Ilustrasi dai mendakwahkan ajaran Islam. | ANTARA FOTO

Khazanah

27 Mar 2021, 10:56 WIB

MUI: Jangan Sampai Tupoksi Dai Bergeser

Dai harus didukung untuk menjalankan misi dakwah Islam yang rahmatan lil alamin.

JAKARTA --- Wakil Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Misbahul Munir mengingatkan, jangan sampai seorang dai melupakan tugas utamanya, yaitu mengajak masyarakat beribadah kepada Allah SWT. Meski, Islam juga mengajarkan tentang ibadah ghairu mahdhah, semisal bekerja dan lainnya.

"Jadi, jangan sampai tupoksi (tugas pokok dan fungsi) dai itu keluar dari relnya, yaitu mengajak orang taqarub kepada Allah. Dan yang paling tinggi tentu ada prioritasnya, yaitu mengingatkan kepada Allah yang merupakan ibadah mahdah," kata Kiai Misbahul kepada Republika, Jumat (26/3).

Ia juga tidak mempermasalahkan bila ada dai yang dalam dakwahnya menyampaikan materi-materi tentang kemandirian ekonomi untuk mendorong agar masyarakat lebih sejahtera. Tetapi, ia mengingatkan, materi yang disampaikan dai tidak sampai merambah luas pada bidang keilmuan lain yang sejatinya tidak dikuasai.

Dai, menurut Kiai Misabahul, semestinya berupaya meningkatkan spiritualitas masyarakat agar makin dekat kepada Allah SWT. Memang, menurutnya, saat ini, tantangan dakwah adalah kurangnya dai yang bersentuhan langsung dengan masyarakat untuk membina amaliah dan akhlak masyarakat. Karena itu, ia berharap, para dai tidak hanya fokus berdakwah melalui media social, tapi juga turun langsung untuk memberikan suri teladan.

Lebih lanjut, ia berpendapat, dai juga tidak harus menjadi pelaku langsung penggerak ekonomi masyarakat, semisal menjadi pengusaha. Menurutnya, dai cukup menyelipkan pesan-pesan agar masyarakat bersemangat dalam bekerja dan berkarya dengan menanamkan niat bahwa semua pekerjaan yang dilakukan semata-mata untuk mengabdi kepada Allah.

"Itulah tugas fungsi dai, jangan bergeser,’’ ujar dia.

Sebelumnya, Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla (JK) meminta para dai dalam dakwahnya tidak hanya berupaya meningkatkan iman dan takwa jamaahnya, tetapi juga membawa kemakmuran bagi masyarakat yang menjadi tempatnya berdakwah. Karena itu, JK berharap, para dai tidak hanya dibekali dengan ilmu agama, tapi juga ilmu lain yang berhubungan dengan peningkatan ekonomi masyarakat.

"Saya harapkan, dakwah kita tidak hanya fokuskan tentang keimanan, tapi juga kemakmuran. Jadi, dai itu jangan hanya menguasai ayat-ayat, tapi juga skill pertanian, perikanan, dan sebagainya," kata JK dalam siaran pers usai meresmikan Rusunawa Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Muhammad Natsir bantuan dari Kementerian PUPR di Tambun, Bekasi, Kamis (25/3).

JK memberi contoh sosok Nabi Muhamamad SAW yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tapi juga ilmu lain yang berkaitan dengan peningkatan ekonomi masyarakat. Bahkan, menurut JK, Nabi Muhammad lebih lama menjalani perannya sebagai pedagang dibanding sebagai Nabi.

“Nabi berdagang dari umur 13 tahun sampai 40 tahun atau 27 tahun, menjadi Rasul hanya 23 tahun. Jadi, lebih lama Rasulullah berdagang daripada menjadi rasul. Jadi, kalau kita memang mau konsisten, maka ikutilah jejak Nabi,’’ ujar Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 ini.

Dalam pandangan Ketua Umum Ikatan Dai Seluruh Indonesia (Ikadi), KH Ahmad Satori Ismail, memang sudah seharusnya dakwah bukan hanya tentang masalah keimanan, takwa, dan akhlak. Masalah-masalah lain pun harus didakwahkan. ';

×