Depati Amir merupakan seorang pahlawan nasional asal Bangka-Belitung. Saat menjalani masa pembuangan di Nusa Tenggara, dirinya turut mengembangkan dakwah Islam kepada penduduk setempat. | DOK IKPNI
21 Feb 2021, 09:13 WIB

Depati Amir, Patriot Muslim dari Bangka

Kiprahnya mendakwahkan agama Islam di Pulau Timor hingga tutup usia.

OLEH MUHYIDDIN

Bangka Belitung tidak hanya menyimpan keindahan alam yang mempesona, melainkan juga sejarah Islam yang gemilang. Pada masa kolonialisme, perjuangan digelorakan banyak tokoh Muslim setempat. Salah seorang di antaranya adalah Depati Amir. Pada 2018 lalu, pemerintah Republik Indonesia mengangkatnya sebagai seorang pahlawan nasional untuk mengenang jasa dan pengorbanannya.

Ia lahir di Mendara, Pulau Bangka, pada 1805. Amir merupakan nama aslinya. Adapun “depati” merupakan sebutan bagi mereka yang berperan sebagai penguasa lokal atau semacam raja kecil di sekitar Bangka Belitung. Secara nasab, leluhurnya termasuk golongan bangsawan setempat yang pernah mengabdi pada Kesultanan Palembang. Amir merupakan putra Depati Barin, pemimpin lokal yang dihormati penduduk Kampung Mendara dan Mentandai.

Erwiza Erman dalam buku Dari Pembentukan Kampung ke Perkara Gelap: Menguak Sejarah Timah Bangka menjelaskan, penjajahan Belanda mulai merajalela di Bangka sejak abad ke-19. Pemerintah kolonial tergiur akan kekayaan timah yang terkandung dalam bumi negeri itu. Hingga akhir hayatnya, Depati Amir terus berjuang mengusir penjajah dari pulau tersebut. Bahkan, dirinya berhasil mengonsolidasi persatuan penduduk setempat, baik Muslim maupun non-Muslim, lokal maupun keturunan Tionghoa.

Terkait

Sebelum kedatangan Belanda, orang-orang Bangka menghadapi tantangan dari para perompak. Banyak lanun mengganggu aktivitas warga yang hendak melaut, khususnya kaum nelayan. Bersama puluhan orang pengikutnya, Amir berhasil menumpak beberapa kelompok bajak laut yang kerap beroperasi di sekitar Bangka dan Belitung. Sejak saat itu, popularitasnya kian dikenal luas di tengah masyarakat.

Seiring waktu, dominasi Belanda semakin menancap kuat di tengah struktur sosial penduduk Bangka. Bersamaan dengan itu, pengaruh Kesultanan Palembang di sana terus memudar. Kalangan elite lokal kerap ditekan untuk menjalin kerja sama dengan pemerintah kolonial, terutama dalam kaitannya dengan pertambangan timah.

Pada 1830, gubernur jenderal Hindia Belanda mengangkat Amir sebagai pengganti ayahnya di jabatan depati. Wilayah kekuasaannya antara lain ialah Jeruk, Mendara, dan Mentadai—semuanya di Pulau Bangka. Bagaimanapun, menurut Erwiza, kedudukan itu diambilnya dengan terpaksa. Karena itu, Amir hanya bertahan tidak lama di sana. Ia akhirnya menjadi orang biasa yang bebas bersuara dan bertindak. Justru lantaran itu, ketokohannya di tengah masyarakat semakin meningkat.

Sejak itu pula, Belanda mulai memandangnya sebelah mata. Tanpa mengindahkan kearifan atau peraturan lokal, pemerintah kolonial bertindak sesuka hati atas tanah-tanah garapan. Parit-parit tambang timah digali di atas lahan milik keluarga Depati Amir. Awalnya, perusahaan Belanda yang dengannya keluarga Amir bekerja sama berlaku cukup adil. Hasil pengelolaan yang ada dari tambang-tambang tersebut dibagi dua. Belakangan, pihaknya enggan memenuhi kewajiban untuk membayarkan hasil tambangnya.

Hal itu menyulut ketidakpuasan Depati Amir. Ia lantas mengajukan tuntutan kepada perusahaan Belanda tersebut. Tindakan demikian mendapatkan dukungan dari masyarakat Bangka. Residen Belanda untuk Bangka, F van Olden menerima kabar terkait konflik tersebut. Namun, upaya Amir untuk menuntut keadilan justru diterjemahkan van Olden sebagai usaha menyulut pergolakan.

Pemerintah kolonial mengutus pejabat-pejabat penting untuk menangkapnya. Percobaan pertama untuk meringkusnya gagal total. Sebab, rakyat Bangka memprotes keputusan sepihak Belanda dan berusaha melindungi tokoh mereka. Akibat dukungan-dukungan ini, Depati Amir mendapat bantuan senjata, baik dari kesultanan-kesultanan lokal maupun dari Britania Raya melalui Temasek (Singapura).

Dimulailah riwayat perlawanan Depati Amir terhadap kolonialisme Belanda. Gelora perjuangannya meluas di sepanjang pesisir timur Bangka. Ia tercatat pernah memimpin pertempuran melawan Belanda di Bangka-Belitung antara tahun 1849 dan 1851. Dalam setiap medan peperangan, dirinya selalu didampingi para pengikut dan rakyat setempat. Kebanyakan masyarakat lokal sudah muak terhadap pemerintah kolonial yang sering memaksa mereka untuk kerja rodi. Toh hasil pekerjaan itu semata-mata demi mewujudkan infrastruktur ekstratif yang menguntungkan penjajah, alih-alih kesejahteraan penduduk tempatan.

photo
ILUSTRASI Dalam sejarah daerah Bangka-Belitung, ketokohan Depati Amir akan terus diingat. Pahlawan nasional tersebut berhasil menyatukan berbagai elemen masyarakat setempat untuk melawan kolonialisme Belanda. - (DOK Antara/M Agung Rajasa)

Amir dan pasukannya kemudian menggalakkan pertempuran dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Pemberontakan yang dipimpinnya menjadi semakin membesar. Pejabat di Batavia (Jakarta) pun menaruh perhatian serius untuk memadakan aksi tersebut. Seperti dicatat pejabat kolonial dalam Koloniaal Verslaag periode 1851-1852, Belanda sudah kewalahan dalam menghadapi pasukan Depati Amir. Bahkan, berbagai pasukan tambahan terpaksa didatangkan ke Bangka dari Palembang atau pun Batavia.

Residen van Olden dalam bukunya De Muiterij van Amir op Banka (1850) telah menulis satu kisah lengkap tentang perlawanan Amir. Tidak sedikit pasukan Kompeni yang akhirnya tewas karena jebakan yang dipasang pejuang Muslim itu dan pasukannya. Di samping itu, pasukan Amir kerap diuntungkan dengan taktik gerilya. Kalangan tentara Belanda, termasuk dari Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL), sering terjangkit disentri tatkala berjaga di pos-pos setempat. Saking mewabahnya, penyakit tersebut disebut “Demam Bangka.”

Perlawanan Amir baru dapat ditumpas sesudah dilakukan taktik pengecut, menohok dari belakang. Belanda menyuap uang sebesar 1000 dolar Spanyol kepada tujuh orang panglima dan 36 pasukan Depati Amir. Mereka terpaksa menyerah lantaran kekurangan logistik dan kelelahan fisik dalam menjalankan gerilya.

Pada 7 Januari 1851, Depati Amir ditangkap dalam kondisi sakit di Distrik Sungaiselan. Setelah itu, pemerintah kolonial memutuskan untuk mengasingkannya ke luar Bangka. Dengan demikian, sang mujahid diharapkan tidak lagi memiliki pengaruh di tengah masyarakat lokal.

Dalam surat Residen Batavia kepada menteri negara gubernur jendral di Batavia tertanggal 10 Maret 1851, Depati Amir diketahui beserta ibunya, Dakim. Turut menemaninya ialah istrinya, Imur, beserta saudara-saudaranya. Mereka semuanya lalu digiring ke pelabuhan. Kapal yang membawa para tahanan ini sempat bersandar di Surabaya, Jawa Timur. Perjalanan diteruskan hingga ke lokasi tujuan, Kupang, Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Syiar Islam

Sejak diasingkan ke Kupang, hubungan Depati Amir dengan tokoh-tokoh dan rakyat Pulau Bangka pun terputus. Namun, hal itu tidak membuatnya frustrasi. Ia memilih untuk mendedikasikan seluruh sisa usianya di jalan dakwah. Bila semasa di Bangka dirinya lebih aktif dalam perjuangan bersenjata, kini sudah waktunya untuk berkiprah mensyiarkan Islam kepada penduduk lokal.

Depati Amir gemar bergaul dengan orang lain. Kebiasaannya itu membuatnya lebih mudah diterima masyarakat meskipun berbeda suku dan budaya. Apalagi, di Kupang pun tak sedikit tahanan politik yang diasingkan Belanda dengan metode serupa. Amir pun segera melibatkan diri dan melakukan pembangunan di kampung tempat pembuangannya, yakni Desa Mata Air.

Di Kupang, Depati Amir juga terus membina hubungan baik dengan suku-suku bangsa pribumi yang kebanyakan beragama Katolik. Ia menunjukkan bahwa dirinya adalah Muslim dengan prinsip rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil 'alamin). Dirinya mampu berinteraksi dengan antarsuku maupun ras sehingga memberi jalan lapang bagi dakwah Islam di tanah pengasingan.

Mengutip buku Masa Internir Depati Amir di Kupang 1851-1869, dai asal Bangka itu menerapkan prinsip toleransi dalam berdakwah di Kupang. Dengan begitu, komunitas Muslim setempat pun dapat hidup dengan tenteram meskipun di kanan dan kirinya mayoritas memeluk agama berbeda. Hubungan antarumat beragama terjalin dengan baiknya di daerah yang kini kota terbesar seantero Pulau Timor (Indonesia) itu.

Pembangunan Masjid Air Mata menjadi salah satu bukti kemajuan Muslimin setempat. Berdirinya rumah ibadah itu mendapatkan persetujuan dari tetua-tetua lokal. Di sanalah pusat berbagai kegiatan keagamaan Islam. Dengan sepenuh hati, Depati Amir menjadi dai yang membimbing umat Islam desa tersebut.

Berjuang bersama Etnis Tionghoa

Dalam catatan Belanda dikemukakan bahwa Depati Amir adalah figur yang memiliki toleransi yang tinggi. Ia tidak hanya mementingkan segolongan agama semata. Dalam berbagai kesempatan, dirinya mengajak secara bersama-sama umat agama lain. Karakteristiknya yang penuh toleran juga ditunjukkan kepada suku bangsa lain, semisal yang dialaminya tatkala dalam pengasingan Belanda di Kupang, Pulau Timor (Nusa Tenggara Timur).

Seperti diketahui, selain warga Melayu Bangka, kuli-kuli parit timah asal Tionghoa juga ikut berjuang bersama Depati Amir dalam melawan penjajah. Lewat jaringan ini, penyelundupan senjata lewat Temasek (Singapura) berlangsung. Persenjataan itu diperoleh melalui barter dengan timah hasil bumi Bangka. Langkah demikian terpaksa diambil kala itu agar pasukan Amir dapat mempersenjatai diri dalam melawan Belanda.

Dalam laporan penelitian Prof M Dien Madjid dan tim yang berjudul “Berebut Tahta Di Pulau Bangka: Ketokohan Depati Amir Dalam Catatan Belanda” (LP2M UIN Jakarta), dituturkan bahwa perjuangan Amir mendapatkan sokongan dari lintas suku bangsa di Bangka. Bukan hanya sesama etnis Melayu, tetapi juga Tionghoa setempat. Banyak tokoh keturunan Cina yang membersamainya dalam perjuangan.

Di antaranya adalah King Tjoan, seorang mantan mandor tanah di Blinyu. Ada pula, Budjang Singkep, Akei Asan, Oeibin, dan Bengol. Berikutnya, Tata, Dayo, Dasum, dan Ko So Sioe, seorang mantan centeng di kompleks pertambangan Singlo Sungailiat. Begitu pula Lannang Amo, The Ling le, Lo Adijien, dan Iksam Moksin dari Pangkalpinang.

Sebagian orang-orang etnis Cina itu bertugas khusus dalam jejaring pasukan Depati Amir. Ada yang menangani pasokan senjata siap pakai, seperti tombak, klewang dan lainnya. Sebagian diamanhi membantu gerakan-gerakan pemberontak di wilayah pertambangan. Kolaborasi Amir dengan mereka berhasil membuat Belanda kewalahan.

Misalnya, ketika ia dibantu puluhan orang Cina saat membakar tambang Sungailiat. Sejak saat itu, dirinya menjadi buronan di mata pejabat kolonial. Bahkan, Dien Madjid mengatakan, orang-orang Cina di Bangka mematuhi komandonya. Termasuk Tjing, yang sengaja menebarkan racun pada nasi yang hendak disajikan kepada sejumlah tentara Belanda.

 
Baik Amir maupun Tjing, dipandang Belanda sebagai sepasang pejuang yang berbahaya. 
 
 

“Baik Amir maupun Tjing, dipandang Belanda sebagai sepasang pejuang yang berbahaya. Dalam korespondensi lintas pemerintah, nama-nama mereka kerapkali disebutkan sebagai tokoh penting, biang keladi kerusuhan di Bangka. Keduanya ibarat representasi dua etnis dominan yang mendiami pulau Bangka, Melayu dan Cina,” demikian kutipan laporan tersebut.

Sementara, bagi kalangan pribumi, nama Demang Sura Menggala menjadi tokoh yang turut membantu perjuangan Depati Amir dan pasukannya. Menggala berjasa dalam menggalang dana. Bagaimanapun, rezim kolonial tak tinggal diam. Berbagai upaya dilakukan untuk menangkap Depati Amir.

Dalam surat Kapten Komandan Infanteri ke I Doorschodt kepada mayor komandan militer Bangka tertanggal 14 Juli 1850, pejabat kolonial memperoleh informasi terkait rencana Depati Amir dan para pendukungnya. Mereka diketahui hendak berkumpul di sebuah perkampungan bernama Pako. Atas informasi tersebut, para polisi dan intel Belanda membuat rencana penyerangan tiba-tiba.

Sebanyak 50 opsir dan 25 barisan pasukan berangkat untuk melakukan penyerangan terhadap pasukan Depati Amir. Namun setibanya di Pako, Belanda tak menemukan Depati Amir dan pasukannya. Merasa frustrasi, aparat Belanda akhirnya membakar kampung tersebut.


×