Ketua Umum Asosiasi Masjid Kampus Indonesia (AMKI) Prof Dr Hermawan KD memandang, keberadaan masjid kampus sangat penting dalam menjembatani dunia akademis, religi, dan sosial generasi Muslim, khususnya kalangan mahasiswa. | DOK IST
28 Feb 2021, 04:00 WIB

Prof Hermawan Kresno Dipojono: Bangun Peradaban dari Masjid

Masjid kampus ikut menjalankan misi yang diemban lembaga pendidikan tempatnya berada.

 
Dakwah Itu Keteladanan
(Prof Hermawan Kresno Dipojono)
 

Masjid kampus berperan strategis membangun peradaban. Di Indonesia, keberadaan masjid kampus tidak hanya di pelbagai perguruan tinggi keagamaan Islam, tetapi juga umum.

Menurut Ketua Umum Asosiasi Masjid Kampus Indonesia (AMKI) Prof Dr Hermawan Kresno Dipojono MSEE PhD, masjid kampus ikut menjalankan misi yang diemban lembaga pendidikan tempatnya berada. Misi itu dikenal sebagai Tri Dharma Perguruan Tinggi.

“Menjadi alamiah saja bila masjid kampus ikut berperan mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Di Masjid Salman ITB, misalnya, kita sebut saja inovasi Vent-I (Ventilator Indonesia),” ujar guru besar Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung (ITB) itu.

 
Peran Masjid Lebih Besar
(Prof Hermawan Kresno Dipojono)
 

Peraih gelar master dari The University of Hawaii, Manoa, Amerika Serikat itu menerangkan, alat bantu pernapasan Vent-I digagas, dirancang, dan diuji coba oleh Sekretaris Majelis Pembina Yayasan Pembina Masjid Salman ITB, Dr Syarif Hidayat. Bahkan, tutur Prof Hermawan, beberapa ruangan di Masjid Salman ITB sempat difungsikan menjadi bengkel pembuatan Vent-I.

Terkait

Selain Masjid Salman ITB, tentu masih banyak masjid kampus lainnya di Tanah Air yang turut berkontribusi membangun peradaban. Mereka telah dan akan selalu menebarkan semangat Islam, rahmat bagi semesta (rahmatan lil ‘alamin).

“Seperti diajarkan Kanjeng Nabi SAW, Islam itu rahmatan lil ‘alamin, bukan hanya rahmatan lil Muslimin,” katanya.

Bagaimana masjid kampus mempertemukan aspek keilmuan, keislaman, dan pengabdian kepada masyarakat? Berikut perbincangan wartawan Republika, Muhyiddin, dengan alumnus The Ohio University AS ini beberapa waktu lalu.

Bagaimana Anda melihat peran masjid umumnya dalam mengembangkan peradaban?

Sejarah kehidupan Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita bahwa masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah mahdhah (ritual), tetapi juga pusat peradaban Islam. Beliau menggunakan masjid juga untuk mengurus, mengelola, dan menyelesaikan semua persoalan umat Islam atau masyarakat.

Tidak untuk masa beliau saja. Dengan an-nubuwwah beliau, terpancar pula prinsip, pedoman, jalan hidup, dan kehidupan yang berbudi luhur, berakhlak mulia. Keteladanannya melewati batas-batas ruang dan waktu.

Intinya, melalui masjid beliau membangun masyarakat yang beradab dan berkeadilan di atas landasan iman dan takwa. Allah SWT berkenan melimpahkan rahmat-Nya berupa terwujudnya masyarakat yang sejahtera. Generasi sahabat menjadi teladan abadi karena akhlak mulia mewujud nyata dalam kehidupan sosial sehari-hari secara meluas.

 
Potensi Masjid Kampus
(Prof Hermawan Kresno Dipojono)
 

Pada zaman kini, bagaimana peran masjid seharusnya?

Kita sekarang sangat terbantu dengan perkembangan teknologi, khususnya teknologi informasi. Kita bisa memanfaatkannya semaksimal mungkin, apalagi misalnya dalam situasi pandemi Covid-19 ini. Jadi, kegiatan-kegiatan masjid bisa menjadi lebih luas cakupannya sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Apakah masjid dalam lingkungan kampus lebih bisa berperan sebagai pusat peradaban?

Melalui masjid kampus, para mahasiswa kian memiliki model belajar tentang bagaimana menangani problem-problem kemasyarakatan. Kita bisa melibatkan mereka dalam berbagai kegiatan. Jadi, itu juga bisa menjadi latihan bagi mahasiswa. Kelak, diharapkan mereka bisa memiliki kepedulian terhadap persoalan nyata kemasyarakatan.

Semoga dengan begitu, masjid semakin mempunyai peran yang lebih besar dalam membangun negeri ini agar lebih baik dari pada masa lalu atau hari ini. Untuk menyebut satu contoh, dari Masjid Salman ITB (Institut Teknologi Bandung) sendiri, banyak kegiatan yang dilakukan agar masjid menjadi pusat peradaban Islam.

Apa saja perbedaan kualitas antara masjid kampus dan “masjid biasa”, yakni yang ada di luar perguruan tinggi?

Saya tidak ingin menggunakan istilah “kualitas” sebagai pembeda antara masjid kampus dan “masjid biasa” yang Anda istilahkan tadi. Menurut saya, lebih tepat bila kita memakai kata “potensi jamaahnya”. Sebab, faktor pembedanya memang umumnya itu.

Jamaah masjid kampus sebagian besar (adalah) mahasiswa. Mereka anak-anak muda yang cerdas, dinamis, energik, punya impian masa depan yang hebat. Mereka pewaris masa depan bangsa. Dan itu dari tahun ke tahun, terus mengalir, tanpa henti. Ada yang pergi, tapi banyak lagi yang datang.

 
Potensi dan Kesempatan untuk Semua
(Prof Hermawan Kresno Dipojono)
 

Bisa dikatakan, mahasiswa menjadi produk utama masjid kampus?

Ya, ini benar-benar potensi umat dan bangsa yang luar biasa. Tentunya, jika kita berhasil mendidik mereka menjadi insan-insan yang berilmu, kompeten, dan berwawasan kebangsaan. Jangan lupa juga, berakhlak mulia, amanah, serta penuh pertanggungjawaban kerja.

Tingkah lakunya selalu ingat kehidupan setelah mati. Jadi, mereka dalam berkarier di mana saja nantinya bukan hanya cemerlang, tetapi juga tidak korupsi. Tidak menjadi pencuri, pendengki, dan perusak bangsa.

Sebagai bagian dari kampus, bagaimana masjid kampus mendukung Tri Dharma Perguruan Tinggi?

Dengan menjalankan fungsi dan peran masjid kampus seperti yang saya jelaskan tadi, maka menjadi alamiah saja bila masjid kampus ikut berperan mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Di Masjid Salman ITB, misalnya, kita sebut saja inovasi Vent-I (Ventilator Indonesia).

Penemu Vent-I, Pak Dr Syarif Hidayat, dosen (ITB) yang juga ketua YPM (Yayasan Pembina Masjid Salman ITB) 2012-2017. Inovasi Vent-I menjadi sebuah bukti tentang peran masjid kampus dalam mewujudkan Tri Dharma itu. Kebetulan kami yang pada waktu itu pertama kali melangkah (membuat ventilator mandiri –Red). Setelah itu, banyak kampus-kampus lain yang juga menawarkan berbagai ide kreatif.

Selain potensi dan kapasitas dari civitas akademika di kampus sendiri, untuk mendukung Tri Dharma Perguruan Tinggi masjid kampus juga dapat menggerakkan alumni, jamaah, dan bahkan masyarakat. Misalnya, mereka diajak untuk berinfak, sedekah, atau amal jariah. Semuanya berlangsung secara alamiah saja.

Bagaimana Anda memandang keberadaan masjid kampus di lembaga-lembaga pendidikan umum, bukan kampus Islam?

Masjid kampus menjembatani tiga entitas sekaligus, yakni keilmuan “sekuler” di perguruan tinggi umum, ajaran agama di masjid, dan masyarakat sekitar tempat masjid itu berada. Ketiganya bisa dihubungkan melalui pendalaman, pemahaman, dan penghayatan terhadap ajaran Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW.

Ya, ketiga entitas itu sebenarnya bukanlah terpisah satu sama lain. Ilmu Allah SWT hadir di masing-masing itu. Lagipula, pada hakikatnya kita semua sedang menuju kepada-Nya. Kalau saya memandang, program-program kegiatan (di masjid kampus) harus dirancang dan dieksekusi dengan hati yang selalu menghadirkan keyakinan kepada Allah SWT.

Karakternya, canggih tetapi rendah hati, bersemangat menebarkan kasih sayang, serta optimistis membuat NKRI yang esok lebih baik daripada kemarin dan hari ini.

Di Masjid Salman ITB, bagaimana keadaannya terkait menjembati tiga entitas tersebut?

Sejak awal berdirinya, proses itu terus mengalir. Pendekatan kita menggunakan apa yang disebut sebagai continuous improvement, perbaikan yang berkelanjutan. Tentu, tidak ada yang sempurna seketika. Tapi, kita ingin dari waktu ke waktu Masjid Salman ITB menjadi lebih baik, termasuk dalam menjembatani tiga entitas ini.

Yakni, kampus sebagai domain yang sangat menekankan sains dan teknologi. Lalu, masjid sebagai domain yang menekankan kepentingan untuk membina iman dan takwa. Dan, ada pula domain sosial yang tentang menghadapi persoalan-persoalan nyata di tengah masyarakat.

Jadi, interaksi ketiga domain itu diarahkan agar seimbang sehingga menghasilkan kemanfaatan semaksimal mungkin. Keilmuan dari pendidikan di kampus bisa diamalkan untuk menjawab pelbagai persoalan masyarakat. Pada saat yang sama, amal dan ikhtiar itu dikawal nilai-nilai iman dan takwa kepada Allah.

Bahaya ekstremisme dan radikalisme di kampus sering menjadi isu. Bagaimana solusinya?

Kita harus membuka diri seluas-luasnya. Menjadikan masjid kampus sebagai masjid yang aman, nyaman, menenteramkan, dan mencerdaskan. Dalam diri setiap pengurus dan aktivis masjid kampus tertanam keyakinan bahwa NKRI adalah nikmat sekaligus amanah dari Allah SWT. Indonesia harus terus dijaga, disejahterakan, diangkat wibawa, harkat dan martabatnya dalam pergaulan antarbangsa.

Masjid-masjid kampus mesti terbuka. Masjid Salman ITB juga terbuka dan menekankan pentingnya berwawasan kebangsaaan, kebudayaan, dan kemanusiaan. Seperti diajarkan Kanjeng Nabi SAW, Islam itu rahmatan lil ‘alamin, bukan hanya rahmatan lil Muslimin.

Bisa dilihat, alat Vent-I yang tahun lalu kami ciptakan. Itu kami bagi ke banyak pihak, termasuk rumah-rumah sakit Katolik, Kristen, baik di Jawa maupun luar Jawa, seperti di Bali. Semuanya dapat jatah gratis dan kami kirimkan dari sini.

Menurut Anda, apa saja tantangan saat ini bagi masjid kampus untuk mencetak intelektual yang alim sekaligus ulama yang intelek?

Pertama-tama, kita mesti membangun jamaahnya, khususnya dari kalangan para mahasiwa. Mereka diarahkan dan dibimbing agar mempunyai kemampuan berpikir kritis, runut, dan sistemik-sistematis.

Pada saat bersamaan, mereka pun mesti rendah hati, bernurani jernih, berjiwa merdeka, serta meneladankan kecintaan kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Semua melalui istikamah dalam berilmu, beriman, dan beramal saleh.

Intinya, ini proses sepanjang hayat. Di Masjid Salman ITB, kami dari waktu ke waktu terus selalu evaluasi. Yang jelas, kita berkeinginan menebar manfaat dan maslahat semaksimal mungkin. Apalagi, seperti disabdakan Nabi SAW, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama.

 

photo
Prof Hermawan KD saat memberi tausiyah dalam acara tabligh akbar di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Sabtu (31/12/2016). Selain di ranah akademis, guru besar Institut Teknologi Bandung ini juga cukup lama berkiprah di dunia dakwah. - (DOK REP Edi Yusuf)

Menjadi Akademisi Bermental Ihsan

Dalam sebuah hadis sahih, Nabi Muhammad SAW bersabda mengenai tujuh golongan yang kelak memperoleh naungan Allah SWT pada hari kiamat. Salah satunya adalah pemuda yang hatinya terpaut pada masjid.

Ketua Umum Asosiasi Masjid Kampus Indonesia (AMKI) Prof Dr Hermawan Kresno Dipojono mengatakan, pesan Rasulullah SAW itu hendaknya menjadi pelecut semangat bagi generasi Muslim kini, termasuk kalangan mahasiswa.

Harapannya, mereka dapat tumbuh menjadi akademisi yang tidak hanya cerdas dan berprestasi, tetapi juga bermental ihsan. Sifat itu berarti menghadirkan kesadaran dalam diri bahwa Allah Ta’ala selalu melihat setiap perbuatan manusia, baik yang zahir maupun tersembunyi.

Menurut guru besar Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung (ITB) itu, keberadaan masjid-masjid kampus di seluruh Tanah Air berperan penting menyemai karakteristik positif itu dalam diri kolektif mahasiswa.

Ketua Senat Akademik ITB ini menuturkan, dengan bermental ihsan seseorang tidak mesti menjadi dai atau mubaligh. Ilmuwan umum pun perlu memiliki sifat tersebut agar pemikiran dan tindakannya tidak melanggar perintah agama. Perannya di tengah masyarakat diharapkan dapat menimbulkan maslahat, alih-alih mudarat.

Dakwah pun sebenarnya dapat dilakukan setiap orang. Sebab, keteladanan yang ditunjukkan seorang Muslim di tengah masyarakat juga memancarkan ajaran Islam. Pada gilirannya, budi pekerti itu membuat orang-orang tertarik mengenal dan mempelajari agama ini. “Yang paling efektif, dakwah itu dengan keteladanan saya kira,” kata profesor berusia 65 tahun itu.

photo
Sejak awal, Masjid Salman ITB dibangun untuk menjadi titik temu dunia akademis, keilmuan, dan keagamaan Islam. Hal itu diakui Ketua Senat Akademik Institut Teknologi Bandung, Prof Dr Hermawan Kresno Dipojono. - (DOK SALMAN ITB)

Hermawan mengaku bersyukur. Sebab, pria kelahiran Yogyakarta ini sejak kecil ditempa untuk selalu mencintai masjid. Ketika pertama kali menjadi mahasiswa, ia menuturkan, dirinya aktif dalam berbagai kegiatan keislaman. Masih terpatri dalam ingatannya, bagaimana para senior dan dosennya waktu itu membimbingnya di Masjid Salman ITB.

“Oleh para guru dan dosen ditanamkan perasaan kesyukuran dan kedamaian dalam berkhidmat di masjid, di rumah-Nya. Dan, pendidikan itu terbawa hingga kini. Semoga berlangsung terus hingga tiba saatnya pulang menemui Allah SWT dan harapannya bertemu Rasulullah SAW,” ucapnya saat dihubungi Republika baru-baru ini.

Ketua Majelis Pembina Yayasan Pembina Masjid (YPM) Salman ITB tersebut menginginkan, semangat bermental ihsan itulah yang diwariskan kepada seluruh civitas akademika ITB, khususnya para aktivis masjid kampus itu. Ditegaskannya, masjid bukan sekadar tempat ibadah, melainkan juga pusat peradaban.

“Bersama dosen dan alumni yang masih peduli, kita bersama-sama berkhidmat di rumah Allah,” ucapnya.

Masjid Salman ITB selalu terbuka untuk siapa saja. Ia pun mengajak seluruh pihak untuk turut memakmurkan masjid yang berdiri atas restu langsung Presiden Sukarno itu. “Dalam situasi pandemi seperti sekarang, Masjid Salman tetap terbuka. Publik bahkan di manapun berada di muka bumi ini dapat ikut dalam berbagai kegiatan di dalamnya. Karena memang ada yang dilakukan secara daring,” jelas Hermawan.

Satu hal cukup dirisaukannya. Belakangan ini, publik ramai membincangkan sebuah gerakan yang mengatasnamakan alumni ITB. Kelompok ini dengan gegabah menuding cendekiawan Muslim Prof Din Syamsuddin. “Sebagai guru yang mencintai serta berusaha menjaga kesatuan dan kejayaan NKRI, sangat sedih dan prihatin,” tutupnya.


×