Bagaimana hukumnya meratapi musibah berlebihan hingga menyalahkan Allah karena bencana? | Pixabay
28 Feb 2021, 03:00 WIB

Meratapi Musibah Hingga Menyalahkan Allah, Apa Hukumnya?

Bagaimana hukumnya meratapi musibah berlebihan hingga menyalahkan Allah karena bencana?

OLEH ANDRIAN SAPUTRA

Bencana banjir melanda sejumlah daerah baru-baru ini. Di beberapa tempat, banjir tidak hanya merendam permukiman warga, tetapi juga menghanyutkan harta benda, kendaraan, dan hewan ternak. Ada juga kasus warga yang meninggal karena terbawa arus banjir.

Sementara itu, banyak warga yang terpaksa harus mengungsi dan tinggal di tenda-tenda karena banjir yang merendam rumah mereka masih belum juga surut. Di tengah situasi bencana, sebagian warga memilih pasrah dan berharap bencana yang terjadi bisa segera selesai.

Meski demikian, ada juga warga yang merespons bencana banjir yang merendam rumah dan merusak harta bendanya dengan meratapinya berlebihan, bahkan hingga menyalahkan Allah. Lantas, bagaimana hukumnya meratapi musibah berlebihan hingga menyalahkan Allah karena bencana yang terjadi? Seperti apa tuntunan Islam ketika seorang Muslim tertimpa bencana?

Terkait

Sejatinya, setiap manusia-- sekalipun orang beriman--pasti akan mengalami ujian dalam hidupnya. Bahkan, dalam surah al-Baqarah ayat 155 dijelaskan bahwa Allah menguji manusia dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, kehilangan jiwa. Begitu juga dengan bencana alam, seperti banjir, yang merupakan salah satu bentuk ujian Allah kepada hambanya.

Pendakwah yang juga Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Jam'iyatul Washliyah KH Masyhuril Khamis menjelaskan, salah satu sifat yang wajib ada dalam diri seorang Muslim adalah memiliki sifat qanaah, yaitu sifat puas hati, syukur, dan ridha atas apa yang Allah takdirkan. Orang yang qanaah, menurut Kiai Masyhuril, tidak akan menyalahkan atau berprasangka buruk kepada siapa pun, apalagi kepada Allah, atas segala hal yang menimpanya.

 
Orang yang qanaah tidak akan menyalahkan atau berprasangka buruk kepada siapa pun, apalagi kepada Allah, atas segala hal yang menimpanya.
 
 

Kiai Masyhuril yang juga penulis buku Jangan Putus Asa dari Rahmat Allah ini menjelaskan, orang yang qanaah akan selalu mengiringi dengan sabar dan ikhlas ketika menghadapi ujian dan akan bersyukur ketika mendapatkan nikmat. Ini karena adanya kesadaran, tidak ada yang memberikan ujian dan menghilangkannya kecuali Allah. Sebagaimana dijelaskan dalam surah al-An'am ayat 17.

Orang-orang yang beriman dan memiliki sifat qanaah menyadari, segala nikmat datangnya dari Allah SWT. Ketika datang kemudharatan atau ujian maka tidak ada yang dapat dimintai pertolongan kecuali Allah.

Sementara itu, orang yang tipis iman akan merespons setiap ujian yang menimpanya dengan mengeluh, bahkan menyalahkan dan menghujat Allah. Inilah tanda orang yang ingkar terhadap takdir Allah. Sebab itu, Islam sangat melarang umatnya meratap berlebihan ketika tertimpa musibah karena membawa seseorang pada ketidakrelaan akan takdir yang telah digariskan. Sementara itu, memercayai takdir Allah adalah bagian dari rukun Iman.

"Jadi, bila ada yang berprasangka buruk terhadap Allah atau malah menyalahkan-Nya, inilah pertanda tingkat keimanan yang lemah, batin yang sakit. Keimanan pada qadha dan qadarnya perlu diluruskan dan itu (prasangka--Red) sangat dilarang," kata Kiai Mashuril kepada Republika, beberapa hari lalu.

Musibah, seperti bencana banjir, sebaiknya dimanfaatkan untuk bermuhasabah diri. Boleh jadi bencana banjir yang terjadi disebabkan perilaku manusia.

 
Musibah, seperti bencana banjir, sebaiknya dimanfaatkan untuk bermuhasabah diri.
 
 

Sebagaimana dijelaskan dalam Alquran surah ar-Rum ayat 41, kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar. Selain itu, orang yang beriman akan bersabar dan melafazkan innalilahi wa inna ilaihi rajiun. Sebagaimana dijelaskan dalam surah al Baqarah ayat 156.

Selain itu, Alquran memberi petunjuk kepada orang-orang yang beriman mengenai cara menghadapi ujian, yaitu dengan memperbanyak istighfar sebagaimana dalam surah an-Nuh ayat 10-12. Istighfar akan menghapus dosa dan mendatangkan keberkahan. Sebab, boleh jadi musibah yang menimpa disebabkan karena kelalaian akan dosa.

"Sucikan diri (tazkiyatun nafs) dengan metode takhally, mengeluarkan sifat-sifat kotor dan menukarnya dengan tahally, artinya memperbaikinya dengan zikir, Alquran, dan belajar pada ayat-ayat Allah yang terjadi di sekitar kita. Kita harus menjadikan musibah ini sebagai i'tibar, pelajaran berharga, mengambil hikmah-hikmah penting di dalamnya. Sebab, setiap musibah itu mesti ada nilai kebaikan di sana," ujar dia.


×