Pengguna Tokopedia bertransaksi melalui gawai, beberapa waktu lalu. Tokopedia tengah mematangkan rencana melantai di bursa saham. | PUSPA PERWITASARI/ANTARAFOTO
15 Feb 2021, 04:00 WIB

Tokopedia Matangkan Rencana IPO di AS dan Indonesia

Tiga perusahaan teknologi bersiap melantai di bursa saham pada kuartal I 2021.

 

JAKARTA -- Tokopedia tengah mematangkan rencana melantai di bursa saham. VP of Corporate Communications Tokopedia, Nuraini Razak menyampaikan, saat ini platform marketplace sedang mempertimbangkan kondisi pasar dan metodenya.

"(Rencananya) dual listing, tapi pastinya yang utama Indonesia karena Tokopedia adalah perusahaan Indonesia," katanya pada Republika, Ahad (14/2).

Menurut Nuraini, pertumbuhan adopsi pasar semakin mendorong pertumbuhan bisnis Tokopedia selama masa pandemi Covid-19. Sehingga Tokopedia mempertimbangkan untuk mengakselerasi rencana menjadi perusahaan publik.

Tokopedia telah menunjuk Morgan Stanley dan Citi sebagai penasihat dalam upaya tersebut. Meski begitu, Nuraini belum mau menjelaskan lebih lanjut terkait rencana IPO tersebut termasuk waktu tepatnya.

Sejumlah perusahaan teknologi siap meramaikan pasar modal Indonesia pada tahun ini. Bahkan, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat terdapat tiga perusahaan teknologi yang siap melepas sahamnya ke publik dalam waktu dekat. 

Berdasarkan data BEI pada 11 Februari 2021, terdapat 25 perusahaan dalam proses evaluasi pencatatan saham di BEI. Tiga di antaranya merupakan perusahaan dari sektor teknologi. 

"Apabila semua proses berjalan sesuai rencana, tiga perusahaan tersebut diperkirakan dapat tercatat di bursa paling cepat pada kuartal I 2021 ini," kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna.

photo
Karyawan melintas di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (8/1). - (RENO ESNIR/ANTARA FOTO)

Nyoman menjelaskan, saat ini terdapat 20 perusahaan dari sektor teknologi yang mencatatkan sahamnya di BEI. Berdasarkan data per 5 Februari 2021, secara year to date (ytd) indeks IDXTECHNO merupakan indeks dengan kinerja pertumbuhan terbaik dibandingkan IHSG dan indeks sektoral lainnya. 

IDXTECHNO tumbuh 108,74 persen (ytd) sedangkan IHSG tumbuh 2,89 persen (ytd). Menurut Nyoman, hal ini mencerminkan bahwa investor menyambut baik dan mengapresiasi perusahaan-perusahaan dari sektor teknologi yang saat ini sudah tercatat di bursa.  

Nyoman mengatakan, BEI senantiasa menyambut baik perusahaan teknologi maupun perusahaan dari sektor lain yang memiliki rencana untuk melakukan IPO dan menjadi perusahaan tercatat di BEI. Termasuk perusahaan dengan valuasi dan kapitalisasi jumbo. 

"Kami siap mendukung perusahaan-perusahaan dan membuka pintu diskusi selebar-lebarnya apabila dibutuhkan pendampingan atau informasi mengenai proses IPO dan pencatatan efek di Indonesia," kata Nyoman. 

Analis Binaartha Sekuritas, Nafan Aji menyampaikan, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) ke depan masih prospektif sehingga perusahaan teknologi dapat mengambil kesempatan. "Jika perusahaan teknologi mampu meningkatkan kemajuan iptek dan memanfaatkan potensi pasar maka bisa memaksimalkan kinerja," kata Nafan.

Meski demikian, tambahnya, pasar harus terus update terhadap perkembangan teknologi. Jika tidak, maka emiten berbasis teknologi tidak akan berkembang.

Menurut Nafan, terdapat sejumlah faktor yang perlu diperhatikan emiten maupun calon emiten yang akan melantai di bursa saat ini. Dia mengatakan, pandemi COVID-19 masih harus terus diwaspadai karena menyebabkan rendahnya daya beli masyarakat.

Selain itu, persaingan dan kompetisi yang terjadi di industri. Menurutnya, masih perlu waktu untuk emiten sektor teknologi berperan signifikan di pergerakan saham IHSG.

"IHGS lebih dipengaruhi oleh pergerakan indeks finance, konsumsi, maupun infrastruktur," katanya.

Menurut Nafan, sektor keuangan, konsumer, dan infrastruktur bisa mendapat kesempatan lebih besar jika harus IPO di masa saat ini. Untuk sektor teknologi di Indonesia, perusahaan juga dituntut perlu meningkatkan transparansi dari sisi keuangan. Predikat perusahaan juga menentukan prestise.

Nafan mengingatkan, investor harus melihat nilai suatu perusahaan dari sisi kinerja pendapatan, laba bersih, maupun beban utang. Jika penetapan harga IPO sudah dilakukan, maka valuasi perlu diketahui, apakah overvalue atau undervalue. Itu bisa menentukan adanya keberhasilan dalam memenuhi oversubscribed atau tidak.

"Nanti dilihat harga IPO terlebih dahulu, baru bisa melihat valuasinya, syukur-syukur undervalue sehingga berpotensi oversubscribed," katanya.


×