Sejumlah warga beraktivitas di dekat jalur rel Kereta Api (KA) Pangrango jurusan Bogor-Sukabumi di Kelurahan Empang, Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (18/9/2019). Sedikitnya lebih dari dua ribu bangunan di wilayah Kota dan Kabupaten Bogor akan tergusur proyek | ANTARA FOTO

Kisah Dalam Negeri

30 Mar 2021, 10:41 WIB

Rela Digusur demi Proyek Jalur Ganda Bogor-Sukabumi

Ada ratusan bangunan dibongkar untuk pembangunan jalur ganda Kereta Api Bogor-Sukabumi.

OLEH SHABRINA ZAKARIA 

Tepat pukul 12.00 WIB, azan Zuhur berkumandang di sekitar Stasiun Batutulis, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat, Ahad (28/3). Di tengah terik matahari, sejumlah laki-laki mengangkat besi dan balok-balok kayu, dari tempat yang dulunya merupakan rumah warga, warung kelontong, warteg, dan bengkel.

Deretan bangunan yang letaknya tidak jauh dari Stasiun Batutulis itu kini telah dibongkar. Bukan tanpa alasan, bangunan tersebut dibongkar demi memperlancar pembangunan jalur ganda (double track) kereta lintas Bogor-Sukabumi.

Di tengah aktivitas pekerja, tampak sosok seseorang sedang berjongkok di antara puing-puing bangunan. Pendi Supriatna (91 tahun) namanya. Ternyata, ia mencari besi yang sekiranya bisa dibawa ke pengepul. Umur yang terbilang lansia tidak menyurutkan semangatnya.

Pendi bercerita, rumahnya yang terletak di Kampung Kebon Kelapa RT 03, RW 09, Kelurahan Batutulis, Kecamatan Bogor Selatan, juga terdampak proyek jalur ganda. Sehingga, setelah mendapat uang kerahiman sebesar Rp 33 juta pada 2020, ia harus angkat kaki dari rumah yang telah ditinggalinya selama 39 tahun.

Dalam rentang waktu dua pekan, Pendi dan anak bungsunya langsung mencari rumah tinggal sementara. Saat ini, ia tinggal mengontrak di Kampung Keramat, Kelurahan Pamoyanan, Kecamatan Bogor Selatan, tak jauh dari tempat tinggal lamanya.

Meski sudah memiliki tempat tinggal baru, Pendi tidak berdiam diri. Uang puluhan juta yang didapatkannya, digunakan untuk membeli tanah yang menjadi bakal calon tempat tinggal barunya. Tak hanya itu, hampir setiap hari, Pendi kembali ke kawasan Batutulis, untuk mengambil balok-balok kayu dan besi yang bisa dimanfaatkan kembali saat membangun rumah barunya nanti.

"Sudah ikhlas (rumah lama) kalau memang harus dibongkar," kata Pendi sambil duduk berlindung dari terik matahari di bawah backhoe.

Sambil mengipas wajah menggunakan topinya yang lusuh, Pendi mengatakan, bukan ia saja yang masih kembali ke kawasan Batutulis untuk mengambil puing-puing yang masih berguna. Warga lain juga masih kembali ke kawasan tersebut, sambil berharap ada barang yang masih bisa dimanfaatkan.

Setidaknya, ada ratusan bangunan yang terdiri atas rumah, warung, bengkel, dan rumah ibadah juga turut dibongkar. Dalam pandangan Pendi, selama beberapa bulan terakhir, bangunan tersebut ada yang dibongkar langsung warga sendiri, ataupun petugas Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Wilayah Jawa Bagian Barat, selaku penanggung jawab proyek. Termasuk rumah Pendi yang hanya terletak 20 meter dari rel kereta.

"Ketika sudah dapat uang (kerahiman), baru kami bongkar. Ada yang bongkar sendiri, ada yang pakai backhoe," tuturnya.

Adi (51) yang dulu tinggal tidak jauh dari rumah Pendi juga sedang berburu barang berharga di tengah puing-puing bangunan. Tak jarang, kaki dan tangannya tergores kayu dan paku hingga berdarah ketika mengambil kayu, genteng, dan besi sisa, yang sekiranya bisa gunakan kembali.

Rumahnya yang juga terletak di Kampung Kebon Kelapa juga turut dibongkar. Padahal, rumah tersebut merupakan rumah masa kecilnya yang sudah tinggali sejak 1970. Dia mengaku, tentu merasa sedih karena rumah peninggalan orang tuanya tersebut tidak bisa ditinggali lagi tahun ini.

Meski begitu, Adi tidak terkejut ketika mengetahui rumahnya akan dibongkar. Karena, berita mengenai beberapa bagian kampungnya bakal digusur sudah menjadi perbincangan warga sejak empat tahun ke belakang. "Sudah lama saya dengernya mah, tapi beritanya masih samar-samar," ujarnya.

Setelah menyesap kopi hitamnya, Adi menegaskan, baru ada titik terang penggusuran sekitar 2018 atau 2019. "Pas tahun 2021 ini baru ada realisasi. Saya dapat uang kerahiman Rp 18 juta, lalu diberi waktu sekitar sepekan buat bersiap pindah."

Sambil menerawang, Adi membayangkan, mulai tahun ini, ia dan keluarganya tidak bisa lagi berkumpul di rumah tersebut pada Hari Raya Idul Fitri. Ditambah lagi, saat ini Adi sudah berpindah ke kawasan Cibedug, Kabupaten Bogor. Berbeda dengan tetangga-tetangganya yang pindah ke Kelurahan Kertamaya, Bojongkerta, dan Rancamaya, yang masih berada di kawasan Kecamatan Bogor Selatan.

Meski terasa berarti, Adi mengaku ikhlas karena lahan tersebut merupakan hak dari pemerintah. Ditambah lagi, pembangunan jalur ganda bakal bermanfaat bagi kemajuan negara. Sehingga, menurutnya, anak cucunya nanti bisa mendapatkan manfaat dari proyek itu ke depannya. "Berpuluh-puluh tahun tinggal di sini, banyak kenangannya yang nggak ditulis, dari keretanya masih warna hitam sampai sekarang jadi warna putih, akhirnya saya pindah dari sini," kata Adi berkelakar.

 
Berpuluh-puluh tahun tinggal di sini, banyak kenangannya yang nggak ditulis, dari keretanya masih warna hitam sampai sekarang jadi warna putih.
 
 

Berbeda dengan Unen (47), rumahnya yang masih terletak di Kampung Kebon Kelapa, tidak terkena dampak proyek jalur ganda. Namun, ia turut sedih menyaksikan tetangganya harus meninggalkan rumah satu per satu, terakhir pada awal Maret 2021.

Beberapa warga yang telah menerima uang kerahiman pada 2020, dan seharusnya meninggalkan rumah dalam rentang waktu dua pekan kemudian. Namun, beberapa di antaranya masih merasa nyaman untuk tinggal di sana. Sehingga, petugas DJKA harus menghampiri rumah warga satu per satu melakukan pendekatan agar mereka mau pindah. "Sekarang sudah kosong semua, sudah rata," ucap Unen.

Lurah Batutulis, Heri Eryadi, mengatakan, hampir 70 persen warganya terdampak proyek jalur ganda Bogor-Sukabumi. Setidaknya, ada 368 bidang tanah yang terdampak meliputi rumah warga, tempat usaha, dan rumah ibadah. Adapun uang kerahiman atas 172 bidang sudah dibayar pada 2020. Sedangkan, 196 lahan sisanya, dibayar pada awal Maret 2021 oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI). "Kita relokasi mandiri di wilayah Kelurahan Bojongkerta, Kecamatan Bogor Selatan," ujar Heri.

Heri berharap, jika proyek jalur ganda sudah selesai, agar dapat dipagar untuk mengantisipasi penyerobotan lahan oleh warga. Sehingga, tidak ada lagi bangunan liar yang berdiri di lahan pemerintah.

Kepala Balai Besar Perkeretaapian Wilayah Jawa Bagian Barat, Erni Basri, menjelaskan, 196 lahan di Kelurahan Batutulis merupakan bidang tanah terakhir yang dibebaskan dan sudah dibayarkan pada 2021.  Selain di Kelurahan Batutulis, PT KAI juga sudah membayar 517 bidang tanah di Kelurahan Empang. Sehingga, jika ditotal, pada tahun ini, ada 713 bidang tanah yang dibayar dengan nilai materi Rp 15,7 miliar pada awal Maret 2021.

Setelah pembayaran selesai dilaksanakan, penertiban juga harus sudah selesai. Sehingga, Balai Besar Perkeretaapian bisa meletakkan alat berat beserta material agar pekerjaan bisa segera dilanjutkan.

Erni juga mengaku terus berkoordinasi dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor untuk mengatur warga agar mau pindah setelah mendapat uang kerahiman. "Saya kira kalau yang dampak, dari pemkot sudah memberikan sinergi bagaimana mengatur warga dan warga manut saja," tutur Erni.


×