Olahraga
Pemulih Asa Via Piala Menpora
Piala Menpora menjadi momentum menghidupkan kembali sepak bola.
Pertemuan Arema FC dan Tira Persikabo di atas lapangan Stadion Mahanan, Solo, Jawa Tengah, Ahad (21/3) sore WIB, menandai laga kompetitif pertama di kancah sepak bola Indonesia setelah terhenti selama lebih dari satu tahun. Pandemi Covid-19 membuat dua kompetisi teratas di pentas sepak bola, Liga 1 dan Liga 2, terpaksa dihentikan.
Saat wasit Yeni Krisdianto meniup peluit panjang tanda berakhirnya laga Persib kontra PSS Sleman, Ahad, 15 Maret 2020, rasanya tidak ada menyangka itu juga menandai awal dari akhir kompetisi Liga 1 musim 2020. Kemenangan Persib, 2-1, atas PSS Sleman di Stadion Jalak Harupat itu ternyata menjadi laga terakhir yang digelar di pentas Liga 1 musim 2020.
Lambat laun, klub-klub mulai mengeluhkan kian tirisnya kondisi keuangan klub, terutama untuk membayar kontrak pemain, pelatih, dan ofisial. Pun dari sisi pemain. Tidak adanya pemasukan akibat belum turunnya gaji dari klub membuat para pemain memutar otak untuk mencari tambahan, setidaknya agar dapur tetap mengebul di masa-masa sulit pandemi Covid-19.
Nyaris dalam setahun terakhir kabar soal pemain Liga 1 alih profesi terus bermunculan. Mulai dari sejumlah pemain Persib yang alih profesi untuk berbisnis atau berdagang, hingga kabar adanya salah satu pesepakbola di Sumatra Utara yang memilih menjadi security sebuah perusahaan.
Akhirnya, di tengah berbagai ketidapastian dan upaya klub-klub bertahan di tengah pandemi Covid-19, PSSI dan Kementerian Olahraga dan Pemuda (Kemenpora) menggulirkan turnamen pramusim, Piala Menpora 2021. Turnamen yang diikuti 17 tim dari Liga 1 itu menjadi terapi kejut pertama dari PSSI, Kemenpora, dan LIB untuk membangunkan kembali denyut nadi sepak bola Indonesia.
Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan, bahkan begitu yakin, turnamen ini menjadi titik balik bergairahnya sepak bola Indonesia setelah terhenti selama satu tahun. Dengan digelarnya turnamen yang dihelat di empat stadion di empat kota berbeda itu, para pihak dalam ekosistem sepak bola nasional setidaknya memiliki asa dan harapan untuk bisa bangkit. Kompetisi atau turnamen, apa pun namanya, memang menjadi inti dan roda penggerak dalam ekosistem sepak bola, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di belahan dunia manapun.
Dengan adanya kompetisi, klub-klub dan pemain tidak lagi duduk manis di pinggir lapangan sambil menatap miris kosongnya lapangan hijau. Dengan adanya kompetisi, klub-klub memiliki potensi pemasukan, terutama dari sponsor. Terlebih, turnamen Piala Menpora 2021 merupakan pintu gerbang untuk menatap kompetisi Liga 1 musim 2021.
Apabila penyelenggaran turnamen Piala Menpora 2021 dinilai mencatatkan kesuksesan, terutama dari segi penerapan protokol kesehatan pencegahan penyebaran Covid-19, kemungkinan digelarnya Liga 1 musim 2021 akan makin besar. Turnamen ini pun kabarnya menjadi permintaan klub-klub sebelum turun di pentas Liga 1 musim 2021. Kendati begitu, rasanya sedikit berlebihan apabila berharap turnamen ini akan serta-merta langsung mengembalikan sepak bola Indonesia ke seperti sebelum pandemi Covid-19.
Namun, berbagai pihak mesti memanfaatkan Piala Menpora 2021 sebagai ajang pembuktian. Penerapan protokol kesehatan menjadi syarat mutlak dari turnamen Piala Menpora 2021. Di titik ini, indikator kesuksesan Piala Menpora 2021 bukan sekadar lancarnya pertandingan hingga partai final, melainkan keberhasilan para pelaku di industri sepak bola Indonesia menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.
Tentu, situasi terburuk yang terjadi pascaturnamen ini adalah munculnya klaster baru penyebaran Covid-19, yaitu klaster Piala Menpora 2021. Apabila kondisi ini terjadi, harapan dan asa di Piala Menpora 2021 sebagai awal bergulirnya kembali Liga 1 akan menjadi harapan kosong. Dengan kondisi itu, turnamen yang memperebutkan hadiah total sebesar Rp 2 miliar itu justru berubah menjadi kesia-siaan lantaran tidak dilanjutkan dengan gelaran Liga 1 musim 2021. Para pencinta sepak bola Indonesia pun akhirnya harus kembali gigit jari hingga waktu yang belum bisa dipastikan.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
