Pasukan Israel menahan seorang Palestina yang berunjuk rasa menentang pembangunan pemukiman Yahudi di Aqraba, Wednesday, Tepi Barat, Rabu (13/1). | AP/Majdi Mohammed
19 Jan 2021, 03:00 WIB

Netanyahu Perintahkan Kelanjutan Permukiman Baru

Uni Eropa menyerukan Israel menghentikan semua aktivitas pembangunan permukiman di Tepi Barat.

YERUSALEM -- Israel, Ahad (17/1), menyetujui rencana pembangunan ratusan rumah di pemukiman di wilayah pendudukan Israel di Tepi Barat. Proyek ini disetujui dua hari sebelum Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang pro-pemukiman Israel turun dari jabatannya.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan rencana pembangunan di tanah yang Israel rebut dalam perang 1967 tersebut pada Senin (18/1). Pemerintah Israel menyelesaikan ratifikasi pembangunan 365 rumah dan menyetujui pembangunan awal 415 rumah lainnya. 

Organisasi anti-pemukiman Israel, Peace Now, mengatakan Netanyahu memerintahkan rencana pembangunan itu ditindak lanjuti. Peace Now mengatakan, langkah Israel menyetujui rencana pembangunan rumah baru di pemukiman Tepi Barat seharusnya tidak perlu dilakukan AS akan dipimpin presiden terpilih Joe Biden mulai Rabu (20/1).

Alasannya, itu "menempatkan Israel dalam jalur yang bertentangan dengan pemerintahan Biden yang akan datang". Juru bicara Presiden Palestina Mahmood Abbas mengecam pembangunan ilegal tersebut. Ia menuduh Israel melakukan 'tindakan pencegahan, untuk menekan segala upaya AS di bawah presiden Joe Biden untuk menggelar kembali proses perundingan yang mengalami kebuntuan'.

Terkait

photo
Penampakan pemukiman Yahudi Maale Efrayim di Lembah Yordan, Tepi Barat. - (AP/Oded Balilty)

Uni Eropa menyerukan Israel menghentikan semua aktivitas pembangunan permukiman di Tepi Barat. "(Keputusan Israel untuk menindaklanjuti) rencana tersebut bertolak belakang dengan hukum internasional dan semakin menekan prospek solusi dua negara yang layak," kata Uni Eropa dalam pernyataannya.

Pemimpin-pemimpin pemukiman Israel mengungkapkan kekhawatiran mereka, saat Biden mulai menjabat sebagai presiden AS. Biden kritis terhadap pemukiman Israel dinilai dapat memperlambat pembangunan pemukiman tersebut di Tepi Barat.Sebagian besar negara menilai pemukiman Israel melanggar hukum internasional.

Israel menentang hal ini dengan mengutip sejarah, politik dan pernyataan kitab suci mengenai Tepi Barat. Tepi Barat kini didiami sekitar 440 ribu warga pemukim Israel di tengah tiga juta warga Palestina di sana.Trump mendukung pembangunan perumahan Israel di pemukiman di Tepi Barat. Ia mengabaikan posisi lama AS yang mengkritik pembangunan tersebut.

Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, dianggap sebagai "wilayah pendudukan" di bawah hukum internasional. Dengan demikian semua pembangunan permukiman di sana ilegal.Uni Eropa tidak mengakui kedaulatan Israel atas wilayah yang didudukinya sejak 1967. Perhimpunan Benua Biru itu berulang kali meminta Israel mengakhiri semua aktivitas permukiman dan membongkar bangunan yang ada sejak 2001.

photo
Pasukan perbatasan Israel menangkap seorang Palestina dalam unjuk rasa menentang kunjungan  PM Israel Benjamin Netanyahu ke Nazareth, wilayah yang banyak dihuni etnis Arab, Rabu (13/1). - (AP/Sebastian Scheiner)

Hancurkan masjid

Pasukan pendudukan Israel dilaporkan akan menghancurkan sebuah masjid yang tengah dibangun dan sebuah sekolah dasar di daerah Masafer Yatta di selatan Hebron, bagian selatan Tepi Barat yang diduduki.

Menurut seorang aktivis setempat, Fouad al-Amour, pasukan Israel membagikan pemberitahuan yang berisi rencana untuk pembongkaran sekolah dasar dan masjid yang tengah dibangun di Khirbet Um Gussa, sebuah daerah di Masafer Yatta, dengan alasan pembangunan yang tidak diizinkan sebagai dalih.

Direktur sekolah tersebut, Yusef Al-Basaita, menyatakan bahwa sekolah tersebut memiliki 50 siswa dan melayani tiga komunitas marjinal di Masafer Yatta, yang diklasifikasikan sebagai Area C di bawah kendali penuh militer Israel. Sekolah ini adalah salah satu dari 17 sekolah Tahadi, yang dinamai sesuai kata Arab yang artinya 'tantangan', di Area C.

Dilansir di WAFA, Senin (18/1), semua 17 sekolah tersebut dibangun oleh Otoritas Palestina, dan banyak dibangun dengan dana Uni Eropa. Pembangunan sekolah tersebut bertujuan untuk menyediakan pendidikan bagi komunitas pedesaan yang terpinggirkan yang tersebar di seluruh Tepi Barat.

Israel terus-menerus menghancurkan bangunan yang dibangun oleh orang Palestina di Area C, termasuk Lembah Jordan. Mereka mengklaim bahwa bangunan itu dibangun tanpa izin, yang jarang, jikalau seandainya, dikeluarkan untuk orang Palestina.

Israel tidak mengizinkan pembangunan apapun di sana saat menggunakan tanah yang diduduki untuk aktivitas pemukiman ilegal. Area C sendiri mencakup lebih dari 60 persen dari luas Tepi Barat yang diduduki. 

Sumber : Reuters


×