Suasana pemukiman warga yang terendam banjir di Perumahan Pondok Gede Permai, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (19/2). Banjir tersebut terjadi akibat jebolnya tanggul di wilayah tersebut yang membuat aliran Kali Bekasi meluap hingga memasuki pemukiman warga deng | Republika/Putra M. Akbar
22 Feb 2021, 10:03 WIB

Basuki: Banjir Bekasi Diselesaikan Secara Sistemik  

Pemerintah berupaya menangani permasalahan banjir.

BEKASI -- Menteri Pekerjaan Umum dan  Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, meninjau banjir di Perumahan Pondok Gede Permai (PGP) Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, Sabtu (20/2). Dalam tinjauannya itu, Basuki mengatakan, banjir tak bisa hanya ditangani dengan penanganan lokal, tetapi juga harus diselesaikan dari hulu hingga ke hilir melalui normalisasi kali.

"Ini kan sistem penanganannya tidak bisa penanganan lokal, (namanya) penanganan banjir Kali Bekasi. Kalau dari hulunya Cikeas dan Cileungsi, jadi satu menjadi Kali Bekasi," kata Basuki di Pondok Gede Permai, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, Sabtu.

Adapun, Kementerian PUPR sudah membuat rencana penanganan sistemik dari hulu hingga hilir yang dibagi menjadi tujuh paket dari pertemuan Cileungsi-Cikeas hingga hilir Kali Bekasi sepanjang 33 kilometer. Kontrak proyeknya sudah diteken pada Januari 2021.

"Kontrak Januari, akan dilaksanakan sepanjang 11 kilometer, dikerjakan dari titik pertemuan Cileungsi-Cikeas hingga bendung bekasi. Dilaksanakan di sisi kanan dan kirinya, jadi total kiri dan kanan sekitar 20 kilometer," ujar dia.

Terkait

Basuki memerinci, proyek akan ditangani dari PGP karena tanahnya juga sudah bebas. Nantinya, dari bendung sampai ke muara ada lagi 6 paket yang akan dikerjakan.

"Sampai muara, paket 5, 6, dan 7. Sedangkan, paket 2, 3, dan 4 masih pembebasan lahan," kata dia.

Basuki juga ingin penanganan sementara banjir di Perumahan Pondok Gede Permai (PGP), Kelurahan Jatirasa, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi bisa rampung dalam waktu empat hari. Dengan begitu, kata dia, tanggul yang jebol dapat tertutup karena menurut prediksi hujan akan terus turun sampai dengan Maret 2021. "Ada 60 meter yang roboh kita akan segera tangani dengan menutup dengan geo bag," kata Basuki.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh bpbdkab_bekasi (bpbdkab_bekasi)

Berdasarkan pantauan Republika, Perumahan PGP Jatiasih pada Sabtu (20/2) pagi mengalami banjir setinggi 1,8 meter di jalan utama. Sedangkan, di rumah warga mencapai 2 meter. Banjir tinggi di wilayah ini terjadi karena tanggul yang jebol sepanjang 60 meter.

Hujan dengan intensitas rendah hingga tinggi turun di Kota Bekasi selama tiga hari berturut-turut. Hal ini membuat hampir seluruh wilayah kota patriot terendam banjir. Namun, ada lima kecamatan yang paling parah banjirnya.

"Ada lima kecamatan yang sudah dilaporkan dan biasa menjadi langganan ketika intensitas hujan ekstrem, yakni Jatiasih, Rawalumbu, Bekasi Timur, Bekasi Utara, dan Bekasi Barat," kata Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi.

Dalam menangani banjir kiriman dan juga cuaca ekstrem, pemkot sudah berupaya sejak 2014. Pihaknya telah mengajukan solusi kepada Kementerian PUPR. Saat ini, penanggulangan banjir secara permanen akan berjalan melalui proyek normalisasi yang telah diteken pada Januari 2021.

"Makanya, tahap satu dari Kementerian PUPR itu pengerjaan dari Pertemuan Kali Cikeas dan Cileungsi sampai dengan Bendung Bekasi itu (11 kilometer) tahap satu pengerjaannya 2021 mudah-mudahan bisa diselesaikan," ujar dia.

Masih tinggi

Sementara itu, banjir di Kabupaten Bekasi terpantau masih tinggi. Seperti yang diunggah akun Instagram @muaragembongkita pada Ahad yang memperlihatkan banjir dengan arus yang deras dari tanggul yang telah jebol. Ketinggian banjir pun hingga atap rumah hampir tenggelam.

“Begini keadaan kami di sini sekarang, banjir,” kata pengunggah video tersebut.

Pada akun @onlinebekasi juga memperlihatkan sebuah foto di Desa Srijaya, Tambun Utara dengan kondisi desa yang rata terendam banjir. Kondisi banjir juga telah meratakan dengan Kali CBL di sebelah desa tersebut.

Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) BNPB menerima laporan dari BPBD setempat banjir melanda empat desa, yaitu Desa Sukaurip, Karangsegar, Bantasari, dan Sumber Urip. Keempat desa berada di Kecamatan Pebayuran, Kabupaten Bekasi. Banjir mengakibatkan lima unit rumah hanyut.

Petugas BPBD Kabupaten Bekasi melaporkan tinggi muka air antara 100 hingga 250 sentimeter. Kecamatan ini memang bersisian dengan Kali Citarum yang meluap yang berbatasan dengan Kabupaten Karawang.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by DISKOMINFO KAB KARAWANG (diskominfokrwkab)

34 desa terendam

Bencana banjir yang melanda Kabupaten Karawang, Jawa Barat, sejak beberapa hari terakhir semakin meluas, hingga merendam 14.340 rumah di 33 desa.Sesuai dengan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karawang, Ahad, banjir akibat tingginya curah hujan dan meluapnya sejumlah sungai di wilayah itu sudah menyebar di 15 kecamatan.Sejumlah sungai di Karawang yang meluap tersebut, di antaranyaCitarum, Cibeet, Cikaranggelam, Cikaretegdan Sungai Cilamaya.

Sebanyak 14.754 KK atau 52.527 jiwa di Karawang dilaporkan terdampak bencana banjir. Sementarawarga korban banjir yang mengungsi sebanyak 3.393 KK atau 19.092 jiwa.Pelaksana Harian Bupati Karawang Acep Jamhuri mengatakan, saat ini banjir semakin meluas hingga merendam 33 desa di 15 kecamatan.

Sebanyak 15 kecamatan di Karawang yang kini dilanda banjir, adalahRengasdengklok (enam desa), Telukjambe Barat (tiga desa), Ciampel (satu desa), Pangkalan (satu desa), Cikampek (dua desa), Karawang Barat (lima desa), Tirtamulya (satu desa), serta Kecamatan Jatisari (satu desa).Banjir juga melanda Kecamatan Telukjambe Timur (dua desa), Banyusari (dua desa), Karawang Timur (satu desa), Cilamaya Wetan (empat desa), Pakisjaya (dua desa), Rawamerta (satu desa), serta Kecamatan Batujaya (satu desa).

Sumber : Antara


×