Tangkapan layar pembangkit listrik tenaga nuklir milik Tepco, Jepang. Dilaporkan tidak ada kerusakan serius saat gempa mengguncang Prefektur Fukushima, Sabtu (13/2/2021). | Instagram/Tepco
15 Feb 2021, 04:00 WIB

Jepang Pantau Ketat Pembangkit Nuklir

Fukushima telah lama berjuang mengatasi dampak radiasi nuklir.

 

TOKYO -- Kantor Perdana Menteri Jepang langsung membuat pusat manajemen krisis untuk merespons gempa bumi berkekuatan 9.0 magnitudo yang terjadi di Prefektur Fukushima, Sabtu (13/2/2021). Jepang pun kini terus memantau kondisi pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) yang berada di Fukushima.

Tokyo Electric Power Company atau Tepco menyatakan, tidak ada kebocoran radiasi dari dua pembangkit nuklir yang telah dinonaktifkan sejak bencana gempa dahsyat terjadi pada 2011. Meski demikian, pemantauan terus dilakukan secara ketat karena sempat ada beberapa kebocoran kecil dari tangki berisi air yang terkontaminasi yang disimpan di situs Dai-ichi.

"Tetapi kebocoran tersebut telah diatasi di area kecil," demikian diberitakan NY Times dengan mengutip NHK, kemarin.

Terkait

Sekretaris Kabinet Jepang Katsunobu Kato mengatakan, gempa bumi telah memutus aliran listrik bagi 950 ribu rumah tangga. Namun, listrik berangsur pulih sejak Ahad.

Dua pembangkit listrik tenaga panas di Prefektur Fukushima juga telah dimatikan. "Beberapa warga juga dievakuasi ke tempat penampungan di beberapa kota di Fukushima," katanya.

 
Beberapa warga juga dievakuasi ke tempat penampungan di beberapa kota di Fukushima.
KATSUNOBU KATO, Sekretaris Kabinet Jepang
 

Bencana gempa pada Sabtu malam kemarin telah memicu trauma warga Fukushima atas gempa mahadahsyat yang terjadi pada 11 Maret 2011. Gempa berkekuatan 9 SR pada 10 tahun lalu memicu tsunami dan ledakan pembangkit nuklir yang menyebabkan Fukushima dan daerah-daerah sekitar harus mengahadapi krisis paparan radiasi.

 

Butuh waktu lama bagi Fukushima dalam memulihkan dampak akibat paparan radiasi. Fukushima bahkan sampai harus membuat fasilitas khusus untuk memonitor tingkat radiasi. Hal itu seperti yang dilihat langsung oleh Republika saat berkunjung ke Fukushima pada awal 2020 sebelum pandemi Covid-19 melanda Jepang. Kunjungan itu bagian dari program Jenesys 2019.

Pada 11 Maret 2011, prefektur terbesar ketiga di Jepang tersebut porak-poranda akibat gempa bumi dan tsunami. Kekuatan gempa mencapai 9 SR. Sementara ketinggian tsunami rata-rata mencapai 10 meter.

Gempa bumi dan tsunami lalu memicu kecelakaan energi di PLTN Fukushima Daiichi. Tiga dari enam reaktor nuklir meledak. Bencana itu membuat Fukushima terpapar radiasi nuklir. Warga yang berjarak 20 km dari lokasi PLTN harus dievakuasi. Lokasi evakuasi bahkan pernah diperluas hingga berjarak 30 km. Korban jiwa akibat bencana-bencana tersebut disebut mencapai lebih dari 18 ribu jiwa.

Sebulan pascaledakan PLTN, tingkat radiasi di Kota Fukushima, terdeteksi mencapai 2,74 microsivet per jam. Padahal, ambang batas aman tingkat radiasi yang ditetapkan sebesar 0,23 mikrosivet per jam. 

Bencana nuklir membuat perekonomian Fukushima rontok. Mereka tak lagi bisa memanfaatkan kekayaan sumber daya alamnya. Air, tanah, hingga perkebunan terpapar zat radioaktif. Kinerja ekspor anjlok 98 persen per 2012. Kunjungan turis asing pun melorot hingga 78 persen.

Menurut Pemerintah Prefektur Fukushima, proses pembersihan radiasi selesai pada awal 2020 untuk 97,5 persen wilayah. Sementara 2,5 persen wilayah lainnya masih terpapar radiasi dan dalam tahap isolasi. Wilayah itu belum aman karena sangat berdekatan dengan PLTN Daiichi.

Pembersihan jejak zat radioaktif dilakukan secara komprehensif dan berkala. Pemerintah Fukushima mengeruk seluruh permukaan tanah dan memindahkannya ke tempat penampungan di daerah terpencil. Pembersihan juga dilakukan pada seluruh pepohonan dan bangunan.

Pemerintah Prefektur Fukushima sejak 2016 mendirikan Fukushima Prefectural Centre for Environmental Creation (CEC). Salah satu fungsi CEC memonitor tingkat radiasi dari seluruh wilayah Fukushima. CEC memasang alat pemantau tingkat radiasi di sekitar 3.000 titik yang beroperasi selama 24 jam penuh.

 
Meski 97,5 persen wilayah telah aman dari radiasi, fobia terhadap Fukushima bahkan belum sepenuhnya hilang.
 
 

Meski 97,5 persen wilayah telah aman dari radiasi, fobia terhadap Fukushima bahkan belum sepenuhnya hilang. Di Jepang sendiri bahkan masih ada istilah 'made in Fukushima' sebagai bentuk keraguan terhadap produk-produk dari Fukushima yang pernah terpapar radiasi.

Sedianya, Pemerintah Jepang ingin membuktikan bahwa Fukushima telah bangkit dan aman dari paparan radiasi melalui ajang Olimpiade Tokyo 2020. Namun, ajang tersebut terpaksa ditunda seiring adanya pandemi Covid-19.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by 東京電力グループ(TEPCO) (tepco.official)

Sumber : Reuters/AP


×