Warga menunggu air surut saat banjir melanda kawasan permukiman di Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (5/10/2020). Banjir tersebut terjadi akibat meluapnya Kali Krukut. | SIGID KURNIAWAN/ANTARA FOTO
26 Feb 2021, 08:41 WIB

Selamatkan Bantaran Kali Krukut

Bantaran Kali Krukut disalahgunakan untuk bangunan dan aktivitas ilegal.

JAKARTA -- Kawasan Kemang, Jakarta Selatan, lagi-lagi diterjang banjir karena luapan Kali Krukut pada akhir pekan lalu. Banjir yang meluap dari Kali Krukut diduga karena penyempitan kali ketika memasuki wilayah Kemang.

Staf Khusus Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Bidang Sumber Daya Air, Firdaus Ali, mengatakan, banjir di Kemang memang karena kapasitas Kali Krukut yang tidak lagi mampu menampung debit air dari hulu. Jalan keluarnya, yaitu dengan membuat bendungan di hulu dan memperlebar Kali Krukut.

“Jadi, memang butuh normalisasi,” kata Firdaus kepada Republika, Kamis (25/2).

Menurut Firdaus, kunci untuk menormalisasi Kali Krukut sama dengan menormalisasi Kali Ciliwung, yakni membebaskan lahan di bantaran sungainya. Dia meminta Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk mengosongkan area sempadan sungai untuk pelebaran.

Terkait

Kalau memang banyak bangunan tanpa ataupun melanggar IMB di bantaran Kali Krukut, kata dia, seharusnya Anies berani melakukan penertiban. "Ini soal kemauan politik saja," kata dia.

Fraksi PDI Perjuangan di DPRD DKI Jakarta juga mendesak Anies segera membongkar bangunan yang tanpa atau melanggar IMB di bantaran Kali Krukut. Kendati demikian, partai yang beroposisi terhadap Anies ini mengingatkan agar penertiban tetap dilakukan secara bijak.

"Kalau tidak ada IMB itu berarti melanggar, konsekuensinya dibongkar. Sepanjang itu dilakukan dengan cara yang benar, pasti kami mendukung," kata Ketua Fraksi PDIP, Gembong Warsono.

Salah satu partai pendukung Anies juga mendorong agar bangunan tanpa IMB di Kali Krukut ditertibkan. Ketua Fraksi PKS DPRD DKI Jakarta Mohammad Arifin mengatakan, Anies harus menegaskan kepada para pemukim di Kemang untuk tidak melanggar IMB.

"Kami tentu mendukung. Asalkan dilakukan dengan baik. Pak Anies harus memberikan pengertian kepada warga supaya jangan berulang lagi mereka membangun di sana," kata Arifin.

Kepala Suku Dinas Citata Jakarta Selatan, Syukria, mengatakan, pihaknya beberapa tahun lalu memang sudah pernah mendata bangunan di bantaran Kali Krukut. Ketika itu, pendataan dilakukan terkait wacana pelebaran Kali Krukut.

Dari hasil pendataan, kata dia, memang terdapat sejumlah bangunan rumah tanpa izin mendirikan bangunan (IMB). Ada pula bangunan seperti toko dan hotel yang melanggar IMB. "Kebanyakan mereka membangun jauh dari sungai sesuai IMB, tapi pagarnya dibuat mepet ke bantaran kali," kata Syukria, Kamis.

 
Kebanyakan mereka membangun jauh dari sungai sesuai IMB, tapi pagarnya dibuat mepet ke bantaran kali.
 
 

Terkait banyaknya bangunan yang mepet ke bantaran Kali Krukut merupakan bangunan lama. Dan kemungkinan tanpa IMB. “Atau kalau pun pakai IMB, tapi membangun tak sesuai IMB," kata dia.

Sebelumnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengatakan, pihaknya akan mengecek IMB dan berkas analisis dampak lingkungan (amdal) pada setiap bangunan di Kawasan Kemang. Hal itu ia sampaikan saat membahas penyebab banjir di Kawasan Kemang.

"Kita akan cek, kita akan teliti kembali. Siapapun nanti yang bersalah harus diberi sanksi, ada mekanisme dan aturannya. Harus ikut juga bertanggung jawab untuk membantu," kata Riza, Senin (22/2) lalu.

Kerugian

Camat Mampang Prapatan, Djaharuddin, mengatakan, di sekitar Jalan Kemang Raya terdapat puluhan tempat usaha yang terendam. Namun, jika secara kelurahan di Kawasan Kemang, kata dia, terdapat ratusan bangunan terdampak."Kerugian akibat banjir di Kemang itu bisa lah miliaran rupiah," kata Djaharuddin.

Djahruddin menjelaskan, taksirannya masuk akal mengingat Kemang merupakan kawasan elite dan pusat hiburan. Sebuah warteg di Jalan Kemang Selatan VIII saja merugi puluhan juta rupiah akibat banjir setinggi dua meter di sana.

"Kerugian saya? Puluhan juta rupiah lah pokoknya. Kan tidak hanya makanan dan bahan baku yang terendam, tapi saya juga tidak bisa dagang dua hari," ujar Mia (55 tahun), pemilik Warteg Berkah di Kemang itu.


×