Pengunjung memilih ragam jenis busana muslim (ilustrasi). Foto: Abdan Syakura/Republika | ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
12 Apr 2021, 11:27 WIB

Kisah Para Desainer Bertahan Saat Pandemi

Digitalisasi menjadi kunci penting dalam melakukan pemasaran, memperluas jangkauan, serta sebagai media komunikasi.

Sudah hampir satu tahun lamanya kita semua berhadapan dengan kondisi pandemi yang tak kunjung usai. Hal ini memaksa berbagai lini industri untuk menyusun kembali strategi agar dapat bertahan dengan keadaan yang ada.

Begitu pula industri mode yang cukup terdampak akibat terjadinya pandemi ini. Para pelaku industri mode pun dituntut untuk dapat menyesuaikan dengan perubahan perilaku masyarakat Indonesia, seperti dengan maraknya tren quarantine fashion atau mode saat karantina.

“Tren ini memunculkan berbagai jenis pakaian dengan desain santai namun tetap dapat digunakan saat bekerja dari rumah,” ujar Director of Business Partnership Shopee Indonesia, Daniel Minardi dalam acara virtual pada Februari lalu.

Dengan adanya keterbatasan mobilitas, digitalisasi juga menjadi kunci penting dalam melakukan pemasaran, memperluas jangkauan, serta sebagai media komunikasi dengan target pasar secara keseluruhan.

Terkait

Salah satu desainer busana Muslim Ria Miranda memberikan rahasianya bagi para pegiat industri mode Indonesia lainnya agar bisa sukses beradaptasi di tengah pandemi.

Sebagai langkah awal, Ria mengatur ulang skenario keuangan. Bagi Ria, dengan adanya kondisi pandemi, tentu terjadi perubahan yang signifikan terhadap operasional bisnis secara keseluruhan dan diperlukan adanya penyesuaian.

 
Yang terpenting dan harus dipertimbangkani adalah usaha untuk merestrukturisasi ulang cash flow serta target bisnis.
 
 

"Yang terpenting dan harus dipertimbangkani adalah usaha untuk merestrukturisasi ulang cash flow serta target bisnis agar bisa sesuai dengan keadaan yang sedang dihadapi," ujarnya.

Setelah itu dia pun membangun komunikasi yang baik dengan tim internal. "Karena kita tidak mungkin menjalankan bisnis secara sendiri, penting untuk adanya arus komunikasi yang baik antar tim internal agar semuanya bisa saling membantu memahami kondisi yang ada, serta beradaptasi bersama dengan tujuan akhir yang sama," ujar ibu tiga anak ini.

Selanjutnya, Ria mengatur jumlah produksi. Saat kondisi pandemi, kata Ria, mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap menurunnya penjualan produk-produk bisnis mode. "Maka dari itu, kita harus pintar mengatur jumlah produksi seefisien mungkin, hanya sesuai dengan apa yang kita butuhkan dengan jumlah yang terbatas," ujarnya.

 
Kita harus pintar mengatur jumlah produksi seefisien mungkin.
 
 

Langkah berikut adalah mengoptimalkan kesempatan untuk digitalisasi. Dengan kebanyakan masyarakat Indonesia yang mulai mengandalkan platform digital, Ria menilai bisa memanfaatkan momentum ini untuk lebih menginvestasikan bisnis dari segi digital, seperti dengan melakukan virtual trunk show, live shopping ataupun sebagai sarana komunikasi dengan target pasar. "Kita juga bisa memanfaatkan platform e-commerce untuk bisa menjangkau lebih banyak lagi pelanggan dari seluruh Indonesia," ujarnya.

Akhirnya, Ria pun membuat jenama miliknya menjadi jenama yang solutif. Bagi dia, agar bisa menjadi jenama yang sukses, penting sekali memiliki nilai untuk selalu menjadi solusi bagi setiap permasalahan pelanggan dan juga menjadi jenama yang baik untuk sesama. "Ini semua bisa kita cerminkan melalui koleksi yang kita luncurkan dengan terus berinovasi menghasilkan produk-produk yang bernilai kebaikan," ujar Ria tegas.

 

 

Kita juga bisa memanfaatkan platform e-commerce untuk bisa menjangkau lebih banyak lagi pelanggan dari seluruh Indonesia.

Ria Miranda
 

 

Berusaha menata kembali

Saat pandemi, Elzatta Hijab, satu jenama busana Muslim lokal, turut terkena dampaknya.  Elidawati Ali Oemar, pendiri Elzatta, mengakui bahwa Elzatta merasakan dampak pandemi yang begitu besar. Merek yang memiliki ratusan toko ini berusaha keras membuat bisnis tetap berjalan.

Brand Elzatta menjadi tumpuan penghidupan banyak orang, dari mitra, agen, reseller, begitu juga para supplier kami. Meskipun begitu berat terasa, kami harus terus putar otak agar brand ini bisa terus menjadi harapan bagi banyak orang. Kami pikir kami tidak bisa diam saja menunggu pandemi usai, kami akhirnya memutuskan terus meluaskan usaha,” tuturnya lagi.

Elzatta pun berusaha mempertahankan usahanya dengan dua cara yaitu daring dan luring. Dengan hadirnya Tika Mulya sebagai Vice President Elzatta, mereka semakin mengaktifkan penjualan daringnya. Tika yang berusia di bawah 30 tahun ini hadir sebagai penyeimbang Elidawati untuk menyegarkan Elzatta dengan ide-ide segarnya di ranah daring.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Elidawati Ali Oemar (elidawatialioemar)

Sementara untuk toko fisik, mereka berusaha melakukan upaya tata ulang. Tidak hanya itu, mereka juga memutuskan untuk menutup toko-toko yang tidak bisa dipertahankan dan melakukan pembukaan kembali toko-toko di pasar potensial untuk menyegarkan kembali pasar pada Elzatta.

Contohnya, pada 14 Februari lalu, Elzatta membuka Galeri Elzatta di Medan sebagai penanda kembalinya semangat belanja lewat toko. Pembukaan ini akan diikuti oleh pembukaan kembali toko-toko Elzatta di kota lain termasuk di Bandung.

“Kami memperbarui tampilan toko Elzatta dengan tampilan lebih segar. Kami ingin membuat konsumen kembali bersemangat berbelanja offline,” tutur Elidawati.

Kegiatan ini juga diiringi dengan kegiatan sosial donasi busana dari Elzatta dengan total target donasi senilai Rp 1 miliar. “Ketika membuka toko di sebuah kota, kami juga ingin berbagi dengan masyarakat sekitar. Kami datang insya Allah membawa manfaat bagi semua,” ujar Elidawati.

 

 

photo
Pengunjung memilih busana muslim di Galeri Elzatta, Jalan LLRE Martadinata, Kota Bandung (ilustrasi). Foto: Abdan Syakura - (Republika/Abdan Syakura)

 

Strategi Kembangkan Bisnis

Desainer Ria Miranda turut mengungkap strategi untuk bisa mengembangkan bisnisnya agar lebih besar dan sukses. Apa sajakah?

1. Berbasis produk

Dalam bisnis apa pun, Ria menegaskan keharusan mempertahankan kualitas untuk inovasi produk. Misalnya, Ria senantiasa konsisten dari awal selalu membuat produk yang sesuai karakternya. Warna pastel yang bisa membuat penggunanya lebih terlihat berkelas dan elegan terus dia pertahankan sampai sekarang. “Setiap tahun kita mengeluarkan lima tema. Identitas brand juga ada di masing-masing kategori,” ujar dia.

Untuk 2020, produk yang diluncurkan Ria Miranda adalah product-based seperti baju yang memang sudah diset setahun sebelumnya. Biasanya ia memang menyiapkan koleksi terbaru sejak setahun sebelumnya.

2. Berbasis pasar

Basis pasar ini dilakukan untuk melihat kebutuhan pelanggan atau konsumen. Untuk itulah Ria merasa harus sering ngobrol dengan pelanggan tentang apa yang mereka butuhkan, apa yang mereka lakukan sekarang saat pandemi. Maka ia berhasil mengeluarkan beberapa produksi yang sesuai dengan kebutuhan sekarang.

“Ada sekitar 20 ribu pieces produk yang kita buat berdasarkan perubahan market. Ada bergo, ada baju rumahan, ada baju berkebun, ada celemek untuk di dapur, juga ada baju olahraga,” kata Ria.

3. Berbasis jenama

Ini penting untuk memperkuat lini jenama. Upaya ini dapat dilakukan dengan cara kolaborasi dengan figur publik. Tujuannya untuk memperkuat posisi jenama karena kolaborasi ini juga sembari mencari pasar baru.

“Kalau brand based, contohnya kita bikin masker, kita kolaborasi dengan desainer Malaysia, Jovian. Dengan brand lokal juga, dengan Cotton Ink. Ini juga cukup laku di pasaran. Karena kita buat dengan material yang sesuai kebutuhan sekarang,” papar Ria Miranda.

Ada juga baju olahraga dari Ria Miranda Active, paling terakhir juga ada Ria Miranda Signature yang telah meluncur pada April 2020 lalu. Harga Ria Miranda Signature ini dibanderol di atas dari produk-produk lainnya Ria Miranda.

Signature ini kan baju untuk dipakai ke acara-acara pesta atau acara formal. Jadi kita pikir lagi sama tim, apa yang harus kita perbuat supaya baju ini bisa tetap terserap. Di awal pandemi, kebutuhan APD sangat tinggi, akhirnya kita coba bundling baju Signature ini,” ungkap dia.

Misalnya, ketika masyarakat membeli satu koleksi Signature ini sama dengan menyumbang 10 APD dan 10 masker. Rupanya strategi ini berhasil menarik pembeli.


×