IMAN SUGEMA | Daan Yahya | Republika
22 Mar 2021, 03:20 WIB

Kredit Ultramikro

Hal ini akan terfasilitasi dengan pembentukan holding di bidang pembiayan mikro dan ultramikro.

OLEH IMAN SUGEMA

Kemiskinan di berbagai penjuru dunia masih juga belum teratasi secara sempurna, tak terkecuali di Indonesia. Di negara kita, tantangan terberatnya adalah semakin lambatnya laju penurunan kemiskinan.

Semakin sedikit orang miskin, semakin sulit untuk mengentaskannya. Kaidah seperti ini tentu sangat aneh bagi orang awam, walaupun para ekonom yang ahli di bidang kemiskinan pasti memakluminya sebagai fenomena umum yang berlaku di hampir semua negara.

Fenomena umum seperti ini tentu bukan untuk dimaklumi atau sekadar dijadikan alasan untuk tidak berbuat lebih banyak lagi. Justru hal ini menyarankan yang sebaliknya: kita harus melipatgandakan upaya dan mengerahkan segala kemampuan untuk mempercepat laju penurunan kemiskinan.

Terkait

Biasanya ketika tingkat kemiskinan sudah relatif rendah, akumulasi pengetahuan dan kelembagaan yang terkait dengan pengentasan kemiskinan sudah terbentuk mendekati kemapanan. Itulah yang sedang terjadi di Indonesia.

 

 
Di negara kita, tantangan terberatnya adalah semakin lambatnya laju penurunan kemiskinan.
 
 

 

Sebagi contoh di bidang keuangan mikro, kita memiliki banyak sekali keistimewaan. Pertama, bank kredit mikro terbesar di dunia ada di Indonesia, yaitu Bank BRI. Pada umumnya khalayak awam hanya tahu bahwa BRI adalah bank terbesar di negeri ini. Padahal, prestasi terbesar dari bank ini adalah penyediaan kredit bagi UMKM dalam skala yang sangat masif.

Kedua, kita juga punya PT PNM yang memiliki jaringan Unit Layanan Modal Mikro (ULaMM) yang sekarang sudah tumbuh secara sepektakuler melalui pembiayaan ultramikro mirip dengan Grameen Bank. Desember yang lalu total nasabahnya sekitar 7,7 juta orang dengan tingkat kredit bermasalah yang sangat rendah yaitu di angka sekitar 1 persen saja. Kalau permodalannya diperkuat dan jaringannya ditambah, bukan tidak mungkin ULaMM akan menyalip Grameen Bank dalam lima tahun ke depan dari sisi total aset.

Ketiga, untuk pembiayaan darurat bagi pemegang aset bergerak, kita sangat beruntung mampu melestarikan dan terus mengembangkan pegadaian yang merupakan warisan dari zaman kolonial. Di banyak negara pegadaian justru semakin menciut perannya. Padahal, lembaga pegadaian sangat berperan dalam mencegah terjadinya kemiskinan di kalangan transient poor atau kalangan yang rentan menjadi miskin.

Keempat, kita juga memiliki jaringan Bank Perkreditan Rakyat yang dikelola oleh swasta maupun pemerintah daerah. Tentunya dengan segala plus dan minusnya, BPR tetap merupakan kekuatan nasional yang menyediakan skema kredit berskala kecil yang relatif fleksibel dan akses yang mudah. Walaupun demikian, masalah governance merupakan tantangan yang paling berat.

 
Masalah terberat dalam pembiayaan bagi kalangan termiskin adalah bagaimana agar mereka mampu menolong diri mereka sendiri.
 
 

Peranan lembaga keuangan dalam pengentasan kemiskinan bukanlah sesuatu yang dapat dipandang sebelah mata. Bahkan, pendiri Grameen Bank, M Yunus, mendapatkan hadiah Nobel bukan karena mampu mendirikan dan membesarkan sebuah bank, tetapi karena ia mampu membuktikan bahwa masyarakat miskin dapat dientaskan melalui kredit bank.  Itulah inovasi keuangan terbesar abad 20.

Keempat keistimewaan di atas tentunya akan merupakan modal berharga untuk mempercepat pengentasan kemiskinan. Kita telah memiliki modal keuangan dan kelembagaan yang sangat mapan di bidang ini.

Langkah berikutnya adalah menyinergikan keempat kekuatan tersebut. Yang ada di tangan pemerintah pusat ada tiga, yakni BRI, PNM dan Pegadaian. Ketiganya akan digabung ke dalam sebuah holding atau perusahaan induk yang fokus ke pembiayaan mikro, kecil, dan ultramikro. Tentunya sangat banyak pemberitaan dan ulasan mengenai hal ini. Saya hanya akan membahasnya dari sisi pengentasan kemiskinan saja.

Masalah terberat dalam pembiayaan bagi kalangan termiskin adalah bagaimana agar mereka mampu menolong diri mereka sendiri. Memang sudah ada bansos dan berbagai program jaminan sosial lainnya, tetapi itu hanya menyediakan bantalan yang sifatnya tidak permanen.

 

 
Urusan seperti ini adalah tugas pemerintah yang bisa dititipkan kepada BUMN. 
 
 

Mereka hanya bisa terentaskan secara permanen jika secara produktif memiliki kegiatan usaha yang terus berkembang. Nah di sinilah lingkaran setannya. Agar bisa berkembang, mereka perlu untuk mengakumulasikan modal produktif. Sementara itu, akumulasi kekayaan tidak mungkin dilakukan kalau income tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari. Jangankan untuk memupuk kekayaan, pendapatan saja masih defisit.

Karena itu solusinya hanya satu, modal disediakan dari luar dalam bentuk kredit untuk memperbesar usaha produktif atau up-scaling. Tanpa up-scaling mereka akan terjebak dalam defisit pendapatan. Ini bukan perkara mudah karena kredit harus disertai dengan peningkatan kemampuan berusaha atau up-skilling.

Urusan seperti ini adalah tugas pemerintah yang bisa dititipkan kepada BUMN. Nah karena itu negara sangat membutuhkan sebuah BUMN yang memang bidangnya sangat fokus, yakni mengakumulasikan aset, pengetahuan dan kelembagaan dalam memberdayakan masyarakat miskin.

Tampaknya hal seperti ini akan terfasilitasi dengan pembentukan holding di bidang pembiayan mikro dan ultramikro. Kita tunggu saja tanggal mainnya.


×