Asma Nadia | Daan Yahya | Republika
06 Mar 2021, 03:00 WIB

Cinta yang Berbeda di Tengah Wabah

Saya kira, melalui pandemi, kita belajar memahami cinta pada tingkatan berbeda.

OLEH ASMA NADIA

Hari ketika saya menulis resonansi ini, seorang kerabat dekat, adik dari ibu saya, meninggal dunia. Tentu saja, Mami, begitu panggilan beliau, sangat terpukul. Ia menangis, bahkan sempat  pingsan.

Memang, Mami yang penyayang dan lembut hatinya sangat mudah terluka setiap kali tersiar kabar duka, baik dari kerabat, bahkan orang sebatas kenalan. Maka, momen menyampaikan kabar duka menjadi sesuatu yang pelik dan harus dirancang di antara anak-anak Mami.

Apalagi, beliau memiliki sakit jantung. Biasanya, kami memastikan, saat menerima kabar, Mami berada di tempat tidur agar jika pingsan tidak perlu terjatuh mengenai lantai dan kami yang berada di sekitar bisa sigap  memeluknya.

Terkait

Perlu waktu bagi Mami yang mualaf menerima kenyataan pahit tidak akan bisa berjumpa lagi dengan sosok yang beliau sayangi. Meski, pada akhirnya,  perlahan, Mami selalu bisa menerima dan berupaya mengikhlaskan.

 
Perlu waktu bagi Mami yang mualaf menerima kenyataan pahit tidak akan bisa berjumpa lagi dengan sosok yang beliau sayangi.
 
 

Namun, satu keinginan beliau pastinya melihat wajah yang akan selamanya menghilang dari pandangan untuk terakhir kali. Namun, harapan yang dulu sangat mudah diwujudkan, untuk takziyah dan mengantar hingga ke pemakaman, selama pandemi tentu berbeda.

Air mata masih membayang di sepasang mata Mami saat tegas suaranya terdengar. “Mami harus melihat untuk terakhir kali. Mami mau ke sana.”

Saya dan dua saudara berpandangan. Sejak awal, kami sepakat tak langsung menolak, melainkan meminta beliau menenangkan diri dahulu.  Menurut kami, percuma jika serta merta mematahkan keinginan yang merupakan perwujudan sayang kakak kepada adiknya.

Setelah beliau lebih tenang, baru perlahan kami memberikan pengertian, sebaiknya tidak melayat selama  wabah. Ketika hal ini terkait orang lain, dulu beliau bisa mengerti, tetapi saat sang adik yang dipanggil Allah?

 
Kepanikan baru muncul ketika yang wafat belakangan dinyatakan positif, walau penyakit awal mungkin bukan karena Covid-19. 
 
 

“Ini kan  meninggal karena strok bukan korona! Kenapa nggak boleh takziyah?” Mami bersikeras, mengulang alasan umum yang sering terdengar sebagai respons penolakan atau ketidaksetujuan untuk melayat saat pandemi.

Tentu saja, dalih tersebut bisa benar. Namun, kenyataan di lapangan, bukan satu dua kali terjadi seseorang yang  dinyatakan wafat karena penyakit lain, beberapa waktu kemudian dinyatakan  positif.  Hasil tes awal tidak akurat atau alasan lain, wallahu alam.

Parahnya, seperti yang terjadi di lingkungan, seorang sahabat baik, tetangga, dan masyarakat sekitar telanjur datang ke rumah duka. Tanpa protokol kesehatan memadai, langsung memandikan dan mengafani jenazah serta mengurus segala sesuatu.

Kepanikan baru muncul ketika yang wafat belakangan dinyatakan positif, walau penyakit awal mungkin bukan karena Covid-19. Pengertian lain yang kami harus sampaikan kepada ibu adalah takziyah identik dengan keramaian, kerumunan banyak orang.

 
Mami akhirnya mengalah, tetapi tetap meminta salah satu anak berangkat sebagai perwakilan keluarga.
 
 

Tidak semua pihak hadir mengenakan masker atau memahami protokol kesehatan. Saya paham, keinginan ibunda  melihat wajah sang adik terakhir kali.

Ungkapan cinta yang sangat lumrah. Namun, karena cinta pula saya harus  melarang. Cinta juga yang menyebabkan kerabat lain tak melayat dan menghadiri pemakaman, sekalipun benar almarhum tidak mengidap Covid-19.

Dalam banyak kasus akhir-akhir ini, inisiatif melarang justru muncul dari pihak berduka agar keluarga besar dan masyarakat sekitar cukup mendoakan dari rumah, mengingat pendemi. Ini dilakukan juga oleh perwakilan keluarga Syekh Ali Jaber.

Mami akhirnya mengalah, tetapi tetap meminta salah satu anak berangkat sebagai perwakilan keluarga. Sejujurnya, kami pun sangat ingin meluncur ke rumah duka. Adik saya, satu-satunya anak lelaki di keluarga, sudah siap jika demikian keinginan Mami.

 
Saya kira, melalui pandemi, kita belajar memahami cinta pada tingkatan berbeda. 
 
 

Logika ibu kami,  beliau tidak boleh takziyah karena usianya sepuh, sementara adik saya lebih muda walau usianya juga menjelang setengah abad. 

Saya dan kakak terus membujuk dan memberikan pengertian. Bagaimana pun berisiko berada di keramaian, apalagi adik kami masih memiliki anak kecil dan selama pandemi sangat menjaga diri agar setiap pekan bisa mengantar Mami terapi ke rumah sakit.

Setelah merenung, Mami mengalah. Beliau bisa mengerti, keputusan tak bertakziyah juga ungkapan cinta, cara melindungi keluarga yang berduka sebab tidak ada jaminan kami sebagaimana pengunjung lain- aman dan tidak membawa  virus.

Saya kira, melalui pandemi, kita belajar memahami cinta pada tingkatan berbeda. Cinta yang mampu memupus  semua ego, keinginan, dan kenyamanan pribadi.

 
Cinta memang misteri, definisi dan bentuknya bisa saja berubah, meski lahir dari hati dan kepedulian yang sama. 
 
 

Ekspresi kasih sayang di pandemi telah berubah. Dulu, cinta pada orang tua disampaikan dengan kunjungan melepas kangen. Bagi  pasangan yang sudah pisah rumah, interaksi fisik; mencium tangan, memeluk, bermanja-manja menjadi sesuatu yang dirindukan.

Bagaimana sekarang? Perwujudan  kasih sayang kini diungkapkan dengan perhatian dan doa dari jauh. Kalaupun bertemu, harus memakai masker dan menjaga jarak serta meniadakan interaksi fisik.

Cinta memang misteri, definisi dan bentuknya bisa saja berubah, meski lahir dari hati dan kepedulian yang sama. Dia tak selalu serupa mawar merona, duri pun mungkin saja merupakan cinta. Ya, seiring waktu, khususnya sejak pandemi, sedikit demi sedikit kita belajar memahami arti dan mencari ungkapan cinta yang lebih bijak dan tepat.


×