Tangkapan layar akun DJPPR Kemenkeu mengenai sukuk ritel seri SR014. | Instagram/DJPPR Kemenkeu
25 Feb 2021, 17:09 WIB

Pengaruh Guncangan Makroekonomi terhadap Sukuk Negara

Pemerintah mulai menggunakan sukuk sebagai instrumen pembiayaan berbasis syariah.

 

REVI DELIMA SIHOTANG, Alumnus S1 Ilmu Ekonomi Syariah FEM IPB; DR ASEP NURHALIM, Ketua Departemen Ilmu Ekonomi Syariah FEM IPB; MARHAMAH MUTHOHHAROH, Staf Pengajar Departemen Ilmu Ekonomi Syariah FEM IPB

Pemerintah mulai menggunakan sukuk sebagai instrumen pembiayaan berbasis syariah seiring dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 19 tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk Negara.

Implementasi kebijakan penerbitan Sukuk Negara sebagai instrumen pembiayaan defisit APBN dimulai pada 26 Agustus 2008 dengan diterbitkannya Sukuk Negara seri Islamic Fixed Rate (IFR) 001 senilai Rp 2,71 triliun dan seri IFR 002 senilai Rp 1,98 triliun.

Terkait

Penerbitan Sukuk Negara dilanjutkan dengan penerbitan Sukuk Negara Ritel perdana seri SR-001 pada 2009 sebesar Rp 5,56 triliun. Sampai 31 Desember 2019, pemerintah telah menerbitkan Sukuk Negara berdenominasi rupiah sebesar Rp 990,46 triliun. Sebagian dari sukuk tersebut telah jatuh tempo sebesar Rp 461,13 triliun sehingga Sukuk Negara yang masih beredar di pasar (outstanding) senilai Rp 529,33 triliun. 

Instrumen pembiayaan defisit anggaran maupun proyek pemerintah melalui sukuk berpotensi meningkatkan kesinambungan fiskal dalam jangka panjang karena pembiayaan dengan instrumen sukuk didasarkan pada underlying asset yang berimplikasi pada aktivitas ekonomi riil dan terbebas dari aspek spekulasi (Sriyana 2009).

Penggunaan underlying asset akan menyebabkan pemerintah tidak berlebihan dalam menerbitkan Sukuk Negara karena disesuaikan dengan kapasitas dari objek yang dijadikan underlying asset. Hal ini sama halnya bahwa utang tersebut masih pada level yang mampu dikendalikan pemerintah (Nasrullah 2015).

Salah satu isu yang berpengaruh terhadap perkembangan pasar sukuk adalah isu stabilitas makroekonomi. Standing Committee for Economic and Commercial Cooperation (Comcec) mengemukakan bahwa kebijakan ekonomi memiliki peran dalam mendorong atau menghambat perkembangan pasar obligasi.

 
Salah satu isu yang berpengaruh terhadap perkembangan pasar sukuk adalah isu stabilitas makroekonomi.
 
 

Menurut Sayed (2013) kondisi makroekonomi yang stabil menyebabkan penerbitan sukuk akan lebih diminati oleh investor karena dinilai lebih bebas terhadap risiko-risiko yang ada, seperti risiko inflasi, nilai tukar, suku bunga dan likuiditas.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis respons Sukuk Negara terhadap guncangan makroekonomi di Indonesia serta menganalisis kontribusi variabel makroekonomi dalam menjelaskan keragaman perkembangan Sukuk Negara di Indonesia.

Metode dan hasil penelitian

Penelitian ini menggunakan data sekunder dalam bentuk deret waktu periode bulanan dimulai dari Januari 2014 sampai Desember 2019. Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari outstanding Sukuk Negara yang berdenominasi rupiah, produk domestik bruto (PDB) riil, laju inflasi, suku bunga acuan BI, imbalan deposito mudharabah, nilai tukar rupiah dan Jakarta Islamic Index (JII).

Data tersebut dianalisis menggunakan metode impulse response function (IRF) dan forecast error variance decomposition (FEVD).

photo
Analisis Respons Perkembangan Sukuk Negara berdasarkan Impulse Response Function (IRF). Hasil analisis menggunakan IRF - (Iqtishodia/Repubiika)

Guncangan pada variabel PDB direspons positif oleh Sukuk Negara mulai bulan kedua sebesar 0,002721 persen. Artinya, guncangan pada variabel PDB sebesar satu standar deviasi menyebabkan peningkatan perkembangan Sukuk Negara sebesar 0,002721 persen.

Jumlah PDB yang semakin besar menunjukkan tingkat pendapatan masyarakat yang semakin meningkat. Jika pendapatan masyarakat semakin meningkat maka jumlah uang yang dapat disisihkan untuk investasi semakin besar.

Selain itu, peningkatan PDB Indonesia akan memberikan dampak positif terhadap pasar investasi di Indonesia. Sebab, investor akan tertarik untuk menaruh modalnya di Indonesia. 

Guncangan pada variabel inflasi direspons negatif oleh Sukuk Negara mulai bulan ke dua sebesar -0,002404 yang artinya guncangan pada variabel inflasi sebesar satu standar deviasi menyebabkan penurunan perkembangan Sukuk Negara sebesar 0,002404 persen. Inflasi menyebabkan harga-harga barang yang dikonsumsi naik, sementara pendapatan masyarakat tidak mengalami kenaikan sehingga menyebabkan penurunan daya beli masyarakat.

Selain itu, masyarakat yang menyimpan kekayaannya pada instrumen investasi berpendapatan tetap seperti sukuk mengalami penurunan pendapatan riilnya. Hal ini menyebabkan semakin tinggi tingkat inflasi, permintaan sukuk akan berkurang karena daya beli masyarakat yang semakin rendah dan nilai keuntungan riil dari kupon yang diperoleh semakin berkurang.

Guncangan pada variabel suku bunga acuan direspons negatif oleh perkembangan sukuk negara mulai bulan kedua sebesar -0,007883. Tingkat suku bunga acuan yang meningkat mengindikasikan bahwa tingkat imbalan pada instrumen investasi BI juga meningkat.

Jika suku bunga acuan lebih besar dari tingkat imbalan Sukuk Negara, perbankan akan lebih tertarik untuk menginvestasikan dananya pada instrumen investasi BI. Perbankan merupakan investor terbesar pada Sukuk Negara yaitu sebesar 37,6 persen dari total investor.

Dari sisi penawaran, tingkat suku bunga acuan yang meningkat akan meningkatkan yield yang diminta oleh investor sehingga pemerintah akan membatasi jumlah penawaran Sukuk Negara agar biaya kupon yang mesti dibayar tidak terlalu membebani anggaran.

Guncangan pada variabel imbalan deposito mudharabah direspons positif oleh Sukuk Negara mulai bulan kedua sebesar 0,002252. Tingkat imbalan deposito mudharabah yang tinggi akan menarik minat investor untuk menyimpan dananya pada deposito mudharabah.

Semakin banyak investor yang menyimpan dananya pada instrumen ini, semakin banyak dana pihak ketiga yang diperoleh bank sehingga semakin besar dana yang dapat diinvestasikan bank pada Sukuk Negara. 

Guncangan pada variabel nilai tukar rupiah direspons negatif oleh perkembangan Sukuk Negara mulai bulan kedua sebesar -0,007964. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar mengakibatkan naiknya harga barang-barang impor.

Kenaikan harga barang baku impor dapat mengurangi pendapatan perusahaan sehingga berpotensi menurunkan tingkat upah pekerja atau perusahaan membebankan kepada konsumen dengan meningkatkan harga produknya. Hal tersebut dapat mengakibatkan tingkat pendapatan masyarakat menurun, sehingga jumlah uang yang dapat diinvestasikan oleh masyarakat menurun.

Guncangan pada variabel JII direspons positif oleh perkembangan Sukuk Negara mulai bulan kedua sebesar 0,010978. Peningkatan JII menunjukkan peningkatan permintaan saham syariah yang mengindikasikan semakin banyak masyarakat yang berinvestasi pada saham syariah dan semakin banyak masyarakat yang mengenal tentang investasi syariah.

Hal ini berdampak positif terhadap Sukuk Negara sebagai bagian dari pasar modal syariah karena salah satu tantangan dalam pengembangan Sukuk Negara adalah rendahnya partisipasi investor syariah akibat terbatasnya pengetahuan masyarakat terhadap sukuk. Selain itu, JII yang semakin meningkat mencerminkan optimisme investor tentang profitabilitas sekarang dan masa depan dari modal (Mankiw 2007). 

photo
Analisis Forecast Error Variance Decomposition (FEVD) pada Perkembangan Sukuk Negara. - (Iqtishodia/Repubiika)

Periode jangka panjang yang disimulasikan dalam analisis ini, yakni proyeksi tiga tahun mendatang. Pada jangka panjang variabilitas perkembangan Sukuk Negara paling dominan dijelaskan oleh perkembangan Sukuk Negara itu sendiri dengan proporsi sebesar 68,6 persen.

Semua variabel makroekonomi memiliki pengaruh yang terus meningkat terhadap perkembangan Sukuk Negara setiap bulannya. Variabel makroekonomi yang paling dominan menjelaskan keragaman perkembangan Sukuk Negara secara berurutan adalah JII sebesar 13 persen, nilai tukar rupiah sebesar 8,16 persen, suku bunga acuan 7,65 persen, inflasi sebesar 1,38 persen, PDB sebesar 0,74 persen dan imbalan deposito mudharabah sebesar 0,49 persen.

Wallaahu a’lam.


×