

"Kalau di sini deradikalisasinya lebih mengarah pada kontra radikalisme, jadi lebih menekankan mengantisipasi. Jadi yang kita ketengahkan itu Islam yang rahmatan lil alamin dalam bentuk kisah-kisah nabi para sahabat. Kita ketengahkan kepada anak didik. Termasuk mencintai Tanah Air, itu kita tanamkan dulu," kata Abu Yasin kepada Republika beberapa waktu lalu.

photo
Seorang tokoh agama dan organisasi keagamaan menandatangani Penyataan Sikap Bersama menyikapi aksi terorisme, di Mapolres Bogor, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (6/4/2021). Dalam Pernyataan Sikap Bersama itu dinyatakan sejumlah sikap di antaranya mengutuk keras aksi terorisme, radikalisme dan intoleransi.  - (YULIUS SATRIA WIJAYA/ANTARA FOTO)

Abu Yasin menjelaskan, tidak semua santri yang menimba ilmu di pesantren ini adalah anak-anak dari orang tua mantan teroris. Dari 86 santri ada sekitar 30-an santri yang merupakan anak-anak dari orang tua mantan teroris.

Menurut Khairul, pada mulanya banyak pertentangan dan stigma negatif masyarakat terhadap berdirinya pesantren yang juga bertujuan memutus rantai paham terorisme. Namun demikian, warga lambat laun dapat memahami keberadaan pesantren itu untuk deradikalisasi. 

Khairul pun mengecam aksi terorisme yang terjadi beberapa waktu lalu baik di Makassar maupun di Mabes Polri. Menurutnya aksi terorisme dilakukan secara acak tanpa dan tidak berkaitan dengan momentum bulan tertentu. 

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by BNPT RI (bnptri)

"Aksi-aksi terorisme seperti itu senantiasa berulang karena tidak dapat dihindari. Karena pengaruh dari deklarasi khilafah 2014 di Suriah dan Irak itu gemanya sampai ke sini. Apalagi di sini juga ada gerakan-gerakan lokal seperti JI, JAD, dengan adanya ISIS itu mereka berafiliasi ke sana,” jelas dia.

Menurut dia, gerakan radikalisme di Indonesia sudah merata menyentuh berbagai level generasi. Tak terkecuali perempuan yang lebih mudah terpengaruhi melalui kelompok-kelompok pengajian yang ekslusif.

"Jadi masyarakat Muslim ini harus cerdaslah dalam memilih ketika mereka mengikuti kelompok-kelompok pengajian. Jangan yang sifatnya eksklusif, menyendiri, menyempal. Harus berbaur dengan masyarakat luas," katanya. 

Pembimbing para napi tindak pidana teroris dalam program deradikalisasi di dalam dan di luar lapas yang juga dosen kajian Terorisme Universitas Indonesia, Prof Asep Usman Ismail mengatakan, seseorang menjadi pelaku terorisme disebabkan karena pemahaman yang tanggung atau tidak mendalam terhadap ajaran agama.

 
Tapi ketika pemahaman tentang jihad itu kemudian tanggung, tanggung inilah yang kemudian menjadi persoalan.
 
 

"Misalnya orang ingin berjihad, jihad itu kan bagus jika dipahami secara mendalam. Paham tentang konsepnya, paham tentang konteksnya, paham pula bagaimana kegunaannya. Tapi ketika pemahaman itu kemudian tanggung, tanggung inilah yang kemudian menjadi persoalan," kata Prof Asep.

Agar terhindar dari paham terorisme, dia meminta masyarakat untuk memiliki pemahaman yang utuh dengan ilmu dan bertindak berdasarkan ilmu. Prof Asep mengatakan upaya mencerdaskan bangsa dan umat agar tidak terpapar paham terorisme sejatinya adalah tanggung jawab negara.

Karena itu, menurutnya, negara pun perlu mengevaluasi program pencegahan terorisme terutama dengan mencerdaskan anak bangsa. Selain itu, berdasarkan UU No 5/ 2018 tentang Pemberantasan Terorisme, dia menjelaskan, tindak pidana ini harus dilakukan oleh seluruh komponen bangsa. Karenanya pemerintah pun harus melibatkan seluruh komponen masyarakat.

Prof Asep memaparkan, berdasarkan penelitian kajian terorisme UI telah terjadi pergeseran peran sosok perempuan yang terpapar paham terorisme. Mereka yang semula berada di balik layar menjadi pelaku aksi teror.

"Secara umum wanita itu dilihat sebagai sesuatu yang strategis dalam gerakan mereka. Pergeserannya tidak sebagai pendidik (pengkader) lagi tapi sebagai pelaku di ruang publik," katanya.

Ia menjelaskan pada awalnya kaum perempuan yang terpapar paham terorisme berada di balik layar dalam mendukung gerakan suaminya. Prof Asep menjelaskan ada beberapa peran penting kaum perempuan yang terpapar terorisme.

Di antaranya yaitu untuk menanamkan pemahaman yang sama kepada anak-anak dan mendoktrin agar melanjutkan gerakan yang sama seperti dilakukan ayahnya. Selain itu, memastikan anak-anaknya terlindungi dari pandangan lain dengan tidak memasukan anak-anaknya di sekolah umum.

photo
Warga melintas di depan mural bertema keberagaman agama di Maguwoharjo, Sleman, DI Yogyakarta, Selasa ( 10/12/2019). Mural tersebut sebagai media edukasi kepada masyarakat tentang nilai toleransi keberagaman di Indonesia serta pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/aww. - (Hendra Nurdiyansyah/Antara Foto)

Namun demikian seiring perkembangan teknologi, kelompok perempuan yang terpapar paham terorisme mempelajari cara untuk merakit peledak dan melakukan aksi secara langsung. "Dulu itu untuk ikut amaliyah perlu ada latihan, perlu keluar. Sekarang dengan menggunakan IT tidak perlu lagi. Mereka otodidak, melakukan sendiri lama-lama bukan lagi memback-up, tapi menjadi pelaku. Karena orang juga tidak akan menduga," katanya. 

Pengamat terorisme dari Yayasan Prasasti Perdamaian Noor Huda Ismail menilai aksi terorisme yang berlangsung jelang Ramadhan tidak lepas dari pemahaman yang keliru dari para pelakunya. Menurutnya ada kekeliruan dalam menafsirkan kisah peperangan yang terjadi pada masa Rasulullah.

 
Teroris melakukan serangan ada kecenderungan jelang Ramadhan itu karena mereka membajak atau menafsiri secara salah kisah peperangan di zaman Rasulullah.
 
 

"Teroris melakukan serangan ada kecenderungan jelang Ramadhan itu karena mereka membajak atau menafsiri secara salah kisah peperangan di zaman Rasulullah. Pada bulan Ramadhan yaitu perang Badr dan Fathul Makkah, jadi itu yang menjadi dasar mereka. Jadi ada kecenderungan upaya itu. Jadi berkah melakukan jihad pada (atau menjelang) bulan puasa," kata Noor Huda Ismail.

Dia menjelaskan, saat ini ada pergeseran di mana pelaku teror cenderung dilakukan oleh kaum perempuan. Menurut Huda, aksi teror dengan melibatkan perempuan sebagai pelakunya tak lepas dari keterkaitan dengan ISIS yang tidak saja melakukan teror, tapi mempunyai tujuan politik yaitu untuk membentuk tatanan kehidupan baru dengan kekuasaan dan warga negara baru. 

"Kalau perempuan menjadi pelaku teror itu memang ada pergeseran. Zaman JI itu paling hanya ada 3-4 perempuan yang terlibat, tapi di zaman ISIS dan media sosial itu mendemonstrasi orang berpartisipasi terutama terutama perempuan, termasuk perempuan untuk terlibat di dalam aksi kekerasan ini," katanya.


×