Kisah George Todzira, seorang panglima Romawi yang akhirnya memeluk Islam, terjadi ketika Muslimin sedang menghadapi Perang Yarmuk pada 636 M. | DOK PXHERE
17 Jan 2021, 03:30 WIB

Ksatria Romawi Masuk Islam Hingga Syahid

Ksatria Romawi itu sempat menunaikan shalat dan kemudian syahid melawan Bizantium.

OLEH HASANUL RIZQA

 

 

Pertempuran Yarmuk terjadi pada Agustus 636 M atau empat tahun sesudah Nabi Muhammad SAW berpulang ke rahmatullah. Dalam peristiwa ini, pasukan Islam berhadapan dengan balatentara Kekaisaran Romawi Timur atau Bizantium.

Terkait

Para sejarawan menggolongkannya sebagai salah satu pertempuran penting dalam sejarah dunia karena menandakan gelombang besar pertama penaklukan Muslimin di luar Jazirah Arab.

Perang Yarmuk juga membuktikan kegeniusan Khalid bin Walid. Pemimpin pasukan Muslimin itu kembali menunjukkan keunggulannya dalam merancang dan menerapkan strategi di medan pertempuran.

Meskipun jumlah prajurit Islam tak sampai separuh balatentara Bizantium, sosok berjulukan “Pedang Allah yang Terhunus” itu dapat memberdayakan mobilitas mereka. Pasukan musuh pun acap kali tercerai-berai karena dikejar kompi-kompi Muslimin dari beberapa penjuru. Hasilnya, kemenangan diraih kubu pembela agama Allah.

photo
Ilustrasi Pertempuran Yarmuk oleh ilustrator anonim asal Catalonia (1310–1325). - (DOK Wikipedia)

Ada sebuah kisah menarik dalam konteks Perang Yarmuk. Cerita tersebut berkaitan dengan masuk Islamnya seorang petinggi militer Bizantium, George Todzira. Padahal, waktu itu pertempuran sedang berlangsung. Tentu saja, moral pasukan Kristen menjadi kaget dan mengendur dibuatnya.

Di dekat Sungai Yarmuk, kedua kubu sudah berhadap-hadapan. Namun, pemimpin masing-masing pasukan belum menyerukan tanda dimulainya pertempuran. Pasukan Muslimin bertahan di perkemahannya. Begitu pula dengan para prajurit Bizantium yang berjumlah hingga 150 ribu orang.

 
Pasukan Muslimin bertahan di perkemahannya. Begitu pula dengan para prajurit Bizantium yang berjumlah hingga 150 ribu orang.
 
 

Dalam kondisi demikian, George Todzira selaku panglima Bizantium mengirimkan utusan kepada Khalid. Ahli strategi militer yang sukses menaklukkan Damaskus dua tahun sebelumnya itu menerima delegasi lawan dengan baik.

Bahkan, sang komandan Muslim menyetujui permintaan George untuk berbicara empat mata di sebuah lokasi netral. Abu Ubaidah lantas ditunjuknya sebagai pengganti sementara posisinya.

Akhirnya, pertemuan yang telah direncanakan berlangsung. Di titik yang telah disepakati, kedua panglima perang itu saling berhadapan. Leher tunggangan mereka bertautan. Pemandangan menggetarkan ini disaksikan dari kejauhan oleh ribuan pasukan dari masing-masing kubu.

“Wahai Khalid, jawablah setiap pertanyaanku dengan jujur. Janganlah engkau berbohong karena sesungguhnya seorang yang merdeka tidak pantas berbohong. Jangan pula engkau menipuku karena sungguh orang yang mulia tidak akan menipu,” kata George.

Khalid menganggukkan kepalanya. Pemimpin pasukan Bizantium itu pun meneruskan pembicaraan. “Apakah Allah menurunkan pedang dari langit kepada Nabi kalian, lalu Dia memberikannya kepadamu? Apakah pedang itu akan berhasil mengalahkan suatu kaum yang dihadapinya?” tanya George.

“Tidak”, jawab Khalid singkat.

“Lantas, mengapa engkau dijuluki saifullah (Pedang Allah)?”

“Sesungguhnya Allah telah mengutus Nabi-Nya di tengah-tengah kami. Beliau berdakwah kepada kami, tetapi kami semua tidak mempedulikannya. Sebagian dari kami kemudian ada yang membenarkan dakwahnya dan mengikutinya. Yang lain menjauhi dan mendustakannya,” tutur Khalid.

“Dahulu, aku termasuk orang yang menjauhi, mendustakan, dan memeranginya. Namun, Allah memberikan hidayah kepadaku. Beliau (Nabi) berkata kepadaku, ‘Engkau adalah pedang di antara pedang-pedang Allah yang Dia hunuskan kepada orang-orang musyrik.’ Beliau mendoakanku dengan kemenangan, dan juga menyebutku dengan saifullah. Mulai saat itu, aku menjadi orang yang paling keras melawan orang-orang musyrik,” sambungnya.

Georde ternyata puas akan jawaban Khalid. “Wahai Khalid, beri tahu aku, apa yang engkau serukan kepadaku?”

“Persaksian bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya,” terang Khalid.

“Kalau ada yang tidak menerima seruan itu?” tanya George.

“Jizyah menjamin mereka.”

“Bagaimana kalau mereka tetap tidak mau (membayar jizyah)?” tanyanya lagi.

“Kami akan perangi mereka.”

“Bagaimana kedudukan orang-orang yang menerima seruan kalian?” usut George.

“Sama (setara) dalam kewajiban-kewajiban yang Allah perintahkan kepada kami. Tidak ada perbedaan kewajiban antara orang yang mulia atau yang biasa, baik yang lebih dahulu (memeluk Islam) maupun yang belakangan,” papar Khalid.

“Apakah orang yang hari ini memeluk Islam akan sama derajat dan ganjarannya?” selidik George.

“Ya, atau bahkan bisa lebih utama.”

“Bagaimana mungkin? Bukankah kalian lebih dahulu memeluk Islam?”

“Kami memeluk Islam dan berbaiat kepada Nabi pada saat kami menjumpainya. Adapun kalian belum pernah menjumpai Nabi dan apa-apa yang kami jumpai bersamanya. Kalau memeluk Islam dengan tulus dan sebenar-benarnya, insya Allah kalian akan lebih baik dari kami,” terang Khalid.

“Tidakkah engkau sedang berpura-pura kepadaku?” kata George keheranan.

“Demi Allah, aku telah berucap jujur padamu. Aku tidak punya kepentingan apa pun denganmu atau salah seorang dari kalian. Cukuplah Allah menjadi saksi atas apa yang aku sampaikan ke padamu.”

Untuk beberapa lama, George pun terdiam. Sejurus kemudian, ia berkata sambil menatap tajam lawan bicaranya, “Engkau telah berkata jujur kepadaku. Maka, ajarkanlah aku tentang Islam.”

Khalid lantas mengajaknya masuk ke tendanya. Kepada George, disediakan air untuk bersuci. Setelah itu, komandan kebanggaan Khalifah Umar bin Khattab itu membimbingnya untuk melafalkan dua kalimat syahadat. Sejak itu, George resmi menjadi seorang Muslim. Ia lantas diajarkan berwudhu dan melakukan shalat dua rakaat.

 
Sejak itu, George resmi menjadi seorang Muslim. Ia lantas diajarkan berwudhu dan melakukan shalat dua rakaat.
 
 

Kalau sebelumnya George berhadapan dengan Khalid, kini dia berada di sisi sang panglima Muslim. Keduanya sama-sama berjuang memerangi pasukan Bizantium. Dalam perang itu, bekas komandan Romawi ini menderita luka parah. Akhirnya, ia gugur di medan Yarmuk.

Benarlah apa yang disampaikan Khalid. Boleh jadi, seseorang yang baru masuk Islam memiliki kedudukan yang lebih mulia dalam pandangan Allah SWT. George “hanya” sempat menunaikan shalat sekali seumur hidupnya, tetapi dirinya menjemput kematian sebagai seorang syuhada, insya Allah.


Terkini

×