Menteri BUMN Erick Thohir (tengah) bersama Aster Panglima TNI Mayjen TNI Madsuni (kedua kiri) dan Asisten Kapolri Bidang Sumber Daya Manusia Irjen Pol Sutrisno Yudi Hermawan (kedua kanan) menyerahkan secara simbolis Beasiswa kepada perwakilan Putra Putri | Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO
22 Jan 2021, 10:38 WIB

Bangun Ekosistem Beasiswa Nasional

Butuh partisipasi dari banyak elemen agar tersedia beasiswa secara merata.

JAKARTA – Lembaga Beasiswa Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) bersama Indonesia Scholarship Center (ISC) telah sukses menyelenggarakan Kongres Beasiswa Indonesia pada 20-21 Januari 2021. Melalui kongres ini diharapkan tercipta kolaborasi seluruh lembaga beasiswa di indonesia, sehingga terbangun ekosistem beasiswa nasional yang mampu bersinergi, visioner, dan kontributif.

Kongres Beasiswa Indonesia yang pertama ini digelar secara daring melalui Youtube Baznas TV dan dihadiri perwakilan dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Baznas, berbagai lembaga pengelola beasiswa serta lembaga-lembaga pendukung kegiatan ini.

Beasiswa adalah pemberian bantuan kepada perorangan. Tujuannya untuk digunakan demi keberlangsungan pendidikan yang ditempuh. Beasiswa dapat diberikan oleh lembaga pemerintah, perusahaan ataupun yayasan.

Direktur Utama Baznas Arifin Purwakananta mengatakan, penyelenggaraan program beasiswa di Indonesia terus berkembang. Menurutnya, beasiswa yang merupakan salah satu basis pijakan para generasi bangsa membutuhkan partisipasi yang baik dari setiap elemen untuk memberikan beasiswa secara merata.

Terkait

“Melalui kongres ini kami harapkan tercipta ekosistem beasiswa yang kolaboratif di Indonesia,” kata Arifin.

Dalam pandangan CEO Media Group, Mirdal Akib, membangun ekosistem beasiswa Indonesia perlu melibatkan banyak aspek, salah satunya melalui peran media. Ia menyebut, Media Group memiliki visi yang bukan hanya menghadirkan informasi, melainkan mencoba memberikan inspirasi dan dampak luas atas pemberitaan yang disajikan.

“Media massa itu bisa menyuarakan tempat-tempat yang tidak bisa bersuara. Jadi kami bisa menyuarakan hal-hal yang tidak bisa didengar, pendidikan salah satu yang bisa kita perjuangkan hari ini,” kata Mirdal pada kajian live streaming Kongres Beasiswa Indonesia, Kamis (21/1).

Beasiswa yang merata perlu diperjuangkan. Sebab, Indonesia hingga kini masih mengalami kesenjangan di jenjang pendidikan. Hal itu tampak dari jumlah peserta didik di jenjang SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi yang semakin mengerucut. Menurut dia, kesenjangan tersebut perlu diperbaiki secara bersama-sama.

Ada dua masalah yang terjadi pada akses pendidikan perguruan tinggi di Indonesia. Pertama, soal ekonomi, dan kedua disebabkan oleh faktor demografi. Dua hal inilah, menurut dia, yang menjadi faktor nyata timpangnya peserta didik yang melanjutkan ke perguruan tinggi.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE), Bimo Sasongko, mengkritisi program-program pendidikan beasiswa yang dilakukan oleh pemerintah. Pertama, menurut dia, Indonesia masih jarang sekali mengirimkan tamatan SMA untuk kuliah di luar negeri, termasuk beasiswa dari LPDP.

 

 

LPDP setahu saya masih fokus memberikan beasiswa S2. Padahal, yang terbaik adalah S1. Kenapa? Karena mereka masih belia dan punya fleksibilitas yang tinggi.

 

BIMO SASONGKO, Ketua Umum Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE)
 

Karena itu, dia berharap, segala aspirasi dan kekurangan-kekurangan dalam program beasiswa pemerintah dapat diakomodasi dengan hadirnya Kongres Beasiswa Indonesia.

Sementara itu, Kepala Lembaga Beasiswa Baznas Sri Nurhidayah mengatakan, pihaknya telah menyusun program beasiswa yang bertujuan menyiapkan generasi berakhlak luhur.

“Kami di Baznas ada delapan program beasiswa yang kami berikan. Ada yang S1 di dalam dan luar negeri, beasiswa S2, beasiswa kemitraan, hingga beasiswa pendidikan pascasarjana.’’


×