Menghimpun seluruh serpihan optimisme yang masih tersisa bisa menjadi kekuatan penting. | EPA
12 Feb 2021, 08:20 WIB

Menghimpun Serpihan Optimisme di Tengah Kelesuan Ekonomi

Menghimpun seluruh serpihan optimisme yang masih tersisa bisa menjadi kekuatan penting.

OLEH AGUNG P VAZZA

 

Perekonomian Indonesia jelas tegas masih dalam kungkungan pandemi Covid-19. Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dipublikasikan pekan lalu, membuktikan itu.

Hampir sepanjang 2020, pertumbuhan ekonomi terus berada di zona negatif. Setelah mencatat pertumbuhan positif, 2,97 persen, pada kuartal I 2020, pertumbuhan kuartal-kuartal berikutnya terus berada di zona negatif. Pada kuartal IV 2020, pertumbuhan tercatat masih terkontraksi 2,19 persen.

Terkait

Dibanding kuartal II 2020 (-5,32 persen) dan kuartal III 2020 (3,49 persen), angka capaian pertumbuhan kuartal akhir 2020 tersebut memang memperlihatkan arah membaik. Namun, secara tahunan, sepanjang 2020, pertumbuhan ekonomi masih berada di zona negatif di posisi -2,07 persen. BPS menyebut posisi pertumbuhan ini tercatat sebagai pertumbuhan minus pertama kali sejak 1998.

Pandemi dipastikan menjadi sebab utama kinerja perekonomian Indonesia. Apalagi, sampai saat ini, pandemi belum benar-benar bisa dikendalikan. Pembatasan kegiatan dan aktivitas masyarakat masih diberlakukan secara meluas, sehingga membatasi pula aktivitas perekonomian nasional.

Sektor konsumsi, salah satu motor penting perekonomian Indonesia nyaris tak bergerak, baik di sisi permintaan maupun penawaran. Perekonomian sepertinya hanya mengandalkan belanja pemerintah.

 
Sektor konsumsi, salah satu motor penting perekonomian Indonesia nyaris tak bergerak.
 
 

BPS mencatat hanya konsumsi pemerintah yang mengalami pertumbuhan positif selama tahun lalu. Begitupun, dibanding pertumbuhan 2019, konsumsi pemerintah itu mengalami penurunan. Tak heran kalau muncul pandangan belanja dan konsumi pemerintah, dengan segala keterbatasannya, sulit dijadikan andalan terus menerus. Kalaupun masih menjadi andalan, maka itu hanya stimulus yang diharapkan bisa mempertahankan putaran roda ekonomi.

Pertanyaan sesungguhnya, sudahkah tampak pemulihan ekonomi? Setidaknya, pertumbuhan kembali ke zona positif pada tahun ini. Di sisi lain, pandemi, faktor utama rontoknya perekonomian, belum benar-benar terkendali.

Pemerintah memang sudah mengimplementasikan, dan terus mengampanyekan, vaksinasi. Reuters bahkan menyebutnya sebagai salah satu kampanye vaksin terbesar dunia. Tapi, pertumbuhan kasus atau positive rate Covid-19, belum memperlihatkan tanda-tanda pembalikan arah. Bahkan, disebut-sebut, 'herd immunity' sebagai tujuan vaksinasi diperkirakan tercapai dalam kurun sekitar 15 bulan.

Selama kurun tersebut, sampai 'herd immunity' benar-benar tercapai, pembatasan kegiatan tetap gencar dilakukan. Ini berarti aktivitas dan kegiatan ekonomi tetap terbatas, plus dibayangi ketidakpastian. Tak pelak, pesimisme terus menghantui aktivitas sosial dan masa depan perekonomian nasional. Jika memperhatikan data hasil riset United Overseas Bank (UOB) Singapura, pesimisme itu sangat kental terasa.

Dilansir VNExpress Internasional, UOB mempublikasikan Indeks Optimisme lima perekonomian utama di Asia Tenggara. Berdasarkan indeks tersebut, Vietnam tercatat menjadi negara paling optimistis dengan skor indeks 62,4.

Peringkat kedua ditempati Malaysia dengan indeks 53,8, dan berturut-turut, Singapura (52,7) dan Thailand (52,0). Indonesia, perekonomian terbesar di kawasan, ada di urutan buncit dengan skor indeks 49,6, alias cenderung tidak optimistis.

Riset dan survei UOB dengan sekitar 3.500 responden dari lima negara itu diminta menjelaskan terkait pandemi, pembatasan aktivitas dan perjalanan, dampak pandemi terhadap perekonomian, serta prakiraan finansial personal. Sekitar 81 persen responden Vietnam optimistis semua kembali normal akhir tahun ini. Soal ini, Vietnam mencatat skor tertinggi.

Terkait pemulihan ekonomi tahun ini, 72 persen percaya kondisinya akan lebih baik. Ini pun Vietnam mencatat skor tertinggi. "Optimisme itu mungkin muncul karena Vietnam dinilai sukses menangani pandemi, yang menjadi fondasi kuat pemulihan ekonomi," ungkap Harry Loh, CEO UOB Vietnam. Vietnam memang satu dari sedikit negara yang mencatat pertumbuhan ekonomi positif pada 2020, 2,9 persen.

photo
Menghimpun seluruh serpihan optimisme yang masih tersisa bisa menjadi kekuatan penting. - (EPA)

Optimisme

Bagaimana dengan Indonesia? Begitu pesimistiskah? Faktanya boleh jadi mengindikasikan itu. Pertumbuhan ekonomi masih di zona negatif, positivity rate infeksi virus tetap tinggi meski vaksinasi mulai digencarkan, pembatasan akitivitas sosial dan ekonomi masih pula diberlakukan secara luas. Sekali lagi, riset dan survei UOB Singapura cukup mencerminkan pesimistis itu.

Hanya saja, situasi dan kondisi itu barangkali juga tidak lantas berarti sama sekali tak ada optimisme. Sejumlah serpihan-serpihan optimisme juga bermunculan terkait pemulihan ekonomi nasional, baik secara ekonomi, kesehatan maupun sosial.

Kepala BPS, Suhariyanto, dalam tayangan RepubiikaTV mengajak semua kalangan mengawali 2021 dengan optimisme melawan pandemi sekaligus memulihkan perekonomian. "Program vaksinasi dan kepatuhan terhadap protokol kesehatan menjadi kunci penting pemulihan perekonomian," ujarnya.

Di sisi ekonomi, Bank Indonesia (BI), dalam siaran persnya, menyebutkan meski terkontraksi sejak kuartal II (-5,32 persen) sampai kuartal IV (-2,07) 2020, pertumbuhan ekonomi bergerak ke arah membaik. Pertumbuhan ekonomi domestik yang membaik itu bisa diharapkan menjadi fondasi pertumbuhan selanjutnya.

BI memprakirakan pertumbuhan meningkat secara bertahap pada 2021. BI pun menegaskan terus mengarahkan bauran kebijakan akomodatif serta memperkuat sinergi dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk terus mendukung pemulihan ekonomi nasional.

Serpihan optimisme juga mencuat di kalangan perusahaan internasional seperti JP Morgan. Perusahaan ini tetap optimistis terhadap prakiraan ekonomi Indonesia, meski masih harus bekerja keras menghambat pandemi.

James Sullivan, kepala Riset Ekuitas Asia ex-Jepang di JP Morgan menjelaskan, salah satu alasan utama optimisme tersebut adalah populasi muda di Indonesia. Populasi muda dan produktif ini menurutnya cenderung lebih siap beradaptasi dengan situasi yang terjadi, lebih baik dibanding populasi tua seperti di negara maju.

Selain populasi yang relatif muda, "JP Morgan juga melihat upaya positif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhan," tambah James, dilansir CNBC. Pemerintah, menurutnya, Januari lalu sudah membentuk Sovereign Wealth Fund (SWF) atau Lembaga Pengelola Investasi (LPI) dengan nama Indonesia Investment Authority (INA).

Lembaga ini ditengarai menjadi terobosan pembiayaan nasional. Lain kata, dengan lembaga tersebut, pemerintah tidak hanya memiliki sumber pembiayaan berupa bantuan pinjaman, tapi juga instrumen investasi. Sumber pendanaan ini dibutuhkan lantaran ketimpangan antara kemampuan pendanaan domestik dan kebutuhan pembangunan nasional.

 
Sumber pendanaan ini dibutuhkan lantaran ketimpangan antara kemampuan pendanaan domestik dan kebutuhan pembangunan nasional.
 
 

Di sisi dunia usaha, James juga melihat muncul optimisme perekonomian Indonesia. Salah satu indikasinya adalah peningkatan cukup signifikan di sektor manufaktur, terutama terkait ekspor. Upaya pemerintah menjadi yang terdepan dalam vaksinasi, disebutnya juga menjadi alasan penting optimisme JP Morgan.

Selain JP Morgan, jika memperhatikan kompilasi data resmi termasuk dari Dana Moneter Internasional (IMF), yang dilakukan CNBC mengenai kinerja teratas perekonomian Asia selama pandemi, cukup pula menerbitkan optimisme bagi Indonesia. CNBC memang tidak secara khusus menyebutkan data tersebut terkait dengan optimisme perekonomian Indonesia.

Namun, memperhatikan data kompilasi pertumbuhan dan kontraksi produk domestik bruto (PDB) perekonomian Asia selama 2020, meski masih di zona negatif, pertumbuhan PDB Indonesia ada di jajaran sepuluh teratas perekonomian terbaik Asia selama pandemi.

Optimisme bagi perekonomian Indonesia boleh jadi lebih terasa jika data kompilasi tersebut dikerucutkan berdasar kawasan Asia Tenggara. Vietnam teratas dengan pertumbuhan PDB positif 2,9 persen. Indonesia di posisi kedua dengan PDB 2020 terkontraksi di kisaran -2,07 persen, yang jauh lebih baik ketimbang Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina.

 
Menghimpun seluruh serpihan optimisme yang masih tersisa bisa menjadi kekuatan penting memperbaiki sistem kesehatan publik dan menjaga pertumbuhan ekonomi.
 
 

Serpihan-serpihan optimisme itu memang tidak seharusnya membuat pemangku kebijakan dan dunia usaha nasional lengah. Ancaman pandemi belum mereda. Pesimistis pun agaknya bukan pilihan. Tapi, menghimpun seluruh serpihan optimisme yang masih tersisa bisa menjadi kekuatan penting memperbaiki sistem kesehatan publik dan menjaga pertumbuhan ekonomi.

Optimisme pemangku kebijakan jelas dibutuhkan terutama prioritas pengendalian pandemi, diikuti stimulus perekonomian, fiskal maupun moneter. Optimisme publik juga dibutuhkan sesederhana menyadari pentingnya kepatuhan memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan mencegah (menghindari) kerumunan.


×