Warga mengamati Gedung Kantor Gubernur Sulawesi Barat yang rusak akibat gempa bumi, di Mamuju, Sulawesi Barat, Jumat (15/1/2021). Petugas BPBD SUlawesi Barat masih mendata jumlah kerusakan dan korban akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,2 tersebut. | ANTARA FOTO/Akbar Tado
16 Jan 2021, 03:10 WIB

Korban Gempa di Mamuju dan Majene Bertambah

Presiden Jokowi menginstruksikan pengerahan bantuan ke Mamuju dan Majene.

MAMUJU – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,2 mengguncang wilayah Mamuju dan Majene, Sulawesi Barat (Sulbar), pada Jumat (15/1) dini hari. Bangunan-bangunan roboh, puluhan orang dilaporkan tertimbun, dan jumlah korban jiwa dilaporkan terus bertambah.

Pada Jumat pagi, delapan warga dilaporkan meninggal dan 600 lebih luka-luka. Pada siang hari, jumlah yang meninggal dilaporkan mencapai 27 orang dan kemudian bertambah menjadi 34 orang pada petang hari. Pada Jumat malam, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melansir jumlah korban mencapai 42 orang.

Sebanyak 34 orang meninggal di Kabupaten Mamuju. “Sedangkan delapan warga lainnya, meninggal di Kabupaten Majene,” kata Kepala Pusat Data dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati, Jumat (15/1).

Evakuasi terus dilakukan mengingat warga melaporkan banyak yang masih tertimbun. "Ada lima orang dalam reruntuhan. Anakku, kemenakan, ipar dua, sama mertua," kata Ahmad Riyadh, warga Jalan Monginsidi, Majene, saat dihubungi Republika.

Terkait

 
photo
Gempa Sulawesi Barat - (Republika)

Menurut Ahmad, warga masih berusaha mencari korban selamat dalam reruntuhan. Sayangnya, kendala ketiadaan alat berat membuat warga kesulitan mengevakuasi. Untuk mendatangkan alat berat pun, lanjut Ahmad, cukup sulit karena akses jalan menuju lokasi terputus.

Adapun menurut laporan sementara dari Pusat Pengendali Operasi BNPB, sebaran warga yang mengungsi terdapat di 10 titik. Ribuan warga di Majene mengungsi ke 10 desa dan kecamatan.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by BNPB Indonesia (bnpb_indonesia)

Desa tersebut ialah Desa Kota Tinggi, Desa Lombong, Desa Kayu Angin, Desa Petabean, Desa Deking, Desa Mekata, Desa Kabiraan, serta Desa Lakkading, Desa Lembang, dan Desa Limbua yang terdapat di Kecamatan Ulumanda, Kecamatan Malunda, dan Kecamatan Sendana.

Di Kabupaten Mamuju, konsentrasi pengungsian ada di lima titik yang berada di Kecamatan Mamuju, dan Kecamatan Simboro. Kendala pengungsian dan aktivitas darurat di lokasi bencana saat ini, menurut BNPB, adalah jaringan komunikasi dan sumber daya penerangan.

Mengenai perbantuan dan logistik, BNPB terus melakukan pengiriman. Jati menerangkan, paket bantuan yang dikirimkan berupa bantuan pangan, tenda pengungsian, selimut, perlengkapan bayi, dan obat-obatan.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menuturkan, sejak Kamis (14/1) siang, BMKG mencatat 28 kali gempa terjadi di Kabupaten Majene dan sekitarnya. Namun, gempa besar yang merusak terjadi dua kali, yakni Kamis siang sekitar pukul 13.00 WIB dan Jumat (15/1) dini hari sekitar pukul 02.28 WITA dengan magnitudo 6,2.

Gempa itu berpusat di enam kilometer timur laut Kabupaten Majene pada kedalaman 10 kilometer. Guncangan merobohkan banyak bangunan di Majene dan Mamuju. Di antaranya, Kantor Gubernur Sulawesi Barat, Hotel Maleo, Maleo Town Square, Rumah Sakit Mitra Manakarra, kantor pemerintahan, ratusan rumah warga, toko-toko, dan fasilitas umum.

"Kami butuh air dan makanan karena semua pusat perbelanjaan di Kota Mamuju tutup dan ada yang roboh. Pemerintah pusat harus membantu masyarakat Sulbar," ucap Indrawati, warga Mamuju, Jumat siang.

Indrawati mengatakan, warga telah berada di pengungsian. Mereka mendirikan tenda darurat dan belum mau kembali ke rumah karena khawatir gempa susulan.

Presiden Joko Widodo telah menginstruksikan kepala BNPB, menteri sosial, kepala Basarnas, juga panglima TNI dan kapolri untuk segera melakukan tanggap bencana mencari para korban. “Segera melakukan langkah-langkah tanggap darurat mencari dan menemukan korban serta melakukan perawatan kepada korban yang luka-luka,” ujar Jokowi dalam pernyataannya.

Presiden menyampaikan rasa dukanya terhadap para korban yang meninggal dunia dalam bencana ini. Ia meminta masyarakat tetap tenang dan mengikuti petunjuk dari para petugas di lapangan.

Menteri Sosial Tri Rismaharini menyatakan telah memerintahkan jajarannya untuk segera mengirimkan personel taruna siaga bencana (tagana) wilayah sekitarnya. Tim Layanan Dukungan Psikososial (LDP) dan berbagai bantuan logistik juga dikirimkan ke Majene dan Mamuju. "Semua logistik di gudang Sulbar dikeluarkan untuk membantu masyarakat. Dapur umum akan didirikan di titik pengungsian,” ujar Risma.

Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) juga mengirimkan tim SAR dari pusat dan berbagai daerah untuk membantu pencarian dan pertolongan. "Dari Jakarta tadi ada Hercules dari TNI AU yang berangkat ke Mamuju kita ikut sertakan satu tim urban SAR dari pusat bersama dengan perlengkapan tambahan," kata Kepala Basarnas Marsda (Purn) Bagus Puruhito.

TNI AU telah memberangkatkan Boeing 737 TNI AU serta menyiagakan pesawat angkut lainnya. Kemudian, TNI AL mengerahkan dua KRI ke Sulbar. Salah satu KRI, yakni KRI Teluk Ende, telah diberangkatkan kemarin pagi.

photo
Prajurit TNI bersiap memasuki Pesawat Hercules A 1321 TNI AU yang membawa bantuan logistik untuk korban gempa Majene di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (15/1/2021). TNI AU menyiapkan sejumlah alutsista untuk mengangkut prajurit TNI dalam membantu proses operasi SAR, evakuasi bencana, dan menyalurkan bantuan logistik kepada masyarakat terdampak bencana gempa di Sulawesi Barat. - (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

Lokasi Gempa Masih Rawan

Gempa yang terjadi di Majene sejak Kamis (14/1) hingga Jumat (15/1) dini hari terjadi berdekatan dengan sumber gempa yang memicu tsunami pada 1969 silam. Menurut BMKG, gempa pada 23 Februari 1969 tersebut berkekuatan 6,9 pada skala Richter di kedalaman 13 km.

"Mengingat pesisir Majene pernah terjadi tsunami pada tahun 1969, masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir Majene perlu waspada jika merasakan gempa kuat agar segera menjauh dari pantai tanpa menunggu peringatan dini tsunami dari BMKG," ujar Koordinator Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, Jumat (15/1).

Daryono menjelaskan, gempa saat itu menyebabkan 64 orang meninggal, 97 luka-luka, dan 1.287 rumah serta masjid mengalami kerusakan. Dermaga pelabuhan pecah, timbul tsunami dengan ketinggian empat meter di Pelattoang dan 1,5 meter di Parasanga dan Palili.

Dengan kembalinya terjadi gempa kuat di Majene Jumat dini hari, gempa yang terjadi pada Kamis (14/1) pukul 14.35 WITA statusnya menjadi gempa pendahuluan atau pembuka (foreshock). Untuk sementara, gempa yang terjadi pada Jumat (15/1) dini hari statusnya sebagai gempa utama (mainshocks).

"Semoga status ini tidak berubah dan justru akan meluruh, melemah hanya terjadi gempa susulan (aftershocks), dengan kekuatan yang terus mengecil dan kembali stabil," kata Daryono.

Kepala BMKG Dwikorita menambahkan, ada potensi munculnya gempa di lempeng tektonik lainnya, yang terpicu oleh lempeng tektonik yang terjadi di Majene. "Ada kemungkinan, kami masih tetap memantau dan mengimbau untuk antisipasi terjadinya pergerakan di patahan lain," ujarnya. 

Gempa di Sulawesi Barat pada Jumat (15/1) dini hari berkedalaman 10 km, berjarak sekitar 35 km selatan Kota Mamuju, dan berjarak sekitar 62,2 km utara Majene. “Berdasarkan data tersebut, terlihat bahwa sesar naik ini tergolong sudut landai dan blok bagian timur relatif bergerak naik terhadap blok bagian barat bidang sesar," ujar Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Eko Budi Lelono, kemarin.

photo
Petugas mengevakuasi korban yang terjepit dari bangunan di rumah sakit Mitra Manakarra yang runtuh akibat gempa bumi di Mamuju, Sulawesi Barat, Kamis (15/1/2021). Tujuh korban berhasil dievakuasi, empat di antaranya selamat dan tiga lainnya meninggal di reruntuhan rumah sakit tersebut - (ANTARA FOTO/ Akbar Tado)

Eko mengatakan, jalur sesar naik ini berasosiasi dengan lipatan (fold thrust belt), yang banyak terdapat di bagian barat Provinsi Sulawesi Barat. Jalur sesar naik ini diperkirakan menerus ke arah darat. 

Berdasarkan data BMKG, guncangan gempa bumi cukup kuat di daerah sekitar lokasi pusat gempa bumi dan diperkirakan pada skala intensitas V-VI MMI (Modified Mercally Intensity). "Kejadian gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami karena lokasi pusat gempa terletak di darat," katanya.

Badan Geologi, menurut dia, mengimbau kepada masyarakat untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. Masyarakat harus waspada dengan kejadian gempa susulan yang diperkirakan kekuatannya lebih kecil.

"Apabila terdapat retakan tanah pada bagian atas perbukitan akibat guncangan gempa bumi agar waspada terhadap kemungkinan terjadi gerakan tanah yang dapat dipicu oleh guncangan gempa bumi dan curah hujan tinggi," katanya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by DARYONO BMKG (daryonobmkg)


×