Wisatawan berjalan di kawasan Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park di Badung, Bali, Sabtu (30/1/2021). Setelah sempat ditutup sejak Maret 2020 dan dibuka kembali pada awal Desember 2020 lalu, kawasan wisata GWK akan ditutup kembali dari kunjungan wis | FIKRI YUSUF/ANTARA FOTO
12 Feb 2021, 03:30 WIB

Sejarah Terkelam Wisata Global

Kinerja pariwisata global pada 2020 menjadi catatan sejarah terburuk sepanjang masa.

OLEH RAKHMAT HADI SUCIPTO

Baru-baru ini muncul informasi yang menyebutkan pandemi Covid-19 bakal berakhir paling cepat tujuh tahun lagi. Itu pun bagi negara yang sudah siap. Termasuk mereka yang mampu menyediakan vaksin bagi seluruh warga negaranya.

Tentu saja kabar tersebut bisa benar, mungkin juga salah, bahkan salah sekali. Namanya juga perkiraan. Tidak ada pakar di dunia medis, virus, atau mikrob lainnya yang mampu menghasilkan resep untuk menghentikan laju virus Covid-19 ini. Buktinya, hingga kini tak ada obat spesifik untuk menyembuhkan penderita korona.

Akan tetapi, tidak mustahil dalam waktu dekat wabah ini akan sirna. Semua tergantung yang menciptakan virus tersebut. Hanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang tahu karena Dia yang menghadirkan makhluk supermikro ini ke dunia untuk menguji manusia, terutama bagi umat yang mengaku beragama dan beriman.

Terkait

Yang pasti, kehadiran virus ini telah memengaruhi kehidupan umat manusia di seluruh jagat raya. Semua aktivitas di seluruh dunia terpengaruh hebat. Virus korona tak hanya membawa masalah dalam dunia medis dan kesehatan.

Wabah ini juga menimbulkan dampak sangat hebat terhadap kegiatan ekonomi. Seluruh aktivitas ekonomi di mana pun menjadi sangat lesu. Imbas berikutnya, banyak negara yang gagal mencapai target ekonomi karena tak mampu mengatasi sebaran virus korona.

photo
Pengunjung menikmati pemandangan di area wisata Air Hitam Taman Nasional Sebangau, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Ahad (24/1/2021). Destinasi wisata yang menyuguhkan keindahan pemandangan alam susur sungai air hitam dan berbagai macam kuliner tersebut merupakan destinasi favorit wisatawan saat berlibur ke Kota Palangkaraya. - (ANTARA FOTO/Makna Zaezar)

Pariwisata menjadi sektor yang paling terdampak pandemi. Ibarat permainan bowling, seluruh pin roboh terlibas bola panas Covid-19. Virus korona ini benar-benar membuat poin strike di sektor pariwisata ini. Kalaupun ada pin yang masih berdiri, fundamennya sudah tidak kuat lagi. Goyah, rapuh, dan mungkin saja dalam waktu dekat bakal roboh bila tak ada strategi untuk menguatkannya.

Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) bahkan mencatat, pariwisata global mengalami tahun terburuk pada 2020 lalu. Data UNWTO menunjukkan, kedatangan para wisatawan di seluruh wilayah global merosot tajam hingga 74 persen sepanjang 2020 dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada 2020 lalu, hanya ada 379 juta kunjungan wisatawan internasional. Jumlah ini sangat jauh dibandingkan kunjungan wisatawan pada 2019 yang mencapai 1.453 juta. Artinya, pada 2020 terjadi penurunan jumlah kunjungan sebesar 73,9 persen.

Ini kemerosotan jumlah kunjungan wisatawan paling buruk dalam 16 tahun terakhir sejak 2005 lalu, bahkan dalam sejarah wisata global. Dalam rentang waktu tersebut, performa pariwisata global sempat melemah pada 2009 saat terjadi krisis moneter di Amerika Serikat dan Eropa yang akhirnya menjalar ke seluruh dunia.

photo
Pemandu mengantarkan wisatawan mengunjungi kawasan Cagar Alam Hutan Bakau Pantai Timur Sumatera di Tanjungjabung Timur, Jambi, Sabtu, (23/1/2021). Dinas Pariwisata Kebudayaan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Tanjungjabung Timur mendorong keterlibatan pemuda untuk mengembangkan paket wisata susur sungai dan edukasi bakau melalui kelompok sadar wisata di pesisir pantai timur setempat. - (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)

Namun, pada 2009 kunjungan wisatawan global hanya menurun 3,9 persen menjadi 892 juta kunjungan dibandingkan kinerja 2008 sebanyak 928 juta kunjungan. Setelah 2009, kinerja pariwisata internasional selalu menunjukkan performa positif, tumbuh dengan angka yang cukup menggembirakan.

Berdasarkan data UNWTO, kemerosotan paling tajam terjadi pada bulan April, Mei, dan Juni 2020. Penurunan pada bulan tersebut di atas 90 persen. Pada April 2020, jumlah kunjungan turun 96,7 persen, lalu merosot sebesar 96,2 persen pada Mei, dan menyusut 91,3 persen pada Juni. Kondisinya makin mencemaskan karena terus terjadi penyusutan kunjungan wisatawan global sebesar dua digit, bahkan selalu lebih dari 76 persen sejak April 2020.

Semula para pakar dan pelaku bisnis sempat optimistis pada akhir 2020 bakal terjadi perbaikan. Namun, faktanya pada Desember tetap loyo dan jumlah kunjungan justru berkurang sampai 85,3 persen. Secara keseluruhan, sepanjang 2020 berakhir dengan kondisi yang menyedihkan, jumlah kunjungan wisatawan turun sebesar 74 persen.

Sekretaris Jenderal UNWTO Zurab Pololikashvili menyatakan, belum ada negara yang menemukan strategi jitu untuk memulihkan kinerja sektor pariwisata. “Meskipun banyak yang telah dibuat untuk memungkinkan perjalanan internasional yang aman, kami sadar bahwa krisis masih jauh dari selesai,” ujar Pololikashvili.

 
Meskipun banyak yang telah dibuat untuk memungkinkan perjalanan internasional yang aman, kami sadar bahwa krisis masih jauh dari selesai.
 
 

 

Menurut Pololikashvili, banyak negara berusaha membuat harmonisasi, koordinasi, dan digitalisasi di sektor pariwisata untuk mengurangi faktor risiko yang terkait dengan penyebaran Covid-19. Para pemimpin negara pun sudah memerintahkan seluruh jajaran mereka untuk melalukan pembuatan, pelacakan, pengujian, dan sertifikat vaksin.

Mereka menganggap langkah tersebut sebagai fondasi penting untuk mempromosikan perjalanan yang aman dan mempersiapkan pemulihan pariwisata. Namun, langkah tersebut belum membawa hasil yang memuaskan.

Nyaris semua negara, ungkap Pololikashvili, mengandalkan sektor pariwisata sebagai sumber pendapatan negara. “Semua negara, baik yang masih berkembang maupun negara maju, jutaan pekerjaan dan bisnis bergantung pada sektor pariwisata yang kuat dan berkembang,” jelas Pololikashvili. “Pariwisata juga telah menjadi kekuatan pendorong dalam melindungi warisan alam dan budaya, melestarikannya untuk dinikmati oleh generasi mendatang."

 
Semua negara, baik yang masih berkembang maupun negara maju, jutaan pekerjaan dan bisnis bergantung pada sektor pariwisata yang kuat dan berkembang.
 
 

 

Terjun bebas wisata global telah menghilangkan potensi pendapatan ekspor dari wisata hingga 1,3 triliun dolar AS pada 2020 lalu. Jumlah kehilangan penerimaan tersebut lebih buruk 11 kali lipat dibandingkan saat terjadi resesi pariwisata global pada 2009 silam. Potensi penerimaan langsung dari turis sebesar 850 juta dolar AS hingga 1,1 miliar dolar AS sirna karena pandemi.

photo
Pengunjung berswafoto di jembatan irigasi air peninggalan zaman kolonial Belanda, kawasan Perkebunan PTPN VIII Dayeuhmanggung, Cilawu, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Jumat (22/01/2021). Jembatan irigasi air sepanjang 200 meter yang dibangun pada tahun 1913 oleh kolonial Belanda tersebut menjadi daya tarik wisatawan dengan suasana perkebunan teh dan pemandangan gunung Cikuray. - (CANDRA YANUARSYAH/ANTARA FOTO)

Banyak belum optimistis

Survei panel ahli UNWTO terbaru menunjukkan, ada perkiraan yang beragam terhadap prospek industri pariwisata internasional pada 2021. Hasil survei mencatat, hampir setengah dari responden (45 persen) memperkirakan akan muncul prospek yang lebih baik pada 2021 ini dibandingkan dengan kondisi tahun lalu.

Namun, 25 persen memperkirakan kinerja pariwisata 2021 akan sama dengan 2020. Sebanyak 30 persen memperkirakan performa wisata global 2021 bakal lebih buruk dibandingkan 2020. 

Prospek keseluruhan, para ahli memperkirakan rebound kinerja wisata pada 2021 masih memburuk. Bahkan, 50 persen responden saat ini memprediksi rebound hanya akan terjadi pada 2022 mendatang. Perkiraan ini jauh lebih memprihatinkan karena survei Oktober 2020 menyebut hanya 21 persen.

Separuh responden lainnya masih melihat ada potensi rebound pada 2021 meskipun di bawah ekspektasi yang pernah diperkirakan dalam survei Oktober 2020 (79 persen memperkirakan pemulihan pada 2021).

Para ahli memperkirakan pariwisata terbuka dan berbasis alam akan menjadi pelecut pertumbuhan kinerja wisata global. Permintaan terhadap aktivitas pariwisata terbuka dan berbasis alam ini diperkirakan akan meningkat. Pariwisata domestik dan perjalanan singkat juga kemungkinan akan semakin diminati.

 
Sebagian besar pakar mengamati industri pariwisata tak akan bisa kembali seperti kondisi prapandemi sebelum 2023 mendatang.
 
 

 

Meski demikian, sebagian besar pakar mengamati industri pariwisata tak akan bisa kembali seperti kondisi prapandemi sebelum 2023 mendatang. Faktanya, ada 43 persen responden menunjuk ke 2023, sementara 41 persen memprediksi bisa kembali ke level 2019 pada 2024 atau bahkan lebih lama lagi. 

Mempertimbangkan analisis pakar tersebut, tampaknya perlu waktu dua setengah hingga empat tahun bagi pariwisata internasional untuk kembali ke level 2019. Mereka menilai kehadiran vaksin Covid-19 bisa membantu memulihkan kepercayaan konsumen dan akan berkontribusi meringankan pembatasan perjalanan. Ini tentu secara perlahan-lahan membantu menormalkan perjalanan pada tahun-tahun mendatang.

Thailand pun menjadi salah satu negara yang terpapar dampak korona. Industri wisata negara ini benar-benar kolaps. Padahal, selama ini Thailand menjadi negara yang menunjukkan kinerja paling cemerlang di kawasan Asia dan sesama negara anggota ASEAN. Bahkan, di level dunia Thailand mampu menjadi destinasi utama bagi para turis asing.

photo
Sejumlah wisatawan berkunjung ke kawasan ekowisata mangrove Desa Gampong Baro Sayeung, Kecamatan Setia Bakti, Aceh Jaya, Aceh, Sabtu (30/1/2021). Kawasan ekowisata mangrove yang juga berfungsi sebagai kawasan konservasi seluas 300 hektare tersebut merupakan salah satu destinasi wisata andalan setempat yang ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara. - (SYIFA YULINNAS/ANTARA FOTO)

Menteri Pariwisata dan Olahraga Thailand Phiphat Ratchakitprakarn mengaku tak bisa menentukan kepastian waktu industri wisata negaranya pulih. Yang pasti, jumlah kunjungan wisata di Thailand merosot tajam dari 39,8 juta pada 2019 hanya menjadi 6,7 juta pada 2020. Artinya, terjadi penurunan sampai 83,2 persen pada 2020 dibandingkan 2019. Penurunan ini jauh lebih tinggi dibandingkan angka global yang mencapai 73,9 persen.

Ratchakitprakarn menyatakan, penurunan jumlah kunjungan wisatawan di Thailand sebagai dampak langsung dari pandemi Covid-19. Apalagi, negaranya juga melarang warga negara asing masuk ke seluruh wilayah Thailand pada Maret hingga Agustus 2020. Ini menjadi sejarah terburuk pariwisata sejak 2008 silam.

Melihat kondisi seperti itu, Ratchakitprakarn pun mengajukan suntikan dana khusus untuk membangkitkan pariwisata. Selain kontribusinya yang besar terhadap produk domestik bruto, sektor pariwisata juga mampu menciptakan tenaga kerja yang masif. Dia menyatakan, perlu dana khusus untuk menyuntik 2,5 juta pekerja di garis depan sektor pariwisata agar bisa bangkit dari keterpurukan.

Ratchakitprakarn berharap secara bertahap pariwisata Thailand bisa pulih. Dia ingin bisa menarik 20,5 juta kunjungan wisata pada 2021. Namun, Gubernur Bank Thailand Sethaput Suthiwartnarueput tak yakin angka itu bisa tercapai. Yang masuk akal, menurut Suthiwartnarueput, jumlah kunjungan hanya bisa tembus pada angka 9,0 juta pada 2021 ini.

Karena pandemi Covid-19 jelas-jelas berimbas langsung terhadap kinerja pariwisata, solusinya hanya satu, yaitu mematahkan penyebaran virus. Pada saat yang sama, wabah berhenti di level global. Selama penyebaran virus masih terjadi, tampaknya mustahil kinerja pariwisata global tahun ini bakal lebih baik dari tahun sebelumnya.


×