Sunarsip | Daan Yahya | Republika
29 Mar 2021, 03:15 WIB

Selamat Datang, Era Kendaraan Listrik!

Ketersediaan baterai menjadi salah satu kunci keberhasilan pengembangan kendaraan listrik.

OLEH SUNARSIP

Pada Maret 2019, tepat dua tahun lalu, saya berkesempatan berkunjung ke Shanghai, Cina untuk melihat salah satu manufaktur kelistrikan di sana. Cina adalah salah satu manufaktur kelistrikan terbesar di dunia.

Teknologi kelistrikannya hampir setara dengan Eropa. Tidak mengherankan bila kini Cina menjadi salah satu pemasok alat-alat kelistrikan di berbagai negara. Tidak hanya manufaktur kelistrikan berbasis energi fosil, juga yang berbasis energi baru dan terbarukan (EBT/renewables energy).

Di sela kunjungan itu, saya mengamati kehidupan dan mobilitas orang di sana. Menariknya, lalu lalang orang yang berkendara terutama pegawai pertokoan, hampir seluruhnya menggunakan sepeda motor listrik. Praktis tidak ada pegawai toko yang menggunakan sepeda motor berbahan bakar minyak (BBM) untuk mengangkut barang dari satu toko ke toko lainnya atau mengantar barang ke pelanggan (customer).

Terkait

 
Sejak 2009, Cina sudah mencanangkan peta jalan (roadmap) kendaraan listrik dengan target ambisius.
 
 

Cina sudah lama mengembangkan kendaraan listrik. Sejak 2009, Cina sudah mencanangkan peta jalan (roadmap) kendaraan listrik dengan target ambisius. Tujuannya adalah ingin mengurangi ketergantungan pada konsumsi BBM. Cina adalah importir minyak (crude dan BBM) terbesar di Asia. Cina ingin mengurangi penggunaan BBM dan beralih ke listrik, sekalipun listriknya masih menggunakan batu bara.

Wajar bila kelistrikan Cina sebagian besar dibangkitkan dengan batu bara. Perlu dicatat, Cina adalah produsen batu bara terbesar di dunia, meskipun juga masih menjadi importir batu bara terbesar di dunia. Melalui pengembangan kendaraan listrik ini, penggunaan energi bisa lebih optimal karena memaksimalkan sumber energi milik sendiri. Selain itu, biaya energi secara nasional juga dapat ditekan menjadi lebih murah.

Meskipun di awal pengembangan kendaraan listrik menghadapi tantangan berat, kini Cina telah menjadi negara dengan penjualan kendaraan listrik terbesar di dunia. McKinsey (2020) mencatat pangsa penjualan kendaraan listrik di Cina mencapai lebih dari 50 persen dari total penjualan kendaraan listrik di dunia. Di tingkat global, pangsa penjualan kendaraan listrik juga meningkat dari 0,6 persen pada 2015 menjadi 2,5 persen pada 2019 dari total penjualan kendaraan global.

Akhir pekan lalu, Kementerian BUMN telah mengumumkan pendirian holding bernama Indonesia Battery Corporation (IBC) yang dibentuk untuk mengelola industri baterai terintegrasi dari hulu sampai ke hilir. Holding ini merupakan konsorsium dari empat perusahaan, yaitu Inalum, Antam, PLN, dan Pertamina dengan kepemilikan saham masing-masing 25 persen. Secara tidak langsung, nantinya Inalum akan menjadi pengendali IBC karena memiliki saham 50 persen, yaitu melalui kepemilikan langsung 25 persen dan tidak langsung (melalui Antam) 25 persen.

 
Belajar dari pengalaman negara lain, ketersediaan baterai (selain infrastruktur pengisian listrik) menjadi salah satu kunci keberhasilan pengembangan kendaraan listrik. 
 
 

Belajar dari pengalaman negara lain, ketersediaan baterai (selain infrastruktur pengisian listrik) menjadi salah satu kunci keberhasilan pengembangan kendaraan listrik. Di awal pengembangannya, Cina juga mengalami kesulitan melakukan penetrasi bagi produksi kendaraan listrik karena tidak adanya supplier baterai yang bonafid (qualified) ke industri otomotif.

Pembangunan infrastruktur pengisian (charging) listrik yang lambat juga menjadi penyebab rendahnya permintaan (demand) kendaraan listrik, sekalipun pemerintah telah mengeluarkan subsidi besar untuk mendorong pembelian kendaraan listrik.

Inisiatif pemerintah yang lebih dulu mengembangkan kesiapan baterai (dan infrastruktur charging listrik) merupakan langkah tepat untuk mendorong produksi dan permintaan kendaraan listrik. Melalui IBC ini, holding dapat melakukan kerja sama dengan manufaktur baterai global yang memiliki reputasi, baik dari Eropa, Amerika Serikat, Jepang, dan lainnya.

Tentu akan lebih baik bila kerja sama manufaktur baterai dan charging listrik tersebut juga melibatkan industri strategis kita, seperti Pindad, INTI, Dahana, LEN, dan lainnya agar terjadi transfer teknologi.

Langkah di tingkat korporasi BUMN ini dapat dikatakan sebagai manifestasi keseriusan pemerintah dalam mendorong kendaraan listrik. Sebelumnya, di tingkat sektoral, sejak tahun lalu, Kementerian ESDM juga telah menerbitkan Peraturan Menteri ESDM No 13/2020 tentang Penyediaan Infrastruktur Pengisian Listrik untuk Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai sebagai tindak lanjut dari Perpres No 55/2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai untuk Transportasi Jalan.

PLN juga telah menyiapkan roadmap Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum 2020-2030. Kombinasi kebijakan di tingkat sektoral, langkah korporasi di tingkat BUMN, dan langkah teknis di sisi hilir PLN diharapkan dapat mempercepat pengembangan kendaraan listrik.

 
Keberadaan IBC juga strategis dalam rangka memaksimalkan nilai tambah (value added) dari pengembangan kendaraan listrik ini. 
 
 

Keberadaan IBC juga strategis dalam rangka memaksimalkan nilai tambah (value added) dari pengembangan kendaraan listrik ini. Indonesia adalah produsen dan pemilik cadangan (reserves) nikel terbesar di dunia. Baterai memiliki kontribusi besar terhadap biaya kendaraan listrik, yaitu sekitar 25 hingga 40 persen dan bahan baku berkontribusi sekitar 60 persen dari total biaya pembuatan baterai. Bahan baku baterai antara lain berasal dari nikel, kobalt, aluminium, mangan, dan lithium.

Nikel diprediksi akan memiliki porsi yang signifikan sebagai komponen baterai di masa mendatang. Dengan demikian, bila manufaktur baterai kita lakukan sendiri, hal itu akan memaksimalkan nilai tambah nikel yang kita miliki. Tentunya, ketersediaan bahan baku yang cukup banyak ini perlu diikuti dengan blueprint yang terencanakan dengan baik agar pemanfaatannya bagi industri hilir lebih optimal.

Pengembangan kendaraan listrik juga strategis bagi PLN. Dalam beberapa tahun terakhir ini, PLN mengalami penurunan pertumbuhan penjualan listriknya. Penurunan ini terutama berasal dari pelanggan industri. Kendaraan listrik diharapkan dapat meningkatkan konsumsi listrik yang bisa menjadi kompensasi bagi kehilangan penjualan listrik dari industri. Ke depan, keberadaan kendaraan listrik diharapkan mengembalikan “equilibrium” permintaan listrik PLN yang saat ini grafiknya sedang bergeser ke bawah.

Secara nasional, kendaraan listrik juga strategis dalam mengubah komposisi konsumsi energi dan konsekuensi fiskalnya. Penggunaan kendaraan listrik di kota-kota besar akan berdampak signifikan, baik bagi pengurangan impor minyak dan subsidi. Penggunaan kendaraan listrik juga memiliki dampak efisiensi energi paling tinggi, kualitas lingkungan yang positif, dan tak kalah menarik: juga merupakan bisnis yang potensial.

 
Secara nasional, kendaraan listrik juga strategis dalam mengubah komposisi konsumsi energi dan konsekuensi fiskalnya.
 
 

Studi McKinsey (2014) menyebutkan bahwa penghematan subsidi energi yang bisa dihasilkan dapat mencapai sekitar Rp 800 miliar untuk setiap 100 ribu mobil yang dikonversi dari BBM ke listrik. Saat ini terdapat sekitar 3,7 juta mobil di Jakarta (belum termasuk sepeda motor), sebuah potensi yang besar untuk mengurangi subsidi BBM.

Keinginan untuk mendorong pengembangan kendaraan listrik adalah cita-cita kita sudah cukup lama, sekitar 10 tahun lalu. Salah satu faktor yang menghambat bagi terwujudnya cita-cita tersebut adalah belum kita peroleh secara tepat pemimpin industri dan kapabilitas di semua bidang penting di sektor energi.

Mudah-mudahan, melalui tahapan yang kini dilakukan pemerintah, kita telah mendapatkan hal yang belum kita dapatkan tersebut. Dan semoga ini menjadi awal bagi terwujudnya era energi bersih secara konsisten di masa mendatang. “Selamat datang, era kendaraan listrik!” 


×