Hikmah Republika Hari ini | Republika

Hikmah

06 Mar 2021, 03:30 WIB

Mengembangkan Potensi Baik

Potensi baik dan perilaku kita yang merupakan arahan dari jiwa pun akan baik.

 

OLEH FAJAR KURNIANTO

Manusia adalah makhluk Allah yang istimewa dibanding makhluk lainnya. Karena, selain memiliki fisik atau raga (badan), juga memiliki jiwa (nafs), “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS al-Isra’ [17]: 70).

Dalam kitab Mafatih al-Ghaib, Fakhruddin ar-Razi menjelaskan, manusia adalah komponen paling halus yang tersusun dari jiwa (nafs) dan jasmani (badan). Jiwa manusia adalah jiwa yang paling mulia yang ada di dunia, begitu juga dengan jasmani manusia. Ciri manusia yang sangat penting juga, ar-Razi melanjutkan, adalah kekuatan intelektual yang dapat mengetahui hakikat dari segala sesuatu.

Dengan jiwanya, manusia menjadi makhluk mulia. Namun, dengan jiwanya juga, ia bisa menjadi makhluk sebaliknya. Dalam Alquran disebutkan, Allah mengilhamkan atau melekatkan potensi buruk atau jahat dan baik atau terpujinya, “Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya” (QS asy-Syams [91]: 7-8).

Pemilik jiwalah yang akan membangkitkan dan mengarahkannya kepada jalan yang buruk atau jalan yang baik. Anggota tubuh lalu menjalankan apa yang diarahkan oleh jiwa tadi.

Pada titik inilah nilai manusia dalam kehidupannya ditentukan. Bila ia terus mengarahkan jiwa kepada hal-hal yang baik, perilakunya di dunia juga akan baik dan mulia. Begitu pula sebaliknya, bila ia terus mengarahkan jiwa kepada hal-hal yang buruk, perilakunya di dunia juga akan buruk dan hina-dina. 

Allah memberikan pilihan. Semuanya kemudian bergantung pada manusia dengan konsekuensi masing-masing. Apakah akan memilih jalan yang baik untuk menuju kepada kebahagiaan hakiki atau jalan yang buruk untuk menuju kepada penderitaan dan kesengsaraan abadi.

Allah Mahabaik dan menyukai hal-hal yang baik dan Dia menyuruh manusia untuk hidup di jalan yang baik karena jalan itulah yang mengantarkan manusia meraih kebahagiaan hakiki di dunia dan di akhirat. Jalan itu pula yang membuat manusia selalu disertai Allah di manapun dan kapan pun, “Sungguh, Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS an-Nahl [16]: 128).

Maka, Allah mendorong manusia untuk membangkitkan dan mengembangkan potensi jiwa yang baik dan menekan potensi jiwa yang buruk tadi. Untuk melakukan itu, bukan perkara mudah, tetapi juga tidak begitu sulit.

Potensi jiwa yang buruk sering kali amat kuat dan sulit ditekan, dijinakkan, bahkan ditaklukkan. Perlu tekad yang kuat dan sungguh-sungguh untuk itu. Nabi menyebutnya dengan istilah jihad nafs atau berjihad melawan dan menekan hawa nafsu.

Allah berfirman, “Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya” (QS al-Hajj [22]: 78). Jihad melawan dan menekan hawa nafsu, kata Nabi Muhammad, adalah jihad yang paling besar (HR al-Baihaqi).

Dengan keberhasilan mengalahkan dan menekan hawa nafsu, yang tumbuh kemudian adalah potensi baik dan perilaku kita yang merupakan arahan dari jiwa kita pun akan baik. Wallahu a’lam.


×