Pegawai bank syariah (kanan) berbincang dengan nasabah UMKM Suroso (tengah) saat melakukan monitoring produksi mie ayam miliknya di kawasan Depok, Jawa Barat, Selasa (22/12/2020). | Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO
25 Jan 2021, 03:00 WIB

Syariah Kunci Pemulihan

Erick Thohir terpilih sebagai ketua umum Masyarakat Ekonomi Syariah.

JAKARTA -- Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin mendorong ekonomi syariah dioptimalkan dalam mendukung perekonomian nasional. Kiai Ma'ruf berharap ekonomi dan keuangan syariah dapat memainkan peran dalam pemulihan ekonomi Indonesia pada masa pandemi ini.

"Ekonomi syariah sebagai ekonomi iqtishadiyah ishlahiyah (ekonomi perbaikan) dan Islam sebagai dinul ishlah (agama perbaikan) harus bisa menjadi pemicu bagi penguatan dan pemulihan ekonomi nasional," kata Kiai Ma'ruf saat hadir secara virtual di acara Munas V Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Sabtu (23/1).

Salah satu dampak pandemi yang akan segera terlihat, ungkap Kiai Ma'ruf, adalah meningkatnya kemiskinan dan ketimpangan. "Diperlukan dukungan dan komitmen yang sungguh-sungguh, termasuk dari Masyarakat Ekonomi Syariah agar perkembangan ekonomi dan keuangan syariah dapat semakin cepat dalam mendukung perekonomian nasional untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat," kata Kiai Ma’ruf.

Dalam Munas V MES akhir pekan lalu, dilakukan juga pergantian pimpinan. Menteri BUMN Erick Thohir terpilih sebagai ketua umum MES periode 2021-2024 menggantikan ketua sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso. “Dipilihnya Pak Erick Thohir sebagai ketua umum MES yang baru ini melalui proses penyaringan yang cukup panjang. Banyak aspek yang dipertimbangkan, mulai dari kualifikasi, kompetensi, hingga komitmen terkait pengembangan ekonomi syariah,” ujar Kiai Ma’ruf selaku ketua tim formatur. 

Terkait

Erick Thohir menyampaikan, terpilihnya dia merupakan sebuah amanah. Erick ingin membuktikan bahwa kondisi pandemi saat ini justru menjadi peluang bagi ekonomi syariah untuk bangkit dari krisis.

“Kondisi pandemi harus menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa ekonomi syariah memiliki daya tahan lebih baik terhadap gejolak dan krisis,” kata Erick. Dia meminta seluruh pemangku kepentingan bersama masyarakat harus menyiapkan fondasi yang kuat sejak saat ini. "Kita harus tetap optimistis karena saya yakin Indonesia akan bangkit ekonominya pada tahun 2022," ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Erick langsung memaparkan beberapa gambaran program yang akan dia lakukan selama menjabat empat tahun ke depan. Pertama, mengembangan pasar industri halal di dalam dan luar negeri. "Ini harus kita tingkatkan apalagi sekarang tren digital sudah terjadi. Suka tidak suka, kita harus memperkuat fintech dan industri keuangan syariah secara modern tanpa meninggalkan kearifan lokal," ujarnya.

Menurut Erick, keuangan syariah harus mendorong iklim investasi yang bersahabat. Melibatkan pengusaha daerah agar kesenjangan yang terjadi di tengah masyarakat bisa diperkecil. Karena itu, keuangan syariah harus bisa melahirkan bibit-bibit pengusaha daerah yang berperan besar dalam membangun wilayah masing-masing.

"Kemudian, pembinaan yang dimulai dari perdesaan secara berkelanjutan agar kita memiliki fondasi keuangan syariah yang kuat dimulai dari titik nol di desa," katanya. Dalam sambutannya, Wimboh Santoso menyatakan, pertumbuhan keuangan syariah secara keseluruhan pada 2020 mencapai 21,58 persen, naik dari tahun sebelumnya 13,84 persen.

Khusus pada pembiayaan perbankan syariah mengalami pertumbuhan 9,5 persen, di saat adanya kontraksi pembiayaan bank konvensional yang minus 2,41 persen. Adapun pada 2019, laju pertumbuhan ekonomi syariah Indonesia tercatat 5,27 persen; lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional yang 5,02 persen.

Karena itu, menurut Wimboh, pemerintah memiliki fokus untuk terus mengembangkan ekosistem syariah lewat industrialisasi produk halal. "Kita ada 87 persen atau setara 230 juta penduduk Muslim. Ini potensi untuk dikembangkan menjadi demand (pasar) luar biasa untuk diakses keuangan syariah," kata Wimboh.

Meski begitu, ia juga mencatat proporsi total aset keuangan syariah dari total aset keuangan keseluruhan di Indonesia baru mencapai 9,9 persen. "Ini masih jauh dari yang dicita-citakan 20 tahun lalu, yaitu 20 persen. Kenapa? karena pertumbuhan ekonomi lebih didorong oleh konvensional," kata Wimboh.

Ia mengatakan, kondisi tersebut menjadi tantangan para pegiat keuangan syariah ke depan untuk terus meningkatkan pangsa pasar. Selain itu, perlu juga mengembangkan model bisnis produk keuangan syariah serta adopsi teknologi digital. 

photo
Nasabah Bank Wakaf Mikro Almuna Bekah Mandiri Endang Puruitanti (61) berpose di depan usaha warung kelontong miliknya di Krapyak, Bantul, DI Yogyakarta. - (ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah)

Perhatikan UMKM

Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto berharap Menteri BUMN Erick Thohir dapat mendorong pengembangan produk ekonomi syariah. Utamaya dalam menjangkau pelaku UMKM dan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

"Terkait pengembangan ke depan, mudah-mudahan Bapak Menteri BUMN Erick Thohir bisa melihat urgensi pengembangan produk ekonomi syariah di Indonesia bisa menjangkau hingga pelaku ekonomi bawah yakni UMKM dan masyarakat berpenghasilan rendah," ujar Eko saat dihubungi Antara di Jakarta, Sabtu (23/1).

Menurut dia, jika UMKM dan MBR bisa mendapatkan akses permodalan serta KPR melalui kanal syariah, maka hal tersebut bisa menjadi investasi jangka panjang untuk kegiatan perekonomian syariah. Masyarakat umum akhirnya bisa melihat dan merasakan manfaat pembiayaan dari perekonomian syariah, serta melihatnya lebih menguntungkan.

"Cara agar UMKM dan MBR bisa merasakan beragam manfaat perekonomian syariah adalah dengan mempermudah mereka untuk mengakses pembiayaan," kata ekonom Indef tersebut. 

Dia memandang sebetulnya secara keseluruhan perkembangan ekonomi syariah yang sedemikian pesat di era Presiden Joko Widodo merupakan imbas dari dampak positif dari percepatan digitalisasi. Misalnya fintech yang memicu berbagai jenis turunan produk ekonomi syariah sedemikian banyaknya seperti asuransi syariah, fintech syariah, pendanaan syariah untuk perumahan dan sebagainya.

Meski secara keseluruhan perekonomian syariah belum bisa mengimbangi perekonomian konvensional, namun diferensiasi produk ekonomi syariah sekarang semakin banyak sebagai akibat buah dari pesatnya kemajuan teknologi informasi. 

"Saya juga melihat ada momentum untuk melakukan transformasi ekonomi syariah, salah satunya melalui merger tiga bank syariah BUMN menjadi Bank Syariah Indonesia. Ini harus dilakukan karena kalau tidak skala bank syariah tidak mengalami peningkatan, dan pada akhirnya tidak memiliki kompetensi untuk bersaing dengan bank-bank konvensional," kata dia.

Ketua bidang syariah Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), Lutfi Adiansyah berharap Erick Thohir dapat melahirkan terobosan-terobosan strategi dalam mensinergikan Bank Syariah Indonesia (BSI) dan fintech syariah.

"Kita tahu bahwa sektor perbankan sangat erat kaitannya dengan fintech syariah, bukan bersaing melainkan berkolaborasi, sehingga kalau kaitan langsungnya yang kami harapkan adalah harus ada terobosan-terobosan sinergi Bank Syariah Indonesia yang baru merger dengan pelaku fintech syariah," ujar Lutfi, Ahad.

Menurut dia, sebelumnya infrastruktur perbankan syariah sangat tertinggal. Diharapkan dengan adanya merger tiga bank syariah yang kemudian memiliki total aset lebih besar tentunya memiliki infrastruktur lebih kuat setelah bergabung.

Dia juga melihat bahwa MES ini sebenarnya sebuah organisasi yang biasa mengawal kebijakan-kebijakan strategis pemerintah yang berkaitan dengan ekonomi syariah.

"Saya berharap nilai-nilai tersebut muncul kembali karena saya yakin pada tahun 2021 menuju ke 2024, terlebih lagi dengan adanya badan-badan seperti Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) maka diperlukan adanya sinergi antara regulator, akademisi, pelaku usaha dan masyarakat sehingga bisa melahirkan visi dan misi yang sama," kata Lutfi.

Rencana induk atau Masterplan Ekonomi Syariah 2019-2024, salah satu visinya adalah menginginkan Indonesia menjadi pusat halal dunia. Untuk menjadi pusat halal dunia, menurut dia, membutuhkan partisipasi banyak pemangku kepentingan ekonomi syariah, sehingga hal ini perlu diselaraskan (alignment).

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Otoritas Jasa Keuangan (ojkindonesia)

"MES juga menjadi bagian dari melakukan alignment para pakar dan masyarakat berkumpul di situ sehingga saya berharap dengan kepemimpinan Bapak Erick Thohir akan terdapat terobosan-terobosan strategis," kata Lutfi.

Dia juga berharap MES di bawah kepemimpinan Erick Thohir dapat membahas dan mencarikan solusi terhadap sejumlah tantangan dalam pengembangan infrastruktur ekonomi syariah di Indonesia. Salah satunya mengenai unit usaha syariah (UUS).

"Saya melihat sosok Bapak Erick Thohir saat ini strategis mengingat beliau adalah Menteri BUMN dan sekarang sedang menggabungkan (merger) tiga bank syariah BUMN terbesar," kata Lutfi Adiansyah. 

Sumber : Antara


×