Pengungsi korban gempa antre untuk mendapatkan bantuan logistik dari TNI AD di Stadion Manakarra, Mamuju, Sulawesi Barat, Ahad (17/1). | SIGID KURNIAWAN/ANTARA FOTO
18 Jan 2021, 03:00 WIB

Antisipasi Klaster Bencana Penularan Covid-19

Kelompok rentan akan dipisahkan dari warga lainnya di lokasi pengungsian.

JAKARTA – Peristiwa alam yang terjadi di berbagai daerah dalam beberapa waktu terakhir memunculkan kekhawatiran terjadinya penularan Covid-19, khususnya di lokasi pengungsian. Antisipasi terhadap hal ini perlu dilakukan untuk memastikan tidak muncul klaster penularan Covid-19 di tengah bencana yang terjadi.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo meminta penangananan pengungsian warga yang terdampak bencana agar memisahkan kelompok rentan dengan usia muda. “Kelompok rentan harus kita lindungi karena ada Covid-19,” kata dia dalam keterangan tertulis yang diterima Republika, Ahad (17/1).

Adapun yang dimaksud dalam kelompok rentan adalah bagi mereka yang berusia lanjut, warga yang punya penyakit penyerta atau komorbid, ibu hamil, ibu menyusui, disabilitas, balita dan anak-anak. Semua kelompok itu akan dipisahkan dari mayoritas pengungsi lainnya.

Terkait

Beberapa peristiwa alam terjadi di berbagai daerah dalam kurun sepekan terakhir. Di Sumedang, Jawa Barat, tanah longsor membuat puluhan meninggal dan warga sekitar harus mengungsi. Kemudian gempa bumi di Majene, Sulawesi Barat, dan banjir di Kalimantan Selatan juga Kalimantan Barat terjadi hampir bersamaan.

Tak hanya itu, Gunung Merapi dan Gunung Semeru pun dilaporkan mengalami erupsi. Semua peristiwa alam tersebut membuat pengungsian tak bisa terhindarkan. Ketika ada kerumunan orang, maka potensi penyebaran Covid-19 menjadi besar.

Doni yang juga menjabat sebagai Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 itu juga menyatakan akan menyediakan alat rapid test antigen di lokasi pengungsian. Tes cepat antigen perlu dilakukan untuk memeriksa dan menelusuri adanya kemungkinan penularan Covid-19 di lingkungan pengungsian.

“Nanti akan ada proses swab antigen, untuk kita menjamin para pengungsi tidak terpapar Covid-19,” ujar Doni.

Kepala Pusat Data dan Komunikasi BNPB Raditya Jati mengatakan, pemisahan rumah sakit yang dioperasikan untuk tanggap darurat bencana dan rumah sakit yang menangani pasien Covid-19 sudah dilakukan. Selain itu, beberapa antisipasi lain juga sudah dilaksanakan, seperti penyediaan masker dan tenaga kesehatan.

photo
Warga korban gempa bumi mengungsi di teras Rumah Sakit Umum Kabupaten Mamuju di Sulawesi Barat, Ahad (17/1). Sebanyak 27.850 jiwa telah mengungsi di sejumlah posko pengungsian karena rumah mereka rusak akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,2 yang terjadi pada Jumat (15/1) dini hari yang juga mengakibatkan 73 orang meninggal dunia. - (ABRIAWAN ABHE/ANTARA FOTO)

“Pengalaman kami waktu dengan penyintas di lingkar Gunung Merapi itu telah dilakukan sesuai dengan protokol kesehatan, tetap dipilah antara lansia kemudian juga kelompok rentan yang lain, juga selalu dicek suhu, tetap ada fasilitas mencuci tangan, dan masker selalu menjadi kewajiban untuk dipakai,” kata dia.

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin memastikan tindakan medis dan pelayanan kesehatan di Sulawesi Barat bisa tetap berjalan. Budi memastikan tenaga kesehatan dalam kondisi aman dan pelayanan kesehatan bagi korban gempa terlaksana dengan baik. RSUD Sulbar, kata Budi, memang kondisi fisiknya banyak kerusakan dipengaruhi oleh gempa sehingga banyak pasien yang ditaruh di luar.

“Namun terlihat sudah ada tenda yang bagus dan teman-teman tenaga kesehatan dari Makassar juga sudah membantu, juga datang obat-obatan sudah lengkap agar beberapa tindakan operasi bisa dilakukan di sini,” ujar Budi.

photo
Aktivitas pengungsi warga Krinjing di Barak Pengungsian Deyangan, Magelang, Jawa Tengah, Jumat (8/1). Jumlah pengungsi warga lereng Gunung Merapi di Magelang mencapai 625 orang. - (Wihdan Hidayat / Republika)

Simulasi

Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Sukabumi, Jawa Barat menggelar kegiatan simulasi evakuasi mandiri ketika terjadi gempa bumi untuk masyarakat kelurahan. Langkah ini dilakukan dalam rangka kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa bumi dalam kondisi pandemi Covid-19.

Ketua PMI Kota Sukabumi Suranto Sumowiryo mengatakan, pada panduan prosedur operasi standar penanganan evakuasi mandiri ini tetap menjalankan protokol kesehatan seperti penerapan physical distancing atau menjaga jarak, menggunakan masker, menjaga kebersihan diri, serta memisahkan orang sehat dengan orang bergejala Covid-19 saat melakukan evakuasi.

Selain itu, kata Suranto, dalam skenario penempatan pengungsian juga ada standar, pedoman, protokol kesehatan yang harus dilakukan. Pada intinya adalah bagaimana terkait penerapan 3M di tempat pengungsian. Ia mengatakan, tempat pengungsian harus bisa diatur kapasitasnya agar para pengungsi tidak berdesakan.


×