PWNU Jawa Timur melaksanakan program vaksinasi kepada 98 kiai, ulama, dan tokoh Nahdlatul Ulama, Selasa (23/2). | Dadang Kurnia/Republika
28 Feb 2021, 20:02 WIB

Vaksinasi untuk Ulama, Ikhtiar Putus Rantai Penularan Covid

Vaksinasi Covid-19 bagi ulama tahap selanjutnya dikoordinasikan dinas kesehatan masing-masing daerah.

OLEH ANDRIAN SAPUTRA

Tokoh agama termasuk ulama akhirnya masuk menjadi kelompok prioritas penerima vaksin Covid-19. Kelompok ini menjadi strategis karena ulama bisa memperlancar program vaksinasi yang digunakan pemerintah. Meski demikian, sosialisasi masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah agar para ulama mendukung sepenuhnya program ini.

 

Pemerintah memulai vaksinasi terhadap tokoh agama sejak Selasa (23/2) di basement Masjid Istiqlal, Jakarta. Vaksinasi tahap awal ini diikuti ribuan agamawan.

Terkait

Dikonfirmasi Republika, Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 yang juga Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan (Dirjen P2P Kemenkes) dr Siti Nadia Tarmizi menjelaskan, vaksinasi akan berlangsung selama 10 hari dengan target sasaran 7.000 pemuka agama.

"Ini untuk semua pemuka agama, bukan hanya Muslim, ya. Sasarannya 7.000 dan akan dilaksanakan selama 10 hari," kata Nadia kepada Republika, Selasa (23/2).

Bagi agamawan yang tidak berkesempatan mengikuti vaksinasi di Masjid Istiqlal, mereka dapat mengikuti vaksinasi di daerah masing-masing. Menurut Nadia, vaksinasi Covid-19 bagi tokoh agama tahap selanjutnya akan dilaksanakan dengan koordinasi dinas kesehatan di masing-masing provinsi, kabupaten, dan kota.

Pelaksanaan vaksinasi terhadap tokoh agama di Masjid Istiqlal dipantau langsung Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Ia memperkirakan jumlah rata-rata per harinya yang mengikuti vaksin mencapai 500 sampai 1.000 orang. Vaksinasi di Istiqlal bahkan tak hanya untuk pemuka agama, tetapi juga untuk masyarakat luas.

Dihubungi terpisah, Ketua Umum Pimpinan Pusat Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) KH Abdul Ghaffar Rozin mengapresiasi langkah pemerintah yang telah memulai vaksinasi terhadap tokoh agama, termasuk para kiai, asatiz, serta pengasuh dan pimpinan pesantren. Hal itu dinilai sangat penting agar para tokoh agama, termasuk ulama dan pengajar di pondok pesantren, dapat terhindar dari risiko penularan Covid-19.

Menurut dia, RMI NU bahkan sudah mengajukan kiai dan asatiz dari 1.300 pesantren agar segera mendapatkan vaksin Covid-19. Gus Rozin, begitu ia akrab disapa, mengatakan, RMI mengajukan di tiap pesantren 30 orang yang merupakan kiai dan asatiz untuk menerima vaksin Covid-19.

"Mengenai teknis, saya kira pesantren akan fleksibel, apakah akan dilaksanakan di pesantren masing-masing atau di fasilitas kesehatan terdekat. Walaupun mungkin akan lebih cepat dan aman kalau dilaksanakan di pesantren masing-masing," kata KH Abdul Ghaffar Rozin.

Ketua PP Muhammadiyah Prof Dadang Kahmad juga menyambut baik vaksinasi terhadap tokoh agama. Prof Dadang mengatakan, Muhammadiyah sejak awal sudah merilis pernyataan mendukung vaksinasi dengan ketentuan vaksin sudah diverifikasi oleh Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan (BPOM) dan MUI.

"Masih banyak yang awam prosedurnya. Menurut saya, sebaiknya tim vaksinasi proaktif memberikan penerangan atau mendatangi serta mendata mereka, kalau perlu vaksinasinya di tempat mereka itu berada," ujar dia.

 
Sebaiknya tim vaksinasi proaktif memberikan penerangan atau mendatangi serta mendata mereka, kalau perlu vaksinasinya di tempat mereka itu berada.
PROF DADANG KAHMAD, Ketua PP Muhammadiyah
 

Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amirsyah Tambunan menjelaskan, MUI juga akan merekomendasikan vaksinasi kepada pengurus MUI provinsi, kabupaten, dan kota setelah pelaksanaan vaksinasi dilakukan di MUI Pusat. "Untuk pertama kali MUI merekomendasikan peserta vaksin minimal 500 orang," kata dia.

Dia menilai vaksinasi Covid-19 sangat penting untuk diikuti para ulama di setiap daerah. Vaksin merupakan salah satu ikhtiar untuk memutus mata rantai Covid 19. Oleh karena itu, suntik vaksin bagi ulama sangat penting, sesuai rekomendasi dokter dan dilakukan sesuai prosedur yang berlaku.

Buya Amirsyah, begitu ia akrab disapa, menambahkan, para pemimpin organisasi Islam dan ulama perlu dijadikan contoh yang baik untuk menyukseskan vaksinasi. "Namun, harus dicatat bahwa peserta vaksin perlu dilakukan dengan kesadaran penuh untuk divaksin, tanpa paksaan," kata dia.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by BKMT DKI JAKARTA (bkmt.dki_jakarta)

Vaksin bagi ustazah

Ketua Umum Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Syifa Fauzia mengatakan, meski vaksinasi menjadi keputusan masing-masing individu, BKMT mendorong agar para ustazah dan mubalighah bisa mengikuti vaksinasi. Terlebih, vaksin yang digunakan telah teruji dari berbagai segi dan efektif serta tidak membahayakan.

"Mudah-mudahan para mubalighah dan para ustazah bisa untuk segera vaksin. Dan apakah ini menjadi satu hal yang harus didahulukan? Bisa jadi juga karena memang ustazah dan mubalighah ini kan menjadi garda terdepan mengajarkan akidah dan akhlak keseharian," kata Syifa kepada Republika, beberapa waktu lalu.

 
Para ustazah dan mubalighah mempunyai peran besar di tengah umat, tetapi pada sisi lain memiliki risiko yang sangat besar terinfeksi Covid-19.
ANGGIA ERMARINI, Ketua Umum PP Fatayat NU
 

Syifa mengatakan, para ustazah yang berusia lanjut sudah semestinya dapat dikategorikan sebagai kelompok yang didahulukan dalam menerima vaksin Covid-19. Dengan begitu, mereka diharapkan dapat terhindar dari terinfeksi Covid-19.

Dihubungi terpisah, Ketua Umum Pimpinan Pusat Fatayat Nahdlatul Ulama Anggia Ermarini menilai para ustazah dan mubalighah sangat perlu untuk mendapatkan prioritas vaksinasi Covid-19. Para ustazah dan mubalighah mempunyai peran besar di tengah umat, tetapi pada sisi lain memiliki risiko yang sangat besar terinfeksi Covid-19. Dengan mengikuti vaksinasi, para ustazah dan mubalighah juga menjadi panutan bagi jamaahnya akan upaya untuk mencegah penularan Covid-19.

 


×