Adiwarman Karim | Daan Yahya | Republika
05 Apr 2021, 02:00 WIB

Indonesia dan G-20 Syariah

Yang paling memenuhi kriteria ditawarkan di Annual Meeting G-20 hanya ekonomi syariah.

OLEH ADIWARMAN A KARIM

Indonesia akan menjadi pemimpin dan tuan rumah pertemuan tahunan 20 negara terbesar ekonomi di dunia yang tergabung dalam G-20. Tiga tema besar telah disiapkan, people, planet, dan prosperity.

Menariknya, ketiga tema besar itu bermuara pada kemaslahatan masyarakat. People akan membahas inisiatif mengurangi ketimpangan dan memberikan kesetaraan kesempatan. Planet akan membahas pembangunan yang ramah lingkungan. Prosperity akan membahas kemajuan teknologi untuk kualitas hidup yang lebih baik.

Sebagai pemimpin G-20, Indonesia harus menawarkan konsep yang kuat, unik, dan mudah diadaptasi oleh negara-negara anggota. Kuat karena memiliki teori dan jejak sejarah yang panjang. Unik karena berakar dari budaya Indonesia. Mudah diadaptasi karena bersifat inklusif dan universal.

Terkait

Pertama, konsep yang kuat untuk mengurangi ketimpangan dan memberikan kesetaraan dengan sejarah yang panjang adalah ekonomi syariah. Sejak zaman Rasulullah SAW tidak pernah terputus eksperimen penegakan keadilan ekonomi dilakukan. Berbagai riset tentang kemajuan dan kejatuhan pemerintahan Islam selama ratusan tahun melibatkan 18 dinasti besar dan 291 dinasti regional di Asia, Afrika, dan Eropa.

 
Konsep yang kuat untuk mengurangi ketimpangan dan memberikan kesetaraan dengan sejarah yang panjang adalah ekonomi syariah.
 
 

 

Ahmed Ashker dan Rodney Wilson, masing-masing profesor Prince of Songkla University dan professor Durham University, dalam bukunya Islamic Economic A Short History menjelaskan penyebab maju dan jatuhnya ekonomi syariah dari masa ke masa. Benang merahnya, ketika nilai-nilai syariah diterapkan, perekonomian maju pesat, dan sebaliknya.

Vali Nasr, profesor John Hopkins University, dalam bukunya The Rise of Islamic Capitalism menjelaskan tumbuhnya kekuatan kelas menengah Islam sebagai kunci terbukanya kesetaraan ekonomi yang akan menciptakan kenyamanan hidup berekonomi yang damai sejahtera.

Kedua, konsep unik yang berakar dari budaya Indonesia. Bangsa ini telah berinteraksi dengan banyak budaya dunia, mengambil yang baik, memadupadankan, serasi-selaras. Tidak dapat dipungkiri, budaya Indonesia sangat diwarnai oleh nilai-nilai Islam.

Hubungan ekonomi telah terjalin sejak zaman Bani Umayah dan Kerajaan Sriwijaya. Qudratullah Fatimi, profesor University of Karachi, dalam artikelnya “Two Letters from Maharaja to the Khalifah” menjelaskan surat dari Maharaja Sriwijaya kepada khalifah Umar bin Abdul Aziz.

 
Hubungan ekonomi telah terjalin sejak zaman Bani Umayah dan Kerajaan Sriwijaya.
 
 

 

Peter Carey, profesor Oxford University, dalam bukunya Destiny: The Life of Prince Diponegoro of Yogyakarta menjelaskan kuatnya pengaruh Islam dalam budaya Jawa. Mustahar, anak tertua Sultan Hamengkubuwono III, di masa mudanya dikenal sebagai Pangeran Ontowiryo yang kemudian lebih dikenal sebagai Pangeran Diponegoro.

Belajar dari Kiai Taptajani alias Taftazani, beliau sangat dipengaruhi kitab-kitab acuan para raja seperti Siratus Salatin, Tajus Salatin, Fatah Al Muluk, Hakik Al Modin, dan Nasihat Al Muluk selama menimba ilmu di keraton. Kitab-kitab fikih dalam konteks Jawa, seperti Taqrib, Lubab Al Fiqh, Muharrar, dan //Taqarrub// ditemukan saat pustaka pribadi Pangeran Diponegoro dibongkar Belanda.

Ketiga, konsep yang bersifat inklusif dan universal yang dapat ditawarkan Indonesia sebagai pemimpin G-20 adalah ekonomi syariah. Inklusif dan universal ini tercermin dari penerimaan sosial masyarakat non-Muslim terhadap pemerintahan Islam.

Rachel Hutchings, peneliti University of Arkansas, dalam artikelnya “Non Muslim Integration into the Early Islamic Caliphate” mengutip estimasi Richard Bulliet hanya 5-6 persen dari populasi di bawah pemerintahan Islam, yang beragama Islam di zaman Khulafaur Rasyidin.

Wilayah-wilayah bekas jajahan Persia dan Romawi yang berhasil dibebaskan oleh Khulafaur Rasyidin menyambut dengan antusias walaupun belum beragama Islam. Di bawah kekuasan Persia dan Romawi, orang miskin harus membayar upeti kepada tuan tanah dan kerajaan. Sedangkan di bawah Khulafaur Rasyidin, orang kaya yang harus membayar zakat untuk orang miskin.

 
Sedangkan di bawah Khulafaur Rasyidin, orang kaya yang harus membayar zakat untuk orang miskin.
 
 

 

Ini menunjukkan dua hal. Pertama, Islam tidak memaksa untuk pindah agama. Kedua, nilai-nilai Islam dapat diterima oleh non-Muslim karena sifatnya yang inklusif dan universal. Setelah selama lima abad kaum Yahudi diusir dari Yerusalem oleh kekuasaan Romawi, ketika Umar bin Khattab membebaskan kota suci itu, kaum Yahudi boleh kembali menetap di Yerusalem.

Sebagai pemimpin G-20, membanggakan proyek infrastruktur kepada anggotanya, ibarat mengajari ikan berenang. Membanggakan demokrasi dan HAM, ibarat menepuk air didulang terpercik muka sendiri.Antony Blinken, menteri luar negeri AS, dalam “2020 Human Rights Report” menyoroti delapan pelanggaran HAM di Indonesia.

Yang paling memenuhi kriteria kuat, unik, universal untuk ditawarkan dalam Annual Meeting G-20 tampaknya hanya ekonomi syariah. Untuk itu, perlu dibangun banyak kisah kesuksesan ekonomi syariah.

Memiliki bank syariah hasil merger saja, hanya mengundang senyum dari Arab Saudi. Perlu disiapkan bank syariah khusus properti terbesar di dunia. Perlu disiapkan bank daerah syariah terbesar di dunia. Layanan syariah Tapera dan Jamsostek harus jadi yang terbesar di dunia. BPJS Kesehatan harus segera menyiapkan layanan syariah karena berpeluang besar untuk menjadi yang terbesar di dunia.

 
Yang paling memenuhi kriteria kuat, unik, universal untuk ditawarkan dalam Annual Meeting G-20 tampaknya hanya ekonomi syariah.
 
 

Wisata inklusif yang memberikan kenyamanan semua wisatawan akan menjadi konsep unggulan. Apa pun agamanya, wisatawan merasa nyaman karena diakui dan dihargai keyakinannya. Produsen dan pedagang inklusif juga menarik karena konsumen merasa nyaman diakui dan dihargai keyakinannya. Inilah ekonomi syariah.

Ini saatnya Indonesia menginspirasi dunia dengan mewarnai G-20 dengan nilai-nilai ekonomi syariah. Menjadi tuan rumah tanpa menawarkan kosep yang kuat, unik, universal hanya ibarat menjadi panitia kenduri.

Socio political roasting and bullying harus benar-benar dihentikan. Tidak pantas dilakukan oleh pemimpin. Buzzer harus disiapkan tema yang positif agar menjadi buzzer kebaikan. Politik belah bambu harus diganti dengan politik sapu lidi.

 
Ini saatnya Indonesia menginspirasi dunia dengan mewarnai G-20 dengan nilai-nilai ekonomi syariah.
 
 

Ini saatnya untuk membuat sejarah baru kepemimpinan Indonesia di pentas dunia. Menyia-nyiakan kesempatan ini berarti menunggu rotasi kepemimpinan 20 tahun lagi. Kita semua harus kerja keras agar pantas menjadi pemimpin dunia.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Ada dosa yang tidak dapat ditebus dengan pahala shalat, sedekah atau haji, maka ia bisa ditebus dengan kesusahpayahan dalam bekerja keras.” Bismillah.


×