Keindahan Masjid an-Nilin di Sudan telah menjadikannya salah satu destinasi wisata religi favorit. | DOK FACEBOOK

Arsitektur

14 Mar 2021, 18:11 WIB

Masjid an-Nilin: Permata di Tepi Dua Sungai Nil

Masjid an-Nilin dibangun dengan arsitektur modern dan unik.

OLEH HASANUL RIZQA

Sudan merupakan sebuah negara mayoritas Muslim di Afrika timur laut. Syiar Islam telah menyebar di wilayah tersebut setidaknya sejak zaman Khulafaur Rasyidin. Mulai saat itu, berbagai kerajaan silih berganti mengisi kekuasaan di sana selama berabad-abad. Karenanya, tidak mengherankan bila negara terluas ketiga di seluruh Benua Hitam itu menyimpan banyak khazanah peradaban Islam.

Di antaranya yang berwujud bangunan ialah Masjid an-Nilin di Omdurman. Secara harfiah, nama tempat ibadah itu berarti ‘dua Nil.’ Memang, lokasinya berada tak jauh dari pertemuan dua cabang Sungai Nil, yakni Sungai Nil Biru dan Sungai Nil Putih.

Yang pertama bersumber dari Danau Tana di Ethiopia, sedangkan yang kedua berhulu di Danau Victoria. Ibu kota Sudan, Khartoum, menjadi titik temu kedua aliran sungai tersebut. Adapun Omdurman, yang juga kota terbesar di seluruh negeri ini, berlokasi persis di sebelah barat laut Khartoum.

Pembangunan Masjid an-Nilin bermula dari gagasan Jaafar Nimeiry. Pada 1970, presiden Sudan periode 1969-1985 itu memilih sebuah lokasi di dekat Sungai Nil untuk mendirikan masjid negara. Setelah lahan yang diinginkan tersedia, pemerintah Sudan menggelar sayembara untuk desainer umum dari seantero negeri. Tujuannya adalah menjaring rancang bangun terbaik sebagai desain rumah Allah yang hendak dibangun.

Usai melalui seleksi yang ketat, pihak panitia kemudian menetapkan Gamer Eldawla Eltahir sebagai perlombaan tersebut. Mahasiswa Universitas Khartoum itu dinilai berhasil dalam merancang gambar sebuah masjid yang modern, artistik, sekaligus selaras dengan kebudayaan Sudan. Pada 1976, dimulailah proses pengerjaan fasilitas umum ini.

Sumber dananya tidak hanya berasal dari pemerintah setempat, melainkan juga donasi berbagai pihak di luar negeri, semisal Kerajaan Arab Saudi dan Amir Dubai. Sekitar delapan tahun kemudian, proyek tersebut selesai dikerjakan. Pembukaan perdana masjid ini diresmikan oleh Presiden Nimeiry dan dihadiri para utusan sejumlah negara sahabat.

Mengutip laman dari situs Aga Khan, Masjid an-Nilin merupakan representasi arsitektur modern Sudan. Denah masjid ini meliputi kawasan seluas 12 ribu meter persegi. Area bangunannya memiliki bentuk lingkaran. Alhasil, ruangan utamanya yang seluas 2.500 meter persegi pun menjadi sirkular. Bagian yang paling unik dari masjid tersebut ialah kubahnya yang berbentuk setengah bola.

Permukaannya menampilkan bentuk belah ketupat yang menonjol ke luar sehingga menyerupai untaian permata yang tersusun rapi hingga pucuk kubah ini. Pola belah ketupat juga diterapkan pada sisi eksterior bangunan utama, khususnya pada bentuk pintu-pintu dan jendela-jendela.

Sementara, warna dominan keseluruhan bangunan ini ialah putih dan abu-abu keperakan. Karena itu, dari kejauhan masjid kebanggaan rakyat Sudan ini tampak seperti sebongkah permata.

Sisi interiornya pun tak kalah mempesona. Ruangan tempat jamaah melaksanakan shalat didekorasi dengan mewah. Langit-langitnya terbuat dari kayu berkualitas tinggi. Pada permukaannya, terdapat pola-pola geometris yang sambung-menyambung membentuk mozaik.

Bagian tersebut merupakan sisi-dalam kubah setengah bola yang menaungi masjid ini. Karena bentuknya itu, atap bangunan tersebut seluruhnya disangga dinding sirkular. Artinya, tidak ada pilar yang menghujam di lantai sehingga ruangan shalat terasa lebih luas.

Berdekatan dengan ruang shalat, terdapat 12 paviliun yang berbentuk segidelapan. Di sana, ada ruangan-ruangan yang difungsikan sebagai lokasi madrasah, perpustakaan, dan aula pertemuan. Ada pula menara masjid yang setinggi kira-kira dua kali tinggi bangunan utama.

Bentuknya ramping dan semakin meruncing pada ujungnya. Motif yang ditampilkan pada seluruh permukaan dindingnya selaras dengan bentuk kubah di dekatnya. Keberadaannya kian menguatkan kesan Masjid an-Nilin sebagai tempat ibadah bernuansa arsitektur avant garde dan modern.

photo
Masjid an-Nilin di Sudan memiliki bentuk yang unik. Bila dilihat dari ketinggian, penampakannya menyerupai sebongkah permata. - (DOK MOSQPEDIA)

Kota Omdurman merupakan sebuah pusat keislaman terkemuka di Sudan. Tidak hanya Masjid an-Nilin, masih banyak tempat di sana yang menjadi mercusuar peradaban Islam. Di antaranya adalah sejumlah kampus ternama, seperti Universitas Islam Omdurman (Omdurman Islamic University/OIU), Universitas Karary, dan Universitas Wanita Ahfad.

Kota berpenduduk sekira 2,5 juta jiwa ini—menurut sensus resmi tahun 2010—menjadi tujuan banyak pelajar dari mancanegara. Sebut saja, seorang dai kondang Indonesia, Ustaz Abdul Somad, merupakan alumnus studi doktoral ilmu hadis di OIU.

Satu hal yang cukup disayangkan saat ini ialah situasi negeri tersebut secara keseluruhan. Memasuki abad ke-21, Pada September 2011 lalu, Sudan mengalami konflik sehingga wilayahnya pecah menjadi dua, yakni Sudan Utara yang beribu kota di Khartoum dan Sudan Selatan yang berpusat di Juba. Bahkan, pada 2020 lalu rezim transisi Sudan menyepakati pemisahan agama dari negara. Langkah ini otomatis mengakhiri tiga dekade pemerintahan Islam di negara Afrika tersebut. Sejak saat itu, Sudan diperintah secara sekuler.

Banyak kalangan berharap, Sudan dapat terus bangkit menjadi negeri yang makmur. Sejak era 2000-an, negara ini cenderung mengandalkan pemasukan dari sektor ekstraktif, yakni minyak bumi dan gas alam. Sesudah keluar dari konflik berkepanjangan, kinilah saatnya Sudan berbenah diri untuk kembali meneguhkan identitasnya sebagai salah satu mercusuar peradaban Islam.

Dalam hal ini, fungsi Masjid an-Nilin sudah sepatutnya ditingkatkan pemerintah setempat. Yakni, tidak sekadar sebagai fasilitas umum untuk ibadah atau madrasah, tetapi juga sentra penyebaran gagasan-gagasan moderasi beragama.

photo
Bagian langit-langit Masjid an-Nilin menampilkan corak dekorasi geometris khas Sudan. - (DOK IMAGEKIT)


×