Waspadai seriawan (ilustrasi) | Freepik
23 Feb 2021, 10:17 WIB

Jangan Anggap Remeh Seriawan

Kita harus bisa membedakan antara seriawan biasa dan kanker.

Seriawan sering kali mengganggu kita lantaran mulut terasa tidak nyaman. Jangankan untuk mengunyah, saat berbicara pun terasa sakit. Seriawan, menurut drg Rusmawati Ruslan, Sp.PM dari RS Mitra Keluarga, Bintaro, berarti semua rasa sakit atau ketidaknyamanan pada rongga mulut terutama pada bagian bibir, pipi atau lidah.

“Hal ini menyebabkan rasa sakit, gangguan saat bicara dan makan. Seriawan ini tidak menular,” ujar Rusmawati dalam edukasi kesehatan mulut secara daring kepada media bertema “Membedakan Seriawan Biasa dan Kanker Mulut” yang diselenggarakan PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) pada pengujung 2020 lalu.

Ia menjelaskan seriawan disebabkan oleh beberapa faktor seperti faktor prediposisi atau adanya trauma mekanis seperti letak gigi tiruan yang tidak pas atau tepi gigi yang tajam. Luka akan lama sembuh jika faktor penyebab tidak diatasi dan kadang memberikan tampilan tepi-tepi sariawan yang keras dan dalam.

Selain itu, bisa juga karena trauma kimiawi misalnya penggunaan hydrogen peroxide, phenol, aspirin, dan bahan-bahan kedokteran gigi.

Terkait

Penyebab lainnya adalah trauma thermal, yaitu disebabkan oleh makanan panas, biasanya pada langit-langit dan lidah. Bahkan, stres dan rasa cemas turut memicu seriawan lantaran muncul kebiasaan menggigit bibir atau pipi.

Rusmawati memaparkan, pada seriawan ada beberapa jenis luka berupa tipe minor, mayor dan lainnya. Untuk tipe minor, diameter kurang dari satu sentimeter yaitu sekitar 8-10 milimeter. Inilah yang paling sering terjadi. Umumnya timbul di mukosa pipi, bibir dan dasar mulut. Biasanya akan sembuh dalam waktu 10 sampai 14 hari tanpa menimbulkan jaringan parut.

Sementara untuk tipe mayor, diameternya sama namun umumnya timbul di mukosa pipi, bibir dan dasar mulut tetapi sering juga timbul di lidah. Lesi dapat menetap lebih dari enam minggu dan menimbulkan jaringan parut.

Tipe lainnya adalan tipe herpetiform yang jumlahnya banyak. Tipe ini berukuran kecil dengan diameter 2-3 mm. Akan tetapi, tipe ini bisa muncul dua sampai tiga lesi yang menyatu sehingga tampak seperti mayor. Luka ini muncul tidak diawali dengan gelembung kecil (vesikel) dan tidak berkaitan dengan virus.

“Untuk mengobati seriawan, harus disesuaikan dengan faktor penyebabnya. Jika trauma sebagai pemicu, hilangkan faktor penyebabnya. Seriawan ini dapat sembuh sendiri,” ujarnya.

Rusmawati menambahkan seriawan tidak termasuk penyakit mulut yang serius dan tidak berbahaya, sehingga perawatannya kerap dianggap sebelah mata. Secara umum kita harus bisa membedakan seriawan biasa dengan kanker. ‘’Perhatikan waktu penyembuhan seriawan, tingkat kesakitan, lokasi seriawan, meraba sekitar luka seriawan serta melihat perubahan warna ada bercak putih dan merah atau tidak di rongga mulut,” ujarnya.

 

 

 

Untuk mengobati seriawan, harus disesuaikan dengan faktor penyebabnya. 

drg Rusmawati Ruslan, Sp.PM 
 

 

Antiseptik

Product Manager PT Kalbe Farma, Vania Harista menjelaskan dampak seriawan bisa terjadi pada fisik, psikologis, sosial dan nutrisi. Dampak fisik berupa perih, infeksi dan lelah. Dampak psikologi itu seperti khawatir, galau, dan depresi. Dampak sosial berupa gangguan dalam bekerja maupun beraktivitas sosial. Sementara dampak nutrisi adalah gangguan makan serta penurunan berat badan.

Ia mengatakan dalam pengobatan seriawan prinsip yang harus diperhatikan adalah kita harus mengatasi gejala dan mengatasi penyebabnya, untuk itu dalam pengobatannya kita harus memperhatikan obat seriawan yang ideal dan terbuat dari bahan alami.

‘’Obat seriawan yang ideal adalah yang efektif, aman, nyaman dan praktis. Efektif berarti nyeri berkurang, kerja cepat, dan efek tahan lama. Nyaman bermakna tidak mengiritasi, dan rasa dapat ditoleransi. Selain itu juga praktis karena mudah di aplikasikan pada lokasi seriawan mana saja. Serta aman yaitu efek samping minimal, aman jika tertelan,’’ katanya.

Alternatif obat seriawan yang ada di pasaran adalah antiseptik seperti policresulene yang akan terasa nyeri dan sensasi terbakar. Ada pula jenis antiseptik misalnya benzydamine atau lignocaine yang akan menyebabkan rasa tidak enak.

Bahkan, ada pula antiseptik seperti povidone iodine yang tidak boleh ditelan. Obat lainnya adalah triamcinolone acetonide yang digunakan untuk seriawan karena jamur, namun tidak boleh dikonsumsi untuk ibu hamil dan menyusui.

 

 

photo
Waspadai seriawan (ilustrasi) - (Freepik)

Kanker adalah petumbuhan abnormal pada sel yang tidak terkendali. Kanker tidak berbatas jelas dengan jaringan yang sehat dan memiliki sifat anaplasia. Kanker ini mengalami invasi metastase dan pertumbuhan cepat.

Sementara kanker mulut adalah suatu pertumbuhan sel kanker pada rongga mulut, bibir, mukosa bibir, lidah dan gusi, langit-langit, mukosa pipi, dan dasar mulut. “Jenis kanker yang paling sering terjadi di rongga mulut adalah squamous cell carcinoma,” ungkap drg Rusmawati Ruslan, Sp.PM dari RS Mitra Keluarga Bintaro.

Ia menjelaskan sekitar 5,5 persen dari total kasus kanker adalah kanker mulut. Bahkan jenis kanker ini mencapai dua persen dari semua kematian pada kasus kanker. Setidaknya satu orang meninggal per hari akibat kanker mulut. Di Asia, kanker mulut menempati urutan keenam pada jenis keganasan yang paling umum terjadi.

Sedangkan di Indonesia, kanker mulut mencapai tiga sampai empat persen dari semua kasus kanker yang terjadi. Sedangkan, angka kematian akibat kanker mulut sekitar dua sampai tiga persen dari total kematian.

Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, tercatat 5,6 persen kasus kanker mulut dari total kasus kanker. Kendati terbilang jarang terjadi di Indonesia, diperkirakan jumlahnya meningkat 21,5 persen pada 2020 akibat kurangnya deteksi dini dan gejala yang kerap diabaikan.

Rusmawati mengakui penyebab pasti kanker mulut belum diketahui. Namun faktor yang mungkin menjadi pemicu di antaranya adalah merokok, konsumsi alkohol, iritasi kronis akibat restorasi gigi yang buruk atau tepi gigi yang tajam. Selain itu, infeksi virus HPV juga bisa sebabkan seriawan.

Untuk tanda dan gejala kanker mulut di antaranya seriawan yang menetap lebih dari satu bulan. Selain itu, muncul rasa sakit di rongga mulut yang tidak sembuh.

Gejala lainnya adanya pembengkakan kelenjar limfa submandibula. Ia mengatakan gejala lainnya adanya rasa mengganjal di tenggorokan yang tidak hilang, kesulitan mengunyah dan menelan, serta gigi goyang atau tanggal di sekitar tumor. Waspadai pula jika muncul gejala lain seperti benjolan pada leher, penurunan berat badan dan bau mulut.

Bila Anda mengalami gejala seperti ada perubahan warna mukosa rongga mulut atau terdapat seriawan yang tidak kunjung sembuh selama lebih dari 14 hari, Rusmawati menyarankan untuk memeriksakan diri. ''Semakin cepat prognosis, semakin baik. Bentuk pengobatannya bisa berupa bedah, kemoterapi, radiasi dan kombinasi dari tiga bentuk terapi tersebut,'' ujar dia. 


Terkini

×