Branding baru ekonomi syariah yang diresmikan Presiden Joko Widodo. | KNEKS
11 Feb 2021, 07:45 WIB

KNEKS Promosikan Jenama Ekonomi Syariah

Semua pegiat yang berhubungan dengan ekonomi syariah dapat mencantumkan jenama tersebut.

 

JAKARTA -- Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) menyusun rencana mempopulerkan logo dan jenama ekonomi syariah. Direktur KNEKS Ventje Rahardjo menyampaikan, jenama yang sudah diluncurkan oleh Presiden Joko Widodo merepresentasikan semangat seluruh pegiat ekonomi syariah.

"Kita ajak semua pihak, para pegiat ekonomi syariah untuk menggunakan logo ini sebagai bukti berjamaah, semangat bersama memajukan ekonomi syariah Indonesia," katanya dalam Sosialisasi Virtual Brand Ekonomi Syariah dan Panduan Penggunaan, Rabu (10/2).

Saat ini logo tersebut telah dilepas kepada masyarakat untuk dimanfaatkan secara baik. Semua pegiat maupun gerakan yang berhubungan dengan ekonomi syariah dapat mencantumkan jenama tersebut mulai dari sektor keuangan syariah, dana sosial, hingga industri halal.

Terkait

Saat ini tidak ada pagar tinggi untuk penggunaan logo yang dipilih oleh Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin sebagai Ketua Harian KNEKS. Dengan segala karakteristik dan filosofinya, logo tersebut diharapkan menciptakan citra yang aman, damai, dan teduh. "Sehingga jangan sampai ada yang ingin memanfaatkan logo di ajang non-syariah," katanya.

Ventje menyampaikan, jenama ekonomi syariah tersebut dipilih setelah melalui proses penjurian panjang. Sebanyak 870 karya masuk dipilih oleh kelompok dewan juri yang terdiri atas perwakilan seluruh kementerian/lembaga anggota KNEKS.

Kemudian, proses itu mengerucut menjadi lima logo tersisa. Kiai Ma’ruf menjadi penentu satu logo terpilih yang kemudian diluncurkan bersamaan dengan peluncuran Gerakan Nasional Wakaf Uang (GNWU).

KNEKS berharap jenama ini dapat menyatukan semangat para pemangku kepentingan dan insan pegiat ekonomi syariah. Sehingga semangat tinggi ini bisa berpengaruh pada tingkat literasi, inklusi, serta pangsa pasar ekonomi syariah.

"Selama ini kita terganggu dengan pertanyaan kenapa market share dan literasi rendah padahal semangat kita sudah tinggi. Maka semoga ini bisa lebih menyatukan kita semua," katanya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by KNEKS (kneks.id)

Direktur Infrastruktur Ekosistem Syariah KNEKS Sutan Emir Hidayat mengatakan, pihaknya saat ini sedang merancang strategi sosialisasi jenama ekonomi syariah. Strategi ini kemudian akan menjadi arah penyebaran logo sesuai dengan misi yang dituju.

"Segera setelah strategi sosialisasi dan komunikasi ini selesai maka akan kita sampaikan," katanya.

Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengungkapkan empat strategi yang harus dipenuhi lembaga keuangan syariah khususnya perbankan syariah agar menjadi raksasa di sektor keuangan.

“Kalau itu bisa dilakukan otomatis market share perbankan syariah akan mendominasi,” kata Wimboh dalam sebuah webinar terkait perbankan syariah.

Menurut dia, empat strategi itu adalah produk yang bervariasi, harga yang murah, kualitas produk yang bagus, dan layanan yang bisa diakses dengan mudah oleh masyarakat. Wimboh menyampaikan, Indonesia memiliki skala lembaga keuangan syariah yang kompetitif. Salah satu implementasi strategi tersebut yakni lahirnya Bank Syariah Indonesia (BSI) hasil merger tiga anak usaha BUMN.

“Ini baru satu step, kelahiran sebuah bayi baru. Kita harapkan ini menjadi raksasa besar yang diidamkan masyarakat sudah cukup lama,” kata Wimboh.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Otoritas Jasa Keuangan (ojkindonesia)

Wimboh mengatakan, sejak 2000, ada cita-cita mendorong perbankan syariah memiliki pangsa pasar 20 persen dari total industri yang hingga kini masih sulit diwujudkan. Tantangannya, kata dia, belum terbentuknya ekosistem syariah yang terbangun solid, tidak hanya dari lembaga keuangan tetapi juga ekonomi dan gaya hidup syariah.

“Ibaratnya lembaga keuangan (syariah) seperti bus, tapi orang yang diangkut belum cukup, sehingga tidak penuh, otomatis tidak ekonomis,” katanya.

OJK mencatat proporsi total aset keuangan syariah baru mencapai 9,9 persen, sedangkan sisanya dimiliki keuangan konvensional, padahal Indonesia memiliki potensi besar yakni 87 persen atau sekitar 230 juta jiwa adalah Muslim.

Sementara itu, literasi dan inklusi terkait syariah juga tergolong rendah yakni masing-masing 8,93 persen dan 9,1 persen. Sedangkan literasi dan inklusi keuangan masing-masing mencapai 38,03 persen dan 76,19 persen.

PT Bank Syariah Indonesia (BSI) Tbk membidik target pembiayaan Rp272 triliun dan pendanaan mencapai Rp 336 triliun pada 2025. Direktur Utama BSI Hery Gunardi optimistis, BSI mampu merealisasikan target tersebut karena memiliki peluang untuk tumbuh dan berdaya tahan.

“Kami harus hadir dengan layanan yang inovatif,” ujar Hery.


×