Sejumlah warga bergotong royong memindahkan bantuan logistik dari sejumlah lembaga dan pemerintah untuk korban banjir bandang di Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu (7/4/2021). | ADITYA PRADANA PUTRA/ANTARA FOTO
08 Apr 2021, 03:55 WIB

Dampak Seroja Bergeser

Jumlah korban jiwa Siklon Seroja mencapai 124 orang.

JAKARTA -- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan Siklon Tropis Seroja bakal mengalami peningkatan intensitas, Kamis (8/4) ini. Meski pergerakannya menjauhi Indonesia, dampak cuaca ekstrem siklon itu berpotensi terjadi di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Barat.

"Maka pemangku kebijakan di daerah diharapkan dapat meningkatkan kapasitas dan mengambil tindakan yang dianggap perlu guna mitigasi dan pengurangan risiko bencana untuk ke depannya," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Raditya Jati dalam keterangan, Rabu (7/4).

Dia juga meminta masyarakat waspada dan dapat mengantisipasi segala sesuatu dalam kaitan potensi bencana yang bisa dipicu oleh faktor cuaca. Ia berharap masyarakat selalu memantau perkembangan data dan informasi prakiraan cuaca dari BMKG serta mengikuti segala arahan dari pihak berwajib.

Berdasarkan analisis pada Rabu (7/4) pukul 01.00 WIB, posisi Siklon Tropis Seroja berada di wilayah Samudera Hindia sebelah selatan Nusa Tenggara Barat atau sekitar 335 kilometer sebelah selatan-barat daya Waingapu. Arah gerak siklon ini terpantau menjauhi wilayah Indonesia menuju ke barat daya dengan kecepatan 6 knots atau 10 km per jam.

Terkait

Berdasarkan data BMKG pada Rabu dini hari kekuatan dari siklon tropis tersebut mencapai 35 knots atau 65 kilometer per jam dengan tekanan 995 hPa. Kekuatan siklon ini kemudian bakal menguat hingga 40 knots atau 75 km per jam dengan tekanan 994 hPa.

"Potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai kilat atau petir serta angin kencang dapat terjadi di wilayah Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Barat. Serta hujan intensitas sedang di Nusa Tenggara Timur," katanya.

Kemudian, ia juga mengutip data dari BMKG yang memprakirakan dampak dari siklon ini akan memicu adanya gelombang setinggi 2,5-4 meter di perairan Lampung, perairan selatan Pulau Jawa hingga NTB dan Bali.

Kepala Stasiun BMKG Juanda, Surabaya, I Wayan Mustika juga melaporkan, pola tekanan rendah dan siklon tropis Seroja di selatan Indonesia telah aktif. Hal ini membentuk palung tekanan rendah memanjang dari barat ke timur. Hal ini bisa menyebabkan adanya konvergensi (zona pertemuan angin) di Jawa Timur.

Selain itu, saat ini aktifnya gelombang atmosfer Madden Julian Oscalliation (MJO) yang membawa massa udara basah ke wilayah Indonesia juga berpengaruh terhadap proses dinamika atmosfer di wilayah Jatim. Hal ini diperkuat dengan adanya gangguan gelombang Rossby yang dapat meningkatkan potensi kejadian cuaca ekstrem. 

photo
Sejumlah pekerja bergotong royong mendirikan tiang listrik di lokasi terdampak banjir bandang di Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (6/4/2021). Sejumlah fasilitas umum mengalami kerusakan, termasuk putusnya jaringan listrik akibat banjir bandang yang terjadi pada Ahad (4/4). - (ADITYA PRADANA PUTRA/ANTARA FOTO)

Berdasarkan beberapa gangguan atmosfer tersebut, masyarakat perlu mewaspadai curah hujan dengan intensitas lebat. Fenomena ini dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang yang berpotensi terjadi untuk sepekan ke depan di hampir seluruh wilayah Jatim termasuk Madura.

Bibit siklon terpantau sejak Jumat (2/4) di wilayah NTT dan berkembang menjadi Siklon Tropis Seroja pada Senin (5/4) pukul 01.00 WIB. Siklon tropis itu kemudian menyebabkan cuaca ekstrem yang memicu berbagai bencana alam berupa banjir bandang, angin kencang, tanah longsor, dan gelombang tinggi di 11 kabupaten/kota di NTT serta di Bima, Nusa Tenggara Barat.

Berdasarkan data BNPB, hingga Rabu (7/4) malam, total korban meninggal dunia yang terverifikasi akibat bencana itu berjumlah 138 orang. Sementara, 61 warga masih hilang dan 129 terluka, sebanyak  13.226 orang mengungsi, dan 1.992 rumah rusak.

Perincian daerah asal korban jiwa, yaitu 67 orang dari Flores Timur, 32 dari Lembata, 25 dari Alor, 4 dari Malaka, 2 dari Sabu Raijua, 1 dari Kota Kupang, 1 dari Ende, dan 1 dari Kabupaten Kupang.

photo

Sejumlah warga duduk di atas mobil yang rusak akibat banjir bandang di Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (6/4/2021). Cuaca ekstrem akibat siklon tropis Seroja telah memicu bencana alam di sejumlah wilayah di NTT dan mengakibatkan rusaknya ribuan rumah warga dan fasilitas umum. - (ADITYA PRADANA PUTRA/ANTARA FOTO)

BNPB mendata jumlah rumah yang mengalami kerusakan mencapai 1.992  unit. Perinciannya, rumah yang mengalami kerusakan terdiri atas 688 rumah rusak berat, 272 rusak sedang, dan sisanya rusak ringan.

Kendati demikian, pendataan di lapangan menunjukkan kemungkinan dampak kerusakan yang lebih masif. Pemerintah Kabupaten Sumba Timur, NTT menyatakan sekurangnya 5.000 unit rumah penduduk di daerah tersebut yang rusak akibat terjangan angin kencang Siklon Tropis Seroja pada Ahad (4/4). "Rumah yang rusak bisa lebih dari 5.000 unit karena proses pendataan masih berlangsung di semua kecamatan," kata Bupati Sumba Timur, Khristofel Praing, kemarin.

Menurutnya, tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumba Timur masih melakukan pendataan. Kerusakan serupa juga menimpa kantor-kantor pemerintah maupun swasta di daerah tersebut. 

Umat bantu NTT

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas bencana alam, berupa banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Bencana tersebut sebagai dampak cuaca ekstrem yang ditandai munculnya Siklon Tropis Seroja, yang terjadi pada Ahad (4/4).

photo
Sejumlah prajurit TNI dan warga bergotong royong memindahkan bantuan logistik dari sejumlah lembaga dan pemerintah untuk korban banjir bandang di Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu (7/4/2021). - (ADITYA PRADANA PUTRA/ANTARA FOTO)

"MUI mengimbau pada masyarakat luas, khususnya umat Islam dan para aghniya (dermawan) agar mengulurkan tangan guna meringankan beban masyarakat akibat bencana, bantuan bisa disalurkan melalui berbagai lembaga yang kredibel dan dipercaya," kata Ketua Umum MUI KH Miftachul Akhyar melalui siaran pers yang diterima Republika, Rabu (7/4).

Kiai Miftachul menyatakan, MUI menyampaikan duka yang mendalam atas banyaknya korban jiwa dalam bencana alam di NTT. Ia mengatakan, bencana ini semua merupakan musibah, ujian, atau cobaan. 

Bagi masyarakat NTT yang terkena bencana, diharapkan untuk bersabar, ridha dan berserah diri kepada Allah semata seraya berdoa memohon kekuatan dalam menghadapinya. "Bencana ini merupakan peringatan untuk kita semua agar senantiasa mawas diri, berserah diri dan memperbaiki diri," ujarnya.

Kiai Miftachul mengatakan, bisa jadi bencana alam muncul karena ada faktor perilaku manusia. Di antaranya, memudar dan menurunnya etika dalam memperlakukan alam seperti penebangan hutan secara liar dan semena-mena. Hutan menjadi gundul dan tanaman berkurang secara signifikan. Akibatnya suhu, iklim, dan kecepatan angin menjadi ekstrem yang disebabkan rusaknya ekosistem, baik dalam skala kecil maupun skala yang luas.

photo
Foto udara tumpukan kayu-kayu menyumbat dan merusak salah satu jembatan penghubung antardesa di Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu (7/4/2021). Menurut Organisasi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), banjir bandang dan tanah longsor yang melanda di sejumlah wilayah di NTT dipicu kerusakan lingkungan akibat alih fungsi lahan, pertambangan, dan pembalakan liar. - (ADITYA PRADANA PUTRA/ANTARA FOTO)

Ia mengingatkan, karena masih dalam suasana pandemi Covid-19, MUI mengajak masyarakat ataupun korban bencana di NTT agar tetap mematuhi protokol kesehatan. "Kepatuhan menerapkan protokol kesehatan dimulai dari aparatur dan tokoh masyarakat, petugas medis dan para relawan serta masyarakat di daerah bencana. Dengan demikian, akan terhindar dari efek kerugian yang lebih besar," ujarnya.

MUI melalui Lembaga Penanggulangan Bencana MUI akan turut serta dalam menangani penanggulangan bencana di NTT. Pertama, berkoordinasi dan berkolaborasi dengan berbagai lembaga dan badan yang menangani penanggulangan bencana, khususnya yang berbasis pada ormas Islam ataupun berbasis pada masyarakat. 

Kedua, akan berkoordinasi dengan MUI Provinsi dan MUI Kabupaten/Kota, yang berada di daerah bencana. Ketiga, MUI akan menyalurkan bantuan berupa sejumlah uang dari donasi masyarakat, kurma, dan obat-obatan. Keempat, membuka rekening donasi bagi masyarakat yang ingin menyalurkan bantuan. "Semoga Allah SWT memberikan kesabaran dan ketabahan bagi korban bencana alam di NTT," kata Kiai Miftachul.

Sementara itu, Perum Bulog memastikan stok cadangan beras pemerintah yang tersedia di Kantor Wilayah Bulog Nusa Tenggara Timur, dalam jumlah yang sangat aman untuk mengantisipasi dampak cuaca ekstrem. Sekretaris Perusahaan Perum Bulog, Awaludin Iqbal mengatakan, saat ini stok beras di Kanwil Bulog NTT tersedia sebanyak 17.600 ton. 

Jumlah tersebut dalam level sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan di wilayah NTT. “Stok beras di NTT siap disalurkan untuk bantuan bencana alam di wilayah NTT. Kami sudah berkoordinasi dengan Pemda NTT dan bersama BUMN lain juga sudah mendirikan posko untuk pusat penyaluran bantuan ini,” kata Awaludin Iqbal, Rabu (7/4).

Sejalan dengan arahan Presiden dalam rapat terbatas mengenai bencana banjir di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB), Awaluddin memastikan, Bulog NTT siap bergerak cepat menyiapkan stok bahan pangan untuk disalurkan sesuai dengan permintaan pemda.

Badan Meteorogi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada Senin (5/4), menyebutkan, terdapat Siklon Tropis Seroja di Perairan Kupang dengan kecepatan angin mencapai 45 knot. Kondisi itu memberikan dampak terhadap peningkatan tinggi gelombang dan cuaca ekstrem di Nusa Tenggara Timur.

“Anginnya sangat kencang, beberapa atap gudang kami juga mengalami sedikit kerusakan. Namun, kami memastikan tim kami di lapangan terus siaga menyiapkan stok beras yang dibutuhkan untuk penyaluran bantuan," katanya.


×