Pengunjuk rasa meneriakkan slogan saat melakukan aksi menolak kudeta militer di Mandalay, Myammar, Jumat (5/3/2021). | EPA-EFE/KAUNG ZAW HEIN

Kabar Utama

06 Mar 2021, 03:20 WIB

Siaga II di Myanmar

Keamanan di Myanmar yang tak kondusif memicu dirilisnya status kerawanan siaga II bagi WNI.

YANGON -- Kondisi keamanan di Myanmar yang kian tak kondusif memicu dikeluarkannya status kerawanan siaga II bagi warga negara Indonesia (WNI) di negara itu oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Yangon. Warga Indonesia yang tak punya keperluan mendesak di Myanmar diharapkan segera kembali ke Tanah Air.

Seruan ini dikeluarkan menyusul terus meningkatnya jumlah korban jiwa dalam aksi-aksi menolak kudeta militer di berbagai daerah di Myanmar. Kebanyakan korban meninggal dengan luka tembak menyusul tindakan represif aparat keamanan membubarkan pengunjuk rasa.

"Memperhatikan perkembangan situasi terakhir dan sesuai rencana kontijensi, saat ini KBRI Yangon menetapkan status Siaga II," ujar pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri RI, Jumat (5/3). Menurut catatan terkini Kemenlu, saat ini setidaknya ada 500 WNI di Myanmar.

KBRI telah menyampaikan imbauan agar WNI tetap tenang dan berdiam diri di kediaman masing-masing. WNI juga menghindari bepergian, termasuk ke tempat kerja jika tidak ada keperluan sangat mendesak.

Sedangkan bagi WNI beserta keluarganya yang tidak memiliki keperluan mendesak, dapat mempertimbangkan untuk kembali ke Indonesia dengan memanfaatkan penerbangan komersial yang saat ini masih tersedia.

Juru bicara Kemenlu RI Teuku Faizasyah mengatakan, status keadaan siaga II bagi WNI di Myanmar tanpa batasan waktu. "Tidak ada batas waktu, menyesuaikan kondisi setempat," ujar jubir Faizasyah kepada Republika, Jumat (5/3).

Namun demikian, hingga kini belum ada satu pun WNI maupun pekerja dan keluarga di KBRI Yangon yang kembali maupun dipulangkan ke Indonesia. "Belum ada yang dipulangkan, masih mandiri sifatnya," ujar Faizasyah.

Duta Besar RI untuk Myanmar Iza Fadri menuturkan, sejauh ini kondisi WNI di Myanmar terkendali. "Aman," ujar Dubes Iza Fadri ketika ditanya Republika.

photo
Pengunjuk rasa meneriakkan slogan saat melakukan aksi menolak kudeta militer di Mandalay, Jumat (5/3). - (EPA-EFE/KAUNG ZAW HEIN)

Dia juga menuturkan belum secara masif memulangkan pekerja di KBRI Yangon ke Indonesia. "Kemenlu dan KBRI Yangon terus pantau perkembangan situasi, dan saat ini dipandang belum mendesak untuk melakukan evakuasi WNI," ujar Dubes Iza.

Dalam laporan terkini yang dilansir Komisioner Tinggi PBB untuk HAM, Michelle Bachelet, sejak kudeta terjadi pada 1 Februari lalu hingga Kamis (4/3) sebanyak 54 warga Myanmar gugur dalam aksi unjuk rasa. Jumlah sebenarnya diperkirakan bisa lebih tinggi karena banyak korban yang belum terverifikasi Komisi HAM PBB.

Dari total 54 kematian itu, sedikitnya 30 gugur di Yangon, Mandalay, Sagaing, Magway, dan Mon pada Rabu (3/3). Seorang demonstran juga dicatat Komisi HAM PBB terbunuh pada Selasa (2/3). Sedangkan 18 orang meninggal pada Ahad (28/2). Lima lainnya meninggal sebelumnya.

Sejak kudeta dilancarkan Tatmadaw alias militer Myanmar pada 1 Februari, sebanyak 1.700 juga telah ditangkap terkait keikutsertaan dalam unjuk rasa. Namun, Komisi HAM PBB mempreidksi jumlah yang ditangkap jauh lebih banyak mengingat unjuk rasa dilakukan di 537 lokasi di seantero Myanmar.

"Militer Myanmar harus berhenti membunuh dan memenjarakan pengunjuk rasa. Penggunaan senjata api dalam aksi unjuk rasa damai di seantero Myanmar sungguh tercela," ujar Michelle Bachelet.

photo
Penduduk mengangkut karung berisi pasir untuk membangun pembatas jalan guna mengadang aparat keamanan di Mandalay, Jumat (5/3).  - (EPA-EFE/KAUNG ZAW HEIN)

Frontier Myanmar melaporkan melalui akun Twitter-nya, terlepas penindakan skala besar oleh aparat keamanan, unjuk rasa masih terus dilakukan. Sejumlah warga yang mencoba berdemonstrasi di Naypyidaw pada Jumat (5/3) pagi, misalnya, langsung dibubarkan kepolisian. Para pengunjuk rasa juga kini didominasi pemuda-pemudi yang lebih berani menggunakan taktik gerilya.

Pembunuhan juga masih terjadi. Frontier Myanmar melaporkan seorang pria berusia 27 tahun ditembak saat berdiri di salah satu sudut kota Mandalay. Saksi mata menuturkan, pria bersangkutan tak sedang berunjuk rasa.

Kerumunan ribuan orang juga masih berbaris dengan damai melalui kota kedua terbesar Myanmar, Mandalay. "Zaman batu sudah berakhir, kami tidak takut karena kamu mengancam kami," teriak kerumunan.

Menurut saksi mata, ketika unjuk rasa berlangsung polisi melepaskan tembakan untuk membubarkan kerumunan, dan satu orang ditembak di tenggorokan. "Saya kira dia berusia sekitar 25 tahun, tetapi kami masih menunggu anggota keluarga," kata seorang dokter yang memeriksa korban kepada Reuters melalui telepon.

Di kota utama Yangon, polisi menembakkan peluru karet dan granat kejut untuk membubarkan pengunjuk rasa yang diikuti sekitar 100 dokter berjas putih. Kerumunan juga berkumpul di kota Pathein, di sebelah barat Yangon. 


×