Merasa cemas (ilustrasi) | Unsplash
25 Jan 2021, 10:09 WIB

Tak Lagi Cemas Didera Pandemi

Ada rasa cemas ketika berinteraksi dengan orang lain.

Sudah satu tahun berlalu sejak pandemi Covid-19 pertama kali terjadi. Selama itu pula, orang-orang dituntut untuk beradaptasi dengan kondisi dan kebiasaan yang baru. Bagi sebagian orang, perubahan ini dapat memicu munculnya kecemasan sosial.

Kecemasan sosial merupakan kondisi di mana seseorang merasa cemas dan takut ketika bersosialisasi atau berinteraksi dengan orang lain. Kecemasan sosial biasanya memunculkan gejala seperti berkeringat dingin, gemetar, jantung berdebar kencang, ketegangan otot, nyeri, mual, hingga pusing. Gejala ini juga bisa berupa munculnya perasaan ingin melarikan diri hingga ingin menghindar.

Selain itu, orang-orang yang mengalami kecemasan sosial sering kali menghindari orang-orang yang mereka anggap punya kedudukan lebih tinggi. Perasaan ini bahkan bisa muncul pada anggota keluarga, seperti paman atau bibi.

"Kecemasan yang intens secara terus-menerus dari penderita kecemasan sosial dapat mempengaruhi kesehatan fisik, atau dikenal dengan istilah psikosomatik," jelas psikiater dan ahli psikosomatis dr Andri SpKJ FACLP, dalam ajang pertemuan virtual pada Desember lalu.

Terkait

Psikosomatik, lanjut Andri, merupakan keluhan fisik yang timbul karena dipengaruhi oleh pikiran atau emosi. Keluhan ini tidak dipicu oleh alasan-alasan fisik seperti luka atau infeksi.

Andri mengungkapkan ada tiga organ utama yang berkaitan dengan gangguan psikosimatik ini. Ketiga organ tersebut adalah jantung, lambung, dan paru-paru. Oleh karena itu, gejala fisik yang muncul kerap berhubungan dengan ketiga organ tersebut. Misalnya jantung berdebar-debar, rasa ingin muntah, rasa seperti tercekik sehingga sulit untuk bicara.

 

photo
Merasa cemas (ilustrasi) - (Freepik)

Dua terapi

Terkait pengobatan, Andri mengatakan ada dua jenis terapi yang dapat diberikan sesuai kondisi pasien. Kedua terapi tersebut adalah dengan obat dan psikoterapi. "Tidak cukup obat saja, perlu latihan, desensitisasinya," ujar Andri.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah desensitisasi merujuk pada usaha menghilangkan suatu kompleks emosi.

Ada pula beberapa teknik yang bisa dilakukan untuk mengelola kecemasan dalam berkegiatan sehari-hari. Misalnya, membekali diri dengan informasi terkini agar bisa melakukan pembicaraan kecil dengan orang lain. Selain itu, memperbaiki pola makan dan melakukan olahraga secara teratur juga dapat menurunkan kecemasan.

Andri mengatakan tidak semua perasaan cemas merupakan sebuah gangguan kecemasan. Terkadang kecemasan yang muncul hanya kecemasan biasa. Bila perasaan cemas muncul, Andri menyarankan untuk membicarakan kecemasan tersebut dengan orang lain atau pilih teman bicara yang bisa mendengarkan tanpa bersikap menghakimi.

Andri menambahkan, saat ini ada beragam layanan kesehatan jiwa yang bisa diakses oleh masyarakat dengan mudah. Di laman Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), misalnya, tersedia layanan konsultasi kesehatan jiwa yang bisa diakses oleh masyarakat.

Kementerian Kesehatan RI, lanjut Andri, juga sudah menyediakan aplikasi SehatPedia. Melalui aplikasi ini, masyarakat juga bisa berkonsultasi dengan dokter spesialis kedokteran jiwa atau psikiater. "Kalau mau tahu kita cemas atau tidak (bisa mengakses layanan-layanan tersebut)," papar Andri. 

Bermedia Sosial dengan Bijak

Di masa pandemi, penggunaan media sosial yang berlebih juga dinilai dapat menjadi salah satu pemicu kecemasan sosial. Seperti diketahui, saat ini beragam kegiatan seperti bekerja hingga bersekolah lebih banyak dialihkan menjadi kegiatan daring.

Setelah berkegiatan daring lewat gawai, tak jarang orang-orang mencari hiburan atau berinteraksi dengan teman secara daring pula. Umumnya, platform yang paling sering digunakan adalah media sosial. "Sudah selesai tugas, kerja beres, buka Instagram, TikTok, dan sebagainya," jelas Content Creator Kesehatan Mental dan pemilik akun Instagram @mudahbergaul Dimas Alwin.

Tanpa disadari, Dimas mengatakan kondisi ini mendorong orang-orang menjadi lebih sering berinteraksi dengan layar ponsel dibandingkan berinteraksi secara langsung. Karena terlalu sering berinteraksi secara daring melalui media sosial, sebagian orang mungkin menjadi lupa bagaimana cara berhubungan secara nyata ketika bertemu dengan orang lain. "That's it, kecemasan sosial akan muncul," ujar Dimas.

Dimas mengatakan kecemasan sosial bisa dialami oleh siapa saja. Akan tetapi dalam kondisi pandemi, Dimas menilai anak muda cenderung lebih rentan untuk terdampak.

Dimas membagikan beberapa tip untuk mengatasi atau mencegah kecemasan sosial dalam situasi pandemi ini. Salah satunya adalah menggunakan media sosial secara bijak, baik dari segi intensitas waktu maupun tujuan pengunaannya.

Selain itu, Dimas juga menyarankan untuk memperbanyak interaksi dengan orang lain secara nyata. Dalam situasi pandemi, interaksi ini bisa dilakukan dengan orang-orang yang tinggal serumah. Misalnya, dengan orang tua, kakak dan adik, teman kost, hingga ibu indekos. "Kita mungkin sering di kamar untuk (kerja atau belajar) daring, tapi jangan lupa ngobrol sama orang tua, kakak, atau kalau di tempat indekos coba sama ibu kos," tambah Dimas.

Hal lain yang bisa dicoba adalah melakukan aktivitas bersama dengan orang lain. Misalnya olahraga atau kerja bersama orang lain, tentu dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Selain itu, penting juga untuk mengevaluasi kecemasan yang dirasakan. Pahami apa yang menjadi sumber kecemasan atau ketakutan. Dengan memahami sumbernya, akan lebih mudah untuk mencari solusinya.

Akan tetapi, mencari sumber kecemasan terkadang tidak mudah untuk dilakukan. Dalam situasi seperti ini, tak ada salahnya untuk berkonsultasi dengan ahlinya yaitu psikolog atau psikiater. "Bila merasa tidak bisa menangani semua sendirian, bisa konsultasi dengan psikolog atau psikiater," kata Dimas dengan nada tegas.

 

 
Bila merasa tidak bisa menangani semua sendirian, bisa konsultasi dengan psikolog atau psikiater.
Dimas Alwin
 

 

Perhatikan Kesehatan Mental

Masa pandemi Covid-19 tak pelak turut berpengaruh pada kesehatan mental. ''Misalnya meningkatnya rasa bosan, kecemasan, maupun kelelahan fisik, terutama bagi tenaga kesehatan," kata dosen Fakultas Psikologi UI Dini Rahma Bintari, Ph.D.

Menurut Dini, kesehatan mental adalah keadaan sejahtera setiap individu dengan menyadari potensi yang dimilikinya, di antaranya ditandai dengan kemampuan untuk bekerja secara produktif. Kesehatan mental ini, kata dia,  memiliki hubungan erat dengan kesehatan tubuh, termasuk dalam hal imunitas.

Menurut dia gejala kesehatan mental yang perlu diperhatikan, seperti cemas, sulit tidur, lebih mudah marah, terus-menerus mencari berita yang negatif, sakit perut berlebihan, berpikiran negatif, tidak bisa bekerja atau belajar dengan baik, sukar tersenyum, menarik diri dari lingkungan, yang merupakan tanda-tanda terjadinya stres psikologis.

Ia menjelaskan tentang upaya menjaga kesehatan mental, yaitu adanya kesadaran terhadap potensi diri dan sekitar. Banyak bersyukur, berolahraga, mengonsumsi makanan yang sehat, memenuhi kebutuhan tidur dengan baik, mencoba hal baru.

Selain itu, hal yang dapat dilakukan untuk menunjang kesehatan mental adalah dengan mengatasi tekanan hidup, yakni dengan menerima perasaan yang ada, menerima kondisi dan mengelola perasaan tersebut untuk menjadi lebih positif dan menyadari bahwa ini memang bukan situasi yang normal,” katanya.

Ia menambahkan kesehatan mental dapat ditingkatkan dengan saling mendukung satu sama lain, bekerja secara produktif, melakukan hobi yang produktif seperti memasak, berkebun, mencari peluang ekonomi, ikut berkontribusi pada komunitas, berkegiatan sosial. "Dan dapat menyebarkan informasi positif kepada masyarakat," kata Dini Rahma Bintari.

Untuk membantu masalah kesehatan mental, akademisi dari Fakultas Farmasi dan Psikologi Universitas Indonesia (UI) berkolaborasi memberikan edukasi dan layanan konseling kesehatan mental sebagai bagian dari Program "Sehat Lawan COVID-19".

Ketua Tim Pengabdian Masyarakat (Pengmas) Multidisiplin Fakultas Farmasi (FFUI) Prof Dr Berna Elya, M.Si, Apt. menjelaskan tim sudah menggelar rangkaian seminar, kegiatan berkala selama empat tahun terakhir.

Ia menjelaskan antusiasme masyarakat sangat tinggi atas program itu di mana sebanyak 800 peserta menyaksikan melalui siaran langsung Youtube FFUI dan 100 peserta mengikuti virtual. Peserta pun tidak hanya berasal dari Indonesia, melainkan juga dari Malaysia. "Kami berharap masyarakat dapat teredukasi secara mendalam, memadai, dengan landasan dasar ilmiah, dan dapat dipercaya karena bersumber dari pakar masing-masing bidang," katanya.

 

 

Sumber : Antara


×