Masjid Umayyah di Damaskus, Suriah. Salah satu raja Bani Umayyah yang tercatat dengan tinta emas ialah Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Meskipun kepemimpinannya terbilang singkat, ia mampu menghadirkan berbagai reformasi yang signifikan bagi umat. | DOK WIKIPEDIA
28 Mar 2021, 13:24 WIB

Umar bin Abdul Aziz, Sang Khulafaur Rasyidin Kelima

Umar bin Abdul Aziz memandang jabatan sebagai ujian dari Allah SWT.

OLEH HASANUL RIZQA

 

 

Menjelang ajalnya, Sulaiman bin Abdul Malik mengumpulkan sejumlah menteri utamanya. Mereka diminta menyampaikan baiat untuk khalifah penggantinya.

Terkait

Siapa sosok yang dimaksud? Hingga saat itu, tidak ada yang mengetahuinya selain Sultan Sulaiman sendiri dan orang-orang kepercayaannya. Yang pasti, nama penerusnya sudah tercantum dalam surat wasiat yang tertutup rapat. Siapapun yang ditunjuknya, para pembantu penguasa mesti setia menaatinya.

Pada 24 September 717, Sulaiman wafat. Sepeninggalannya, surat wasiat itu pun dibuka. “Bismillahirrahmanirrahim. Ini adalah surat keputusan dari hamba Allah, Sulaiman bin Abdul Malik, Amirul Mukminin untuk Umar bin Abdul Aziz. Sesungguhnya, aku telah mengangkatnya sebagai khalifah setelahku dan setelah dia (Umar) adalah Yazid bin Abdul Malik. Maka dengarkanlah dan taatilah dia, serta bertakwalah kepada Allah. Jika kalian berpecah belah, musuh akan mudah menundukkan kalian,” demikian isi surat tersebut.

Umar bin Abdul Aziz merupakan saudara sepupu almarhum sekaligus cicit sahabat Nabi Muhammad SAW, Al-Faruq Umar bin Khattab. Sesungguhnya, ia berada di luar garis trah langsung Umayyah. Apalagi, masih ada anak keturunan Al-Walid bin Abdul Malik, khalifah yang menjabat sebelum Sultan Sulaiman.

Akan tetapi, penunjukan putra gubernur Mesir Abdul Aziz bin Marwan itu tidak terutama mengenai soal nasab. Reputasi dan integritasnya itulah yang menjadi pertimbangan utama. Kedua aspek itu saja sudah terbukti tatkala dirinya menjabat sebagai gubernur Madinah al-Munawarrah.

Menurut Prof Ali Muhammad ash-Shallabi dalam Biografi Umar bin Abdul Aziz: Khilafah Pembaru dari Bani Umayyah (2010), Sulaiman menunjuknya atas saran dari ulama besar yang juga seorang menteri istana, al-Faqih al-‘Alim Raja’ bin Haiwah.

 
Bisa dibilang, semua elite dan penduduk negeri menyetujui naiknya Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah kedelapan.
 
 

 

Bisa dibilang, semua elite dan penduduk negeri menyetujui naiknya Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah kedelapan. Masyarakat dan tetua Madinah malahan sepenuh hati mendukungnya. Bagaimanapun, figur berjulukan ar-Rasyid Asyajj Bani Umayyah ini tidak larut dalam euforia.

Begitu mengetahui kabar penunjukannya, Umar langsung mengucapkan, “Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un.” Namun, para petinggi dan tokoh Muslim sudah merasa gembira dengan berita ini. Mereka pun tetap meminta Umar untuk melaksanakan amanah kepemimpinan. Akhirnya, lelaki yang gemar menuntut ilmu-ilmu agama itu mau menerima jabatan tersebut.

Seusai dibaiat, ia berpidato di hadapan rakyat, “Aku tidak menghendaki jabatan khalifah. Aku tidak pernah diajak musyawarah atas jabatan itu, juga tidak pernah memintanya. Maka cabutlah baiat itu dan pilihlah yang kalian kehendaki.”

Seketika, massa berteriak, “Sungguh kami memilih engkau, wahai Amirul Mukminin!”

Merasa tak bisa menghindar lagi, ia pun menjelaskan caranya dalam memimpin umat, “Taatlah kalian kepadaku selama aku taat kepada Allah. Apabila aku maksiat kepada Allah, maka tidak ada (kewajiban) kalian taat kepadaku.”

 
Taatlah kalian kepadaku selama aku taat kepada Allah. Apabila aku maksiat kepada Allah, maka tidak ada (kewajiban) kalian taat kepadaku.
UMAR BIN ABDUL AZIZ
 

 

Usai menyampaikan pidato iftitah, Umar pulang ke rumahnya dengan wajah bermuram durja. Kepada istrinya, ia menuturkan, “Aku telah diuji Allah dengan jabatan ini dan aku teringat orang-orang yang miskin, ibu-ibu janda, dan mereka yang rezekinya sedikit. Aku pun teringat orang-orang tawanan dan kaum fakir miskin. Kelak mereka akan mendakwaku di akhirat.”

Umara yang ulama

Para ahli sejarah Islam menggelari Umar bin Abdul Aziz sebagai khulafaur rasyidin kelima. Julukan tersebut menandakan ketinggian akhlaknya yang seperti keempat pemimpin sekaligus sahabat Nabi SAW itu: Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

Karakteristiknya memang bertolak belakang dengan mayoritas raja Dinasti Umayyah. Bila kaum elite sebelum dan setelahnya menyukai kemewahan, dia cenderung hidup bersahaja. Walaupun menjabat sebagai orang nomor satu di seantero negeri, sang amirul mukminin selalu memenuhi kebutuhan harian selayaknya rakyat biasa.

Ia sesungguhnya berhak menempati istana kesultanan yang megah. Namun, bangunan besar itu diserahkannya kepada keluarga pendahulunya, Sulaiman bin Abdul Malik. Ia sendiri memilih rumah kecil yang reot sebagai hunian. Perangainya persis seperti Khalifah Umar pada zaman khulafaur rasyidin silam. Karena itu, banyak kalangan menyebutnya sebagai Umar II.

Sejak hari pertama menjabat, Umar II sangat menyadari kekuasaan sebagai amanah Allah. Hatinya selalu takut akan pengadilan Hari Akhir dan perjumpaan dengan Tuhannya kelak. Begitu menjadi amirul mukminin, ia menyuruh bawahannya untuk melelang seluruh harta pribadinya.

 
Begitu menjadi amirul mukminin, ia menyuruh bawahannya untuk melelang seluruh harta pribadinya.
 
 

 

Alhasil, pemasukannya sebagai khalifah merosot drastis hingga 200 dinar setahun. Padahal sebelum menjadi penguasa, cicit Umar bin Khattab ini biasa menghasilkan minimal 50 ribu dinar per tahun.

Tak mengherankan ketika wafat dalam usia 37 tahun, dia hanya meninggalkan harta sebanyak 17 dinar. Itu pun masih harus dikurangi untuk membayar uang sewa hunian tempatnya tinggal. Sisanya diperuntukkan bagi biaya pemakamannya. Pola hidupnya yang zuhud tidak hanya menimbulkan respek dari sesama Muslimin, tetapi juga non-Muslim dan bahkan lawannya sendiri.

Seorang raja Romawi Timur (Bizantium) begitu mendengar kabar kematiannya berkomentar penuh simpati, “Saya tidak begitu heran kalau melihat petapa yang meninggalkan kesenangan duniawi agar dapat fokus menyembah Tuhan. Namun, saya sungguh kagum menyaksikan seorang raja yang bisa dengan mudahnya meraih berbagai kesenangan duniawi, tetapi ia malah menutup matanya rapat-rapat; ia hidup dalam kesalehan. Setelah Yesus, jika ada yang mampu menghidupkan kembali orang mati, Umar-lah orangnya.”

Cerita tentang keluhuran akhlak Umar bin Abdul Aziz begitu masyhur. Banyak sejarawan menuliskannya sebagai pembelajaran bagi generasi kini dan mendatang. Bukan hanya keteladanannya sebagai seorang pemimpin. Rasa cintanya terhadap syiar agama, ilmu pengetahuan, dan sains juga patut dicontoh. Karena itu, dirinya pantas dijuluki sebagai umara yang ulama, penguasa yang alim.

Sebelum menjadi pemimpin, Umar telah dikenal luas sebagai pemuda yang berilmu. Tumbuh besar di Madinah, dia sering mendatangi para ulama terkemuka untuk mendapatkan ilmu dan hikmah dari mereka. Saat menjadi gubernur Kota Nabi, ia pun selalu bermusyawarah dengan alim ulama setempat untuk merumuskan kebijakan publik. Mereka menjadi tempatnya bertanya dan meminta fatwa.

 
Salah satu bidang yang dirintisnya adalah penulisan hadis Nabi SAW.
 
 

 

Karena itu, wajarlah kalau selama masa kekhalifahannya perkembangan ilmu terjadi secara pesat. Salah satu bidang yang dirintisnya adalah penulisan hadis Nabi SAW. Memang, perkataan Rasulullah SAW sudah ditulis sejumlah sahabat sejak beliau masih hidup. Bahkan, sahabat yang bernama Abdullah bin Amr bin ‘Ash telah mencatat hadis-hadis yang kemudian dibukukan dalam Shahifah as-Shadiqah.

Namun, barulah pada masa kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz upaya pembukuan hadis terjadi secara sistematis dan masif. Hal itu diawali dari kekhawatiran sang khalifah kalau hadis-hadis akan hilang dari tengah umat atau mengalami penyimpangan.

Sebab, banyak sahabat yang menghafal hadis telah wafat. Apalagi, kala itu fenomena penyebaran hadis-hadis palsu cukup marak. Orang-orang yang tak bertanggung jawab menyebarkannya demi kepentingan politik atau mazhab.

Selain itu, Khalifah Umar bin Abdul Aziz juga meyakini, tidak ada larangan untuk mengumpulkan dan membukukan hadis. Sebelumnya, pembukuan Alquran sudah terjadi pada era Khalifah Utsman bin Affan. Adanya pencatatan hadis dinilainya bermanfaat sehingga umat dapat membedakan antara Alquran dan hadis Nabi SAW.

Umar lalu bersurat kepada Abu Bakr bin Hazm untuk memintanya menulis hadis-hadis Nabi SAW dari Umrah binti ‘Abdul Rahman al-Anshariyah dan Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr. Permintaan yang sama juga disampaikannya kepada ulama-ulama di seluruh wilayah Daulah Umayyah. Seorang di antaranya adalah Imam Muhammad bin Syihab az-Zuhri, seorang ulama dari generasi tabiin.

Menurut Abu Riya dalam Adwa’a’ala as-Sunnah al-Muhammadiyah, penulisan hadis yang dilakukan sejumlah ulama sempat terhenti ketika Khalifah Umar sakit dan mendekati ajalnya. Sesudah wafatnya, upaya pembukuan hadis terjeda hingga periode raja ke-10 Dinasti Umayyah, Hisyam bin Abdul Malik. Barulah ketika itu, Imam az-Zuhri kembali melanjutkan penulisan hadis.

photo
Khatib menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Aceh, Jumat (20/11/2020). Umar meminta para khatib untuk menutup khutbah dengan membaca dua firman Allah Ta’ala.  - (ANTARA FOTO/Ampelsa)

Visi Mengutamakan Islah

 

Selang beberapa tahun sesudah wafatnya Nabi Muhammad SAW, umat Islam mengalami prahara. Konflik politik terjadi antara kubu Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan. Yang pertama merupakan sang amirul mukminin keempat dalam jajaran khulafaur rasyidin. Adapun yang belakangan pada akhirnya mendirikan Dinasti Umayyah.

Muawiyah yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Utsman bin Affan menginginkan supaya pembunuh khalifah ketiga itu diadili. Namun, dianggapnya Ali tidak memiliki niat untuk melakukan hal tersebut. Alhasil, gubernur Suriah tersebut memberontak terhadap pemerintahan Ali. Inilah yang disebut sebagai Perang Shiffin.

Perseteruan tersebut berakhir sejak Ali gugur lantaran dibunuh seorang ekstremis khawarij. Hasan bin Ali hanya memerintah selama beberapa bulan sebelum menyetujui perundingan dengan kubu Muawiyah. Pada 661, cucu Rasulullah SAW itu sepakat menyerahkan tampuk kepemimpinan kepadanya. Sejak itulah, Daulah Bani Umayyah menguasai peradaban Islam.

Namun, pada 680 pecahlah Perang Karbala. Husain bin Ali gugur dengan keadaan memilukan. Menurut Prof Ahmad Fuad Effendy dalam tayangan Mocopat Syafaat, seperti dikutip dari laman resmi CakNun.com, Yazid bin Abi Sufyan selaku penerus Muawiyah ternyata menaruh dendam kesumat pada Ali dan anak keturunannya. Bahkan, raja kedua Dinasti Umayyah itu mewajibkan seluruh khatib untuk menutup khutbah shalat Jumat dengan kata-kata caci maki terhadap Ali dan keluarganya. Bila menolak, khatib yang malang itu akan dihukum.

Keadaan ini terus bertahan hingga berdekade lamanya. Bani Umayyah lantas dipimpin Umar bin Abdul Aziz. Beberapa saat setelah dibaiat, Khalifah Umar ditanya orang-orang, “Bagaimana pendapat Anda tentang Perang Shiffin dan Perang Karbala?”

“Itu semua adalah pertumpahan darah yang Allah selamatkan darinya. Sungguh, aku benci untuk mengotori lisanku dengan mengomentarinya,” jawab sang khalifah. Maksudnya, ia tidak mau ikut-ikutan para pendahulunya dalam menaruh dendam terhadap Ali bin Abi Thalib dan keturunannya.

 
Umar bin Abdul Aziz kemudian membuat dekrit yang mencabut kebijakan pengekangan terhadap para khatib Jumat.
 
 

 

Umar bin Abdul Aziz kemudian membuat dekrit yang mencabut kebijakan pengekangan terhadap para khatib Jumat. Dahulu, mereka diharuskan menutup khutbah dengan kata-kata penghinaan atas Ali dan anak cucunya. Kini, caci-maki demikian tidak hanya dihentikan, tetapi juga diganti dengan yang lebih baik.

Umar meminta para khatib untuk menutup khutbah dengan membaca dua firman Allah Ta’ala. “Sesungguhnya Allah menyuruh berbuat adil dan berbuat kebajikan (ihsan), memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS an-Nahl: 90).

“Ya Tuhan kami beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan Kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS al-Hasyr: 10).

Tradisi mengakhiri khutbah dengan melantunkan kedua ayat itu bahkan terus berlangsung hingga saat ini. Tidak hanya di Timur Tengah, tetapi juga Indonesia. Demikianlah, Umar tidak mau memelihara dendam. Yang dipilihnya adalah menjaga perdamaian agar menjadi contoh baik bagi generasi-generasi sesudahnya.

 
Tradisi mengakhiri khutbah dengan melantunkan kedua ayat itu bahkan terus berlangsung hingga saat ini.
 
 

Pemimpin yang berkarakter zuhud ini wafat pada 5 Februari 720 M dalam usia 37 tahun. Berbagai sumber menyebut, penyebab kematiannya karena diracun orang-orang yang membenci kebijakan pro-rakyat. Selama masa pemerintahannya yang hanya sekitar tiga tahun, kemakmuran terjadi secara merata.

Tentang ini, Yahya bin Said bersaksi, “Umar bin Abdul Aziz telah mengutusku ke Afrika Utara untuk membagikan zakat kepada penduduk setempat. Sampai di sana, kucari orang-orang fakir untuk kuberikan zakat. Namun, tidak kudapati seorang pun. Bahkan, kami tidak menemukan orang yang berhak menerimanya. Akhirnya, dengan zakat itu kubeli beberapa budak yang lantas kumerdekakan.”


×