Meski berbeda level dengan Ramadhan, Syaban merupakan bulan penuh dengan keberkahan. | Antara
21 Mar 2021, 03:00 WIB

Sya’ban, Bulan yang 'Dilalaikan'

Meski berbeda level dengan Ramadhan, Sya'ban merupakan bulan penuh keberkahan.

OLEH A SYALABY ICHSAN 

Kurang dari sebulan, Ramadhan akan kembali menyapa kita. Dalam doa-doanya, para imam pun sudah merapal dengan penuh kerinduan. "Allahumma baariklana fii rajaba wa sya'bana wa balighna Ramadhan," yang artinya, "Ya Allah, berkahilah umur kami di bulan Rajab dan Sya'ban dan sampaikanlah kami di bulan Ramadhan."

Doa itu pun kian dekat saat kita sampai ke Sya'ban. Bulan kedelapan Hijriyah yang berada di pertengahan, di antara Rajab dan Ramadhan. Syekh Muhammad Shalih al-Munajid dalam Faidah Seputar Bulan Sya'ban menjelaskan, bulan itu disebut Sya'ban karena orang-orang Arab terdahulu berpencar dan berpisah pada bulan ini dalam rangka mencari air.

Istilahnya yakni yatasya'abuna. Sebagian lagi berpendapat Sya'ban berasal dari kata sya'bu, yakni yang muncul di antara bulan Rajab dan Ramadhan.

Terkait

Meski berbeda level dengan Ramadhan, Sya'ban merupakan bulan yang penuh dengan keberkahan. Bulan ini kerap dilalaikan orang sesuai dengan apa yang disabdakan Rasulullah SAW saat menjawab sahabat yang bertanya mengapa beliau suka berpuasa pada bulan tersebut.

"Karena ini bulan yang banyak dilalaikan manusia di antara Rajab dan Ramadhan. Padahal, di bulan ini amalan terangkat sampai ke Rabb semesta alam dan saya senang apabila saat amalku terangkat saya sedang berpuasa." (HR an-Nasa'i).

Banyak manusia melalaikan Sya'ban karena bulan ini didahului oleh bulan haram (bulan suci) Rajab. Berpuasa di bulan-bulan haram secara umum dianjurkan, tetapi tanpa meyakini keutamaan khusus terhadap Rajab. Kehadiran Ramadhan yang penuh berkah pun membuat banyak manusia teralihkan dari Sya'ban. Padahal, Rasulullah kerap menghidupkan bulan ini dengan berpuasa.

 
Kehadiran Ramadhan yang penuh berkah pun membuat banyak manusia teralihkan dari Sya'ban. Padahal, Rasulullah kerap menghidupkan bulan ini dengan berpuasa.
 
 

Syekh Muhammad Shalih al-Munajid pun menganalogikan Ramadhan dan Sya'ban layaknya shalat fardhu dan shalat sunah rawatib. Shalat sunah yang diketahui memiliki keutamaan menyatu dengan ibadah fardhu. Dengan demikian, menurut Syekh, puasa yang mengiringi Ramadhan, baik sebelum maupun setelahnya, lebih utama daripada puasa yang waktunya berjauhan dari Ramadhan.

Sang syekh menjelaskan, terdapat isyarat halus di balik hadis Rasulullah SAW, "Karena ini bulan yang banyak dilalaikan manusia di antara Rajab dan Ramadhan." Menurut dia, hal ini bisa dimaknai bahwa Nabi mengisyaratkan kepada manusia untuk memanfaatkan waktu-waktu lalainya dengan amal ketaatan. Itu termasuk perkara yang dicintai dan diridhai Allah SWT, seperti halnya keutamaan shalat malam pada sepertiga malam terakhir.

Faidah beramal pada waktu lalai yakni seorang Muslim lebih bisa menyembunyikan amalannya dari mata manusia. Menurut Syekh, menyembunyikan amal-amal ketaatan yang bersifat nafilah (sunah) lebih dekat kepada keikhlasan. Seorang Muslim akan sulit selamat dari riya jika masih menampakkan amal salehnya.

Syekh pun menjelaskan, ada tiga momentum amalan diangkat ke langit. Pertama, amalan harian. “Amalan malam terangkat kepada Allah sebelum amalan siang, dan amalan siang sebelum amalan malam." (HR Muslim).

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Dalam hal ini, malaikat naik dengan membawa amalan pagi yang terakhir pada awal waktu siang, lalu naik membawa amalan siang setelah selesainya pada waktu awal malam.

Berikutnya yakni terangkatnya amalan pekanan. Amalan terangkat setiap pekan sebanyak dua kali, yaitu setiap Senin dan Kamis, sebagaimana dalam hadis. “Amalan manusia terangkat setiap pekannya sebanyak dua kali, yaitu pada hari Senin dan kamis. Setiap hamba beriman akan diampuni dosanya kecuali seorang hamba yang dia memiliki permusuhan dengan saudaranya. Dikatakan kepadanya, 'Tinggalkan kedua orang ini sampai mereka berdua berdamai'.” (HR Muslim).

Terakhir adalah terangkatnya amalan tahunan. Semua amalan dalam setahun terangkat seluruhnya pada bulan Sya’ban sebagaimana ditunjukkan oleh sabda Nabi. “Di bulan ini amalan terangkat sampai ke Rabb semesta alam.” (Latha'iful Ma’arif).

 
Nabi SAW senang jika amalan beliau terangkat ketika beliau dalam keadaan berpuasa.
 
 

Kemudian, setelah itu semua barulah terangkat seluruh amalan seumur hidup setelah mati. Apabila ajal datang menyemput, terangkatlah seluruh amalan seumur hidupnya di hadapan Allah dan dihamparkan lembaran amalannya.

Nabi SAW senang jika amalan beliau terangkat ketika beliau dalam keadaan berpuasa. Pada momen tersebut, amalan lebih diterima dan derajat pun diangkat. Aisyah RA bahkan bersaksi, dia tak pernah melihat Rasulullah SAW menyempurnakan puasa di suatu bulan seperti Ramadhan dan lebih banyak berpuasa seperti pada Sya'ban. Aisyah juga bersaksi, Rasulullah pernah berpuasa dua bulan berturut-turut selama kedua bulan tersebut. 

Oleh karena itu, sang Syeikh pun berpesan kepada kaum Muslimin untuk meneladan Rasulullah dan memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban.

Wallahu'alam.


×