Waspadai pinjaman online (ilustrasi) | Freepik

Perencanaan

22 Feb 2021, 09:40 WIB

Hati-hati, Bujuk Rayu Pinjaman Online

Pahami konsekuensi jumlah tagihan yang membengkak bila pinjaman online tidak langsung dilunasi.

Pinjaman online (pinjol) belakangan kian marak lantaran kemudahan pencairan dana yang diberikan untuk nasabah. Dengan kebutuhan finansial masyarakat kian meningkat, pinjaman /online/ menjadi alternatif bantuan keuangan saat mendesak.

Namun Nurlinggah Rahmadaniah (26 tahun) punya cerita yang berbeda. Bagi warga Kalisari, Jakarta Timur, ini meski beberapa lembaga pinjol sudah diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), masyarakat yang sedang kesulitan ekonomi sebaiknya tidak melirik ini.

“Jujur saja menurut saya, tidak ada sedikit pun baiknya pinjol. Iming-iming pinjaman cepat hanya modal KTP langsung cair atau dalam satu hari cair, itu pinjaman nanti ujung-ujungnya mencekik orang karena bunganya gila-gilaan,” ungkap Nurlinggah saat dihubungi Republika.

Pengalaman dirinya yang pernah bekerja di bank, pinjaman dengan agunan atau tanpa agunan itu biasanya dipakai para pebisnis. Mereka meminjam uang untuk memutar uang pinjaman itu agar bisa mendapat keuntungan untuk membayar bunga cicilan di bank, kebanyakan sudah pasti bisa menutupi utangnya dan tidak merugikan.

Sementara mereka yang melakukan pinjol sering kali menggunakannya untuk urusan pribadi atau berbelanja. “Sudah banyak juga di marketplace yang kerja sama dengan beberapa pinjol yang bikin orang gampang banget tergiur ya,” kata dia lagi.

 

 

 

Sudah banyak juga di marketplace yang kerja sama dengan beberapa pinjol yang bikin orang gampang banget tergiur ya.

 

Nurlinggah Rahmadaniah 
 

 

Produk yang ditampilkan dalam iklan itu bisa dibeli dengan metode pembayaran melalui pinjol tersebut. Bahkan, iklan mereka pun sudah cukup terang-terangan dilakukan, biasanya sering terlihat di iklan saat buka YouTube.

Nurlinggah pernah tidak sengaja menggunakan pembayaran makanan lewat ojek daring. Nominalnya padahal hanya Rp 27 ribu, tetapi dia mengira ia memakai saldo di aplikasinya. Karena tidak sadar hingga melewati jatuh tempo, bunganya terus berjalan hingga yang harus ia bayar menjadi Rp 65 ribu.

Yang menjadi masalah awal seseorang dengan pinjol ini, menurut Nurlinggah adalah penundaan pembayaran. Ketika terus menunda, lama-lama bunga membengkak dan akhirnya pembayaran dilakukan secara minimum sementara bunga tetap berjalan.

“Itu pengalaman saya juga saat kerja di bank. Saya pernah punya teman yang terjerat pinjol. Akhirnya saat jam kerja, kantor saya ditelepon terus dan penagihnya marah-marah waktu itu pas banget marahnya ke saya. Padahal saya tidak tahu apa-apa. Dan nggak cukup sampai di situ, si penagih mengirim pesan chat ke semua karyawan satu per satu. Itu ganggu banget sih,” ungkap dia.

Karena bekerja di bank dan mengetahui bagaimana seluk beluk urusan pinjam-meminjam, Nurlinggah memilih untuk mengurungkan minat belanjanya dengan cara menabung uang dulu. Ketika sudah terkumpul, barulah ia membeli barang itu. Bagi dia, kesabaran adalah kunci terhindar utang.

Cerita serupa datang pula dari Winda Bestari (28) yang terpaksa bertransaksi pinjol. Waktu itu ia meminjam uang untuk membantu membayarkan kuliah adiknya, nominalnya Rp 10 juta dan bunganya ternyata 50 persen sehingga total yang ia bayar mencapai Rp 15 juta.

“Benar-benar mencekik pinjol itu. Saya sekali saja melakukan itu, setelah lunas langsung saya uninstall aplikasinya. Saya berdoa semoga saya tidak dihadapkan pada situasi keterpaksaan seperti itu lagi,” ungkap Winda kepada Republika.

Ia berpesan, sebisa mungkin hindari pinjol, penggunaan kartu kredit, atau apa pun yang bersifat kredit karena bunganya sangatlah gila. Bagi dia, hanya KPR rumah yang mungkin masih bisa dibilang ‘boleh’ karena rumah merupakan kebutuhan pokok hidup manusia.

 

photo
Pastikan agar utang pinjaman dapat dilunasi segera/ilustrasi - (Pixabay.com)

 

Pastikan Semua Perhitungan

Perencana keuangan Diana Sandjaja memaparkan kemudahan pinjol membuat masyarakat yang terdesak ekonomi merasa ini memang menjadi jalan keluar yang tercepat. Padahal boleh jadi, ini adalah awal dari sebuah masalah keuangan baru yang bisa dengan cepat menjadi bola salju yang meluncur liar tidak terkendali.

“Jika terpaksa menggunakannya, pastikan dulu semua perhitungan biaya, bunga, denda, dan lainnya. Lalu ketahui dan pahami konsekuensi jumlah tagihan yang makin membengkak bila tidak dilunasi. Artinya, sebelum memutuskan menggunakan pinjol, sudah harus tahu bagaimana nanti akan melunasi, juga jadwal pelunasannya, sehingga tidak menjadi pinjaman yang berlarut-larut,” papar dia saat dihubungi Republika.

Bila terpaksa berutang, sebaiknya coba negosiasikan dulu secara langsung dengan pihak tempat melakukan pembayaran. Misalnya hendak membayar uang sekolah, negosiasikan saja apakah bisa pembayaran dilakukan seusai gajian, lalu membuat surat perjanjian atau lainnya. “Prosedur yang cepat, mudah, dan praktis, membuat sebagian masyarakat bisa terlena dan menduplikasi. Padahal pinjaman bukan dana gratis, namun dana yang harus dilunasi. Akhirnya setelah sadar menumpuk, itu menjadi bukit utang,” ungkap Diana.

Selain itu, ada sejumlah hal yang bisa Anda lakukan jika ingin menggunakan pinjol. Berikut di antaranya:

1.Pilih penyedia jasa pinjaman online yang sudah terdaftar di OJK

OJK atau otoritas jasa keuangan adalah lembaga yang mengatur dan mengawasi semua aktivitas yang terjadi di sektor keuangan. Termasuk mengawasi penyedia pinjaman baik konvensional atau daring.

 

2. Pilih penyedia jasa pinjol yang transparan.

Karena konsumen tidak bertemu langsung dengan pihak kreditur, jadi segala informasi mengenai pinjaman harus jelas dari awal. Berapa pagu kredit yang akan diberikan, bunga yang dibebankan, jangka waktu pinjaman, tanggal jatuh tempo, cara pengambilan pinjaman, cara pembayaran cicilan dan biaya-biaya lainnya.

 

3. Testimoni dari konsumen sebelumnya

Penyedia jasa pinjaman pastinya akan menampilkan testimoni konsumen sebagai testimoni positif atas jasa yang diberikan. Biasanya akan mudah ditemukan di halaman website.

';
×