Pekerja menyelesaikan pembuatan jalur menuju terowongan yang rencananya akan menghubungkan Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral Jakarta, beberapa waktu lalu. | Akbar Nugroho Gumay/ANTARA FOTO
19 Jan 2021, 03:00 WIB

Terowongan Silaturahim Istiqlal-Katedral Dikerjakan

MUI menjelaskan terowongan tak boleh diartikan sebagai mencampuradukkan agama.

JAKARTA -- Pembangunan Terowongan Silaturahim yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral di Sawah Besar, Jakarta Pusat, mulai dikerjakan. Untuk memastikan kelancaran pembangunan, pihak kepolisian mengalihkan arus lalu lintas di sekitar lokasi pengerjaan mulai Rabu (20/1).

Humas Keuskupan Agung Jakarta Gereja Katedral, Susyana Suwadie, mengatakan, pengerjaan saat ini sudah dimulai dengan dilakukannya penggalian di Jalan Katedral. "Pekerjaan itu berada di bawah kendali Kementerian PUPR (Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat)," kata dia di Jakarta, Senin (18/1).

Sementara itu, Juru Bicara Masjid Istiqlal Nur Hayin Muhdlur mengatakan, Terowongan Silaturahim Istiqlal-Katedral nantinya bisa diakses jamaah dari empat titik. Pertama, dari area parkir bawah tanah (basement) Masjid Istiqlal dan dari area dalam Gereja Katedral.

Ketiga, dari trotoar di yang berada di sisi jalan depan Masjid Istiqlal. Keempat, dari trotoar yang berada di sisi jalan di depan Gereja Katedral. Nur menjelaskan, terowongan yang membelah Jalan Katedral itu diperuntukkan pejalan kaki.

Terkait

photo
Pekerja menyelesaikan pembuatan jalur menuju terowongan yang rencananya akan menghubungkan Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral di Jakarta, beberapa waktu lalu. - (Akbar Nugroho Gumay/ANTARA FOTO)

"Sebetulnya terowongan itu pengganti (rencana dibangunnya) jembatan penyeberangan orang (JPO) antara Istiqlal dan Katedral," ujar Nur kepada Republika, Senin (18/1). 

Berdasarkan papan informasi yang terpasang di area parkir B1 Masjid Istiqlal, diketahui terowongan itu memiliki panjang 33 meter dan kedalaman tujuh meter di bawah permukaan tanah. Nur mengatakan, proyek itu akan dikerjakan oleh perusahaan BUMN PT Waskita Karya mulai Rabu ini.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan rencana pembangunan terowongan bawah tanah yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral ketika mengunjungi Kompleks Masjid Istiqlal pertengahan tahun lalu. Jokowi menyebut terowongan itu nantinya merupakan simbol silaturahim antarkedua umat beragama.

"Ada usulan dibuat terowongan dari Masjid Istiqlal ke Katedral. Tadi sudah saya setujui. Ini menjadi terowongan silaturahim. Tidak kelihatan berseberangan, tapi (terjalin) silaturahim," kata Jokowi di kompleks Masjid Istiqlal ketika itu.

Pembangunan terowongan tersebut merupakan kelanjutan renovasi Istiqlal yang rampung pada 8 Desember lalu. Imam Masjid Istiqlal Prof Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa renovasi masjid terbesar di Indonesia itu menelan biaya Rp 511 miliar dengan waktu pengerjaan selama 14 bulan. Sekira 1.000 orang pekerja dilibatkan.

Selanjutnya, renovasi itu juga akan membangun terowongan bawah tanah yang menghubungkan Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta. "Secara khusus kami berterima kasih kepada Presiden terhadap gagasan untuk membangun Terowongan Silaturahim yang menghubungkan Masjid Istiqlal dengan Katedral," katanya dalam peresmian renovasi.

Tentunya, kata dia, Presiden bukan hanya membuat lubang penghubung bawah tanah karena Terowongan Silaturahim ini ikon tersendiri di Ibu Kota. "Yang kami bayangkan, insya Allah akan ada semacam diorama yang menampilkan potret toleransi kemanusiaan yang menjadi salah satu kebanggaan Indonesia," ujarnya.

Gereja Katedral Jakarta jauh lebih dulu berdiri dibandingkan Masjid Istiqlal. Gereja tersebut dibangun kolonial Belanda sesuai tren arsitektur saat itu dan diresmikan penggunaannya pada 1901.

photo
Sorotan tata lampu berwarna terlihat saat perayaan ibadah misa malam Natal di bagian luar bangunan Gereja Katedral, Jakarta, Kamis (24/12). - (Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO)

Sementara, Masjid Istiqlal direncanakan pembangunannya pada 1950. Tokoh-tokoh bangsa saat itu membayangkan dibangunnya masjid nasional yang megah sebagai rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia. Alasan itu yang melatari pemilihan nama "istiqlal" alias "kemerdekaan" untuk masjid nasional tersebut.

Selesai dirancang pada 1953, Presiden Sukarno berkeras masjid itu dibangun tak jauh dari Gereja Katedral Jakarta sebagai simbol toleransi umat beragama. Selesai dibangun pada 1978, jadilah masjid itu hanya dipisah sepenggal jalan raya dari Gereja Katedral.

Selama ini, Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta kerap saling bantu saat ada helatan di masing-masing lokasi. Biasanya lahan parkir di masing-masing tempat ibadah yang dipisah jalan raya itu disediakan untuk jamaah satu sama lain.

Tutup jalan

Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Sambodo Purnomo Yogo, mengatakan, penutupan jalan akan dimulai ketika pengerjaan utama terowongan itu berlangsung dari 20 Januari hingga 31 Maret 2021. Pihaknya pun telah mulai mengkaji skema pengalihan lalu lintas yang terbaik.

"Bila sudah sesuai (rute pengalihan arusnya), akan kami sosialisasikan," kata dia, Senin.

photo
Seorang petugas berjalan usai peresmian renovasi Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (7/1). Renovasi masjid Istiqlal yang menelan biaya sebesar Rp 511 miliar dari APBN merupakan renovasi pertama sejak 42 tahun. - (M RISYAL HIDAYAT/ANTARA FOTO)

Kini, dia menambahkan, pihaknya sudah memasang spanduk imbauan bagi masyarakat agar tak melintas di Jalan Katedral mulai 20 Januari. Masyarakat diharapkan memaklumi adanya pembangunan ini. "Spanduk pengumumannya sudah terpasang (di depan Gereja Katedral)," ujar Sambodo.

Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Metro Jakarta Pusat, Komisaris Polisi Lilik Sumardi, menambahkan, sejauh ini rencana pengalihan arus di sana adalah kendaraan yang datang dari arah Jalan Banteng Timur ke arah Pasar Baru dialihkan menuju ke Jalan Banteng Barat. Lalu, kendaraan dari arah Jalan Perwira menuju Pasar Baru dialihkan ke Jalan Pejambon.

"Jalan Banteng Timur yang dari MBAL (Gunung Sahari) yang mau ke Pasar Baru dialihkan ke Jalan Banteng Barat. Jalan Perwira yang mau ke Pasar Baru dialihkan ke Pejambon," kata Lilik, Senin. Namun, seperti yang dikatakan Sambodo, skema pengalihan lalu lintas ini masih bisa berubah.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengungkapkan, Istiqlal dan Katedral dalam rencana awal akan dihubungkan jembatan penyeberangan atau flyover untuk keperluan itu. Kendati demikain, karena mempertimbangkan aspek keselamatan, terowongan akhirnya dipilih untuk menghubungkan dua tempat ibadah tersebut.

"Ada tiga alternatif sebetulnya bisa jembatan penyeberangan, tapi kan terlalu curam, atau dengan yang lain, kita pilih terowongan yang lebih safe," tuturnya beberapa waktu lalu. Terowongan ini nantinya difasilitasi dengan eskalator. Menurut Basuki, anggaran untuk pembuatan terowongan tersebut sebesar Rp 40 miliar. Dana ini diambil dari dana renovasi Istiqlal.

Meneguhkan Damai

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Prof KH Noor Achmad, berharap Terowongan Silaturahim yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral menjadi simbol kerukunan di Tanah Air. Terowongan itu juga tak boleh diartikan sebagai tindakan mencampuradukkan agama.

"Itu harapan-harapan kita, tentu saja ini akan menjadi sebuah bentuk komunikasi yang baik antara agama satu dan agama lain, dan menunjukkan kehidupan beragama yang sangat baik di Indonesia," kata Kiai Noor saat dihubungi Republika, Senin (18/1). 

Dengan dibangunnya Terowongan Silaturahim, ia berharap akan semakin saling pengertian antaragama dan menghadirkan kedamaian di Indonesia. Meski terowongan itu hanya menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral, diharapkan kerukunan tidak hanya antara Islam dan Katolik, tetapi juga dengan seluruh agama yang ada karena terowongan itu simbol.

Ia berharap, pada masa yang akan datang jangan sampai ada konflik agama. Jangan sampai terjadi politik untuk mengadu domba antarumat agama-agama dengan dalih agama. 

photo
Pekerja berada di area gereja saat persiapan jelang ibadah Natal, di Gereja Katedral, Jakarta, Rabu (23/12). - (Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO)

Kiai Noor menekankan, terowongan itu tidak dalam arti akan terjadi sinkretisme agama atau bercampur aduknya antara agama satu dan yang lain. "Tetapi (terowongan ini) menunjukkan hubungan masyarakat agama satu dengan yang lain, hubungannya adalah hubungan kebangsaan," kata dia menjelaskan. 

Hal serupa disampaikan pihak Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). "Harapan saya, persaudaraan sejati semakin terwujud di bumi pertiwi tercinta kita ini. Bila bukan saudara seiman, kita semua adalah saudara sekemanusiaan, sebangsa, dan setanah air," kata Sekretaris Eksekutif Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan KWI, Romo Agustinus Heri Wibowo, kepada Republika, Senin (18/1).

Romo Heri mengungkapkan, Bhinneka Tunggal Ika itu sungguh indah mewujud secara nyata di Indonesia tercinta yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Artinya, Terowongan Silaturahim sebetulnya menegaskan dan mendukung relasi selama ini yang sudah sangat baik.

photo
Umat Islam melaksanakan shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (8/1). - (Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO)

Ia mengatakan, seandainya Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal tidak dipisahkan oleh jalan, mungkin akan ada satu halaman bersama yang tidak disekat oleh pagar. "Kiranya simbol tersebut merupakan perwujudan dan harapan akan relasi umat beragama, yang senantiasa rukun dan damai dalam peziarahan hidup ini," ujarnya.

Wakil Ketua Bidang Peribadatan Masjid Istiqlal, KH Abu Hurairah mengatakan, Terowongan Silaturahim merupakan fasilitas yang bisa dinikmati oleh masing-masing jamaah yang shalat di Masjid Istiqlal dan beribadah di Katedral. "Moga-moga terowongannya bukan hanya sebuah lubang, tapi diharapkan ada daya tarik, sehingga masyarakat mau menggunakan fasilitas tersebut," katanya.

Abu Hurairah menuturkan, nantinya di sepanjang terowongan itu akan ada fakta-fakta sejarah lintas agama melalui media visual. "Lebih baik lagi kalau nanti ada semacam ruangan yang bisa dipakai untuk tempat berdialog lintas iman sehingga semakin menarik untuk dikunjungi," katanya. 


×