Ketua Umum Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Syifa Fauzia diwawancara Republika, sebelum pandemi Covid-19. Syifa menekankan ulama perempuan berperan strategis membangun negeri. | Republika/Edwin Dwi Putranto
25 Feb 2021, 11:13 WIB

Indonesia Butuh Lebih Banyak Ulama Perempuan

Ulama perempuan dapat memberi warna pada pemikiran keagamaan di Indonesia.

JAKARTA -- Rencana Masjid Istiqlal untuk melakukan pengaderan ulama perempuan mendapat dukungan dari banyak kalangan. Kehadiran dan kiprah ulama perempuan dinilai sangat dibutuhkan oleh bangsa ini. 

Kementerian Agama (Kemenag) melalui Dirjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam, Kamaruddin Amin, menyebut, jumlah ulama perempuan masih kalah jika dibandingkan ulama laki-laki. Ia pun menilai, program pangaderan ulama perempuan yang akan dilaksanakan Masjid Istiqlal sangat bagus.

"Hal ini nantinya juga akan membantu pemerintah dan masyarakat untuk mencetak ulama-ulama perempuan, yang jumlahnya memang untuk saat ini masih sangat jauh dibandingkan laki-laki," ujar Kamaruddin saat dihubungi Republika, Rabu (24/2).

Ia menyebut, saat ini dominasi laki-laki dalam hal pemikiran ataupun kontribusi keagamaan masih sangat terasa. Di sisi lain, kontribusi perempuan dalam pemikiran keagamaan ataupun memberikan pencerahan kepada masyarakat belum berimbang.

Terkait

Untuk mengatasi hal itu, menurut dia, diperlukan afirmasi, ruang, serta kesempatan agar perempuan bisa mempelajari agama secara lebih luas dan mendalam. Harapannya, ulama-ulama perempuan ini nantinya bisa memberikan pencerahan kepada masyarakat.

Kamaruddin juga menyebut, kondisi saat ini tentu sudah lebih baik jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Meski demikian, pemikiran-pemikiran keagamaan masih didominasi dari produksi ulama pria. Akibatnya, bias gender bisa sangat kental dan terasa.

"Bila ulama-ulama perempuan sudah semakin banyak jumlahnya dan saluran pemikirannya juga meluas, hal ini bisa lebih diimbangi. Nantinya mereka juga bisa memberi warna pada pemikiran keagamaan di Indonesia," kata dia.

Mewakili seluruh jajaran di Kementerian Agama, ia berharap program itu bisa berjalan lancar dan memproduksi lebih banyak ulama perempuan.

Terkait upaya pemerintah mengaderisasi ulama perempuan, ia menyebut saat menjabat sebagai Dirjen Pendidikan Islam, Kemenag memiliki program beasiswa kepada calon ulama perempuan. Beasiswa pendidikan ini diberikan mulai dari jenjang S-2 hingga S-3. Melalui beasiswa itu, para calon ulama perempuan dapat menimba ilmu di Institut Ilmu Alquran (IIQ) khusus perempuan.  

Dukungan terhadap program pengaderan ulama perempuan juga disampaikan Ketua Umum PP Nasyiatul Aisyiyah, Diyah Puspitarini. Menurut dia, Indonesia membutuhkan lebih banyak ulama perempuan yang keilmuannya mumpuni. Ulama perempuan dibutuhkan untuk menggali atau mengkaji hal-hal yang sifatnya tertutup bagi perempuan.

Apakah ulama perempuan akan menghasilkan perspektif yang berbeda, menurut dia, bukan perspektifnya yang berbeda, melainkan mereka akan banyak mengkaji dari sisi perempuan.

"Sebagai contoh, kalau tidak ada ulama perempuan, saya khawatir ada hal-hal yang sifatnya sangat tertutup bagi kaum perempuan, tapi tidak digali (dikaji)," ujar Diyah.

Karena itu, Diyah menyambut baik rencana Masjid Istiqlal yang akan mengader dan melahirkan ulama-ulama perempuan pengkaji Alquran dan hadis. Sebab, ulama perempuan di Indonesia ini masih kurang banyak.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by BKMT DKI JAKARTA (bkmt.dki_jakarta)

Ketua Umum PP Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT), Syifa Fauzia, juga menyambut baik program dari Masjid Istiqlal tersebut. 

"Ini bagus, memang kita membutuhkan yang memberikan banyak ilmu, pengetahuan-pengetahuan agama yang semakin diperbanyak. Majelis taklim menyambut baik adanya ulama perempuan," kata Syifa. 

Dia mengatakan, untuk ustazah dan daiyah memang lebih mudah dan biasanya ilmunya didapatkan dari pondok pesantren. Sementara ulama, menurut dia, butuh jam terbang dakwah yang banyak dan mempunyai pengalaman luas dalam menuntut ilmu.

"Ulama berbicara fatwa, berbicara syariat. Saya rasa yang sudah-sudah yang ulama sudah mempunyai pengalaman banyak berdakwah, pengalaman mumpuni," ujar dia. 

Menurut Syifa, program kaderisasi ulama perempuan ini sangat bagus, apalagi lagi dalam beberapa bulan terakhir banyak ulama yang wafat, ada juga yang sakit. Selain itu, jumlah ulama perempuan masih sedikit.

"Kita kepengen banyak ulama, tempat kita mencari referensi ilmu permasalahan agama. Bagi BKMT, semakin banyak ulama perempuan, pasti makin senang.’’


×