Guru memasangkan pelindung wajah (face shield) kepada siswa saat uji coba pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dengan menerapkan protokol kesehatan COVID-19 di SMP Negeri 26 Solo Jawa Tengah, Senin (29/3/2021). Pemerintah Kota Solo memberlakukan uji | ANTARA FOTO/Maulana Surya
07 Apr 2021, 09:42 WIB

DKI Uji Coba PTM Hari Ini

Sudin Kesehatan akan menyiagakan personelnya selama uji coba PTM.

JAKARTA -- Dinas Pendidikan DKI Jakarta akan menggelar uji coba (piloting) pembelajaran tatap muka (PTM) terhadap 85 sekolah di Ibu Kota, Rabu (7/4) ini. Jumlah tersebut telah melalui asesmen tahap satu dan dua dari total 100 sekolah yang mengikuti asesmen dari Disdik DKI Jakarta.

"Dari 100 itu sisanya 85 sekolah, piloting SD, SMP, SMA, SMK," kata Humas Disdik DKI Jakarta Taga Radja saat dihubungi, Selasa (6/4).

Taga menjelaskan, proses asesmen terhadap sekolah yang akan menggelar pembelajaran tatap muka terdiri atas dua tahap. Dia menyebut, tahap pertama meliputi kesiapan kondisi dan kesehatan guru, juga kesiapan kondisi siswa dan sarana prasarana kesehatan yang ada di sekolah.

Kemudian, asasmen kedua terkait proses pembelajaran. Baik penguasaan IT untuk pembelajaran secara daring dan tatap muka. Selain melalui tahap asesmen, sekolah yang akan melakukan pembelajaran tatap muka juga harus memastikan para guru telah menerima vaksinasi Covid-19.

Terkait

"Karena nanti tatap muka masih ada blended learning, masih campur antara daring dan tatap muka. Setelah ikuti asesmen, maka sekolah harus ikuti pelatihan Disdik untuk menguatkan kesiapan guru dan sarana-prasarana yang ada," ujar dia.

Taga mengatakan, awalnya terdapat 86 sekolah yang dinyatakan lolos hasil asesmen. Namun, jelas dia, karena terkendala izin dari orang tua murid, satu sekolah akhirnya mengundurkan diri.

 
Dari total rencana 100 sekolah, ada 14 sekolah yang gagal, namun satu lagi mundur.
 
 

"Dari total rencana 100 sekolah, ada 14 sekolah yang gagal, namun satu lagi mundur. Sehingga, total ada 15 sekolah, jadi total dari 100 ada 85 yang diteruskan untuk pembelajaran tatap muka. Pihak Disdik enggak bisa memaksa kondisi sekolah harus (ikut) PTM," kata dia.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi DKI akan melakukan uji coba pembelajaran tatap muka di sejumlah sekolah mulai 7 April hingga 29 April 2021. Kepala Bidang SD Dinas Pendidikan DKI Jakarta Momon Sulaeman menjelaskan, uji coba ini hanya diperuntukkan untuk siswa kelas 4, 5, dan 6 SD. Lalu, untuk siswa kelas 7, 8, dan 9 SMP serta siswa kelas 10, 11, dan 12 SMA/SMK.

"Mekanismenya, sekolah dibuka tiga hari dalam 1 pekan, yakni pada hari Senin, Rabu, dan Jumat. Sedangkan, hari Selasa dan Kamis akan dilakukan pembersihan sekolah dengan disinfektan," kata Momon, Ahad (4/4).

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Pemprov DKI Jakarta (dkijakarta)

Di Jakarta Utara, sebanyak empat sekolah dijadwalkan akan melakukan uji coba pembelajaran tatap muka pada Rabu. Empat sekolah itu, yakni SD Negeri Rorotan 02 Pagi, SMK Walang Jaya, SD Negeri Sukapura 01 Pagi, dan SMA Kristen Penabur Kelapa Gading.

Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara menyiagakan personel untuk membantu proses uji coba pembelajaran tatap muka di sekolah Jakarta Utara, Rabu (7/4). "(Personel yang turun) dari Puskesmas ada satu tim terdiri atas dokter, perawat, dan pengemudi serta mobil ambulans siaga," kata Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara dr Yudi Dimyati, Selasa.

Yudi juga menyampaikan, ada tugas dan wewenang dinas kesehatan provinsi atau kabupaten/kota dalam persiapan pembukaan sekolah tatap muka. Tugas dan wewenang itu, yakni memastikan Puskesmas setempat melakukan pengawasan dan pembinaan mengenai pencegahan dan pengendalian Covid-19 kepada satuan pendidikan di wilayah kerjanya.

Sudinkes Jakarta Utara siap menjalankan tugas dan wewenang tersebut demi menyukseskan kembali kegiatan pembelajaran tatap muka di sekolah saat pandemi Covid-19. "Sesuai Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri. (Tugas tersebut) kami akan jalankan," kata Yudi.

Kepala Suku Dinas Pendidikan Wilayah Satu Kota Administrasi Jakarta Utara Sri Rahayu Asih Subekti mengatakan, ada 1.204 guru sekolah negeri di wilayah Kecamatan Tanjung Priok dan Pademangan telah dijadwalkan menjalani vaksinasi. Menyusul vaksinasi itu, selanjutnya dijadwalkan pula vaksinasi bagi tenaga pendidik sekolah negeri dari Kecamatan Penjaringan.

"Semua jenjang pendidikan baik negeri maupun swasta akan dijadwalkan secara bertahap untuk mendapatkan vaksinasi," kata Sri.

Diperluas

Sementara itu, Dinas Pendidikan Kota Bekasi akan memperluas jumlah satuan pendidikan yang menjalani sekolah tatap muka. Kepala Dinas Pendidikan Kota Bekasi, Inayatullah, menyebut, ada 43 SMP dan 28 SD yang sudah mengajukan proposal untuk menggelar kegiatan ATHB-SP.

“Ada 43 SMP dan 28 SD yang sudah mengajukan proposal untuk menggelar kegiatan ATHB-SP. Sekolah-sekolah ini akan ditinjau oleh pengawas dan akan kami buat penetapan lagi, ada sekolah negeri maupun sekolah swasta," kata Inayatullah, Selasa.

Sebelumnya, pemerintah setempat telah menggelar pembelajaran yang disebut adaptasi tatanan hidup baru (ATHB) satuan pendidikan (SP) sejak 22 Maret 2021. Dia mengatakan, setelah dua pekan berjalan, kegiatan belajar tatap muka masih berjalan lancar.

Di samping itu, Dinas Pendidikan Kota Bekasi juga telah membentuk tim yang bertugas mengkaji standar penerapan protokol kesehatan di sekolah dan syarat-syarat yang perlu dipenuhi oleh setiap sekolah yang mengajukan kegiatan pembelajaran tatap muka.

Selain menambah jumlah sekolah tatap muka, Dinas Pendidikan Kota Bekasi juga berencana menambah jumlah rombongan belajar dari tiga menjadi maksimal enam rombel per satuan pendidikan. "Saat awal ada tiga rombel, dan akan kami tambah menjadi 6 rombel," kata dia.

 
Selain menambah jumlah sekolah tatap muka, Dinas Pendidikan Kota Bekasi juga berencana menambah jumlah rombongan belajar.
 
 

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian mengatakan pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) memang harus mendapatkan vaksinasi. Ia menilai, guru harus cepat divaksin dan menjadi prioritas agar pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas bisa segera dimulai.

"Kami mengapresiasi terutama terkait pengadaan vaksinasi," kata Hetifah.

Sudah satu tahun pandemi Covid-19 melanda dunia dan menimbulkan dampak sosial negatif yang berkepanjangan. Dampak-dampak yang sudah tercatat di Indonesia seperti putus sekolah, penurunan capaian belajar, dan kekerasan pada anak.

Bank Dunia melansir, penutupan sekolah di seluruh dunia diperkirakan dapat mengakibatkan hilangnya pendapatan seumur hidup dari generasi yang saat ini berada di usia sekolah sebesar paling tidak 10 triliun dolar AS. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyatakan bahwa penutupan sekolah memiliki dampak negatif bagi perkembangan kesehatan, pendidikan, pendapatan keluarga, dan perekonomian secara keseluruhan.

Indonesia adalah satu dari empat negara di kawasan timur Asia dan Pasifik yang belum melakukan pembelajaran tatap muka secara penuh. Sementara 23 negara lainnya sudah. UNICEF menyebut bahwa anak-anak yang tidak dapat mengakses sekolah secara langsung semakin tertinggal dan dampak terbesar dirasakan oleh anak-anak yang paling termarjinalisasi.

Salah satu pengajar di KB dan TK Kartika 58, Erlin Oktyawardani mengatakan untuk anak usia dini memang PTM sangat dibutuhkan. Ia pun mendukung untuk PAUD segera dibuka untuk tatap muka terbatas.

"Saya mendukung pelaksanaan PTM terutama untuk anak usia dini karena kebutuhan anak-anak PAUD sangat perlu bimbingan dan pendampingan langsung. Pembelajaran daring kurang efektif untuk membangun karakter anak-anak usia dini," kata Erlin.

Sumber : Antara


×