Shela Marie Barahama meskipun sudah cukup lama tinggal dengan keluarga Muslim baru menyadari konsep tauhid setelah menonton video Ustaz Zakir Naik. | DOK IST

Oase

Shela Marie Barahama, Konsep Tauhid Mengetuk Hatinya

Sebuah ceramah menarik perhatiannya tentang konsep tauhid dalam Islam.

OLEH RATNA AJENG TEJOMUKTI

 

Meraih hidayah Ilahi di usia muda. Itulah yang dialami Shela Marie Barahama. Sejak memeluk Islam, namanya berubah menjadi Nadhifa Azkia. Bagaimanapun, perempuan yang kini berusia 21 tahun itu masih senang disapa sebagai Shela.

Ia berasal dari Buli, sebuah kampung di Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara. Sebagaimana umumnya mualaf, dirinya lahir dari keluarga yang menganut non-Islam. Akan tetapi, beberapa kerabat terdekatnya memeluk agama tauhid. Di antaranya adalah bibinya sendiri, Rafika—bukan nama sebenarnya.

Kira-kira pada 2011 silam, Bibi Rafika mengunjungi rumah kedua orang tuanya. Setelah itu, Shela mendengar wacana bahwa dirinya dapat tinggal di rumah bibinya itu. Tidak hanya menetap, ia pun akan diberi biaya hidup dan keperluan sehari-hari akan ditanggung. Beberapa waktu kemudian, ayah dan ibunya setuju dengan tawaran sang bibi. Jadilah Shela anak angkat keluarga tantenya di Ternate.

Saat itu, ia masih berusia 10 tahun. Walaupun jauh dari kampung halaman, anak gadis ini tidak kehilangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Sebab, mereka sesekali berkunjung ke Ternate. Anak ketiga dari empat bersaudara itu pun tidak pernah merasa sungkan saat di tempat tinggal sang bibi. Ia bercengkerama sewajarnya dengan keempat anak Bibi Rafika.

Namun, ada satu hal yang baru disadarinya kala itu. Ternyata, Bibi Rafika dan keluarganya menganut agama Islam. Tidak seperti dugaannya, yakni beragama sama seperti ayah dan ibu Shela. Ia pun sempat bertanya-tanya tentang hal ini. Sang bibi pun memberi tahu bahwa seisi rumah belum lama ini berpindah iman, memeluk Islam. Ya, mereka telah menjadi mualaf.

Meskipun demikian, Bibi Rafika tidak pernah sekalipun mempersoalkan perbedaan agama di dalam rumah. Sebab, kehendaknya untuk mengangkat anak didasarkan pada semangat menolong sesama keluarga. Bukan untuk merayu-rayu atau membujuk anak orang agar seiman dengannya.

 
Bibi Rafika tidak pernah sekalipun mempersoalkan perbedaan agama di dalam rumah.
 
 

“Tante saya juga tidak pernah memaksa saya untuk mengikuti agamanya. Saya tetap dibebaskan untuk beribadah sesuai dengan agama yang saya anut sejak masih bersama orang tua saya,” ujar Shela Marie Barahama menuturkan kisahnya kepada Republika beberapa waktu lalu.

Sebagai contoh, lanjut dia, bibinya tidak pernah menghalanginya untuk pergi ke rumah ibadah tiap akhir pekan. Malahan, kadang kala ia diingatkan agar jangan lalai beribadah.

Shela juga didaftarkan ke sekolah umum. Pengajaran agama yang diikutinya adalah yang sesuai imannya saat itu, bukan agama bibinya. Dengan kebebasan demikian, ia pun merasa betah tinggal bersama Bibi Rafika. Dirinya juga dapat konsentrasi untuk menempuh pendidikan dengan baik.

Sejak di Ternate, Shela lebih mengenal seluk-beluk dan tradisi Islam setempat. Misalnya, perayaan Malam Ela-ela. Tradisi itu diadakan tiga malam berturut-turut menjelang Idul Fitri.

Biasanya, para tokoh adat setempat akan mengumpulkan anggotanya untuk pawai obor. Kemudian, masyarakat akan mengikuti di belakangnya. Pawai yang dilakukan cukup jauh. Para peserta harus mengelilingi gunung di dekat desa. Kira-kira, waktu satu setengah jam diperlukan jika jarak tersebut ditempuh dengan mengendarai sepeda motor.

Tak hanya kebudayaan, Shela juga telah mengenal Islam dari rutinitas. Sebab, rumah bibinya berlokasi tak jauh dari mushala. Saudara-saudara sepupunya rutin mengaji di sana. Ia sendiri tidak alpa dengan berbagai kegiatan religi agamanya. Sejak masih duduk di bangku SMA, gadis ini terbiasa aktif dalam ekstrakurikuler rohani. Di kampus pun, dirinya menjadi anggota organisasi keagamaan.

Dakwah Zakir Naik

Seperti umumnya generasi milenial, tidak ada hari terlewatkan tanpa berselancar di dunia maya. Shela mengaku senang bermain media sosial (medsos). Termasuk, menonton channel YouTube kegemarannya. Namun, pada suatu hari ia tak sengaja menyaksikan video dakwah tentang Islam. Padahal, topik keagamaan itu biasanya tidak menarik perhatiannya.

Waktu itu, sekitar Maret 2020. Shela melihat video seorang penceramah internasional, Dr Zakir Naik. Dari profil yang dibacanya dari Google, ulama tersebut kerap menyampaikan tema-tema tentang perbandingan agama.

Awalnya, perempuan ini menonton video Zakir Naik tanpa antusiasme sama sekali. Namun, saat menanggapi sebuah pertanyaan, jawaban dari mubaligh asal India itu menyita atensinya.

Dijelaskan bahwa konsep ketuhanan Islam adalah tauhid. Menurut ajaran agama ini, Tuhan Maha Esa. Tidak ada semacam dualitas, apalagi trinitas. Shela merasa, tauhid sangat logis dan lebih berterima akal. Bagaimana mungkin membayangkan ada lebih dari satu tuhan? Bukankah nanti mereka berselisih satu sama lain?

Karena penasaran, Shela kemudian terus mencari tahu mengenai tauhid. Berbagai sumber ditelusurinya, tidak hanya melalui mesin pencarian daring. Ia pun membeli dan membaca beberapa buku tentang inti ajaran Islam.

 
Karena penasaran, Shela kemudian terus mencari tahu mengenai tauhid. Berbagai sumber ditelusurinya.
 
 

“Ada satu hal yang membuat saya yakin. Di dalam kitab agama saya yang sebelumnya (sebelum memeluk Islam –Red) jelas menerangkan bahwa Nabi Isa itu adalah nabi, bukan Tuhan. Nah, penegasan itu ada di dalam Alquran juga,” jelas dia.

Hal itulah yang menjadi alasan untuk memberanikan diri berdiskusi dengan beberapa anggota keluarga besarnya yang Muslim. Dalam hal ini, tidak lain adalah bibinya.

Namun, Bibi Rafika saat itu tidak menanggapinya dengan baik. Sebab, sang tante mengira Shela tak serius untuk mengenal Islam. Karenanya, ia pun mencoba untuk menghubungi orang lain.

“Saya mencoba berbicara dengan tante saya yang lain, yang juga Islam. Dia akhirnya berbicara dengan saya. Mungkin juga berbicara dengan bibi saya itu sehingga kemudian dia (Bibi Rafika –Red) akhirnya menanggapi,” ucapnya.

Bibi Rafika pun menjelaskan banyak hal tentang Islam. Di antaranya, bahwa dalam Islam pun Nabi Isa dan ibundanya, Maryam (Maria), merupakan orang-orang mulia. Bahkan, ada sebuah surah dalam Alquran yang dinamakan sebagai Surah Maryam. Dan, tidak ada, umpamanya, surah yang dinamakan sebagai ibunda Rasulullah SAW. Dengan demikian, ajaran dalam kitab-kitab Zabur, Taurat, dan Injil disempurnakan oleh Alquran, yang merupakan pedoman bagi seluruh umat manusia.

Beberapa bulan Shela menimbang-nimbang tentang pokok ajaran Islam. Dalam pandangannya, tidak ada yang perlu diragukan dengan konsep tauhid. Sebab, sudah terang benderang tentang keesaan Tuhan.

 
Dalam pandangannya, tidak ada yang perlu diragukan dengan konsep tauhid. Sebab, sudah terang benderang tentang keesaan Tuhan.
 
 

Penjelasan dari tantenya itu pun seperti halnya uraian yang disampaikan Zakir Naik. Ada kesinambungan ajaran sejak Nabi Musa—sosok yang dimuliakan kaum Yahudi—dan Nabi Isa—yang dimuliakan kaum Nasrani.

Dalam proses pencarian iman ini, Shela juga tidak lupa berbicara dengan kedua orang tuanya. Mereka ternyata bersikap terbuka. Menerima apa pun agama yang akan dipilihnya selama itu menjadikannya pirbadi yang lebih baik.

Bahkan, ayah dan ibu mengingatkannya agar menjalani dengan serius apa pun agama yang diimani. Jangan sampai berpindah iman karena itu sama saja dengan mempermainkan urusan agama.

photo
Setelah memeluk Islam, Shela Marie Barahama memilih nama baru, Nadhifa Azkia. - (DOK IST)

Memeluk Islam

Setelah berdiskusi dengan keluarga, Shela akhirnya siap. Tekadnya sudah bulat untuk memeluk Islam. Beberapa kerabatnya yang Muslim lantas mengundang seorang ustaz ke rumah. Di sanalah prosesi syahadat dilakukan.

Gadis ini mengucapkan dua kalimat agung tersebut dengan penuh kemantapan. Seisi rumah terharu menyaksikannya. Sejak menjadi mualaf, ia pun memilih nama baru, yakni Nadhifa Azkia.

Setelah itu, secara perlahan Shela belajar tentang ibadah wajib bagi seorang Muslim, terutama shalat. Karena belum pernah membaca bahasa Arab, ia pun perlu waktu untuk menghafal bacaan-bacaan shalat. Agar ibadahnya lebih lancar, ia lebih sering mengikuti shalat berjamaah dengan kakak sepupunya.

Selain dengan saudara, kawan-kawan pun menjadi tempat baginya untuk berdiskusi tentang agama. Mereka antusias dengan keislamannya. Sering kali, Shela dikuatkan mentalnya agar terus belajar tentang ibadah-ibadah, seperti shalat, membaca Alquran, dan lain-lain.

Beberapa pekan lamanya, ia pun mampu menghafal surah al-Fatihah dan beberapa surah dalam Juz Amma. Bagaimanapun, dirinya terus berusaha agar lulus mengaji Iqra sehingga benar-benar bisa membaca Alquran.

 
Menjalankan shalat lima waktu dengan tepat waktu juga menjadi tantangan tersendiri. Karena, kan sebelumnya ibadah saya hanya sesekali.
 
 

“Menjalankan shalat lima waktu dengan tepat waktu juga menjadi tantangan tersendiri. Karena, kan sebelumnya ibadah saya hanya sesekali, tiap akhir pekan, misalnya. Kalau Muslim, setiap hari ibadah. Karena sudah komitmen, saya harus sanggup menjalaninya,” katanya.

Ia mengaku senang dengan shalat. Saat melaksanakan ibadah ini, hatinya selalu terasa tenang. Pernah dirinya mendengar ceramah seorang dai, shalat adalah cara seorang Muslim berkomunikasi dengan Tuhannya. Maka, tiap kalut menghadapi suatu masalah, Shela pun akan mengambil wudhu dan shalat. Seolah-olah beban telah terangkat dari pundaknya sesudah itu. Sering kali, air matanya tak terasa menetes.

Adapun berpuasa menjadi ibadah dengan tantangan tersendiri baginya. Walaupun tinggal di lingkungan Muslim, Shela tidak pernah ikut berpuasa. Dulu, ketika belum memeluk Islam dirinya memang kerap ikut-ikutan dalam keceriaan tradisi Malam Takbiran atau Idul Fitri. Kini, barulah ia paham bahwa perayaan tersebut berarti suka cita karena sudah diuji sebulan penuh lamanya.

Pada Ramadhan 2020 lalu, untuk pertama kali dirinya berpuasa selama satu bulan. “Ketika berpuasa, menahan emosi masih bisa dilakukan. Tapi, yang paling sulit itu menahan haus, apalagi jika sedang bantu-bantu di rumah. Cuaca panas jadi terasa sekali. Tapi, ya karena sudah kewajiban maka harus dijalani,” tutur dia.

Tentunya, Idul Fitri 2020 tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Sebagai seorang mualaf, ada rasa syukur tak terhingga bahwa dirinya sukses menjalani Ramadhan. Lebaran pun menjadi momen yang begitu berkesan. Ada rasa haru saat mendengar takbir berkumandang di malam jelang Idul Fitri. Ini tak pernah dirasakan sebelumnya.

 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat