IKHWANUL KIRAM MASHURI | Daan Yahya | Republika

Resonansi

22 Mar 2021, 03:15 WIB

Kakek 83 Tahun Kehilangan 13 Putra dan Istri

Konflik juga telah menyebabkan keretakan dalam tatanan masyarakat Suriah.

OLEH IKHWANUL KIRAM MASHURI

Usianya 83 tahun. Abdul Razzaq Muhammad Khatun namanya. Namun, ia lebih suka dipanggil ‘Abu as Syuhada’ alias ‘ayah para syahid’. Panggilan ini merujuk pada 13 putranya yang tewas jadi korban perang di Suriah, kini sudah berlangsung selama 10 tahun.

Tujuh putranya meninggal dalam perang bersama Tentara Pembebasan (al Jaish al Hurr) melawan rezim Presiden Bashar. Enam putra lain dan seorang istrinya tewas saat pesawat pengebom melancarkan serangan ke Saraqib, sebuah kota di Provinsi Idlib, barat laut Suriah.

Serangan yang dilancarkan pesawat tempur Rusia pada 13 Januari 2020 itu dalam rangka mendukung rezim Presiden Assad, guna merebut kembali Kota Saraqib. Sejak 2012, kota ini dikuasai kelompok oposisi. Serangan inilah, menurut sebuah lembaga HAM di Suriah, yang telah menyebabkan kematian puluhan orang, termasuk sejumlah anggota keluarga kakek Khatun tadi. 

Kakek Khatun — dan juga teman-teman dan saudara-saudaranya — meyakini 13 putranya yang yang tewas itu adalah mati syahid. Dari sinilah kemudian muncul panggilan ‘Abu as Syuhada’ kepada kakek Khatun. “Panggilan itulah yang paling membahagiakan saya. Tuhan telah mengambil nyawa mereka. Tapi, kenangan mereka akan selalu menyertai saya, bahkan saat kami berada di tenda-tenda seperti ini,” ujarnya seperti dikutip Aljazeera.net.

 
Sebelum pecah perang sepuluh tahun lalu, kakek Khatun memiliki kehidupan bahagia, bersama 3 istri dan 27 anak. 
 
 

Sejak meninggalkan kampung halamannya di Provinsi Hama, barat tengah Suriah, ia berpindah-pindah dari satu pengungsian ke pengungsian lain. Kini kakek Khatun bersama keluarga, beranggotakan 30 orang, menetap di pinggiran Maarat Misrin, kota kecil di barat laut Suriah, Provinsi Idlib. Mereka hidup di empat tenda besar yang dibangun di atas tanah pertanian di antara pepohonan zaitun. 

Untuk kebutuhan hidup, mereka mengandalkan bantuan dari lembaga-lembaga sosial dan kemanusiaan. Sehari-hari kakek Khatun mengajari cucu-cucunya di dalam tenda —ilmu agama maupun umum.

Sebelum pecah perang sepuluh tahun lalu, kakek Khatun memiliki kehidupan bahagia, bersama 3 istri dan 27 anak. Yang tertua 38 tahun, termuda 8 tahun. Hasil dari tanah pertanian luas yang ia miliki sudah bisa memberi kehidupan lebih dari cukup untuk keluarganya. Namun, perang telah menjungkirbalikkan segalanya.

“Perpisahan itu sulit. Dalam waktu singkat saya kehilangan anak-anak dan istri. Rasanya punggung saya seperti patah,” tutur kakek Khatun. “Untungnya, Tuhan telah memberi saya kesabaran dan keberanian.”

 
Keinginannya kini hanyalah bagaimana ia bisa terus menghidupi keluarga dan mendidik cucu-cucunya.
 
 

Dalam usia 83 tahun, kakek Khatun masih tampak bugar. Ia kini harus mengambil tanggung jawab seluruh anggota keluarganya yang tersisa. Ia menuturkan tidak menyesal terhadap peristiwa sedih yang menimpanya. Bahkan ia mengaku bangga. “Benar, kehilangan (orang-orang tercinta) itu membuat kita sedih. Namun, tanah air (Suriah) membutuhkan pengorbanan. Dan, saya bangga dengan mereka.”

Keinginannya kini hanyalah bagaimana ia bisa terus menghidupi keluarga dan mendidik cucu-cucunya. Sejumlah anaknya yang tersisa kini ada yang mengungsi ke negara-negara tetangga. Mereka pun hidup dengan mengandalkan bantuan sosial.

Kakek Khatun dan keluarganya hanyalah satu dari jutaan rakyat Suriah yang hidup menderita akibat konflik di negara mereka. Menurut Lembaga Observasi Suriah untuk Hak Asasi Manusia, lebih dari separuh warga Suriah yang berjumlah 22 juta sebelum pecah perang, kini telah meninggalkan rumah mereka.

Sekitar 6,7 juta jiwa mengungsi di dalam negeri, banyak di antaranya tinggal di tenda-tenda. Sedangkan 5,6 juta lainnya tercatat sebagai pengungsi di Lebanon, Yordania, Turki, atau menjadi imigran di beberapa negara Eropa. PBB menggambarkan gelombang pengungsian warga Suriah ini yang terbesar dalam sejarah modern.

Belum ada data akurat mengenai jumlah korban meninggal dunia sejak konflik. PBB memperkirakan jumlahnya mencapai 400 ribu orang. Sedangkan Pusat Penelitian dan Kebijakan Suriah menyatakan jumlahnya sekira 470 ribu orang dan 1,9 juta luka-luka.

Lembaga Observasi Suriah untuk HAM menyatakan sejumlah 100 ribu warga tewas akibat penyiksaan selama di penjara, sekitar 100 ribu lainnya masih dalam tahanan, dan 200 ribu warga terhitung hilang.

 
Belum ada data akurat mengenai jumlah korban meninggal dunia sejak konflik. PBB memperkirakan jumlahnya mencapai 400 ribu orang.
 
 

PBB menyatakan dua juta warga kini hidup dalam kemiskinan ekstrim, 13,4 juta orang membutuhkan bantuan kemanusiaan. Sementara itu, Save the Children Fund memperkirakan 60 persen anak Suriah — dari sekitar 6 juta anak yang lahir sejak pecah perang pada 2011 — menderita kelaparan. Sejumlah 4,8 anak berada di tempat-tempat pengungsian di Suriah dan 1 juta lainnya berada di negara-negara tetangga. Dari jumlah itu, sekitar 15 persen menderita cacat. 

Menurut Unicef, anak-anak yang berada di Suriah, sekitar 2,45 juta tidak mendapatkan akses pendidikan. Sementara itu, sepertiga bangunan sekolahan tidak bisa digunakan, baik karena hancur, untuk tempat pengungsian atau untuk keperluan militer. Sedangkan anak-anak di pengungsian di negara-negara tetangga Suriah yang tidak mendapatkan akses pendidikan sekitar 750 ribu.

Penderitaan rakyat Suriah itu diperparah lagi oleh kehancuran berbagai infrastruktur, seperti sekolahan, rumah sakit dan klinik, gardu-gardu dan instalasi listrik, gedung-gedung serta toko-toko, dan lainnya. Kondisi ini menyebabkan pelayanan kepada rakyat praktis lumpuh. Begitu juga dengan aktivitas ekonomi. Apalagi tenaga-tenaga di pelayanan publik banyak yang melarikan diri atau ikut mengungsi.

Kini, pada Maret ini, konflik di Suriah sudah genap 10 tahun. Diawali aksi-aksi unjuk rasa damai — serangkaian dengan revolusi rakyat Arab di sejumlah negara yang kemudian dikenal sebagai The Arab Spring —, lalu berubah menjadi kekerasan dan kemudian konflik. Selama sepuluh tahun konflik, banyak hal telah berubah — geografi, militerisasi, tatanan sosial, politik, dan seterusnya. Hanya satu yang tidak berubah: penderitaan rakyat! 

 
Konflik juga telah menyebabkan keretakan dalam tatanan masyarakat Suriah.
 
 

Konflik juga telah menyebabkan keretakan dalam tatanan masyarakat Suriah. Bahkan antara kerabat dan teman, atau dalam keluarga yang sama, antara yang loyal atau melawan rezim penguasa. Dan, semakin lama perang, semakin dalam pula perpecahan dalam masyarakat.

Lalu siapa yang menang dalam konflik di Suriah ini? Presiden Bashar Assad masih tegak berkuasa. Bahkan dalam pemilu yang direncanakan pertengahan tahun ini, kemungkinan besar ia masih akan menang. Namun, kekuasaan rezim Bashar sangat terbatas. Suriah telah koyak dan terbagi. 

Rezim Bashar Assad, didukung Rusia dan Iran, hanya menguasai 65 persen wilayah Suriah, mencakup sebagian besar kota dan orang. Kelompok Kurdi yang disokong Amerika Serikat (AS) menguasi 23 persen wilayah lainnya, termasuk di dalamnya sebagian besar kekayaan strategis negara.

Sedangkan sisanya dikuasai kelompok-kelompok oposisi yang didukung Turki. Mereka mengontrol hampir seluruh perbatasan dua negara, Suriah-Turki, termasuk yang berbatasan dengan dua pangkalan militer Rusia di Tartus dan Latakia di barat. Di tiga wilayah ini, terdapat banyak tentara — termasuk militer asing —, pangkalan militer, dan ratusan pos pengintaian di bawah kendali AS di timur dan Rusia di barat. 

Dengan demikian, ada lima militer asing di wilayah Suriah. Yaitu Rusia, Iran, AS, Turki, dan Israel. Yang terakhir ini hingga kini masih menguasai Dataran Tinggi Golan milik Suriah, dan dari waktu ke waktu terus menyerang berbagai sasaran di Suriah, dengan dalih menghancurkan pangkalan militer Iran. Lima kekuatan asing inilah yang secara faktual kini mengendalikan Suriah, termasuk melakukan kesepakatan-kesepakatan atau perjanjian. 

Karena itu, perang boleh berakhir, pertempuran bisa saja berhenti. Namun, luka dan penderitaan rakyat Suriah akan sangat dalam dan berlangsung lama. Lalu, wahai para penguasa, untuk apa sebuah kekuasaan, bila rakyat terus menderita?  ';

×