Adiwarman Karim | Daan Yahya | Republika
15 Mar 2021, 02:30 WIB

Sya’ban dan Ekonomi Vaksin

Inilah bulan Sya’ban yang penuh berkah.

OLEH ADIWARMAN A KARIM

Inilah bulan ketika amalan manusia diangkat dan dan dievaluasi. Inilah bulan turunnya ayat yang menganjurkan kita bershalawat. Inilah bulan ketika Rasulullah SAW memperbanyak puasa dan membaca Alquran.

Pertama, inilah bulan untuk evaluasi keberhasilan program vaksin dan kedisiplinan protokol kesehatan agar bangsa Indonesia dapat menjalani Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha dengan lebih longgar yang akan memberi dampak besar terhadap pemulihan ekonomi.

Cem Çakmaklı dan tim CEPR dalam riset mereka “Economic costs of inequitable vaccine distribution across the world” menjelaskan pentingnya vaksinasi menjangkau semua lapisan masyarakat di seluruh dunia. Ini bukan masalah yang kaya membantu yang miskin. Ini masalah yang kaya harus melindungi dirinya dengan membantu yang miskin. “None of us will be safe until everyone is safe”.

Terkait

Bila dalam empat bulan pertama tahun 2021 seluruh populasi negara maju telah divaksinasi, dan baru separuh populasi negara berkembang divaksinasi pada awal 2022, biaya yang timbul mencapai 3,8 triliun dolar AS dan 49 persen di antaranya ditanggung oleh negara-negara maju.

 
Ini bukan masalah yang kaya membantu yang miskin. Ini masalah yang kaya harus melindungi dirinya dengan membantu yang miskin.
 
 

Marco Hafner dan tim riset RAND dalam artikelnya “COVID-19 and the cost of vaccine nationalism” membuat perhitungan yang mirip. Dalam skenario tanpa vaksin, ekonomi global akan terbebani 3,4 triliun dolar AS dalam setahun. Dalam skenario vaksinasi tidak merata menyeluruh, ekonomi global akan terbebani 1,2 triliun dolar AS dalam setahun.

The Association of the British Pharmaceutical Industry dalam artikelnya “What are the economic and societal impacts of vaccines?” menjelaskan keuntungan dari investasi vaksin. Setiap satu dolar AS investasi vaksin untuk 94 negara termiskin akan menghasilkan manfaat 16 dolar dalam bentuk penghematan biaya kesehatan, hilangnya gaji dan produktivitas karena sakit dan kematian.

Keuntungan investasi meningkat menjadi 44 dolar bila manfaat lain juga dihitung, yaitu nilai produktivitas orang sehat, umur lebih panjang, dan berkurangnya beban disabilitas.

 
Setiap satu dolar AS investasi vaksin untuk 94 negara termiskin akan menghasilkan manfaat 16 dolar dalam bentuk penghematan biaya kesehatan, hilangnya gaji dan produktivitas karena sakit dan kematian.
 
 

Kedua, inilah bulan kita banyak bershalawat. Rasulullah SAW bersabda, "Kalau seseorang bershalawat kepadaku, malaikat juga akan mendoakan keselamatan yang sama baginya." Inilah bulan ketika nikmat keselamatan dan kesehatan terasa sangat berharga.

Alan Kaye, profesor Louisiana State University, dan tim risetnya dalam riset mereka "Economic impact of COVID-19 pandemic on healthcare facilities and systems: International perspectives” menunjukkan ketidaksiapan sistem kesehatan global dalam menghadapi pandemi Covid sekaligus pelajaran penting untuk perbaikan di masa depan. “Never Let A Good Crisis Go To Waste”.

Pandemi ini membawa banyak keberkahan. Banyak maksiat terpaksa berhenti. Sebaliknya, banyak nilai-nilai Islam yang diamalkan. Kebiasaan cuci tangan, tidak bersentuhan, dan isolasi mandiri. Kesadaran vaksin halal juga mendorong untuk mempelajari pembuatan vaksin dan kehalalannya.

 
Pandemi ini membawa banyak keberkahan. Banyak maksiat terpaksa berhenti. Sebaliknya, banyak nilai-nilai Islam yang diamalkan.
 
 

Ketiga, inilah bulan memperbanyak puasa dan membaca Alquran. Covid ini ibarat puasa yang mengajarkan kita menahan diri untuk tidak makan minum ketika memiliki kemampuan untuk melakukannya. Menahan diri melakukan konsumsi dan produksi ketika kita mampu melakukannya untuk mencegah penularan. Menahan diri dari keserakahan.

Jeevan D’Souza, profesor DeVry College of New York, dalam artikelnya “Greed: Crises, Causes, and Solutions” menjelaskan keserakahan terkait erat dengan ketakutan, rasa bersalah, dan kepedihan yang disebabkan ketidakseimbangan psikologis ketika usia dini.

Ketakutan dan kemarahan terpendam ini diperkuat oleh ketimpangan sosial yang langsung mempengaruhi konsep harga diri seseorang. Hukum yang tidak berkeadilan menyempurnakan terbentuknya keserakahan dalam diri seseorang.

 
Menahan diri melakukan konsumsi dan produksi ketika kita mampu melakukannya untuk mencegah penularan. Menahan diri dari keserakahan.
 
 

Goedele Krekels, peneliti Ghent University, dalam risetnya “Essays on Dispositional Greed the Effect of Insatiability on Consumer Behavior” mempunyai kesimpulan yang mirip. Perbedaan tingkat keserakahan seseorang berakar dari perbedaan situasi masa kecilnya yang akan membentuk cara melihat dan cara pikir dalam perilaku konsumsinya.

Jonathan Wight, peneliti University of Richmond, dalam risetnya “Adam Smith and Greed” membedakan antara kepentingan diri sendiri dengan keserakahan. Ketika kepentingan diri sendiri telah berlebihan tanpa mengindahkan hak orang lain, maka ia menjelma menjadi keserakahan. Itu sebabnya Adam Smith mengingatkan perlunya menahan diri secara sukarela dan komitmen pribadi terhadap tanggung jawab moral.

Covid juga menyadarkan kita akan pentingnya pendidikan di rumah, kehangatan keluarga, dan menggeser pola pertemanan bergerombol untuk penerimaan sosial menjadi hubungan persahabatan yang lebih mendalam. Ukuran kuantitas banyaknya teman bergeser menjadi lebih seimbang dengan ukuran kualitas persahabatan. Bukan sahabat kalau masih serakah.

 
Ukuran kuantitas banyaknya teman bergeser menjadi lebih seimbang dengan ukuran kualitas persahabatan. Bukan sahabat kalau masih serakah.
 
 

Ramadhan dan Idul Fitri telah di ambang pintu. Aktivitas ekonomi besar siap bergulir menggerakkan perekonomian. Katharine Rooney, staf World Economy Forum, dalam artikel ringkasan The Davos Agenda, “These 8 charts show how the global economy is coping with COVID-19” menjelaskan tiga temuan penting.

Pertama, produk domestik bruto (PDB) global turun sebesar 4,2 persen sejak awal pandemi. Kedua, kawasan Asia pulih paling cepat. Ketiga, pola konsumsi masyarakat berubah.

Mitra bisnis Indonesia terbesar saat ini adalah Cina, dan artikel Rooney menunjukkan cepat pulihnya kawasan Asia karena Cina segera pulih dengan prediksi pertumbuhan ekonomi 8,2 persen pada 2021. Artinya, ekonomi Indonesia juga akan terimbas dari pulihnya ekonomi Cina.

Di sisi lain, pertumbuhan AS diprediksi hanya tumbuh 3,1 persen. Untuk melihat imbas ekonomi AS terhadap Indonesia harus juga memasukkan negara-negara mitra strategis AS. Secara akumulatif dampak ekonomi AS dan mitra strategisnya sangat signifikan terhadap ekonomi Indonesia. Dengan perubahan politik global AS, maka Indonesia harus menyesuaikan politik domestiknya dengan lebih memperhatikan penegakan HAM.

 
Datangnya Ramadhan dan Idul Fitri akan mengembalikan konsumsi yang tertahan dan pulihnya ekonomi domestik.
 
 

Lengkaplah mozaik yang diperlukan. Penegakan HAM dan redanya buzzer akan menciptakan kesejukan. Pulihnya ekonomi global akan mendorong ekspor impor dan investasi. Datangnya Ramadhan dan Idul Fitri akan mengembalikan konsumsi yang tertahan dan pulihnya ekonomi domestik.

Inilah bulan kita mengevaluasi kehidupan politik dari hiruk pikuk saling menjatuhkan menjadi hubungan hangat saling menguatkan sesama anak bangsa. Inilah bulan Sya’ban yang penuh berkah. Bersergeralah kita semua meminta ampunan Allah, dan berharap Allah segera mengganti keserakahan dan keburukan yang mengikutinya dengan kebaikan.

Innal hasanati yuzhibna sayyiati.


×