KH Abdullah Zain Salam merupakan seorang tokoh agama dari Pati, Jawa Tengah. | DOK NAHDLATUL ULAMA
17 Jan 2021, 03:00 WIB

KH Abdullah Zain Salam, Sang Sufi dari Kajen

Kiai Abdullah Salam merupakan satu dari tiga kiai pesantren yang amat dihormati Gus Dur.

OLEH MUHYIDDIN

 

 

Kalangan ulama sangat besar perannya dalam menyebarkan ajaran Islam di Indonesia. Karena itu, mereka akan selalu menjadi rujukan bagi kaum Muslimin, khususnya mereka yang berkhidmat dalam jalan menuntut ilmu.

Terkait

Nabi Muhammad SAW menyatakan dalam sebuah hadis, “Ulama adalah pewaris para nabi.” Maka dari itu, keteladanan sudah seharusnya menjadi penanda bagi orang-orang alim.

Jawa Tengah merupakan salah satu daerah di Indonesia yang menjadi kantong penyebaran Islam. Kabupaten Pati termasuk kawasan dengan banyak mubaligh yang masyhur dan karismatik sebagai pembimbing kaum Muslimin.

Salah seorang di antaranya adalah KH Abdullah Salam. Ia dikenal luas sebagai pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Mathali’ul Huda, Kajen, Margoyoso, Pati. Sepanjang hayatnya dihabiskan untuk mendidik generasi muda Islam dan membumikan ajaran agama ini di tengah masyarakat.

Sosok yang akrab disapa Mbah Dullah ini merupakan salah satu tokoh pesantren yang mampu mengatur irama dakwah, khususnya di Kajen dan sekitarnya. Dalam arti, dialah “gurunya guru” para mubaligh setempat.

Dengan telaten, dirinya membagi peran para kiai sesuai potensinya masing-masing. Hal itu dilakukan untuk meramaikan dan memajukan Kajen sebagai salah satu desa santri unggulan di Pati atau Jawa Tengah umumnya .

KH Abdullah Zain Salam lahir di Kajen, Margoyoso, Pati dengan nama Abdullah. Orang tuanya kemudian menambahkan Zain Salam pada namanya. Abdullah diketahui lahir pada 1920. Namun, ada sumber lain yang menyebut bahwa tokoh ini lahir pada 1910 atau 1915.

Yang jelas, secara pertalian keluarga Abdullah termasuk keturunan ketujuh dari Syekh Ahmad Mutamakkin. Sang syekh konon merupakan orang yang paling awal menyebarkan Islam di Kajen dan sekitarnya. Ayah kandung Abdullah bernama KH Abdussalam, sedangkan ibunya adalah Nyai Sumrah.

 
Sejak kecil Abdullah sudah biasa berpisah dengan orang tuanya dalam rangka menuntut ilmu-ilmu agama.
 
 

Sejak kecil Abdullah sudah biasa berpisah dengan orang tuanya dalam rangka menuntut ilmu-ilmu agama. Ketika usianya kurang dari tujuh tahun, ia sudah ikut paman dari pihak ibunya, KH Sholihin, untuk mengaji Alquran. Tatkala usianya tujuh tahun, kakaknya yang bernama KH Mahfudh Salam mengantarkannya ke Sampang, Pulau Madura, untuk berguru tahfiz Alquran kepada KH Muhammad Said.

Setelah tuntas belajar di Madura, Abdullah kembali ke Kajen. Di kampung halamannya, ia meneruskan sekolah pada Madrasah Mathali'ul Falah. Secara rutin, setiap sore langkahnya bergegas menuju kediaman KH Mahfudh Salam atau pamannya, KH Nawawi, untuk belajar mengaji Alquran.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Kajen, Abdullah kemudian melanjutkan rihlah keilmuannya ke Pondok Pesantren Tebuireng yang diasuh pendiri Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU), Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari. Di antara kawan-kawannya yang berasal dari Kajen, ada yang seangkatan dengannya. Mereka, antara lain, adalah KH Duri Nawawi, KH Tamyiz Ruslan, dan KH Abdul Hadi.

Sebelum selesai pendidikannya di Tebuireng, Abdullah dinikahkan dengan Nyai Aisyah atas saran ayahandanya. Meskipun sudah berstatus kepala keluarga, Abdullah tetap mengaji kepada beberapa ulama, termasuk KH Muhammadun. Ia juga pernah melakukan safari keilmuan ke Kudus, Jawa Tengah, khususnya untuk menimba ilmu qira’ah sab’ah dari KH Arwani Amin Said.

Di samping itu, dirinya belajar kepada seorang ulama-sufi, KH Abdul Hamid, asal Pasuruan, Jawa Timur. Setelah itu, barulah lelaki ini kembali ke Kajen untuk mengajar di Perguruan Islam Matholi’ul Falah sekaligus mengasuh Pondok Pesantren Mathali’ul Huda.

Saat menjadi pengasuh pesantrten, Kiai Abdullah dikenal sebagai sosok yang istiqamah. Salah satu rutinitas yang tak pernah ditinggalkannya ialah memimpin shalat berjamaah. Para santrinya dari generasi ke generasi terus menyaksikan sang alim sebagai pemimpin shalat fardhu. Bahkan, kala usia kiai tersebut sudah cukup sepuh, konsistensinya sebagai imam di masjid pesantren tetap bertahan.

 
Salah satu rutinitas yang tak pernah ditinggalkannya ialah memimpin shalat berjamaah.
 
 

Sikap istiqamah itu sesungguhnya menjadi suatu motode yang dilakukannya dalam mendidik para santri. Dengan keteladanan, mereka akhirnya tergerak untuk selalu rutin ke masjid dan shalat tepat di awal waktu.

Kiai Abdullah mengajarkan bahwa shalat berjamaah harus diperjuangkan dalam situasi dan kondisi apa pun. Baginya, pendidikan tingkah laku (haliyah) mesti lebih diutamakan daripada sekadar lisan (maqal).

Di samping mengimami shalat jamaah, ia juga rutin mengamalkan puasa sunah Nabi Daud AS. Waktu malam hari dimanfaatkannya untuk mengaji pelbagai kitab selama berjam-jam.

Menurutnya, kebiasaan membaca harus dipelihara agar pikiran tetap awas meskipun usia kian senja. Ia pun aktif mencari atau membeli kitab-kitab baru untuk dipelajari. Dengan begitu, pemikiran dan pengetahuannya akan selalu lebih baik daripada hari-hari sebelumnya.

Spesialisasi keilmuan Kiai Abdullah cukup beragam. Bagaimanapun, kekhasannya tampak pada bidang kajian dan tafsir Alquran. Dalam hal ini, ia sukses melakukan kaderisasi ilmu kepada sejumlah santrinya. Hal itu dilakukannya dengan penuh disiplin dan ketegasan. Ia juga sering mengontrol proses kegiatan belajar para muridnya atau bahkan ustaz-ustaz yang sedang mengajar di kelas.

Sebagai contoh, ketika Kiai Abdullah melihat ada seorang ustaz yang memakai baju lengan pendek, maka guru tersebut langsung disuruhnya pulang. Dengan cara demikian, pengasuh pesantren ini hendak memahamkan mereka bahwa para guru haruslah menjadi sosok yang digugu dan ditiru.

Mereka sudah sepantasnya memiliki standar penampilan dan perilaku yang terbaik sehingga bisa diikuti oleh para muridnya. Kedisiplinan semacam itulah yang menjadikannya sebagai sosok yang disegani dan berwibawa.

Kesan Gus Dur

Buku Islam Nusantara dalam Tindakan: Samudra Hikmah Kiai Kiai Kajen (2016) yang disunting Munawir Aziz menyatakan bahwa Kiai Abdullah alias Mbah Dullah merupakan seorang teladan Muslimin Indonesia, khususnya warga Nahdliyin. Bahkan, secara khusus presiden keempat Republik Indonesia KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menyanjungnya sebagai ulama besar.

Cucu Mbah Hasyim Asy’ari itu memandangnya selaku wali Allah yang karismatik dan memiliki makrifat. Mbah Dullah disebut-sebut sebagai satu dari tiga ulama pesantren panutan Gus Dur. Adapun dua nama lainnya adalah KH Abdullah Abbas dan KH Abdullah Faqih. Masing-masing berasal dari Cirebon dan Jawa Timur.

Semasa hidupnya, Mbah Dullah diketahui selalu disibukkan dengan jadwal yang padat. Mulai dari bangun tidur sampai hendak tidur lagi, kegiatannya selalu diniatkan untuk beribadah kepada Allah SWT. Perilaku dan dawuhnya selalu sarat hikmah sehingga mencerahkan orang-orang di sekitarnya. Sebagai seorang sufi, semua orang diterima dan dibimbingnya menuju jalan Allah.

Kaderisasi Mbah Dullah berlangsung secara simultan, mulai dari lingkungan keluarga, santri, dan masyarakat sekitar. Dari orang-orang terdekatnya, bermunculan tokoh-tokoh umat yang disegani dan penuh keteladanan.

Seorang di antaranya adalah KH Sahal Mahfudz, rais aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) 1999-2014 dan ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) 2000-2010. Kiai Sahal merupakan keponakan Mbah Dullah. Sama seperti pamannya, ia lahir di Kajen, Pati.

Mbah Dullah juga dikenal sangat mencintai Alquran. Ia sangat memprioritaskan ilmu Alquran daripada ilmu-ilmu lainnya. Bahkan, para santrinya diperintahkan untuk rutin menggelar khataman Alquran tiap hari Jumat. Kepakarannya memang tidak hanya tentang Alquran, tetapi juga beragam ilmu, termasuk fikih, tasawuf, dan lain-lain.

Mbah Dullah bukan hanya sosok hafidzul qur’an, tetapi juga sudah sampai pada taraf hamilul qur’an. Sebab, dirinya piawai dalam memahami dan mengamalkan kandungan Alquran. Ia juga merupakan sosok mufassir dan ahli fikih sehingga menjadi tempat orang-orang bertanya.

 
Mbah Dullah adalah ulama besar yang digambarkan seperti payung besar yang bisa memimpin para kiai dan umat dari berbagai ragam latar belakang.
 
 

Mbah Dullah adalah ulama besar yang digambarkan seperti payung besar yang bisa memimpin para kiai dan umat dari berbagai ragam latar belakang. Semua elemen dibimbing dan diarahkan dengan kejernihan hati dan kesantunan laku. Semua orang merasa nyaman dan damai di bawah bimbingan Mbah Dullah.

Santri, kiai, orang abangan, nasionalis, pejabat, dan seluruh elemen merasa dibimbing dan diberi siraman rohani Mbah Dullah. Ketokohannya tidak disekat oleh baju kelompok-kelompok tertentu. Semua orang yang datang kepadanya diterimanya dengan tangan terbuka. Mereka biasanya meminta wejangan dan siraman rohani yang mendamaikan, menyejukkan, dan mencerahkan jiwa.

Kiai Abdullah Zain Salam wafat pada 11 November 2001. Kepergian bapak sembilan anak itu menyisakan duka yang mendalam tidak hanya bagi keluarganya, tetapi juga seluruh santri, ulama, dan masyarakat Muslimin pada umumnya.

photo
Terkait metode mendidik anak, KH Abdullah Zain Salam memberikan beberapa petuah yang sarat hikmah. - (DOK ANTARA/Septianda Perdana)

 

Metode Dalam Mendidik Anak

Kajen yang terletak di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, menjadi masyhur, antara lain, berkat ketokohan KH Abdullah Zain Salam. Sosok yang akrab disapa Mbah Dullah itu merupakan seorang ulama besar sekaligus pengajar tasawuf yang saleh.

Silsilah nasabnya disebut-sebut sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Hingga akhir hayatnya, dirinya merupakan pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Mathali’ul Huda, Kajen, Margoyoso, Pati.

Sebagai seorang alim, kepakarannya meliputi berbagai ilmu agama Islam. Salah satu bidang yang mendapatkan perhatiannya ialah pendidikan keluarga. Dalam pandangannya, keluarga merupakan elemen yang penting untuk mewujudkan masyarakat Islam yang baik. Di sanalah tempat lahirnya generasi muda Muslim yang menjadi tumpuan kemajuan peradaban di masa depan.

Anak adalah permata dunia yang tak ternilai bagi orang tua. Mendidiknya adalah kewajiban yang harus ditunaikan ayah dan bunda. Membiarkannya hanyut sebagai batu atau sampah adalah dosa besar yang harus mereka pertanggungjawabkan di dunia dan akhirat.

Jamal Ma’mur Asmani dalam buku Keteladanan KH Abdullah Zain Salam: Kiat Sukses Membangun Pendidikan Keluarga menjelaskan, Mbah Dullah memiliki metode khusus untuk mendidik anak. Cara demikian sesungguhnya bisa diikuti para orang tua untuk membesarkan buah hati mereka.

 
Mbah Dullah memiliki metode khusus untuk mendidik anak.
 
 

Pertama-tama, menurut Mbah Dullah, orang tua hendaknya memiliki kebiasaan bersedekah. Tangannya ringan untuk berderma. Ibadah itu seyogianya diniatkan dengan tulus agar Allah SWT menanamkan sifat saleh ke dalam diri pribadi anak-anak mereka. Karena itu, ayah dan ibu jangan lupa untuk menghadiahkan pahala sedekahnya—sebesar apa pun itu—kepada anaknya.

Kedua, jangan terlalu memanjakan anak. Menurut Jamal, Mbah Dullah termasuk sosok yang sangat tegas dan penuh disiplin. Sang alim bahkan memasang target yang tinggi untuk dicapai anak-anaknya.

Sejak kecil, mereka harus dibiasakan shalat berjamaah di awal waktu, membaca Alquran, dan berakhlak yang baik. Dengan demikian, tatkala dewasa mereka memiliki karakter islami yang kokoh, tidak mudah luntur oleh godaan apa pun.

Ketiga, jangan terlalu mudah memuji anak. Sebab, pujian bisa melemahkan mentalnya. Pada eksesnya, perasaan sombong dapat muncul dalam diri pribadi mereka. Anak-anak akan mudah memandang rendah orang-orang di sekitarnya. Mereka seharusnya dilatih agar memiliki mental rendah hati. Selain itu, penting pula untuk merasa diri bodoh sehingga semangat dalam mencari ilmu terus bergelora dalam dada.

Keempat, mendidik anak dilakukan sepanjang hayat. Maknanya, orang tua tidak lantas berhenti membimbing buah hati sekalipun anak-anak itu sudah dewasa, menikah, dan bahkan memiliki an anak sendiri. Sebab, Mbah Dullah menegaskan, tanggung jawab pasangan orang tua tetap ada, baik di dunia maupun akhirat. Lagipula, tidak ada istilahnya “mantan” ayah atau ibu.

Kelima, bimbinglah anak-anak agar fokus pada bidang tertentu. Cara itu bertujuan mengarahkan si anak agar mampu menjadi sosok yang unggul dalam bidang yang dipilihnya. Jadilah profesional dalam sebuah bidang, maka orang-orang akan melihatmu. Bila berkemampuan biasa saja, apalagi enggan menggeluti pengetahuan atau pekerjaan tertentu, maka dirinya akan dianggap bagaikan angin lalu.


×