Rencanakan keuangan Anda. | Freepik
18 Jan 2021, 17:10 WIB

Agar Fondasi Keuangan Kokoh Meski Badai Menerjang

Penting untuk mengetahui cara mengatur keuangan keluarga milenial agar tidak boros.

 

BARATADEWA SAKTI PERDANAPraktisi Keuangan Keluarga dan Pendamping Bisnis UMKM

Saat kondisi normal, mengelola keuangan keluarga bagi sebagian orang adalah hal tak mudah dilakukan. Masih sering kita mendengar cerita munculnya kebutuhan biaya di luar dugaan. Biaya yang membuat anggaran belanja seseorang menjadi besar pasak daripada tiang, seolah makin menegaskan hal tersebut.

Jangankan buat menabung, untuk memenuhi rutinitas bulanan saja rasanya ngos-ngosan. Kejadian ini seperti sedang lari estafet, tapi tak kunjung menemukan garis finis. Apalagi kini harus menghadapi situasi sulit di masa pandemi yang belum diketahui kapan ujungnya, membuat banyak orang makin pusing dalam mengatur keuangan keluarga.

Terkait

Di saat normal, salah satu permasalahan yang muncul bisa karena pengelolaan keuangan keluarga kurang tepat. Ada berbagai pos pengeluaran yang belum terdata atau alokasi dana yang terlalu minim di pos tertentu dan terlalu berlebihan di pos lain.

Kini saat pandemi berlangsung, sangat mungkin permasalahan di masa normal masih belum dibenahi, kemudian muncul problem baru, yakni menurunnya pendapatan keluarga, bisa karena kepala keluarga dirumahkan atau bahkan di-PHK. Begitu pun dengan pengusaha yang harus menghadapi penurunan penjualan akibat perubahan perilaku pembeli yang pergerakannya menjadi terbatas.

 
Karena fondasi menjadi penentu terhadap bangunan di atasnya, maka analogi filosofi fondasi ini akan diperlukan pula dalam mengelola keuangan keluarga.
 
 

Ibarat membangun rumah, maka fondasi menjadi bagian awal paling penting untuk diperhatikan setiap empunya rumah. Karena fondasi menjadi penentu terhadap bangunan di atasnya, maka analogi filosofi fondasi ini akan diperlukan pula dalam mengelola keuangan keluarga.

Pengetahuan fundamental dalam mengelola keuangan akan menjadi fondasi yang kokoh ketika seseorang pada suatu waktu harus menghadapi kondisi keuangan yang tidak ideal. Apalagi bagi sebagian milenial dengan tabiat negatif, yakni mudah terpengaruh teman yang dia anggap "keren" yang menjadi pusat pengaruh (influencer) bagi follower-nya, sehingga membuat sang influencer "berhasil" mempengaruhi teman-temannya untuk mengikuti berpenampilan senada meskipun aslinya tak dibutuhkan.

Nah, permasalahan sebenarnya muncul saat seseorang mulai terdorong untuk memiliki barang yang seharusnya tak ia perlukan, tapi justru ikut-ikutan membelinya. Bisa kian membahayakan ketika pendapatan menurun, tapi sang milenial belum juga paham bagaimana menentukan skema pengelolaan uang yang baik dan benar.

Maka, untuk mengetahui cara mengatur keuangan keluarga milenial agar tidak boros serta mendapatkan kunci sukses dalam mengatur keuangan keluarganya, mari simak langkah berikut.

1. Membuat daftar belanja bulanan dalam 4 kelompok besar

a. Keinginan rutin

b. Keinginan tidak rutin

c. Kebutuhan rutin

d. Kebutuhan tidak rutin

2. Menentukan anggaran belanja kebutuhan menjadi 3 bagian

a. Kebutuhan dasar pribadi/keluarga

b. Pos anggaran sosial

c. Pos anggaran investasi

3. Membuat daftar skala prioritas pembelanjaan bersama pasangan (bila sudah menikah) dimulai dari paling tinggi skala prioritasnya hingga paling rendah.

photo
Baratadewa Sakti Perdana, praktisi keuangan keluarga dan pendamping bisnis UMKM - (Istimewa)

Lantas, bagaimana langkah riil agar metode ini tetap relevan bahkan dilakukan oleh siapapun? Mari perhatikan contoh berikut ini tahap demi tahap agar tujuan keuangan yang telah ditetapkan sebelumnya dapat tercapai tepat waktu.

Contoh kasus: Pak Budi (nama samaran) berdomisili di Pekalongan adalah pemilik startup bidang kuliner. Dia telah menikah dan saat ini dikaruniai anak satu seusia balita. Pak Budi menyewa rumah kecil sederhana, punya sepeda motor untuk bekerja. Dari bisnisnya ia mendapatkan penghasilan bersih bulanan rata-rata Rp 3 juta dan dalam kondisi pandemi penghasilannya menurun hingga menjadi Rp 2,5 juta.

Pak Budi saat ini memiliki kewajiban membayar angsuran motornya Rp 400 ribu per bulan.

Langkah Pertama

Keluarkanlah untuk kebutuhan yang tergolong prime cost lebih dahulu. Prime cost adalah biaya yang apabila tak terbayarkan akan menjadi masalah besar dalam kehidupan seseorang. Antara lain, tagihan listrik, tagihan air PDAM, tagihan BPJS Kesehatan, beras, gas elpiji, keperluan harian sekolah anak dan sewa rumah/kamar kos. 

Penulis anggap rinciannya dihitung bulanan, dengan nominal:

Rp 100 ribu untuk tagihan listrik

Rp 100 ribu untuk tagihan PDAM

Rp 300 ribu untuk tagihan 3 anggota keluarga pada BPJS Kesehatan kelas 2

Rp 150.000 --> Rp 100 ribu untuk kebutuhan beras sebesar 10 kg

Rp 60 ribu untuk pembelian gas elpiji 3 kg sebanyak tiga kali

Rp 400 ribu untuk anggaran persiapan bayar sewa rumah cara bayar tahunan

Rp 300 ribu untuk anggaran transportasi

Sisa Rp 1,140 juta

photo
Rencanakan keuangan Anda (ilustrasi) - (Freepik)

Langkah Kedua

Mengeluarkan dana untuk membelanjakan kebutuhan dengan kelas skala prioritas di bawah prime cost. Pos kebutuhan ini juga masih penting, hanya saja risiko gangguannya tidak segawat sebelumnya bila tidak dibelanjakan.

Antara lain adalah makanan jadi, kebutuhan dapur, angsuran KPR/KPM/utang produktif lainnya diusahakan maksimal 30 persen, pos dana darurat diharapkan minimal 5 persen, paket telepon dan internet, dan sedekah dengan target minimal 10 persen.

Pada langkah kedua ini, prinsip yang perlu dipegang teguh generasi milenial dalam membelanjakan penghasilannya dengan baik adalah skala prioritas menentukan biaya mana dulu yang diutamakan untuk dibayarkan. 

Menurut penulis, prioritas yang harus dibayarkan selanjutnya setelah kebutuhan prime cost dipenuhi adalah membelanjakan makanan jadi, kebutuhan dapur, serta membeli paket telepon dan internet. Prioritas selanjutnya adalah membayar utang, menyisihkan pos dana darurat dan pos kebutuhan bersedekah.

Asumsi dalam hitungan bulanan, maka rincian pembelanjaan keluarga Pak Budi ketika penghasilan berkurang adalah sebagai berikut.

Rp 400.000 --> Rp 100 ribu untuk makanan jadi berupa lauk dan sayur

Rp 100 ribu untuk kebutuhan dapur

Rp 200 ribu untuk susu balita

Rp 100 ribu untuk paket telepon dan internet

Rp 100 ribu untuk arisan, keamanan, dan kebersihan lingkungan

Rp 400 ribu untuk angsuran motor

Rp 50.000 - Rp 40 ribu untuk pos dana darurat/cadangan

Rp 100 ribu untuk pos sedekah kepada istri dan anak/keluarga terdekat

Tidak ada sisa

 

Berkaca dari kondisi pembelanjaan keluarga Pak Budi, sebagai tambahan pemahaman khususnya generasi milenial bahwa jika nilai nominal angsuran utang cukup besar, maka pos dana darurat dan sedekah dapat digunakan juga untuk menambal kekurangan pembayaran kewajiban/utang.

Bahkan seandainya masih kurang, maka sebagian anggaran kebutuhan dari selain prime cost pun dapat dikurangi sebagian untuk membantu menutup kekurangan anggaran pembayaran kewajiban.

 

Langkah Ketiga

Tips pengelolaan selanjutnya adalah pada saat persoalan pos anggaran pembayaran kewajiban dapat terkendali, maka pos dana darurat yang telah mencapai jumlah ideal (untuk keluarga dengan 1 anak sebesar 6 bulan belanja kebutuhan rutin) dapat dialihkan masuk ke pos investasi. Pos Investasi ini yang kelak akan membantu mewujudkan rencana prioritas seseorang di masa depan.

Perlu menjadi catatan pula mengapa penulis menggolongkan anggaran untuk istri, anak, dan keluarga terdekat termasuk sebagai pos sedekah? Sebab sedekah terbaik adalah yang dimulai dari orang-orang yang menjadi tanggungan kepala keluarga. 

Ketika istri dan anak-anak mendapatkan prioritas sedekah yang pertama, maka suasana keharmonisan keluarga akan semakin mudah dicapai. Suasana keluarga yang kondusif menjadikan rasa psikologis yang terbangun menjadi positif, sehingga motivasi untuk mencari nafkah guna meningkatkan pendapatan dari bisnisnya akan semakin besar pula peluangnya.

Mengapa? Sebab orang yang bekerja atau berbisnis dengan hati penuh sukacita dibanding bekerja/berbisnis dengan suasana hati tak menentu, tentu akan berbeda pula terhadap peluang hasil yang akan diperoleh. Begitu pula dengan suasana hati yang penuh sukacita akan meningkatkan imunitas secara signifikan.

Tertarik untuk mencoba?


×