Kuliner tradisional (ilustrasi) | Budi Candra Setya/Antara
01 Feb 2021, 07:26 WIB

Sukses Berwirausaha Saat Pandemi

Ada kiat khusus agar usaha sukses meski saat pandemi.

Pada 2005 silam, Resika Caesaria sempat bertukar resep dengan pedagang cimol. Ketika itu perempuan yang akrab disapa Cika itu memberikan resep batagor dan ia menerima resep cimol. Rupanya, dari resep cimol itulah kisah sukses Cika yang dikenal sebagai “Ratu Cimol” tersebut dimulai.

Dari modal Rp 60 ribuan saat itu, sekarang perputaran omzet usaha Ratu Cimol Banyumas miliknya sudah mencapai puluhan miliar per tahun. Hasil itu dicapainya dalam rentang 15 tahun dari total 600-an mitra tapi yang aktif sekitar 400 mitra. “Dulu enggak berpikir gimana-gimana, hanya untuk bekal sekolah, akhirnya didukung keluarga, order ulang tinggi jadi fokus inovasi di produk ini,” ujar Cika.

Cika mengakui keinginan untuk mengembangkan usaha memang berawal dari dorongan untuk memikirkan biaya hidup dan sekolah saat hendak memasuki sekolah menengah atas. Dia pun sempat mengalami kegagalan ketika berjualan roti hingga batagor. Namun, kendala itu tak lantas membuatnya patah arang.

Bagi Cika, untuk memulai wirausaha, satu hal yang penting adalah si pelaku menyukai bidang usaha tersebut. Seperti halnya ia yang memang sedari awal menyukai makanan, jajanan pasar, termasuk di antaranya camilan cimol.

Terkait

Setiap bepergian, perempuan berusia 30 tahun itu mengaku kerap membeli cimol dari para pedagang yang ia temui. Sering kali ia juga belajar langsung dari para pedagang tersebut. Dari situlah, menurut Cika, juga menjadi bahan evaluasi bagi bisnisnya sendiri. "Apa yang berbeda dari usaha kita dan mengapa orang harus beli cimol kita?" ujarnya sedikit mengenang.

Cika mulai menciptakan olahan cimol yang bervariasi dan inovasi tanpa henti. Seiring perjalanannya, manajemen yang baik juga menjadi landasan penting pengembangan usaha. “Dulu hanya berpikir bagaimana kalau tidak laku? Tapi ketika semakin berkembang, tantangannya menjadi kendala di manajemen,” kata penerima Apresiasi Semangat Astra Terpadu untuk (SATU) Indonesia Awards 2014 bidang kewirausahaan itu.

Cika juga menekankan pentingnya untuk membedakan keuangan pribadi dan bisnis. "Harus ada pembukuan keuangan yang jelas karena tantangan akan semakin kompleks termasuk persoalan sumber daya manusia (SDM), manajemen produk hingga permintaan pasar," kata dia.

Tak kalah inspiratif adalah Cika menjadikan model usahanya dalam bentuk program sosial. Sistem sosial ini dibuat untuk membantu individu membangun usaha mandiri tanpa keluar modal asalkan memenuhi syarat.

Syaratnya cukup sederhana, yaitu orang tidak mampu selayaknya prosedur standar perusahaan (SOP) namun persetujuan dikembalikan lagi kepadanya sebagai pemilik usaha. “Misalnya gaji di bawah UMR. Atau kalau gaji di atas UMR tapi enggak cukup karena anak banyak, belum punya rumah atau apa, biasanya saya terima,” kata Cika lagi.

Mitra yang diterima akan diberi permodalan yang lengkap, mulai dari tempat usaha, barang hingga produk usaha. Lebih dari itu, Cika mengaku hanya menggunakan keuntungan sekadarnya karena setiap pemasukan diputar kembali untuk modal usaha.

Cika membagi pemasukan dengan 70 persen untuk pengembangan dan 30 persen untuk sosial. Program sosial memberikan fasilitas gratis yang biasanya seharusnya dibayar para mitra sekitar Rp 3-4 juta.

Program sosial ini diakui Cika memang sebagai ajang balas dendam. Ia masih ingat bagaimana dahulu susahnya mencari bantuan untuk keluar dari masalah ekonomi yang mengimpitnya.

Bagi dia, banyak pelaku wirausaha yang meraih keuntungan, tapi ia ingin tak sekadar untung, melainkan menjadikan keuntungan untuk berbagi kepada sebanyak mungkin sesama. “Jadi bukan berarti bantu orang tidak untung, justru harus untung. Kalau tidak, bagaimana bantu orang,” ujarnya.

 

 
Jadi bukan berarti bantu orang tidak untung, justru harus untung. Kalau tidak, bagaimana bantu orang.
Resika Caesaria
 

Roda Penggerak Ekonomi

Sepenggal kisah dari Cika dapat menjadi inspirasi bagi siapa pun yang hendak meretas jalan sebagai wirausaha. Bidang kewirausahaan bukan hanya merupakan salah satu alternatif profesi yang dapat dipilih oleh para mahasiswa selepas meraih jenjang akademis, tapi juga merupakan salah satu roda penggerak perekonomian yang berdampak positif.

Di samping mampu menjadi pencipta lapangan pekerjaan, kewirausahaan juga mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi bangsa agar menjadi lebih mandiri. Terlebih berbagai peluang usaha yang potensial pun bisa berkembang hingga akhirnya mampu mendongkrak pula industri terkait.

Sayangnya, menurut data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah per November 2020, tingkat kewirausahaan di Indonesia masih lebih rendah dibandingkan negara-negara tetangga di Asia Tenggara, yaitu 3,47 persen. Bandingkan dengan Singapura yang hampir mencapai sembilan persen atau Malaysia dan Thailand yang hampir mencapai lima persen. “Sebagai salah satu pelaku wirausaha, saya pun mendapatkan banyak pengetahuan baru yang berharga,” ujar Dian Sastrowardoyo, pekerja seni dan moderator ajang virtual yang berlangsung di pengujung 2020 ini.

Dengan semangat mendukung pertumbuhan tingkat kewirausahaan di Indonesia terutama kepada para mahasiswa, Yayasan Dian Sastrowardoyo dan Magnifique menggelar ajang yang mengusung tema belajar menjadi wirausaha muda. ''Kewirausahaan memang bukan suatu hal yang mudah untuk dilakukan. Tetapi tetap perlu diperkenalkan pada para mahasiswa melalui berbagi pengalaman dari pelaku yang telah sukses menjalankannya,'' ujar Dian.

 

photo
Kuliner tradisional (ilustrasi) - (Iggoy El Fitra/Antara)

 

Manfaatkan Dunia Maya

Kondisi yang sulit di masa pandemi Covid 19 yang sudah berlangsung hampir satu tahun ini menghadirkan harapan baru untuk para pelaku wirausaha.

Bahkan Ketua Forum UMKM Kecamatan Umbulharjo Yogyakarta Tuliswati menyebut di masa pandemi seperti saat ini pesanan produk kuliner justru lebih laris manis dari pemesanan secara daring melalui media sosial.

Bagi Tuliswati dan pelaku UMKM lainnya, semakin banyak media sosial dan marketplace yang diikuti untuk memasarkan produk maka semakin besar pula peluang mereka untuk mengenalkan dan memasarkan produk serta memperoleh pembeli.

Di masa pandemi yang cukup sulit seperti saat ini, pelaku UMKM di Yogyakarta berharap agar ada program untuk saling membuat laris atau membeli produk antar UMKM sehingga terjadi pergerakan ekonomi.

Namun demikian, mudahnya pemasaran dari ruang-ruang maya tanpa batas ini ternyata tidak seluruhnya dirasakan oleh pelaku UMKM karena masih ada yang justru mengalami kesulitan untuk melakukan pemasaran secara daring.

Seperti yang dialami Miftahudin Nur Ihsan yang merintis usaha batik berlabel Smart Batik yang mengusung konsep batik dengan desain tematik unik.

Karena segmen pasar yang disasar adalah segmen khusus, maka pesanan secara daring justru tidak mudah diperoleh. Bahkan 99 persen pesanan masih berasal secara luring atau lewat toko biasa dan hanya satu persen saja pesanan yang masuk secara daring.

Meskipun demikian, upaya pemasaran produk secara daring tetap dilakukan melalui banyak media, media sosial, marketplace hingga website yang dikelola secara mandiri.

Menurut pewirausaha muda yang banyak memenangkan penghargaan tersebut, kunci untuk menguasai pemasaran secara daring adalah menyiapkan produk berkualitas dengan harga bersaing serta menguasai celah untuk menempatkan iklan produk di tempat yang tepat sehingga mudah dikenal oleh calon konsumen.

Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi mengingatkan agar pelaku wirausaha berusaha untuk terus meningkatkan literasi digital agar tidak ada lagi gap antara cepatnya perkembangan teknologi, perilaku konsumen dan layanan terbaik yang ditawarkan pelaku usaha.

Literasi digital untuk pelaku suaha tidak hanya dilakukan dengan mengenalkan pelaku usaha dengan pemasaran daring tetapi juga mengenalkan pelaku usaha dengan layanan pembayaran daring yang sudah semakin mudah dan aman.

 

 

Sumber : Antara


×