Perawat memberikan penjelasan kepada orang tua dan pasien anak yang kecanduan bermain gawai di Klinik Psikiatri Anak dan Remaja Terpadu, Rumah Sakit Marzoeki Mahdi, Kota Bogor, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. | ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/nz
19 Feb 2021, 03:15 WIB

Para Orang Tua yang Kebingungan

Apa yang harus dilakukan para orang tua terkait fenomena gawai anak?

OLEH MURSALIN YASLAND, INAS WIDYANURATIKAH 

Setahun lebih pandemi Covid-19 mulai menampakkan dampak-dampak sampingan terhadap anak-anak dan remaja. Di sela-sela ancaman kesehatan yang belum juga mereda, gejala-gejala dampak negatif penggunaan gawai yang berlebihan membuat orang tua dan guru kewalahan. Republika coba menyoroti fenomena tersebut. Berikut tulisan bagian keduanya.

Subur (42 tahun) langsung mengambil telepon genggamnya saat ditemui Republika, Rabu (17/2). Warga yang tinggal di Kelurahan Panunggangan, Kota Tangerang, itu lalu menunjukkan contoh salah satu video anaknya tengah berjoget dengan latar musik di Tiktok, aplikasi yang tengah populer belakangan.

Pada main Tiktok. Saya enggak ngerti malah, mereka yang lebih ngerti di handphone itu ada macam-macam aplikasi,” tutur Subur. 

Terkait

Ia menyampaikan rasa khawatir terhadap dua anaknya yang sejak pandemi menjadi kecanduan menggunakan gawai. “Kami sebagai orang tua khawatir tentunya dengan anak-anak yang kecanduan gadget,” ujar Subur. 

Bukannya untuk belajar daring, Subur mengatakan, anaknya yang duduk di bangku kelas IX SMP kini sudah mengenal sejumlah aplikasi kekinian yang telah memakan waktu belajarnya. Anaknya yang berusia 8 tahun dan duduk di kelas II Sekolah Dasar (SD) juga suka bermain video gim. “Fokus belajarnya mungkin sekitar 10 persen saja, selebihnya begitu (bermain aplikasi). Bisa sampai delapan jam sehari, bahkan lebih,” kata dia. 

photo
Perawat memberikan penjelasan kepada orang tua dan pasien anak yang kecanduan bermain gawai di Klinik Psikiatri Anak dan Remaja Terpadu, Rumah Sakit Marzoeki Mahdi, Kota Bogor, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. - (ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/nz)

Subur menyatakan, sering kali mengomeli anak-anaknya jika sudah melewati batas. Dia khawatir kondisi kesehatan kedua anaknya terganggu dengan terus-terusan bermain gadget. “Saya suka negur. Suka pusing kepala anak saya, termasuk yang kecil. Sampai malam jam 23.00 masih main handphone, saya ambil, saya marah, ‘besok enggak boleh masih handphone’, sampai nangis. ‘Kalau begini, merusak mata', saya bilang. 'Ini bukan belajar’,” ujarnya. 

Subur mencoba tidak membelikan pulsa internet. Namun, dia mengatakan, anak-anaknya tetap saja bermain aplikasi-aplikasi yang tidak membutuhkan sambungan ke dunia maya. “Ya, jadi sama saja bohong. Pusing saya,” kata dia. Tiadanya aktivitas sekolah juga pembatasan perkumpulan sosial, seperti pengajian di kampong, menurut dia jadi pemicu kecenderungan anaknya balakangan.

Saat ini, yang bisa ia lakukan hanya mencarikan kegiatan alternatif bagi kedua anaknya. Orang tua-orang tua lain mengambil jalan medis dengan melakukan konsultasi ke pakar kejiwaan.

Dokter Tendri, spesialis kejiwaan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Lampung, Bandar Lampung, menuturkan para orang tua dari beberapa daerah di Provinsi Lampung banyak membawa anak-anak dan remaja untuk berobat secara psikologis ke RSJ Lampung. “Dari data beberapa bulan terakhir ini, memang ada kecenderungan orang tua membawa anak-anak dan remaja berobat ke RSJ Provinsi Lampung terkait dampaik penggunaan gadget,” kata dr Tendri kepada Republika di Bandar Lampung, Kamis (18/2). 

photo
Naura Nadhifatul (8) mengerjakan tugas sekolah secara online melalui kiriman video dari gurunya di warung milik orangtuanya, Kelurahan Panggung, Tegal, Jawa Tengah, Jumat (20/11).  - (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)

Tendri tidak menyebutkan angka pasti jumlah peningkatan pasien yang berobat. Keluhan orang tua, di antaranya dampak penggunaan gawai pada masa pandemi Covid-19 yang berlebihan membuat perilaku anak-anak dan remaja berubah. “Saat ortu mencoba membatasi penggunaan gadget, anak atau anak remaja tersebut menjadi agresif dan terjadi peningkatan emosi yang berlebihan,” ujar Tendri. 

Selain itu, orang tua yang datang berkonsultasi juga mengeluhkan terjadi pengabaian kewajiban yang harus dikerjakan anak-anak dan remaja. Para anak-anak dan remaja tersebut juga dilaporkan kehilangan minat belajar. Klinik Psikatri Anak dan Remaja Terpadu Rumah Sakit Marzoeki Mahdi (RSMM) Kota Bogor juga mencatat, sejak Maret 2020, alias mula pandemi mendera, para pecandu gawai berdatangan. 

Kepala Sub Bagian Hukum, Organisasi, dan Humas RSMM Kota Bogor, Prahardian Priatma, menuturkan, sepanjang 2020, jika dirata-rata, kurang lebih dalam satu bulan terdapat lima pasien anak yang kecanduan gawai. “Tahun 2020, per bulan kurang lebih ada lima pasien,” tuturnya. 

Meski begitu, sepanjang Februari 2021 ini pihaknya belum menerima lagi pasien serupa. Tahun lalu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melakukan survei kepada 25.164 anak di 34 provinsi terkait kebiasaan mereka selama pandemi.

Hasilnya memang ada penurunan produktivitas anak. Hasil survei tersebut mengindikasikan adanya potensi anak-anak semakin kecanduan gawai selama pandemi. "Anak mengakui aktivitasnya kurang produktif, di antaranya nonton TV, tidur, nonton Youtube, main game, bermedia sosial," kata Wakil Ketua KPAI, Rita Pranawati, di Jakarta. 

KPAI juga mendata bahwa sebanyak 79 persen anak tidak memiliki aturan penggunaan gawai. Hal ini berarti mereka bisa bermain dengan gawai mereka dengan bebas tanpa aturan yang dibuat oleh orang tuanya.

Berdasarkan catatan KPAI, rata-rata penggunaan gawai per harinya setiap anak di atas 1 jam. Adapun persentase anak menggunakan gawai di luar untuk belajar adalah 1-2 jam per hari sekitar 36,5 persen, 2-5 jam per hari sekitar 34,8 persen, dan lebih dari 5 jam per hari sekitar 25,4 persen.

Lebih detail, anak-anak kebanyakan menggunakan gawai untuk chatting bersama teman-temannya dan menonton Youtube, yaitu masing-masing 52 persen. Sementara itu, 42 persen anak juga menggunakan gawai mereka untuk bersosial media.

Memainkan permainan video daring juga dilakukan anak di dalam survei, yaitu sebanyak 31 persen. Selama menggunakan gawai tersebut, Rita menjelaskan, KPAI melihat orang tua cenderung tidak melakukan pendampingan. Jikalaupun ada pendampingan, peran ibu lebih besar dibandingkan ayah. 

Dalam bermain gim daring, anak juga memiliki kecenderungan memainkan permainan-permainan tertentu. KPAI mencatat sebagian besar anak bermain gim daring dengan konten perang, yaitu 26 persen. Jenis gim yang dimainkan paling banyak selanjutnya adalah konten jenis petualangan, yaitu 16 persen. 

Rita mengatakan, berdasarkan data tersebut dapat dianalisis bahwa angka anak yang menggunakan gawai di luar kegiatan belajar relatif tinggi. Menurut dia, hal ini membuat anak rentan memiliki kecanduan gawai dan dapat mengganggu aktivitasnya.

"Dapat mengganggu aktivitas anak pada saat pembelajaran berlangsung, terganggu waktu untuk tidur, terganggunya aktivitas fisik, terganggunya waktu makan, waktu ibadah, dan kegiatan harian yang penting lainnya," kata Rita menambahkan. Apa yang harus dilakukan para orang tua terkait fenomena ini? 


×