Ilustrasi belajar daring di masa pandemi. | Dok Kaspersky
02 Mar 2021, 07:14 WIB

Memagari Pendidikan dari Penjahat Siber

Faktor kemanan data di dunia pendidikan kini jadi perhatian. 

Sentuhan teknologi dalam dunia pendidikan kini sudah menjadi hal yang tak terelakkan. Hal ini, bisa ditemui di berbagai tingkat pendidikan, termasuk perguruan tinggi. 

Kepala Unit Pelaksana Teknis Teknologi Informasi dan Komunikasi (UPT TIK) Universitas Terbuka, Dimas Agung Prasetyo bercerita bagaimana pengalaman universitas terbuka dalam melakukan transformasi digital.

Universitas Terbuka merupakan perguruan negeri ke-45 di Indonesia. Perguruan tinggi ini memiliki 311 ribu mahasiswa aktif. Saat ini, mereka tersebar di 34 provinsi di seluruh Indonesia dan ada di lebih dari 60 negara di seluruh dunia. 

Untuk di luar negeri, mahasiswanya adalah warga negara Indonesia yang tinggal di sana. Dalam lima tahun terakhir, Universitas Terbuka menghadapi banyak sekali dinamika karena jumlah mahasiswa program reguler naik. Namun program pendidikan guru justru mengalami penurunan. 

Terkait

Hal lain yang menarik, dulu mahasiswa Universitas Terbuka rata-rata berusia di atas 30 tahun. Persentasenya sekitar 70 persen.

Tetapi semakin lama, jumlah tersebut mulai menurun dan digantikan usia muda. Kini persentase mahasiswa di bawah usia 30 tahun menjadi 70 persen. “Termasuk juga yang menarik, makin banyak siswa lulus SMA langsung masuk ke Universitas Terbuka. Ada tren di mana mungkin siswa tersebut bekerja, kemudian dia sambil kuliah, seperti itu,” kata Dimas dalam acara webinar “The Builders of Indonesia’s Future" di Microsoft DevCon 2021, Kamis (25/21).

Dalam lima tahun terakhir ini juga, menurut Dimas, Universitas Terbuka banyak sekali meluncurkan layanan-layanan daring untuk mendukung kegiatan operasional dan kegiatan pendidikan mereka. Layanan-layanan itu membantu mahasiswa, tetapi di sisi lain juga muncul tantangan untuk Universitas Terbuka.

Dimas menjelaskan, kini semakin banyak mahasiswa yang login, kemudian belajar, berkomunikasi dan berdiskusi dengan teman-temannya secara virtual. “Kalau dulu kita PJJ-nya (pembelajaran jarak jauh --Red) berbasis buku, di mana kita mengirimkan buku, kemudian mahasiswa belajar. Mau tidak mau, kita juga harus memodifikasi sedikit sistem PJJ kita dengan memasukkan aktivitas interaksi melalui e-learning, webinar,” jelas Dimas.

Keamanan Jadi Perhatian

photo
Ilustrasi ancaman kejahatan siber di dunia pendidikan, - (Dok Kaspersky)

Dengan makin tingginya aktivitas belajar yang dilakukan di dunia digital, keamanan sistem menjadi konsep utama dalam layanan-layanan daring Universitas Terbuka. Sebab, lanjutnya, selama dua tahun terakhir banyak sekali usaha-usaha pembobolan data. “Dari ada beberapa perguruan tinggi juga diketahui datanya bocor jadi concern buat kita,” katanya.

Di sisi eksternal, kebijakan institusi ini juga sangat mempengaruhi tata kelola organisasi Universitas Terbuka. Termasuk juga kapasitas infrastruktur. 

Universitas Terbuka mau tidak mau harus memprediksi bagaimana perkembangan mereka atau membangun infrastruktur mereka. Lalu, Dimas menyebutkan, jumlah sumber daya manusia (SDM) Universitas Terbuka kini juga sudah mulai terbatas, sementara jumlah mahasiswanya makin naik.

“Jadi ini menjadi tantangan bagaimana kami bisa menyediakan layanan yang sifatnya, integritasnya terjamin, kemudian selalu tersedia. Terus yang terakhir data yang disimpan di situ rahasia dan pasti ya secure,” ujarnya.

Sebagai solusi, Universitas Terbuka kini melakukan proses otomatisasi dengan menggunakan Microsoft Azure. Platform cloud Azure berisi lebih dari 200 produk dan layanan cloud yang dirancang untuk membantu menghadirkan solusi baru. 

Dimas menyebutkan Universitas Terbuka mengenal Microsoft Azure pada 2015 sampai sekarang. “Kita putuskan oke kita integrate. Jadi kita hibrid. Data center kita, ketika berkomunikasi dengan Azure itu melewati jaringan internal. Kemudian dari Azure ini kita mengekspansi kapasitas infrastruktur kita yang menggunakan cloud,” ujarnya.

Saat ini, Universitas Terbuka menggunakan Microsoft Azure untuk penyediaan e-learning, karena e-learning menjadi salah satu modal utama perguruan tinggi ini dalam menyediakan layanan ke mahasiswa dan jumlah akses dari mahasiswa itu luar biasa besar.

Sebagai contoh, Dimas mengatakan pada situasi pembelajaran, selama ini Universitas Terbuka memiliki tutorial tatap muka sekitar 15 ribu kelas fisik di seluruh Indonesia. Kelas ini dijalankan paralel pada setiap Sabtu-Ahad. 

Kemudian, ada paralel kelas daring melalui platform Microsoft. Ada pula 16 ribu kelas daring di mana diisi 60 mahasiswa setiap kelas. 

Dari sini, Dimas mengungkapkan, Universitas Terbuka mengambil kesimpulan bahwa cloud sangat membantu transformasi digital. Variasi layanan yang ada di cloud memudahkan Universitas Terbuka mengatur sesuai kebutuhan ketika mereka mengembangkan atau menciptakan suatu sistem.

Director National Technology Officer, Microsoft Indonesia, Panji Wasmana menjelaskan, ada beberapa hal yang Microsoft bisa lakukan untuk membantu permasalahan teknologi di bidang pendidikan Indonesia. Menurutnya, Microsoft kini bersinergi untuk menghadirkan Microsoft Learn. 

Ini adalah layanan dari Microsoft yang menyediakan berbagai macam materi pembelajaran dan bisa dimasukkan ke dalam kurikulum. “Langkah ini pada akhirnya membantu mahasiswa menguasai satu sesi pendidikan teknologi dan pada akhirnya mereka memperoleh sertifikasi internasional. Artinya bisa mereka manfaatkan untuk berbagai macam situasi peluang kerja,” ujar Panji.

 
Yang paling challenging buat kita, bagaimana mengonversi ujian akhir yang biasa di kelas, kini di-delivery secara online dengan 1,7 juta set soal mata kuliah.
DIMAS AGUNG PRASETYO, Kepala Unit Pelaksana Teknis Teknologi Informasi dan Komunikasi (UPT TIK) Universitas Terbuka
 

 

 


×