Anak muda pun rentan mengalami long covid (ilustrasi) | Freepik

Sehat

05 Apr 2021, 08:54 WIB

Sst, Anak Muda Pun Rentan Long Covid

Gejala long covid di antaranya gangguan otak, sakit kepala, halusinasi, bahkan kejang-kejang.

Pandemi Covid 19 yang melanda seluruh dunia boleh dibilang mulai terkendali. Meski begitu, virus corona ini telah menginfeksi ratusan juta orang. Tiap pasien mengalami gejala yang berbeda. Ada pasien yang memang terkena gejala berat hingga meninggal, ada juga yang tanpa gejala dan sembuh dengan mudah.

Setelah lebih dari satu tahun menghadapi pandemi ini, kita pun mengenal istilah long covid. Ini adalah gejala sakit berkepanjangan yang diderita setelah tes Covid 19 menunjukkan hasil negatif.

Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid 19 mengungkapkan long covid dapat menyebabkan masalah kesehatan bagi penyintas Covid 19 berusia muda dan tanpa riwayat komorbid atau penyakit penyerta.

"Penderita Covid 19 secara umum akan sembuh 2-6 pekan tapi untuk beberapa orang beberapa gejala akan dirasakan beberapa pekan setelah dinyatakan pulih. Hal ini juga bisa dialami oleh mereka yang menderita gejala ringan, berusia muda atau anak-anak dan yang tidak punya komorbid," kata Juru Bicara Satgas Penanganan Covid 19 Wiku Adisasmito dalam konferensi pers virtual di Graha BNPB Jakarta pada awal Maret lalu.

Mengutip penelitian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Wiku menyebutkan pada sampel berusia 18-34 tahun yang sebelumnya sehat, 20 persen atau 1 dari 5 pasien melaporkan menderita beberapa gejala berkepanjangan setelah menderita Covid 19.

Namun, menurut Wiku, mereka yang menderita long covid tidak akan menularkan Covid 19 kepada mereka yang berada di sekitarnya. "Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat telah mengamati gejala berkepanjangan yang diderita pasien dengan long covid, umumnya adalah kelelahan, kesulitan bernafas, batuk, sakit persendian dan sakit dada," tambah Wiku.

Gejala lain yang mungkin ditemui adalah kesulitan berpikir dan berkonsentrasi atau sering disebut brain fog, depresi, sakit pada otot, sakit kepala, demam dan jantung berdebar. "Meski kasusnya jarang, ada juga komplikasi medis yang menyebabkan masalah kesehatan berkepanjangan di beberapa penyintas Covid 19," kata Wiku.

Masalah-masalah tersebut mempengaruhi sistem organ tubuh yang berbeda antara lain terjadi pembengkakan otot jantung, masalah fungsi pada paru-paru, kerusakan ginjal akut, gatal-gatal dan rambut rontok serta masalah pada indra penciuman dan perasa.

"Saya harapkan dengan temuan ini masyarakat dapat lebih waspada dampak negatif pada kesehatan ini tidak hanya dirasakan pada komorbid bahkan kepada mereka berusia muda dan tidak memiliki komorbid," ungkap Wiku.

Dampak jangka panjang long covid pasti akan mempengaruhi produktivitas ke depannya. "Bila merasakan gejala segera ke fasilitas kesehatan terdekat," ujar Wiku.

 

 

 

Saya harapkan dengan temuan ini masyarakat dapat lebih waspada dampak negatif pada kesehatan ini tidak hanya dirasakan pada komorbid bahkan kepada mereka berusia muda dan tidak memiliki komorbid.

Wiku Adisasmito
 

 

 

Kemungkinan menetap

Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Dr dr Agus Dwi Susanto memaparkan sejumlah gejala yang dialami oleh pasien dengan long covid. “Kalau dilihat dari berbagai pasien yang sering kontrol, dan pasien saya memang sebagian besar itu terasa letih. Lalu napasnya belum plong, tidak seperti sebelum sakit, bahkan pada beberapa kondisi ketika beraktivitas napas terasa ngos-ngosan,” ungkap Agus lagi.

Selain itu, lanjut Agus, long covid juga ada yang menetap jika memang sejak awal, pasien memang dalam keadaan sudah kritis akibat penyakit bawaan.

Pasien yang sempat menjalani rawat inap apalagi sampai di ICU, sebaiknya terus dilakukan pemantauan fungsi organ secara berkala. Karena jika didiamkan, ini bisa lebih parah. Apalagi dalam beberapa kasus, Covid 19 bisa mempengaruhi kinerja otak.

Itu dikarenakan virus corona ini masuk melalui saluran napas lalu ke paru. Selain paru, ada juga di ginjal, lambung, juga pembuluh darah yang alirannya hingga masuk ke otak. “Kalau virus banyak menempel di pembuluh darah, itu bisa alami gangguan otak, sakit kepala, halusinasi, itu bisa saja muncul, bahkan bisa kejang-kejang. Malah saya ada teman yang sampai mengalami gangguan daya ingat,” ungkap Agus.

Setelah negatif Covid 19, temannya itu tiba-tiba tidak ingat apa saja yang terjadi selama di rumah sakit. “Bisa saja itu terjadi karena menempel di sistem saraf pusat, tergantung area mana yang terkena. Penanganannya pun tergantung derajatnya tadi. Kalau kena sistem saraf, ada dari teman-teman neurologi untuk terapi,” ungkap dia.

Beberapa negara juga melaporkan persentase pasien yang mengalami long covid (efek setelah sembuh) yang bervariasi yaitu sekitar 50-70 persen. Di Indonesia sendiri, belum ada yang menginformasikan data ini. Tetapi bisa dipastikan, /long covid/ yang dialami pasien tergantung dari komplikasi penyakitnya.

“Covid itu masih menjadi sebuah fenomena yang diselidiki tim luar negeri dan maupun Indonesia. Soal berapa lama long covid berada di tubuh pasien, belum ada jawaban pasti. Itu tergantung seberapa berat pasien saat kena covid. Jadi kalau pasien alami kritis, sampai menggunakan ventilator, biasanya sudah alami kerusakan organ cukup luas. Pada kondisi ini, long covid yang muncul bisa lebih lama bahkan menetap,” papar dia.

Berbeda ketika orang alami derajat gejala ringan seperti hanya batuk atau pilek, tentu kerusakan jaringannya berbeda. Selain itu tergantung juga pada komorbiditasnya, apakah pasien mempunyai penyakit bawaan atau tidak. “Tentu berbeda kalau pasien tidak punya komorbid. Misalnya satu pasien tidak ada komorbid, yang satu ada penyakit jantung, tentu yang memiliki riwayat penyakit jantung ada memiliki gejala menetap. Itu penjelasan yang paling umum,” ungkap dia.

 

photo
Anak muda pun rentan mengalami long covid (ilustrasi) - (Freepik)

 

 

Perhatikan Gejala yang Muncul

Tetapi sebenarnya bagaimana cara penanganan Covid ketika pasiennya dinyatakan positif? Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Dr dr Agus Dwi Susanto mengatakan, penanganan kasus positif Covid 19 harus dilihat dari gejala apa yang terlihat.

“Misalnya indera penciumannya hilang atau hanya batuk, itu harus ke THT. Untuk penanganan awal batuk, itu boleh saja diberikan obat batuk. Tapi tentu harus juga ke spesialis paru, nanti diberi obat untuk perbaiki parunya jika ada masalah dalam paru,” ungkap Agus dalam ajang virtual yang berlangsung pada Januari lalu.

Berdasarkan pengalaman saat menangani beberapa pasien yang alami gejala berhubungan paru, ia memberikan obat antiinflamasi atau antioksidan dan biasanya itu bisa memperbaiki kerusakan paru. Sedangkan untuk gejala yang berhubungan dengan lambung, ini harus dikonsultasikan dengan dokter penyakit dalam. “Pengobatan sementara yang disesuaikan dengan keluhan pasien itu tidak apa-apa, tapi harus tetap dikonsultasikan,” kata dia.

Ketika seseorang diduga terinfeksi virus corona, gejala ringan yang muncul adalah batuk hingga demam. Berdasarkan panduan pada awal pandemi, bila gejala ini muncul sebaiknya melakukan karantina mandiri di rumah.

Seseorang yang diduga menunjukkan gejala ringan corona tidak perlu dirawat di rumah sakit. Saat dalam kondisi tersebut, masyarakat perlu memahami bahwa harus menjaga jarak dan tidak ke luar rumah.

Namun, apabila seseorang menunjukkan gejala berat atau cukup parah, tetaplah tenang dan tidak panik. Coba telaah riwayat bepergian atau aktivitas yang dilakukan sebelumnya.

Apabila sehabis bepergian ke negara dengan wabah corona tinggi, sebaiknya perlu waspada. Atau, bila curiga gejala tersebut mengarah pada corona, ada baiknya segera melakukan antisipasi.

Seseorang yang mengalami gejala cukup parah dan mengarah ke corona tidak disarankan menuju fasilitas kesehatan (faskes) mana pun. Masyarakat harus menelepon 119 ekstensi 9 untuk mendapatkan panduan dengan tepat.

 

 

Sumber : Antara


×