Hikmah Republika Hari ini | Republika
21 Jan 2021, 03:30 WIB

Menyikapi Musibah

Yakini pula bahwa musibah memberi peluang bagi hamba untuk memperoleh beragam kebaikan.

OLEH MUHAMMAD KOSIM

Suatu malam, lentera Nabi SAW padam, lalu beliau mengucapkan, "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun." Para sahabat bertanya, "Apakah ini termasuk musibah ya Rasulullah?" Nabi menjawab, “Ya apa saja yang menyakiti orang Mukmin disebut musibah.” (HR Abu Daud).

Berdasarkan hadis di atas, al-Qurthubi mendefinisikan musibah adalah apa saja yang menyakiti dan menimpa diri seorang mukmin atau sesuatu yang berbahaya dan menyusahkan manusia meskipun kecil. Setidaknya, ada dua bentuk musibah. Pertama, musibah sebagai ujian bagi manusia (QS al-Ankabut [29]: 2-3). Fungsinya untuk menempa manusia sebagai mukmin sejati.

Menyikapi musibah ini, manusia harus bersifat sabar. Sifat sabar bisa dimiliki dengan meyakini bahwa sebelum musibah terjadi, telah tercatat di lauhul mahfuzh (QS al-Hadid [57]: 22), dan musibah tidak akan terjadi kecuali atas izin-Nya (QS at-Taghabun [64]: 11).

Terkait

Maka pasrahkan diri kepada-Nya. Imam Syadzili dalam Risalah al-Amin menulis, “Tanda-tanda penyerahan diri kepada Allah adalah tidak goyah hatinya ketika tertimpa musibah.”

Yakini pula bahwa musibah memberi peluang bagi hamba untuk memperoleh beragam kebaikan. Orang yang sabar menerima musibah akan memperoleh keberkahan (shalawat), rahmat dan hidayah dari Allah SWT (QS al-Baqarah [2]: 157).

Nabi SAW bersabda, “Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kehawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya” (HR Bukhari Muslim).

Musibah yang terjadi pada seorang hamba mendorong pula mukmin lainnya merasakan penderitaan saudaranya diiringi dengan sifat empati, mendoakan dan membantu mereka yang ditimpa musibah sesuai kemampuan. Perilaku ini juga bernilai ibadah.

Kedua, musibah terjadi karena ulah manusia, di antaranya karena kesalahan atau dosa-dosanya (QS asy-Syuura [42]: 30) dan al-Maidah [5]: 49). Bahkan musibah bisa berarti azab karena mengabaikan seruan Allah SWT (QS al-Qashash [28]: 47).

Ibnu 'Athaillah dalam Bahjat an-Nufus menulis “Yang sebenarnya ditimpa musibah adalah mereka yang bermaksiat kepada Allah dan tidak bertaubat dari dosa.” Menyikapi musibah kedua ini, manusia harus memohon ampun dan bertaubat pada Allah SWT. Allah tidak akan mengazab mereka yang senantiasa beristighfar (QS al-Anfal [8]: 33).

Sejatinya, musibah yang terjadi dalam kehidupan manusia menyadarkannya sebagai makhluk lemah yang senantiasa membutuhkan pertolongan Allah SWT, termasuk pertolongan agar diberi kekuatan jiwa menyikapi musibah secara positif.

Berbagai bencana yang terjadi di Tanah Air saat ini, seperti pandemi Covid-19, longsor, banjir, jatuhnya pesawat, gempa bumi, erupsi gunung merapi, luapan air laut, dan sebagainya sejatinya kita sikapi dengan sabar, saling membantu dan mendoakan, serta instropeksi diri, beristighfar dan istiqamah di jalan Allah SWT.

Wallahul musta’an.


×