Clean label menjadi tren dan komitmen banyak jenama makanan dan minuman di berbagai negara. | Freepik.com

Belanja

14 Mar 2021, 17:27 WIB

Sehat dengan Produk Clean Label

Clean label menjadi tren dan komitmen banyak jenama makanan dan minuman di berbagai negara.

OLEH SANTI SOPIA

Rina Faqih mulai menggeluti pola makan sehat sejak tiga tahun lalu. Awalnya, Rina mengonsumsi segala jenis makanan, yang terpenting rasanya enak, terlapas panganan itu sehat atau tidak.

Makanan yang dia konsumsi lebih sering cepat saji dan minim buah ataupun sayuran. "Saya suka sekali makan karena sibuk, bentar-bentar meeting, burger praktis yang penting senang, kenyang," kata Rina.

Kala itu, dia berpikir untuk apa hidup jika tidak makan enak. Pola makan tersebut membuat Rina mengalami berbagai gangguan kesehatan, di antaranya obesitas, sering diare, infeksi usus, dan migrain. Rina sering bolak-balik ke rumah sakit dan bertemu dokter. Dia lantas mendapatkan banyak saran dari ahli gizi hingga akhirnya mengubah pola pikir maupun pola makannya.

Rina harus makan sayur 50 persen dari porsi harian. Awalnya, Rina tidak menyukai apa pun yang berbau buah atau sayur. Keengganan mengonsumsi sayur dan buah bukan hanya terjadi pada Rina.

 
Menurut Riskesdas 2018, hanya 4,6 persen orang dewasa yang mengonsumsi buah dan sayur yang cukup.
 
 

Menurut Riskesdas 2018, hanya 4,6 persen orang dewasa yang mengonsumsi buah dan sayur yang cukup. Pada anak-anak lebih rendah, sebanyak 80 persen mengonsumsi makanan ringan buatan pabrik. Semakin besar seorang anak, konsumsi makanan ringan buatan pabrik menjadi tiga kali lebih sering.

Dokter gizi medik dr Sylvia Irawati mengatakan, dalam pedoman gizi, sayur dan buah ini penting setelah asupan karbohidrat. "Di Tumpeng Gizi, di atas level karbohidrat itu sayur dan buah, bukan lauk, ini yang kadang diabaikan," kata Sylvia dalam webinar “Protecting Your Family with Natural Nutrients from Clean Label Products” yang diadakan oleh PT Sewu Segar Primatama (Re.juve), Kamis (25/2).

Orang dewasa seharusnya mengonsumsi 50 persen buah dan sayur dengan lebih banyak sayur dari satu porsi makan per hari. Untuk anak di bawah satu tahun tidak direkomendasikan pemberian jus buah karena lambung yang masih kecil.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Pasarnow (pasarnow)

Bagi keluarga yang perlu memenuhi asupan nutrisi alami tetapi memerlukan metode yang lebih praktis, produk-produk yang memiliki standar clean label dapat menjadi alternatif. Clean label menjadi salah satu tren dan komitmen banyak jenama makanan dan minuman di berbagai negara.

Hal itu seiring dengan meningkatnya kesadaran konsumen akan pilihan asupan nutrisi alami untuk tubuh. Dalam memilih produk clean label, perlu lebih cermat. Bukan hanya karena sebuah produk mengklaim dibuat dari bahan alami, melainkan perhatikan juga faktor lainnya.

Sylvia mengajak masyarakat bijak memilih produk dengan memperhatikan label nutrisi. Sering kali orang memilih produk dengan nilai gizi kurang justru mengandung kalori, gula berlebih. Memilih produk berkalori rendah memang penting, tapi itu bukan hal utama. Perhatikan juga komposisi penyusunnya.

"Apakah penyusunnya alami, gula, apakah aman? Ketika memilih produk, lihat dulu komposisinya dibuat dari apa produk ini," ujar Sylvia.

 
Apakah penyusunnya alami, gula, apakah aman? Ketika memilih produk, lihat dulu komposisinya dibuat dari apa produk ini.
SYLVIA IRAWATI, Dokter Gizi Medik
 

Produk yang dibuat dari bahan alami biasanya ditulis sebagaimana adanya. Produk berbahan dasar apel, jeruk, akan ditulis sebagaimana mestinya. Berbeda dengan produk yang dibuat dari ekstrak, perisa atau konsentrat. Kendati ada nama buah dan sayur, jika alami akan ditulis apa adanya. Apel ditulis apel, bayam ditulis bayam.

Terkait proses panen, distribusi, produksi sampai keamanan produk juga tidak kalah penting. Bahan alami yang minim diproses akan memberikan nutrisi yang optimal. Bahan baku dan prosesnya disampaikan transparan tanpa ditutup-tutupi.

Account Manager Vero Indonesia, Diah Andrini Dewi, mengatakan, prinsip clean label sebenarnya belum menjadi kebiasaan di Indonesia. Itu sebabnya, pihaknya mencoba selalu mengedukasi masyarakat lebih sadar dan mencermati produk yang mereka beli.

"Agar tidak hanya mengikuti tren, tapi juga pola hidup sehat tanpa kandungan makanan yang berpengaruh buruk bagi kesehatan," kata Diah.

Dari sisi produsen, sudah ada yang mulai mencantumkan komposisi dan beberapa lainnya belum terlalu detail. Sekarang sejumlah jenama sudah mulai mendengar tren clean label karena kian banyak digaungkan.

Tantangan yang masih dihadapi adalah bagaimana istilah kimia atau ilmiah di dalam kemasan dipahami masyarakat. Jadi edukasi lebih lanjut diperlukan agar dapat lebih disederhanakan dan dipahami.

Chief Representative Officer dari CHR Hansen Indonesia (produsen pewarna makanan alami), Mc Queen Lie mengatakan, warna makanan juga memainkan peran penting dalam memberikan daya tarik visual. Namun, berbeda dengan pewarna buatan, pewarna alami dibuat dari bahan-bahan dari sumber alami seperti mineral, tumbuhan, buah-buahan, dan sayuran.

"Dengan mengacu pada makanan kemasan, konsumen dapat merujuk pada daftar bahan pada kemasan untuk mengetahui bahan yang digunakan dalam pembuatan produk," kata Lie.

 
Dengan mengacu pada makanan kemasan, konsumen dapat merujuk pada daftar bahan pada kemasan untuk mengetahui bahan yang digunakan dalam pembuatan produk.
 
 

Berdasarkan peraturan pangan BPOM, produk yang menggunakan pewarna alami akan menampilkan tulisan pewarna alami pada daftar bahan-bahannya atau komposisi. Selain pewarna alami, ada juga kategori pewarna alami yang terbuat dari buah dan sayur dan diproduksi dengan cara pengolahan yang lembut (sederhana) dan alami. Produk yang menggunakan pewarna makanan akan menampilkan konsentrat buah atau sayuran pada daftar bahan-bahannya (komposisinya). 

Mewarnai makanan merupakan pilihan bagi setiap merek yang memosisikan produknya sebagai clean label. Di sisi lain, pewarna buatan akan diwakili dengan nomor CI pada daftar bahan seperti CI 19140 untuk tartrazine, warna kuning buatan.

photo
Sehat dengan produk makanan dan minuman dengan clean label. - (rejuveid)

Transparan dan Minim Proses

Masyarakat Indonesia belum terlalu familier dengan istilah clean label. PT Sewu Segar Primatama, produsen cold-pressed juice dengan merek dagang Re.juve, mencoba memelopori penerapan produk berkonsep clean label di Indonesia.

Re.juve melihat clean label penting bagi konsumen. Menurut CEO dan Presiden Direktur Re.juve Richard Anthony, di Indonesia belum banyak produk yang mengadopsi prinsip ini.

Re.juve meyakini, salah satu kriteria utama produk berbasis clean label, yakni kejujuran dan transparansi terkait bahan dan proses pembuatan suatu produk. "Saya ini juga kan konsumen jadi pastinya mau yang sehat, transparan. Kandungan Re.juve semuanya pure, tanpa tambahan, tapi tetap enak," ujar Richard.

Re.juve memiliki tiga pilar, yakni bahan alami, minim proses, dan transparan. Hal itu sejalan dengan prinsip clean label yang mensyaratkan produk terbuat dari bahan-bahan alami tanpa bahan artifisial, minim proses, serta proses pengolahannya diinformasikan secara transparan. Meski tidak tergolong baru, prinsip ini masih belum begitu populer di Indonesia. 

Menurut Richard, di label kemasan Re.juve, tertulis secara jelas dan transparan apa yang konsumen dapatkan. "Tidak ada satu pun bahan yang kami tutupi atau sembunyikan, itu kenapa Re.juve baik untuk kamu," kata dia.

Re.juve melihat fokus industri pangan dan minuman di Indonesia sudah mulai mengarah pada produk yang lebih sehat. Produk cold-pressed juice Re.juve terbuat dari 100 persen sayuran organik dan buah-buahan segar berkualitas terbaik, bebas pestisida, dan bebas lilin yang mayoritas diambil dari perkebunan lokal.

Sebagai bagian dari penerapan nilai transparansi, Re.juve memastikan konsumen dapat mengetahui seluruh informasi kandungan bahan dan nutrisi tertera pada kemasan. Terbukanya akses ini bertujuan agar konsumen dapat melihat semua proses pembuatan.


×